Part 5

972 Words
"Kemarin, ngapain lo nginep di rumah sakit sehari? Diusir sama om Fahri?" Sivia membuka obrolan kala ia dan para sahabatnya menikmati waktu istirahat kedua di kantin. Pertanyaan yang ia tunjukkan pada gadis yang tengah makan di samping kekasihnya. Ify yang merasa, akhirnya menatap Sivia. "Sakitlah. Enak aja diusir." "Yakali aja om Fahri udah males punya anak slengekan kayak lo. Sakit apaan? Kok kita gak boleh jenguk?" Ify mendengus tak terima akan ucapan Sivia. "Ngapain jenguk, cuma sehari. Entar suster pada repot ada elu pada. Yang ada gue diusir gak boleh inap di sana." "Ya biar kita terlihat jadi sahabat yang baik lah. Sakit apa woy?" Sivia kembali mengulang pertanyaan. Pertanyaan yang membuat Ify agak susah untuk menjawab. Padahal dari tadi sengaja ia mengalihkan pembicaraan. "Kagak tahu, kelelahan kali nangani ulah Dea cs. Gak perlu kalian datang, udah ada Kak Rio yang rawat gue sepenuh hati." Sahabatnya berlagak muntah, membuat Ify terbahak. Matanya beradu pandang dengan Mario, ia mengedipkan matanya guna menggoda. Namun, wajah itu masih datar meski perhatian. Tak seperti Rio yang biasanya. Rio masih asik dengan kebungkamannya pada Ify, yang berakhir membuat Ify memiliki pikiran jika Rio akan meninggalkannya. Siapa yang mau punya pacar penyakitan? Pandangan Ify menyendu, hal itu tak luput dari pandangan Rio. Sampai rasa mual menyerang tenggorokan gadis itu. "Hu ...." Ify menutup mulutnya. Menahan rasa pahit dari obat yang beberapa jam lalu ia telan. Obatnya tak bersedia ditampung hingga keluar lagi. Ia menyingkir dari teman-temannya. Rio yang melihat, menatap cemas. Ia memilih untuk mengikuti langkah pacarnya. "Gue kejar Ify dulu," pamitnya tanpa menunggu persetujuan. Menyusul Ify yang telah masuk ke bilik toilet dekat kantin. Ia tak mungkin ikut, itu toilet khusus siswi bisa dikira yang tidak-tidak jika ia mengikuti naluri kecemasan. Akhirnya ia menunggu Ify di luar. Di dalam badan Ify lemas tak bersisa. Setelah apa yang ia konsumsi kembali keluar tak bersisa. 'obat s****n' julukan yang Ify berikan pada anjuran resep dokter itu. Ify berjalan gontai, pusing dan lemas menyerangnya seraya bersamaan. Di luar ruangan Rio dengan sigap menopang tubuh Ify yang melemah. "Sayang," Raut khawatir Rio tak bisa disembunyikan. Menatap pacarnya yang pucat pasi. "Kak, pusing," keluhnya menyandar pada sang kekasih. "Pulang aja, ya," mau tak mau Ify mengangguk. Ia tak yakin jika akan masih bisa mengikuti pelajaran sampai selesai. Ify tak mau membuat teman-temannya panik kalau sewaktu-waktu ia pingsan. "Sebentar." Rio merogoh saku celananya, mengambil ponsel untuk mengirimkan pesan pada Iyel. "Ayok." Melihat Ify yang sangat lemas, mau tak mau Rio menggendongnya menuju parkiran. Urusan tas dan pirizinan sudah ada Gabriel yang menanggung. Abang Ify itu, pasti akan menelepon kedua orang tuanya. "Sabar, ya," Ify mengangguk, matanya memanas kala menerima perhatian Rio. Kenapa cowok itu masih seperhatian ini jika akan meninggalkannya, begitulah pikirnya. Rasa khawatir Rio melihat Ify, membuatnya tak bisa menjalankan aksi diamnya terus menerus. Ia ingin Ify sadar jika ada orang yang peduli terhadapnya, tetapi ia merasa tak dianggap. "Hey, kok nangis?" Ify memejamkan mata, menerima usapan lembut Rio yang menghapus air tangisnya. "Ada yang sakit?" "Kakak marah, Kakak marah sama Ify. Atau Kakak