Cici hampir terjatuh ketika turun dari taksi, langkahnya goyah, napasnya terburu-buru, rambutnya berantakan diterpa angin malam. Lampu merah darurat UGD menyinari wajahnya yang pucat. Begitu masuk, lorong itu penuh. Perawat berlari, suara monitor berdenting, aroma antiseptik menusuk. Dan di ujung lorong… Ibu Gina dengan mantel mahal, rambut tersanggul, wajah keras penuh kemarahan. Di sampingnya berdiri seorang pelayan rumah dengan tatapan panik. Cici menghampiri, lututnya hampir tidak kuat menopang. “Tante…” suaranya pecah. “Tante, bagaimana Om—” Belum sempat kalimatnya selesai, PLAK! “Kamu masih berani datang ke sini?!” Mata Ibu Gina menyala tajam. “Semuanya ini terjadi karena kamu, kamu dengar?! Kalau bukan karena kamu, Sadam tidak akan keluar malam-malam membeli makanan konyol kes

