Mas Parhan Gajihan

1185 Words
Hari ini, merupakan dimana tanggal gajihan Mas Parhan. Begitu juga dengan suami kedua Kakak iparku, juga kedua istri mereka. Aku hanya berharap, keajaiban datang hari ini. Aku sudah bosan, dengan uang pemberian Mas Parhan yang tidak ada perkembangan sama sekali. Bukannya aku tidak bersyukur, hanya saja aku merasa tidak dinafkahi, aku hanya diberi makan serta tumpangan di Rumah ini. Tenagaku diperas, dengan tanpa upah diperlakukan lebih hina daripada Pembantu, bahkan mungkin Pembantu lebih mulia daripada aku dimata mereka. Aktifitas hari ini, tak jauh seperti biasanya. Aku yang menyiapkan sarapan, serta mengerjakan semua pekerjaan Rumah tanpa mengenal lelah. Aku bisa beristirahat dengan tenang, ketika semuanya telah selesai. Saat jam tujuh malam tiba, terdengar suara deru mesin mobil milik suamiku, terlihat Ibu sedang menunggunya di Sofa tamu. Dari lantai atas, kudengar sedikit percakapan mereka. Sungguh Ironi, aku yang diperistrinya namun yang berkuasa penuh atas Suamiku hanya Ibunya. Namun ketika dirinya dilanda Sakit, akulah yang menjadi tempat bersandarnya. Kadang aku mikir, aku ini siapanya Mas Parhan? Mas Parhan dan Ibu, masih terlihat duduk di sofa ruang tamu sambil berbicara ringan, menunggu kedatangan kedua Kakak Mas Parhan, juga suami mereka. Setelah tiga puluh menit berlalu, terdengar kembali suara deru mesin mobil menandakan Kak Putri dan Kak Bella bersama kedua suaminya telah tiba. Dengan mata yang berbinar, Ibu tak sabar dengan kedatangan mereka ber Empat. Kini Kak Haris, Kak Doni, juga Kak Putri dan Kak Bella menghampiri Ibu dan Mas Parhan di sofa ruang tamu. Namun ada yang berbeda kali ini, terlihat mereka berbicara serius namun aku tak mendengar jelas apa yang mereka bicarakan. Terlihat Mas Parhan sedikit menentang, tapi Mas Haris juga Mas Doni terlihat bersikeras dengan pendapatnya. Setelah hening, terdengar namaku dipanggil. "Dewinta, Dewi sini kamu turun!" Panggil Mas Parhan, menyebut namaku. Akupun gegas berjalan menuju lantai satu, dimana ada Ibu serta ke Empat Kakak iparku, juga Mas Parhan. Sesampainya disana, aku langsung menanyakan keperluan Mas Parhan. "Iya Mas, ada yang bisa Dewi bantu?" "Kamu gausah sok menanyakan apa yang kuperlukan Dewi, kamu pasti tahu jika hari ini aku gajihan kan?" mendengar lontaran kata suamiku, aku mengangkat wajahku, dan dengan tegas menjawab. "Gajihan, ataupun tidak. Itu tak berpengaruh buat aku Mas, karena bukan aku yang kau nafkahi, melainkan Ibu. Jika sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, aku mau kembali ke kamar Mas. Karena, mulai hari ini aku minta uang belanja yang seperti biasanya kamu kasih ke aku. Kamu serahkan saja pada Ibu, biarlah Ibu yang mengatur. Aku cukup memasak, dan melayani semua penghuni Rumah ini!" Mendengar jawabanku, Mas Parhan membelalakan mata seolah matanya akan keluar dari tempatnya. "Apa DEWII, KAMU SUDAH BERANI MENGATUR SEKARANG? INGAT DEWI, KAMU HANYA NUMPANG DI RUMAH INI, JADI WAJAR KALAU KAMU MELAYANI SEMUA PENGHUNI RUMAH. DAN JIKA KAMU MENGINGINKAN UANG, SILAHKAN KAMU BEKERJA AKU JAMIN TIDAK AKAN ADA SATUPUN PERUSAHAAN YANG MENERIMA KARYAWAN LUSUH SEPERTIMU!" Mendengar perkataan Mas Parhan, akupun menjawabnya aku berusaha menahan air mataku yang menggenang dipelupuk mata, aku menjawab Mas Parhan dengan tegas. "MAS, APA KAMU LUPA JIKA AKU LULUSAN SARJANA TERBAIK? AKU BISA MELAMAR PEKERJAAN KE SEMUA PERUSAHAAN MANAPUN KALAU AKU NIAT. DAN APA KAMU LUPA, JIKA AKU DILARANG BEKERJA OLEHMU SEMENJAK KITA MENIKAH MAS?" jawabku, pada Mas Parhan meluncur begitu saja, yang membuat beban berat yang selama ini kupendam, terhempas dengan bebas menguap entah kemana. Kini dadaku terasa ringan, menyamarkan rasa sakit yang kuterima selama ini. Mendengar jawabanku kembali terdengar berani, muka Mas Parhan tampak merah menahan amarah. Aku yakin, jika kini tak ada Mas Haris, pasti Mas Parhan menamparku, namun yang bisa dia lakukan hanya kembali melontarkan kata-kata yang tak pantas dikatakan oleh seorang suami, namun lagi Mas Haris