3

1514 Words
Kimberly Wyanet Scott memandang nanar bayangannya pada jendela kaca di kereta, saat ia sedang menempuh perjalanan. Jemarinya bergerak perlahan membentuk garis-garis samar pada lapisan embun, menampakkan lengkung mata yang turun serupa gerak bibirnya. Hatinya teriris, mengingat tak kurang dari 10 perusahaan sudah dilamar, namun hanya 6 yang mengundangnya wawancara. Lebih buruk lagi, tak ada yang menerimanya bekerja sampai saat ini. Bukan menyoal kecerdasan, melainkan peruntungannya yang masih samar. Harapan keluarga yang ditumpukan padanya, menambah jeritan di ujung relung. Kala itu pikirannya melayang melintasi waktu. Bayangan lain pun memudar, luruh dalam kenangan di sebuah desa kecil .... *** Staffin yang terletak di utara Kota Portree, Skotlandia, merupakan sebuah desa berpenduduk kelas bawah. Akan tetapi, Keluarga Scott berada di bawah kelas tersebut. Cedric William Scott—sang ayah—yang bekerja sebagai Polisi Distrik, tak mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara itu, istrinya mengidap penyakit serius, sehingga tidak dapat membantu keuangan keluarga. Kimberly dan kedua adiknya, tumbuh dalam keluarga yang serba kekurangan. Beruntung, Kimberly Wyanet Scott bisa menamatkan kuliah di Glasgow Center University, berkat bekerja serabutan yang kerap ia lakoni. Akan tetapi, seiring usia adik-adiknya yang kian bertambah, kebutuhan keluarga juga pun turut meningkat. Kehidupan mereka semakin terpuruk dari hari ke hari, terkikis realita kehidupan yang harus mereka lalui. Lowongan pekerjaan di Staffin tak menjanjikan perbaikan hidup, alih-alih berharap lebih daripada itu. Upaya Kimberly Wyanet Scott melamar di Glasgow dan Inggris pun belum membuahkan hasil. Sampai selembar kertas membangkitkan harapan Keluarga Scott. Sepucuk surat yang padanya digantungkan seluruh asa Keluarga Scott. Saat itu, Cedric William Scott yang baru saja pulang, menemukan sepucuk surat yang terselip di bawah pintu. "Ayah, apakah itu tagihan listrik? Atau tagihan utang yang lainnya?" tanya Joanna—sang ibunda—sembari memegang tumpukan kertas berisi catatan utang. Sang ibunda Keluarga Scott itu bertubuh sangat kurus dan berkulit pucat. Wajahnya yang semasa muda sangat cantik, seperti Kimberly, kini tak lagi tampak. Yang terlihat adalah wajah tirus berpipi cekung, bermata sayu dengan kantung mata hitam, dan bibir yang pucat. Sebagian kepalanya tak berambut disebabkan kerontokan akibat penyakit yang ia derita. Ia memandang suaminya yang tengah membaca surat tersebut. Cedric William Scott tertegun. Butuh beberapa saat untuk memercayai isi surat yang baru dibacanya. "Bukan ... bukan, ini bukan tagihan listrik ... bukan juga utang lain ... tapi ini surat dari Axton ...." "Apa? Axton? Surat dari Axton Group?" Joanna menghampiri, lalu mengambil surat dari tangan Cedric, sang suami. "Apakah ini benar-benar nyata? Ataukah ini hanya mimpi? Aku benar-benar tidak menyangkabhari seperti ini datang, setelah bertahun-tahun mengalami himoitan hidup." Joanna menggumam, membaca isi surat tersebut. "Oh, Tuhan! Mungkin ini pertolongan-Mu untuk keluarga kami! Terima kasih Tuhan!" Mendengar jeritan gembira Joanna, Kimberly Wyanet Scott buru-buru ke luar dari kamar. "Ibu, Ayah, ada apa? Mengapa aku mendengar Ibu berteriak?" tanya Kimberly Wyanet Scott, merasa cemas. Air mata menggenang di mata Joanna. Bibir bagian bawahnya bergetar. Kebahagiaan menyekat suaranya keluar. Ia pun mengulurkan surat itu, dengan tangan gemetar. Reaksi Kimberly Wyanet Scott jauh lebih tenang ketimbang kedua orang tuanya. Meskipun begitu, tak dapat disangkal kalau surat itu membuatnya senang. Kimberly tak ingin larut berlebihan. "Ini hanya panggilan wawancara. Belum tentu diterima bekerja di sana." Kimberly berkata dengan intonasi biasa, berusaha menekan ekspetasi karena khawatir akan berakhir dengan kekecewaan. "Kamu bicara apa, Sayang?! Mendapat surat panggilan dari perusahaan internasional seperti Axton Group, bukan hal yang mudah. Mungkin ada ratusan orang yang mengirim lamaran, tapi hanya beberapa yang diberi kesempatan wawancara. Kamu seharusnya senang, Nak. Tidak seharusnya kamu berkata begitu pada pertolongan Tuhan." Cedric William Scott memberi petuah pada Kimberly, sang anak. "Ayahmu benar, Kim." Joanna berkata, setelah berhasil menenangkan diri. "Pasti banyak pelamar dari universitas yang lebih bergengsi dibandingkan Glasgow Center University, tapi mereka memilih untuk mewawancaraimu. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa." Kimberly memikirkan kata-kata mereka, sembari menyimpan surat panggilan dari Axton Group. Bagi orang lain, reaksi Cedric dan Joanna tentu dianggap berlebihan. Namun, jika mereka mengalami kehidupan sulit seperti Keluarga Scott, pasti dapat memahaminya. Secercah harapan saja sudah membawa kebahagiaan, apalagi kalau terwujud. Mewujudkan keinginan menjadi realita, bukan persoalan gampang. Hambatan akan selalu ada di setiap peluang. Masih terlalu jauh memikirkan proses wawancara. Untuk dapat memenuhi panggilan dalam kondisi pantas pun sulit terpenuhi. Itulah masalah pertama yang harus dilalui Kimberly, yang sedang mencari pakaian layak di dalam lemari. "Cherryl, bagaimana menurutmu kalau yang ini? Mmm ... atau mungkin yang ini?" tanya Kimberly pada adiknya. Cherryl adalah adik pertama Kimberly. Wajahnya mirip dengan sang kakak, sama-sama cantik dan menarik. Rambutnya dipoting oendek sepundak, wajahnya oval dan membingkai sepasang mata lebar berbulu mata lentik, hidung mancung, serta bibir merah merekah. Badannya pun elok bak gelas bertangkai, tetapi tidak seranum kakaknya. Pakaian yang dikenakannya pun sesederhana sang kakak. Gadis berusia sembilan belas tahun tersebut, memandang Kimberly dari ujung ke ujung. Tak lama kemudian, ia menggeleng. Kimberly menghela napas, seraya melipat pakaian. "Aku akan memakai yang ini saja, Cher. Ini sudah yang paling baik di antara baju-baju lain. Memang ada sedikit noda, tapi kurasa tidak apa-apa." Cherryl menatap kakaknya dengan sedih. "Kim, tapi kamu akan menghadiri wawancara penting. Tidak seperti minggu lalu, di Bolly Cake. Akan lebih baik jika menyiapkan penampilan yang pantas." Kendati yang dikatakan Cherryl benar, namun Kimberly tidak tahu harus bagaimana. Semua pakaiannya sudah dimakan usia. "Kim, apa benar kamu tidak mau meminjam uang pada Mrs. Smith untuk membeli baju? Well, kamu juga perlu biaya untuk ke London, kan?!" Kimberly memandang lantai ruangan dengan gamang. Dua pikiran kontradiktif, berkecamuk. Menimbang antara harapan, dan martabat. Sebenarnya meminjam pada Mrs. Smith sudah pasti akan diberi, tetapi Kimberly enggan, karena uang tersebut berasal dari Perry Smith. Anak tunggal Mrs. Smith tersebut, terkenal sebagai perantau dari Staffin, yang berhasil membangun bisnis di London. Kedermawanannya disanjung oleh warga Staffin. Ia sering menjadi role model bagi penduduk di sana; menjadi barometer kesuksesan anak-anak mereka. Akan tetapi Kimberly memiliki pandangan berbeda. Di matanya, sikap yang Perry tunjukkan adalah kepalsuan belaka. Bagi Perry, perempuan adalah barang yang layak dibarter dengan Poundsterling. Itulah bisnis Perry di London. Sayang, Mrs. Smith dan seluruh Staffin tidak tahu mengenai hal tersebut—kecuali Kimberly. Karena kecantikan Kimberly, Perry acap menawarkan pekerjaan sebagai Pekerja Seks Komersial di London, namun Kimberly memiliki martabat yang tak bisa direndahkan. Meskipun tahu kepalsuan Perry, Kimberly tidak menceritakannya pada orang lain—demi menjaga perasaan Mrs. Smith, yang selalu baik padanya. Kimberly tak ingin martabatnya dijadikan imbalan untuk melunasi utang. Namun di sisi lain, harapan keluarga tidak mungkin ditepikan. Mereka sudah terlalu lama menderita. Pada akhirnya sebuah keputusan diambil Kimberly, yakni menemui Mrs. Smith dan mengambil risiko. Seperti biasa ketika Kimberly datang berkunjung, berbagai sajian dihidangkan di Ruang Tamu. "Perry pasti senang, kalau tahu kamu berkunjung ke sini." Mrs. Smith mengulas senyum semringah. Kimberly balas tersenyum, sebelum menyeruput minuman. "Kudengar kondisi Joanna sudah membaik." Kimberly mengangguk. "Begitulah hasil pemeriksaan terakhir, Mrs. Smith." "Syukurlah. Namun kalian harus betul-betul memperhatikan Joanna. Penyakit tersebut dapat sewaktu-waktu kambuh tanpa disadari. Jika itu terjadi, akan membutuhkan biaya sangat besar, Kim." Hati Kimberly terasa perih, mendengar kemungkinan yang dapat terjadi. Memang ketakutan itulah yang selalui membayangi. Mrs. Smith dapat merasakan kegetiran gadis di hadapannya. "Kim, tangan kami selalu terbuka untuk membantumu. Aku dan Joanna sudah bersahabat sejak kecil. Kamu dan adik-adikmu sudah kuanggap layaknya anak kandung. Jika memang ada yang bisa kami lakukan, tak perlu sungkan menyampaikannya." Keraguan Kimberly luntur oleh perhatian Mrs. Smith. Mungkin saja selama ini ia terlalu berprasangka buruk pada Perry. Bisa saja Perry tak meminta martabatnya sebagai imbalan. Usai menyampaikan maksudnya, Mrs. Smith segera menghubungi Perry. Ternyata Perry sama sekali tidak meminta imbalan. Bahkan, bantuannya tak dihitung sebagai utang. "Perry akan segera mentransfer kebutuhanmu. Dia juga mengatakan, jika kamu perlu bantuan di London, supaya segera menghubunginya." Mrs. Smith meletakkan kartu nama Perry di atas meja. Selembar kertas yang kini sedang dipandangnya di dalam kereta. Kalau bukan karena pesan singkat Joanna yang menanyakan hasil wawancara, sudah barang tentu kertas itu masih tersimpan di dalam dompet. Jika saja Kimberly sanggup berkata jujur tentang hasil nihil yang diperoleh, sudah pasti ia tidak berada di dalam kereta yang membawanya bertemu dengan Perry Smith di Hampton Street. Entah takdir apa yang menanti Kimberly Wyanet Scott, tetapi ia harus melaluinya. Bahkan jika harus merasakan pilu, ia kan berupaya menahan jeritan hatinya, demi kebahagiaan keluarganya di Staffin. Namun, siapa pun akan berusaha menghindari derita. Demikian pula Kimberly Wyanet Scott, yang tak henti-hentinya berdoa agar jalannya tak lagi terjal. Tak lama kemudian terdengar suara dari pengeras suara. "Sebentar lagi kita sampai tujuan, bagi penumpang yang akan turun, harap memeriksa barang bawaan masing-masing. Mendengar itu, Kimberly pun bersiap-siap. Diraihnya tas dari pangkuan lalu menyampirkan ke pundaknya. Selang beberapa menit kemudian, ia tiba di stasiun tujuan. Usai menginjakkan kaki di stasiun, ia menghubungi Perry. "Aku sudah sampai. Bisakah kamu berikan alamatnya? ... Ah, okay. Kamu bisa share location ... aku akan segera ke sana, mohon ditunggu sebentar, Perry ... iya tentu saja aku akan bertanya pada orang yamg kutemui di jalan, jika kesulitan mencari alamatnya, atau mengalami gangguan sinyal ... okay, sampai bertemu, Perry Smith." Kimberly Wyanet Scott menutup pembicaraan lantas berjalan menuju eskalator. Ia berusaha memantapkan hati tatkala berjalan ke luar dari pintu stasiun. Diraihnya ponsel, melihat alamat lokasi yang ditunjukkan oleh aplikasi pencari alamat, kemudian kembali berjalan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD