Mas Haris

1234 Words
Keesokan harinya seperti biasa, aku memulai hari dengan segera beraktifitas di dapur. Menyiapkan sarapan untuk semua penghuni Rumah, termasuk Mas Parhan. Namun disaat, aku memulai masak, tiba-tiba Ibu Mertuaku menghampiri dan mengatakan jika masakan pagi ini harus ditambah karena kedua suami Kakak iparku datang tadi malam dari luar Kota. "Dewi, kamu harus menambah masakanmu untuk sarapan pagi ini, ada Haris dan Doni datang tadi malam!" aku yang mendengar hal itu, merasa sedikit cemas karena bahan masakan yang tinggal sedikit stok dilemari pendingin, sedangkan tanggal gajihan Mas Parhan masih dua minggu lagi. Dengan memberanikan diri, akupun menjawab perintah Ibu Mertuaku. "Ibu, maaf sebelumnya. Tapi stok bahan makanan tinggal sedikit, dan pegangan uangku tinggal sedikit Bu. Gimana kalau Ibu manambah sedikit stok makanan, kan Ibu lebih banyak pegang uang dibanding aku?" Mendengar jawabanku, bukan solusi yang aku dapatkan. "PLAK" Ibu mertuaku, memberikan sebuah tamparan dipipi kiriku yang membuatku sedikit terhuyung. Aku memegangi pipi yang terasa panas, akibat tamparan itu. Dengan sedikit keberanian yang kumiliki, akupun membela diri, dengan sedikit mengeraskan suaraku. "Tega sekali Ibu menamparku kenapa Bu? Apa selama ini, aku kurang mengabdi sebagai menantu di Keluarga ini, walaupun kalian memperlakukanku seperti pembantu aku terima. Tapi tamparan ini, jelas aku tak bisa terima karena kedua Orang Tuaku tak pernah sekalipun menamparku!" Mendengar jawabanku, yang tak biasa semakin membuat Ibu mertuaku naik pitam. Hingga Ibu dia, kembali mengayunkan tangannya hendak menamparku, namun sebelum tamparan itu mengenai pipiku, "Grep" ada sebuah tangan yang berhasil menangkap tangan kanan Ibu mertuaku, yang membuat dia merasa kaget dengan muka yang sedikit syok, Ibu mertuaku tak bisa berbuat banyak ketika Mas Haris membelaku di depan Ibu. Yaa, dia Mas Haris suami dari Kak Putri. Selama ini, hanya Mas Harislah yang berlaku baik padaku, yang seharusnya aku dapatkan dari Mas.Parhan, tapi aku dapatkan dari orang lain. Berbeda dengan Mas Parhan, yang selalu berada dipihak Ibu walaupun yang Ibu lakukan itu salah. Mas Haris adalah, suami dari Kak Putri yang merupakan Kakak Ipar Mas Parhan, sekaligus saudara Iparku juga. Setelah menepis tangan Ibu, Mas Haris langsung memperingatkan Ibu. "Ibu, cukup jangan berlaku kasar dengan Dewi. Gimanapun juga dia bagian dari keluarga kita, sama seperti aku menantu Ibu. Hargai Dewi Bu, dia selalu melayani kita semua dengan baik, bahkan kedua anakku tak pernah kekurangan makanan. Juga mereka sehat, berkat makanan sehat yang selalu Dewi sajikan untuk mereka!" "Haris, kamu membela perempuan lusuh ini?" "Haris bukan membela Bu, hanya saja Haris gak suka ada keributan di Rumah ini. Selesaikan dengan cara baik-baik Bu, jangan memakai kekerasan!" "Bagaimana Ibu tidak marah, dia meminta Ibu untuk membeli bahan masakan, karena stok makanan katanya tinggal sedikit!" "Ya itu wajar Bu, kan memang Parhan hanya memberi uang belanja sedikit pada Dewi. Sedangkan Ibu, mendapat uang Sepuluh Juta dari Parhan hanya untuk keperluan Pribadi. Kalau memang Ibu, keberatan memberikan uang buat Dewi, yasudah saya yang akan memberikannya Bu!" "Jangan Haris, biar Ibu saja!" "Baik Ibu, silahkan ambil dulu uangnya. Dan, biar Bi Murni yang belanja jangan Dewi Bu!" "Iyaa Haris, biar Bi Murni yang belanja!" Pada Mas Haris, Ibu takbisa berkutik. Karena, Mas Haris selalu tegas pada Ibu, berbeda dengan Mas Parhan yang selalu menuruti semua keputusan Ibu walaupun buruk. Ketika Ibu mengambil uang, Mas Haris sedikit memberi pesan padaku. "Lain kali, Dewi kamu harus bertindak tegas sama Ibu, ataupun dengan Suamimu, agar kamu lebih dihargai!" "Iyaa Mas!" "Yasudah, aku tinggal yaa!" "Iyaa Mas, makasih ya Mas!" Tanpa menjawab Mas Haris berlalu dari hadapanku, taklama Ibu memberikan uang pada Bi Murni untuk menambah stok bahan makanan. "Murni, ini uang buat belanja stok bahan makanan, ingat cuma untuk kedua menantuku bukan untuk semua penghuni Rumah!" "Baik Bu, kalau begitu saya permisi Buu!" Bi Murni pun menerima uang itu, lanjut berpamitan dan berangkat menuju pusat perbelanjaan terdekat. Tanpa menyapaku, Ibu berlalu begitu saja dari hadapanku yang saat itu aku sedang menyelesaikan masakanku yang tadi sedikit tertunda. Taklama masakan selesai, aku sajikan diatas meja makan. Tiga puluh menit kemudian, satu persatu penghuni Rumah ini, duduk diatas meja makan. Seperti biasa, jika ada Mas Haris dirumah aku diminta untuk turut menikmati sarapan diatas meja makan. Karena memang Rumah ini, di Renovasi oleh Mas Haris sendiri, jadi Mas Haris mempunyai kuasa di Rumah ini. Kini semua telah berkumpul, hendak menikmati sarapan. Aku yang pagi itu, sedang mencuci peralatan masak, mendengar suara Mas Haris yang memanggil namaku. "Dewinta, Dew, sini sarapan bareng kami!" mendengar namaku disebut, aku langsung menghampiri Mas Haris. "Iyaa Mas, ada apa Mas?" Jawabku, ketika sampai di hadapannya. "Ayo kamu sarapan sama kita, ini masakan kamu yang buat kan? Aku yakin, ini pasti rasanya enak!" Mendengar kata-kata Mas Haris, semua yang di meja makan tercengang tak terkecuali Mas Parhan Suamiku. Dan taklama Kak Putri menimpali perkataan Mas Haris. "Mas, ngapain sih Dewi harus ikut makan disini? Lihat tuh penampilannya saja, lusuh begitu bagaimana kalau ada tamu yang melihat kan malu Mas?" Belum juga Mas Haris menjawab, Mas Parhan ikut menimpali perkataan Kak Putri. "Iya Kak, ngapain sih ngajak Dewi makan sama kita, dia tuh cocoknya dimeja dapur bareng Bi Murni, bukan disini!" Tanpa mendengarkan perkataan Kak Putri, dan Mas Parhan. Mas Haris bersikeras, agar aku duduk di meja makan bersama mereka. "Dewi, gausah dengar apa kata mereka. Duduklah bersama kami Dewi, bagaimanapun juga kamu sudah masak untuk seluruh penghuni Rumah ini!" Kini aku menjawab perkataan Kak Putri, dan Mas Parhan dengan keberanian yang tiba-tiba muncul dalam diriku. "Kak Putri, Mas Parhan. Jika memang aku layaknya seperti Pembantu, kenapa Aku tidak kalian gajih dengan layak, seperti kalian pada Bi Murni? Kenapa kalian hanya memeras tenagaku, tanpa upah selama ini? Selama tiga tahun aku diperlakukan seperti ini oleh kalian semua, Mas Parhan yang seharusnya melindungiku, tak ubahnya seperti seorang Raja pada rakyat kecil yang meminta tenaga untuk diperas. Aku hanya seperti seonggok daging, yang kalian makan tanpa kalian bayar. Mas Parhan, Selama aku menjadi Istrimu, apakah kamu sudah layak menafkahiku Mas? Disaat Istri yang lain, bebas berdandan, bebas menggunakan uang suaminya, tapi apa yang aku dapatkan hanya Daster lusuh dan juga robekan disana sini yang aku dapatkan. Kedua Orang Tuaku, menganggap aku beruntung mempunyai Suami seorang Manajer, tapi yang sebenarnya jauh dari dugaan mereka!" Mendengar semua jawabanku, Mas Parhan berdiri dari kursinya, dengan suara yang naik beberapa Oktap dia memarahiku, namun dihentikan oleh Mas Haris. "DEWIII, BERANI SEKALI KAMU BERBICARA SEPERTI ITU HAH? SIAPA YANG MENGAJARIMU, TIDAK CUKUP DENGAN PELAJARAN YANG KAU DAPATKAN KEMARIN MALAM? DAN JUGA APA TAMPARAN IBU TADI PAGI, TAK CUKUP MEMBUAT KAMU JERA DEWI? DASAR PEREMPUAN LUSUH, SEPERTI GELANDANGAN KAMU!!!" Lalu Mas Haris, kembali membelaku namun aku menghentikannya. "PARHAN, TEGA SEKALI KAMU DENGAN DEWI. DIA ITU ISTRIMU PARHAN, INGAT KAMU MEMPUNYAI KAKAK PEREMPUAN. BAGAIMANA JIKA AKU YANG MEMPERLAKUKAN PUTRI SEPERTI ITU, APA KAMU SADAR DENGAN APA YANG KAMU KATAKAN TADI PARHAN??" "Sudah-Sudah, Mas Haris jangan berdebat lagi Mas. Lebih baik saya kebelakang melanjutkan pekerjaanku yang tertunda, saya tidak ingin menjadi penyebab pertengkaran kalian! Makasih Mas Haris sudah membelaku, permisi saya mau kebelakang!" Aku langsung berlalu dari hadapan mereka, memasuki kamar mandi yang ada di dapur. Menyalakan kran air, dan menumpahkan semuanya disana, aku menangis sejadi-jadinya. Aku merasakan hati yang teramat perih, semua kata Mas Parhan berputar di kepalaku silih berganti dengan kejadian tamparan yang dilakukan Ibu mertuaku. Setelah puas menangis, aku langsung keluar kamar mandi, mengembalikan semua kekuatanku agar tidak terlihat lemah dihadapan mereka. Aku segera, duduk dikursi meja dapur, menikmati sarapan walaupun terasa hambar tapi aku berusaha menikmati. Agar aku bisa terus berdiri tegak, dan aku memerlukan makanan ini untuk kekuatanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD