Bab 2. Rahasia Nadira

1115 Words
Enam bulan berlalu, kehidupan rumah tangga Nadira dan Chandra membuat banyak orang iri. Setiap ada pertemuan dengan klien, Chandra akan mengajak Nadira dan memperlakukan sang istri dengan sangat istimewa. Kebahagiaan terus menyelimuti keduanya. "Sayang," panggil Chandra dengan suara lembut saat Nadira ada di dapur salah satu kafenya. "Ya, Mas. Sebentar, ya? Lagi hias cupcake." Nadira tersenyum tanpa menoleh ke arah sang suami. Chandra mulai mendekati Nadira. Lelaki itu melingkarkan lengannya pada pinggang Nadira kemudian mengecup pipi sang istri. Nadira akhirnya menghentikan aktivitasnya. "Mas, lepas dulu, ya? Takut ada karyawan yang lihat," pinta Nadira sambil menoleh ke samping. Chandra pun terkekeh dan langsung melepaskan lengan dari pinggang sang istri. Nadira melepaskan sarung tangan, lalu menatap Chandra yang kini sedang menunggunya penuh kesabaran. Nadira berjalan ke arah kantor diikuti oleh sang suami. "Tumben Mas Chandra nyusul Dira." Nadira berjalan ke arah sofa dan duduk di atasnya. Chandra pun segera menyusul. Lelaki tersebut langsung merebahkan tubuh dan meletakkan kepala pada pangkuan Nadira. Perempuan itu langsung menyisir rambut Chandra dengan jemarinya. "Nanti malam ibu minta kita datang makan malam. Katanya ibu sudah kangen sama kamu. Kamu jangan sibuk-sibuk kerjanya. Jaga kesehatan, Sayang." "Iya, kalau gitu aku buatkan ibu cromboloni. Bapak masih suka kue lapis legit, kan? Aku juga buatkan bapak kue lapis. Nanti malam jemput aku, ya? Aku ada di sini sampai malam," kata Nadira seraya tersenyum kemudian mendaratkan kecupan pada dahi Chandra. "Baiklah, aku balik dulu ke Nusa Dua. Nanti malam aku jemput! Ingat, jangan capek-capek!" Chandra kembali duduk tegap kemudian mencolek ujung hidung Nadira. Jam menunjukkan pukul 19:00 ketika Nadira dan Chandra memasuki halaman rumah Dewi dan Joe. Nadira tersenyum ketika melangkah masuk dan disambut hangat oleh sang ibu mertua. Nadira meletakkan kue yang sudah dia masukkan ke dalam tas kerta pada meja ruang tamu. Mereka langsung berjalan ke arah ruang makan. Chandra menarik kursi untuk sang istri dan meminta Nadira duduk di atasnya. Setelah itu, barulah dia duduk bersebelahan dengan Nadira. Mereka makan dengan suasana hangat seperti biasa. Namun, semua mendadak dingin saat mereka duduk di ruang keluarga dan membahas suatu hal yang lebih serius. Nadira meremas roknya dengan keringat dingin yang mengucur membasahi dahi. "Kalian sudah menikah 6 bulan lebih. Apakah belum ada tanda-tanda kehamilan?" tanya Dewi dengan suara lembut dan senyum tipis. Nadira hanya bisa terdiam dengan keringat yang semakin membanjiri hampir seluruh tubuhnya. Chandra yang melihat sang istri tampak tertekan langsung menggenggam jemari Nadira yang kini terasa sedingin es. Nadira langsung menoleh ke arah sang suami. Senyum yang diberikan oleh Chandra seakan menguatkan hati Nadira. Dia menelan ludah kasar dan membalas senyuman Chandra dengan rahang yang sedikit kaku. Chandra menarik napas dalam sebelum menanggapi ucapan sang ibu. "Belum waktunya mungkin, Bu. Banyak kok pasangan yang bertahun-tahun menikah tetapi belum dikaruniai momongan." Chandra berusaha menenangkan sang ibu sekaligus istrinya dengan membandingkan kondisi mereka terhadap orang lain yang lebih parah. "Ya, tapi sambil usaha, Chan. Coba ajak Nadira ke dokter untuk sama-sama memeriksakan diri. Dengan begitu, kalian akan mendapatkan solusi supaya lekas memiliki anak." "Nggak!" Nadira tiba-tiba beranjak dari kursi. Wajah perempuan tersebut terlihat begitu pucat dengan dahi yang sudah dibanjiri peluh. Tiba-tiba perut Nadira terasa sakit luar biasa. Semakin lama rasa nyeri yang dia rasakan makin menjadi. "Astaga, Nad! Kamu kenapa?" tanya Chandra panik sambil memegang tubuh Nadira. "Perutku sakit banget, Mas!" ujar Nadira sambil mengerang kesakitan dan memegangi perutnya. "Bawa istrimu ke rumah sakit sekarang, Chan!" perintah Joe. Tanpa menunggu lebih lama akhirnya Chandra mengangkat tubuh ramping sang istri. Dia langsung membawa Nadira ke rumah sakit. Joe dan Dewi ikut menyusul ke rumah sakit setelah mampir ke rumah sang putra dan membawakan pakaian ganti untuk Nadira. Mereka bertiga menunggu di depan ruang IGD dengan rasa cemas luar biasa. Setelah Nadira selesai menjalani pemeriksaan, seorang dokter keluar dari ruangan IGD. Chandra langsung menemui dokter itu. Dokter tersebut pun segera menjelaskan kondisi Nadira. Dia harus segera menjalani operasi karena mengidap kista ovarium yang sudah pecah. Selain itu Chandra menemukan sebuah fakta yang sangat menyakitkan dari penjelasan dokter. Ternyata Nadira sudah tidak memiliki rahim karena operasi histerektomi. Dunia Chandra seakan runtuh ketika mengetahui apa yang membuat sang istri belum mengandung hingga saat ini. Bahkan keduanya terancam tidak bisa memiliki keturunan karena hal tersebut. "Silakan tandatangani surat pernyataan ini," ucap sang dokter sambil menyodorkan selembar dokumen kepada Chandra. Chandra pun menandatanganinya dengan tangan gemetar. Dia tidak menyangka sang istri menyembunyikan hal sepenting ini darinya. Chandra langsung terduduk lesu di bangku dan langsung dihampiri oleh Dewi. "Pantas saja Nadira belum bisa memiliki keturunan. Rupanya dia tidak memiliki rahim! Gimana, sih, Chan! Ibu tidak masalah dengan asal-usulnya! Tapi, kalau begini bagaimana garis keturunan kita berlangsung!" ujar Dewi. "Sudah, Bu. Kita sebaiknya pulang dulu. Semua bisa dibahas setelah kondisi Nadira pulih." Joe berusaha menenangkan sang istri. *** Satu tahun berlalu sejak terungkapnya kebohongan Nadira, Joe mulai bisa menerima semua. Suatu hari, mereka sepakat untuk meminta pendapat kedua orang tua Chandra. Mereka berniat untuk mengadopsi anak yatim piatu, tetapi hal itu justru menyulut pertikaian antara Nadira dan Dewi. "Nggak bisa! Chandra, kamu harus punya anak dari darah dagingmu sendiri! Ceraikan Nadira dan menikahlah dengan perempuan yang lebih layak!" seru Dewi penuh emosi. "Jadi, perempuan yang tidak memiliki rahim lagi itu tidak layak menikah dan hidup bahagia, Bu?" tanya Nadira dengan berlinang air mata. "Nadira memang sudah salah karena tidak jujur di awal. Seharusnya sejak awal Dira menolak lamaran Ibu. Bukankah Ibu duluan yang mau Dira jadi menantu?" Nadira beranjak dari kursi, kemudian melangkah pergi dari tempat tersebut. "Bu, kami pamit. Seharusnya Ibu tidak mengatakan hal semacam itu kepada istriku!" seru Chandra geram. Chandra pun langsung menyusul sang istri. Sepanjang perjalanan pulang Nadira terus menangis lirih. Chandra memilih untuk membiarkan sang istri menangis. Sesampainya di rumah, Nadira langsung merebahkan tubuh ke atas ranjang. Chandra mengusap wajah kasar kemudian duduk di tepi ranjang. Desakan serta tuntutan sang ibu kembali terngiang di telinga lelaki tersebut. "Jika saja kamu mengatakannya lebih awal kalau tidak biaa memiliki anak, maka ...." "Maka kamu tidak akan mau melamar dan menikahi aku! Begitu kan maksud Mas Chandra?" teriak Nadira dengan suara bergetar. "Sebelumnya aku juga memiliki luka bekas sayatan di perutku meski samar! Tapi kenapa Mas Chandra tidak pernah mempertanyakan hal itu?" Kini air mata Nadira menetes. "Kamu itu, aku berusaha mengajakmu bicara baik-baik kenapa malah berteriak!" bentak Chandra. Pikiran Chandra mulai kacau. Dia memilih untuk diam dan langsung beranjak dari atas ranjang. Lelaki itu melangkah ke arah pintu, tetapi berhenti ketika sebuah kalimat keluar dari bibir sang istri. "Menikahlah lagi, Mas!" ujar Nadira dengan suara bergetar. Chandra tidak menanggapi ucapan Nadira dan memilih untuk pergi untuk menghindari perdebatan lebih panjang. Chandra pun memutuskan untuk pergi ke sebuah klub malam. Dia duduk di depan meja bar ditemani dengan segelas koktail. "Chandra?" Suara seseorang yang menyapanya pun membuat Chandra menoleh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD