Kimberly berjalan gontai melintasi Hampton Street. Pikirannya teraduk realita dan harkat. Bercampur baur dalam batin yang menjengit-jengit. Setiap langkah yang mengayun, mengarut keteguhan. Sekelumit sesal pun menyeruak, namun segera tereliminasi keputusasaan yang mendorong langkahnya. Tak lama. Sebab langkahnya terhenti di suatu tempat.
Ia mendongak, membaca papan nama. Memastikan di kafe itulah, Perry Smith akan menemuinya.
Ditarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Keraguan sempat terbesit, namun ditepis sekali lagi. Usai memantapkan hati, ia masuk ke dalam kafe.
Bagian dalam kafe tampak bersih dan rapi. Pada dindingnya terdapat wallpaper cokelat muda dengan motif bunga dan daun yang berupa embos (gambar timbul). Salah satu dindingnya penuh dengan cermin agar ruangan terlihat lebih luas. Lantainya berwarna krem dan terbuat dari marmer.
Pandangannya mengedar, hingga terpatri pada pria tampan yang melambai padanya.
"Maaf, aku terlambat, karena harus mencari tempat ini." Sudut mulutnya terangkat, memberi setengah-senyum.
Perry Smith balas tersenyum. "Tidak apa-apa. Kapan kamu sampai di London?"
"Pagi tadi," jawab Kim.
Sekonyong-konyong Pramusaji datang menginterupsi perbincangan mereka.
"Ada yang mau dipesan?" tanya Pramusaji, sambil menegakkan pena.
"Aku memesan dua Bloody Marry," pesan Perry.
"Aku tidak minum alkohol." Kimberly berkata pelan pada Perry.
"Sesekali tak jadi masalah, Kim."
"Ada pesanan lain?" Pramusaji bertanya.
Perry mempertemukan ujung telunjuk dan ibu jari, memberi isyarat pada Pramusaji, yang segera meninggalkan mereka.
"Tidak minum alkohol, tapi tahu Bloody Marry?" Perry mengangkat sebelah alisnya.
"Well, aku pernah bekerja di kafe," jawab Kim, cepat.
"Ah, jadi begitu rupanya. Lalu bagaimana hasil wawancaramu?"
Kimberly tertunduk lesu, memandang nanar jemarinya. Kedua bahunya terkulai, kala mengulas kegeruhannya[1] tadi pagi.
Perry menghela napas. "Dunia belum berakhir, Kim. Masih banyak pekerjaan lain selain di Axton. Sayang, kamu selalu menolak salah satunya," ucap Perry, merujuk tawarannya yang sudah-sudah.
"Sebenarnya, itu tujuanku menemuimu." Kalimat itu terlontar begitu saja.
"Maaf, apa maksudmu?" tanya Perry, memastikan kalimat yang baru didengarnya.
"Kalau tawaran itu masih ada, aku bersedia."Kimberly berkata sungguh-sungguh.
Perry menyandarkan diri. Bibirnya menyeringai miring. Bagi Perry, Kimberly merupakan kepingan penyempurna ketamakannya. Cukup seorang Kimberly, pundi-pundi Poundsterling-nya akan menggunung. "Selalu ada untukmu, Kim."
***
Malam hari di tengah Kota London. Di suatu tempat yang kerap membawa pengunjungnya ke dalam ilusi. Sebuah tempat yang berdesain khas oriental, selaras dengan namanya—Pimpshuei.
Musik bertempo cepat, mengentak tubuh-tubuh berpeluh, memeragakan kepiawaian menari. Memikat lawan jenis untuk larut dalam sekilas kesenangan semu. Berbagai minuman tersaji untuk membuai hasrat, luruh ke dalam utopia sesaat. Ingar bingar tanpa martabat, terhelat paripurna. Tak terkecuali di salah satu sudut ruangan yang berisikan beberapa orang penikmat hiburan lintas batas. Dua di antaranya sedang berkolaborasi, nyaris tanpa cacat. Melakukan perbuatan yang menggugat kesantunan. Setelah merasa cukup, si lelaki menarik wajahnya dari si perempuan. Ia menoleh ke belakang, tersenyum melihat sahabatnya menenggak setengah botol Chivas. Wajah pria yang dipandang bersemu merah. Kelopak matanya turun akibat minuman yang mengendurkan saraf-sarafnya.
"Sudah lama aku tidak melihatmu seperti ini, Arthie," ujar Clive, seraya menuangkan minuman. "Cheers!"
Gelas-gelas berdenting, kala keduanya bertemu.
"Sobat, ini belum cukup untuk merayakan keberhasilan kita. Tunggulah temanku datang membawa pesananku untukmu."
Arthur tersenyum tipis. Hasrat belum sepenuhnya berkuasa. "Kamu tahu kan, kalau Louise sudah cukup bagiku," tukasnya, menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis.
Clive tersungging. "Kalau temanku datang, kamu akan menyimpan cincinmu." Ia beranjak dari sofa, sembari melingkarkan tangan di pinggang perempuan berambut pirang, kemudian pergi ke lantai dansa.
Menit berganti dengan cepat. Tak terasa 20 menit telah berlalu. Clive datang bersama seorang lelaki, dan dua perempuan.
"Arthie, ini teman yang kujanjikan." Clive tersenyum.
Arthur mendongak, memandang orang-orang di hadapannya. Namun, hanya sesaat saja, karena kecantikan salah seorang yang baru datang, menawan pandangannya. Pengusaha sekelas Arthur, acap bertemu dengan perempuan-perempuan cantik dari kalangan selebriti, tetapi tak ada satupun yang mampu membuat pandangannya tertawan.
"Perkenalkan saya Perry Smith." Uluran tangan Perry mengembalikan kesadaran Arthur. "Dan ini," Perry memegang pundak gadis itu, mengarahkannya duduk di samping Arthur. "Kimberly."
"Arthur, kawanku ini penyedia layanan papan atas. Tidak sekalipun pelayanannya mengecewakanku. Sudahan puluhan kali jasanya melayaniku," terang Clive.
Perry tersenyum, seraya merendah. "Mr. Grissham terlalu berlebihan. Saya hanya mengupayakan yang terbaik untuk klien-kilen saya." Perry mengerling pada Kimberly. "Dia terbaik di antara yang lain. Apalagi baru hari ini bekerja pada saya, jadi belum ada yang menyentuhnya. Anda beruntung menjadi yang pertama. Tapi,"—Perry melihat semburat merah di wajah Kimberly—"Mohon dimengerti sifatnya yang pemalu."
"Kamu tidak perlu khawatir, sahabatku ini juga pemalu." Clive menimpali, lantas menoleh pada Arthur. "Bagaimana, tertarik, kan?!?"
Bibir Arthur tak bergeming. Kecantikan Kimberly berhasil memikatnya—apalagi pengaruh alkohol turut mendorong hasrat terlarang. Namun, gengsinya terlalu tinggi—sekalipun sekadar mengangguk.
Sudut mulut Clive terangkat. Ia paham diamnya Arthur adalah setuju. "Well, aku harus pulang, Sobat," ujarnya, berdiri. "Akan kutransfer seperti biasa, Perry."
Perry mengangguk, seraya beranjak. "Anda ingin ada yang menemani?" tanyanya, sembari menjabat tangan Clive.
"Tadi aku mendapatkan perempuan di klub ini. Tapi ia terlalu mabuk untuk menemani bermalam, sampai merusak mood-ku. Kurasa tidak untuk malam ini, Perry."
"Ah, tidak masalah. Jika sewaktu-waktu membutuhkan pelayanan, ponsel saya selalu aktif."
Clive mengangguk. "Arthie, selamat bersenang-senang." Clive mengedipkan mata, kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Sir, saya harus mengantar pesanan yang lain." Perry menjabat tangan Arthur. "Kim, kalau sudah selesai hubungi aku, nanti akan kujemput." Tanpa menunggu jawaban, Perry dan perempuan yang bersamanya, pergi berlalu.
Suasana canggung menyelimuti Kimberly dan Arthur. Keadaan itu berlangsung selama beberapa menit, hingga akhirnya Kimberly berinisiatif mencairkan suasana.
"Sir, apakah ingin dituangkan minuman?" Kimberly bertanya gugup, seraya mengambil botol Chivas dari atas meja.
Selama beberapa saat Arthur membisu. Pikirannya menimbang antara kesetiaan, dan hasrat. Namun, pada akhirnya ia mengambil keputusan. Arthur menggeleng. "Tidak. Sudah cukup." Ia melirik sesaat pada Kimberly. "Bagaimana kalau menemaniku di tempat lain?"
Pertanyaan itu membuat perasaan takut merayap, tapi Kimberly berusaha melawannya. Ia tahu, itulah konsekuensi dari keputusan yang telah diambil. Memberikan harga diri yang semestinya diberikan pada laki-laki yang dicintai. Bukan sebaliknya, membiarkan pria tidak dikenal merenggut keistimewaannya sebagai seorang perempuan.
Kimberly mengangguk, mempersilakan Arthur membawanya pergi.
Sementara itu, di kediaman Arthur. Louise berjalan mondar-mandir di depan jendela depan rumah. Sesekali ia mengecek pesan masuk di ponsel, tapi tak ada notifikasi baru yang muncul.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil melintasi halaman rumah. Matanya membesar, melihat sedan hitam baru saja parkir di halaman. Louise buru-buru merapatkan pakaian tidur, kemudian bergegas ke pintu rumah.
Begitu pintu terbuka, senyumnya merekah menyambut kedatangan seseorang. "Sayang, aku hampir bosan menunggumu," ucapnya, menarik tangan orang tersebut, masuk ke dalam rumah.
Geliat galat[2] yang bersembunyi, kini mulai tampak. Menyingkap tabir kesucian yang membungkus pengkhianatan. Kadang, saat nasib bercengkerama ramah, justru sesungguhnya sedang berkelakar. Menertawakan kenaifan yang diusung para pendosa.
Itulah hidup yang diwarnai dengan ketidaksempurnaan. Berselimut di balik norma yang sekadar pajangan bagi sebagian orang.
Nasib baik dan buruk, timbul-tenggelam di dalam hidup. Demikianlah lakon di atas panggung kehidupan.
***
Keterangan:
[1]Kegeruhan = kesialan, keapesan, ketidakberuntungan, kemalangan.
[2]Galat berarti kesalahan, kekeliruan, cacat.