membelaku sebelum Mas Parhan terlalu jauh menyakitiku. "DEWI, BERANI SEKALI KAMU WANITA GELANDANGAN! PERCAYA DIRI SEKALI KAMU, JIKA KAMU BISA BEKERJA DIMANA SAJA, SEDANGKAN LIHAT DIRIMU SEKARANG DEWI NGACA KAMU!" Dengan menunjuk mukaku, Mas Parhan melontarkan kata yang teramat menyakitkan. Namun sebelum Mas Parhan kembali berkata, Mas Haris langsung menengahi perdebatan kami. "Sudah-sudah, Parhan-Dewi sudahi perdebatan kalian. Dan kamu Parhan, jadilah suami yang bijak serta penyayang terhadap istrimu. Mulai sekarang berubahlah Parhan, sebelum kamu menyesal suatu saat nanti!" Mendengar kata Mas Haris, Mas Parhan tak terima. Diapun langsung menimpali, perkataan Mas Haris. "Gak mungkin Mas, aku menyesal dengan perempuan seperti Dewi. Dia cuma perempuan benalu di Rumah ini, aku yakin dia tak akan mungkin bisa hidup tanpa aku diluar sana!" Mendengar kesombongan Mas Parhan, Mas Haris hanya bisa geleng-geleng kepala tanpa berminat menimpali omongan Mas Parhan. Akupun memanfaatkan kesempatan, untuk segera pergi dari hadapan mereka. "Jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, Dewi permisi dulu Mas. Masalah uang, seperti yang kukatakan tadi, serahkan semuanya pada Ibu, aku cukup menjadi pelayan kalian saja!" Namun, sebelum akhirnya aku beranjak, Mas Haris mencegahku pergi dari hadapan mereka. "Tunggu dulu Dewi, maaf bukannya aku menghinamu ataupun gimana. Aku telah sepakat dengan Doni, serta Istri kami jika mulai malam ini, dan beberapa bulan kedepan. Kami ingin memberikan sejumlah uang, sebagai bentuk apresiasi kami, karena kamu telah merawat anak kami dengan baik. Bahkan Brian tumbuh menjadi anak yang Pintar, juga sehat. Dan ini Dewi, uang dari kami silahkan kamu terima yaa!" Mendengar hal itu, aku sedikit tak percaya, dan aku langsung mengkonfirmasi pada Kak Putri dan Kak Bella. "Kak Putri, Kak Bella, apa benar ini kesepakatan kalian? Aku tidak salah dengar kan Kak?" Tanyaku, pada mereka. "Iyaa Dewi, itu kesepakatan kami. Silahkan diterima, mungkin uang itu tak cukup dengan tenaga yang sudah kamu berikan sepenuhnya untuk anak kita, tapi ini bukan upah melainkan bentuk Apresiasi kami pada ketulusanmu Dewi!" "Iyaa Dewi, terima yaa uangnya. Beli apapun yang kamu butuhkan, atau kalau perlu kami yang antar kamu berbelanja yaa Wii!" Kak Putri, dan Kak Bella menjelaskan semuanya dengan tulus tanpa beban. Kini mereka terlihat berbeda dari biasanya, yang membuatku merasa sedikit lega. Mas Parhan dan Ibu, kini bungkam seolah kehilangan kata-kata mereka, yang biasa melontarkan kata hinaan terhadapku, kini membisu seolah hilang ditelan angin. Kini Mas Haris, dan Mas Doni memberikan amplop coklat yang masing-masing terasa tebal di tanganku, dan lagi Mas Doni mengatakan sesuatu yang membuatku tenang. "Dewi, diterima yaa gunakan uang itu dengan baik. Biarlah Parhan tidak menafkahimu, tapi kamu berhasil jadi wanita yang Mandiri sekarang!" "Iyaa Dewi, tenang mulai sekarang kamu tidak akan kekurangan uang sedikitpun!" "Iya, Makasih yaa Kak Putri-Kak Bella-juga Kak Haris dan Kak Doni. Sekali lagi, terimakasih banyak buat kalian!" Setelah aku mengatakan terimakasih, sesuatu yang tak kusangka kini terjadi dihadapanku. Kak Putri memelukku dengan erat, disusul Kak Bella mereka memelukku sebagai bentuk dukungan. "Dewi, maafkan kami selama ini yaa Wi!" "Iyaa Kak, Dewi juga minta maaf sama kalian ya Kak!" "Kamu gak ada salah Wii, bahkan kamu terlalu baik. Sekarang, kamu naik ke kamar. Sebentar lagi, kita Shoping ya Wi kami akan antar kamu Wi!" "I-Iya Kak, sebentar Dewi bersiap dulu ya Kak!" Namun sebelum aku beranjak, Mas Parhan mencegahku untuk pergi. "Enak saja main pergi, kamu layani aku dulu sebagai suamimu Dewi. Dan aku tidak mengijinkan kamu pergi kemanapun kamu, malam ini!" "Apa hak kamu Parhan melarang Dewi, apakah selama ini dia diperlakukan adil olehmu? Kamu minta saja dilayani sama Ibu, bukankah uang kamu berikan semuanya sama Ibu?" Kak Bella membelaku kini, membuat Mas Parhan terbungkam seketika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD