Seperti biasa, pagi ini aku keluar kamar untuk memulai Aktifitas seperti biasa. Aku langsung ke kamar kedua Ponakanku, untuk memandikan mereka lebih dulu, juga menyiapkan segala keperluan mereka Sekolah. Brian dan Abra, terlihat antusias menyambutku, menghambur kedalam pelukan ketika melihatku datang kehadapan mereka.
"Selamat pagi anak Ganteng, ayo kita mandi terus bersiap ke Sekolah, tapi sebelum berangkat jangan lupa sarapan yaa Jagoan!"
"Tante Dewi, ayo Tan kita gak sabar ingin mandi!"
"Ayo Sayang, kita segera mandi!" Aku menuntun kedua Ponakanku, kiri kanan. Sebelah kanan Brian, dan Abra disebelah kiri. Kini mereka kelas satu Sekolah Dasar Favorit, di Kota kami. Aku mulai menyabuni mereka satu persatu, taklama selesai memandikan kini aku pakaikan baju seragam Sekolah mereka. Taklupa Tas Sekolah Favorit mereka, juga kumasukan cemilan buah dan air mineral untuk bekal mereka nanti. Setelah selesai semua, aku langsung ke dapur sedangkan kedua ponakanku memainkan mainan kesukaan mereka.
Aku memulai aktifitas masakku, aku membuat menu untuk orang dewasa sekaligus untuk kedua ponakanku sekaligus. Setelah aku menerima uang timbal balik dari kedua Kakak iparku, kini Dasterku bukan yang lusuh lagi, juga aku bisa membeli kosmetik meski tidak lengkap. Hanya sekedar bedak juga lipstik, agar wajahku tidak terlalu terlihat pucat. Kini semua masakan telah siap disajikan, aku letakan diatas meja makan seperti biasa. Dibantu oleh Bi Murni, aku menyelesaikan pekerjaan ini. Ketika selesai masak, juga menikmati sarapan bersama Bi Murni, aku merasakan pusing di kepalaku yang tak biasa. Aku coba berdiri, dan melangkah menuju ruang Loundry untuk mencuci baju, namun rasa pusing itu semakin terasa. Hingga saat aku melangkah, tiba-tiba aku limbung dan sudah tak sadarkan diri.
Ketika kusadar, aku dengan perlahan membuka mata. Terlihat Mas Parhan duduk di samping ranjang yang kutempati. Aku mencium bau khas tempatku kini, ruangan yang serba putih juga tangan kananku yang tertancap selang infus. Aku langsung memanggil Mas Parhan dengan suara perlahan, karena tubuhku yang masih terasa lemas.
"Mas, Dimana aku Mas?" Terlihat Mas Parhan menoleh kearahku, dan langsung memelukku dengan erat dibarengi senyuman yang penuh kebahagiaan.
"Dewinta, kamu sudah sadar Sayang? Oi'yah, kenapa kamu gak bilang sama Mas, jika kamu sedang mengandung anak kita Sayang?" Aku kaget mendengar penuturan Mas Parhan, aku belum siap untuk punya anak, karena aku khawatir kandunganku kurang terjaga mengingat perlakuan Ibu juga Mas Parhan kepadaku selama ini. Aku terdiam beberapa saat, tanpa mempedulikan pertanyaan Mas Parhan. Hingga akhirnya, Mas Parhan kembali bertanya hal yang sama.
"Dewi, kenapa kamu gak bilang kalau kamu sedang mengandung anak kita Dewinta?" Kali ini, suara Mas Parhan sedikit meninggi yang membuatku sedikit tersentak.
"I-Iya Mas maaf, aku juga gak tahu kalau aku lagi mengandung Mas!" jawabku seadanya, tanpa ada yang dututupi.
"Masa kamu gak ingat kapan terakhir kamu datang bulan Dewi, kan kamu tahu setiap tanggal berapa kamu Haid?" kembali Mas Parhan bertanya, yang membuat Kak Bella menghentikan perkataan Mas Parhan kembali.
"Parhan sudah kamu jangan mempermasalahkan hal yang tidak penting itu, yang penting sekarang bagaimana kamu menjaga calon anak kalian, agar terjaga dengan baik juga Dewi harus dijaga kondisinya!" Bukannya mendengar saran kak Bella, Mas Parhan malah menyanggah perkataan Kak Bella.
"Kak, kakak jangan ikut campur sama Rumah Tangga aku Kak. Aku kan cuma ingin tahu, kenapa Dewi bisa gak sadar kalau dia sedang mengandung anak kami dua bulan?" Jawab Mas Parhan, yang membuat Mas Doni ikut menengahi perdebatan yang hampir saja terjadi.
"Parhan sudah, kamu jangan membantah Kakak'mu kan untuk kebaikan kalian. Dan Bella sudah Sayang, gausah bicara lagi malu ini Rumah Sakit kalau kita ribut Sayang!" Tutur Mas Doni, dengan penuh wibawa.
"Iyaa Sayang, makasih sarannya. Yaudah kalau gitu, kita pulang aja yuk. Biar Parhan yang jaga Dewi, sekali-kali dia tanggung jawab sama Istrinya!" ujar Kak Bella, sambil meraih tangan Mas Doni, dan taklupa berpamitan kepada kami sebelum akhirnya pergi. Ketika kedua Kakak iparku pergi, Mas Parhan mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan bagiku yang tidak aku sangka sedikitpun.
"Dewi, walaupun kamu hamil ingat kamu gausah manja Dewi. Kamu aktifitas seperti biasa, melayani kami seisi Rumah, jangan manja. Karena tidak akan ada yang memanjakanmu, aku tak peduli walaupun kamu hamil!" Tak mau kalah, akupun menjawab secara tegas.
"Terserah kamu Mas, mau peduli ataupun tidak. Selama ini aku terbiasa dengan perlakuanmu, aku yakin kali ini juga aku bisa. Aku diberi kekuatan sama Tuhan, jadi aku gak takut dengan ancamanmu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, anak yang didalam kandunganku ini adalah darah dagingmu, jangan sampai kamu menyesal nanti Mas!" Mendengar jawabanku, Mas Parhan kembali menjawab.
"Gak mungkin aku menyesal, aku sekarang punya jabatan penting di Kantor. Sedangkan kamu, lihat dirimu Dewi, kerja juga gak punya, penampilan lusuh kayak gelandangan dijalanan!" Mendengar hal itu, tak terasa air mataku menetes, ditengah tangisanku aku menjerit di dalam hati. Jika suatu saat, aku akan membalas setiap tetesan air mataku yang tumpah karena perlakuannya.
"Mas, kalau kamu gak ingin merawatku disini, silahkan kamu pergi Mas, biarkan aku sendiri ada suster yang menjagaku disini nanti!" Aku mengusir Mas Parhan, secara halus.
"Ohw kamu mengusirku Dewinta, okey aku pulang sekarang Dewi!" Tanpa berpamitan lagi, Mas Parhan pergi dari hadapanku. Akupun menghubungi Rosa sahabatku, yang selama ini selalu ada ketika aku butuh sandaran.
Dipanggilan ke Empat, terdengar suara Rosa di sebrang telpon.
[Iyaa Dewi, ada apa Wii?]
[Rosa, aku ganggu waktu kamu gak?]
[Enggak sama sekali Dewi, ada apa telpon aku penting kah?]
[Rosa, aku di Rumah Sakit xxx. Aku pingsan tadi pagi, soalnya aku hamil dua bulan Rosa!] Mendengar kabar jika aku hamil, terdengar Rosa bahagia disebrang sana.
[APAAA DEWIII, LUH LAGI HAMIDUN? SERIUS LUH, GWA BAKAL PUNYA PONAKAN WII?]
[Iyaa Rosa, aku hamil dua bulan sekarang!]
[Okey, kalau gitu gwa kesana sekarang tunggu gwa dateng yaa Wii!]
[Iyaa Rosa, gwa tunggu yaa!] Tut, panggilan ditutup.
Setelah menunggu tiga puluh menit, akhirnya Rosa datang bersama Kak Panji kakaknya Rosa. Terlihat senyum sumringah serta binar kebahagiaan dari kedua matanya, Rosa memelukku erat, dan kesempatan itu aku manfaatkan untuk menangis dipelukan Rosa, Rosa bisa merasakan bahwa tangisanku bukan tangisan biasa, melainkan ada sesuatu yang hebat dibaliknya. Rosa dengan sabar, mengusap pucuk kepalaku hingga tangisku benar-benar reda. Kak Panji memberikan minum kehadapanku, dengan penuh santun.
"Minum dulu Dek, biar lebih lega!" akupun menerima minuman itu, dan aku ucapkan terimakasih padanya.
"Makasih yaa Kak, dan makasih juga udah nengokin aku!"
"Iyaa tenang aja Wii santai, kayak sama siapa aja kamu!" Rosa menimpali, perkataan Kak Panji.
"Iyaa Dewi, kitakan sahabatan dari SMP. Loh santai aja Dewi, kak Panji juga kebetulan lagi gak sibuk di Kantornya, jadi aku ajakin buat lihat kondisi kamu. Oi'yah, kenapa luh tadi nangis gitu banget Wii, cerita ama gwa biar lega!" Tanya Rosa, yang membuatku langsung terdiam, apakah harus aku katakan semuanya pada Rosa atau tidak. Melihatku terdiam, Rosa langsung kembali bertanya.
"Wii, kenapa luh malah bengong sih, ayo bilang sama gwa kenapa? Apa perlu gwa suruh orang, buat hajar suami Luh?" tutur Rosa padaku, yang membuatku langsung mengungkapkan semuanya.
"Iyaa Rosa, okey-okey gwa cerita sekarang yaa! Tapi, luh jangan emosi yaa!" pintaku pada Rosa, dengan menangkupkan kedua tanganku.
"Iya Okey, cepetan luh cerita lama banget deh!"
Aku langsung menceritakan semua yang terjadi, dengan perlakuan Mas Parhan tanpa ada yang ditutup-tutupi, hingga membuat Kak Panji mengeratkan giginya, bergemelatuk menahan amarah. Pipinya Kak Panji terlihat merah padam, tangannya mengepal kuat. Pria jangkung, dengan kulit hitam manis mempunyai hidung mancung, badan yang tegap. Lesung dikedua pipinya, alis yang tebal, semakin menambah ketampanannya begitu nyata. Dan Rosa pun berlaku sama, bahkan Rosa meminta untuk aku kabur dari suamiku dan tinggal bersamanya.
"DASAR COWOK BERENGSEK, b*****t, APASIH MAUNYA DIA. NYAKITIN ISTRINYA SENDIRI, YANG LAGI MENGANDUNG, TEGA BANGET DIA DASAR BANCI!! Udah Wi, mulai sekarang luh tinggal bareng gwa Wi, tinggalin cowok kayak dia Wi luh jangan mau dibodohi terus luh pantas bahagia Wi, luh gak pantas diperlakukan seperti itu Dewi!!"
"Enggak Rosa, gwa tetap harus bertahan siapa tahu dia berubah. Kecuali satu hal, aku gaakan bisa memaafkan dia lagi!"
"Gwa tahu prinsip luh Wi, tapi luh harus pikirkan janin yang didalam kandungan luh, dia butuh perlindungan Wi!"
"Enggak Rosa, gwa yakin dia anak yang kuat asalkan gwa kuat!"
"Okey Dewi, gwa hargai keputusan luh. Tapi kalau luh butuh sandaran, luh tahu harus kemana tempat pulang!"
"Iyaa Rosa, gwa pasti akan dateng ke luh kalau ada apa-apa!"
"Yaudah sekarang luh istirahat ya, gwa mau makan siang dulu, belum makan siang laper. Luh mau nitip gak?"
"Boleh deh, Nasi padang kesukaanku aja Ya!"
"Okey, yaudah gwa tinggal dulu ya. Luh ditemenin Kak Panji dulu ya!"
"Iyaa Rosa, makasih ya!"
Rosa pun berlalu dari hadapanku, sedangkan kak Panji duduk di sofa sedikit berjarak dari ranjangku.