Tentu saja, takdir Tuhan memiliki cara misterius untuk menguji hati manusia. Sadam tak mengingat satu pun kebersamaan mereka, tidak senyumnya saat memeluk Cici, tidak suara lembutnya ketika pulang kerja, tidak tatapan penuh janji ketika berkata ingin menjaga Cici. Dan Cici… akhirnya menyerah. “Dia pantas mendapatkan yang terbaik… bukan aku,” bisiknya lirih, berdiri di tengah ruang apartemennya yang sepi. Ruang itu pernah menjadi tempat Sadam tertawa, memasak, menonton, mencium pipinya tiba-tiba seperti anak kecil yang merindukan rumah. Tetapi kini sudut-sudutnya terasa asing. Dingin. Menggantung sunyi. Cici menarik napas panjang dan mulai berkemas. Satu kotak. Dua kotak. Tiga kotak. Buku-buku resep, lilin aromaterapi yang dulu dibeli Sadam, syal yang pernah dipakaikan Sadam di malam hu