gak mau lagi pacaran sama Ify karena Ify penyakitan. Kakak takut repot? Kakak mau putus?" Ify bertanya lirih. Rasa pusing masih mendera kepalanya. Sementara Rio terperangah tak percaya atas pemikiran buruk pacarnya. Ia tak mau membawa perdebatan ini hingga berujung berantem. Ia mulai paham dengan segala ketakutan Ify. "Kalau yang kamu fikirkan, aku marah, iya memang aku marah, Fy. Aku marah karena kamu gak mau berbagi sama aku tentang penyakit kamu sejak awal. Aku ngerasa gak kamu anggap sama sekali. Aku takut, Siapa yang nggak takut, Fy? Penyakit kamu membuat aku takut, takut kehilangan kamu. Kalau selain itu, buang jauh-jauh pikiran kamu." Ify menubruk badan Rio. Memeluk erat cowok kesayangan setelah keluarganya. "Maaf, maafin Ify, Kak." Mario balik memeluk kekasihnya. "Kamu harus sembuh, demi Kakak." Perkataan Rio tak dijawab oleh Ify, ia merasa berat sekali. Terlalu takut dengan harapan-harapan yang belum tentu terwujud kekasihnya. *** Gabriel yang menerima pesan dari Rio segera bangkit untuk menghubungi mamanya. Hal itu tak luput dari pandangan teman-teman juga sang pacar, yang menatap penuh tanya. "Ag, nanti kalau kamu pulang. Tolong bawa tas Ify sekalian, ya, dia pulang duluan. Lemas katanya." Agni mengangguk, namun tidak untuk ke empat orang yang lain. "Ify kenapa?" Shilla buka suara. "Mual tadi, obat yang ditelan keluar lagi katanya." Mereka mengangguk paham, sudah sering hal ini terjadi pada Ify. Gadis itu memang agak susah jika minum obat. "Gue kira hamil," celetuk Cakka yang mengundang makian dari beberapa temannya. "Gue yang akan menghajar Rio pertama kali kalo sampai hamilin Ify sebelum nikah," Gabriel menjawab dengan menggebu. "Gue juga," Alvin unjuk tangan. Ify sudah seperti adiknya. Ia tak mau jika gadis itu masuk ke dalam jurang kesesatan. "Bukan hanya Ify, elo Ag, dan Shilla. Gue pun akan hajar Cakka dan Gabriel jika merusak kalian," lanjutnya yang mengundang senyuman dari Agni dan Shilla. "Kalo aku ...." Sivia menatap Alvin. "Jangankan hamilin kamu, lebih dari sekedar pegang dan cium pipi aja aku gak pernah. Takut." Gabriel mendengus begitu pula Cakka. Kalo urusan cium-mencium jangan ditanya, mereka sudah khatam. Apalagi Cakka, ia sudah merasakan yang lebih bersama Shilla.  Beruntung waktu itu keduanya kembali sadar. Tak sampai kebablasan. *** "Makan lagi, ya?" Ify menggeleng mendengar tawaran Rio. Rumah sedang sepi saat ini, hanya ada si mbok yang menyapu halaman belakang. Sang mama masih mengajar di kampus. Sementara papa sedang asyik di kantor bersama map-map kesayangannya. "Mau tidur aja, Kak Rio temenin," pintanya yang diangguki oleh Rio. Ify bergeser menyisakan ruang cukup lebar pada ranjangnya. Meminta Rio untuk ikut berbaring serta. "Nggak mau, takut khilap," meskipun ingin, Rio menahan sekuat tenaga. Ayolah, tidur seranjang seraya memeluk Ify adalah hal yang begitu menggiurkan. Namun, ia takut, setan tidak pandang bulu untuk menggoda. "Aku di sofa aja. Tapi, kamu tidur dulu." Ify terkikik menganggukkan kepalanya. Bagaimana ia tak jatuh hati pada cowok ini, Rio begitu menjaganya, menyayanginya. Selama menjabat sebagai kekasih tak sekalipun lelaki ini bertingkah kasar, ia lebih suka menggunakan kata tegas kala Ify mulai nakal. Kata yang digunakan untuk mewakili tingkah sang kekasih yang di luar batas wajar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD