Bab 3. Madu

1069 Words
Chandra langsung menoleh ke arah sumber suara. Kini di sampingnya sudah berdiri seorang wanita cantik dengan pakaian menggoda dan riasan wajah yang tampak tebal. "Dania?" Chandra sambil terus mengedipkan mata beberapa kali untuk memastikan apa yang dilihatnya bukanlah ilusi. "Hei, apa kabar?" Dania pun duduk di samping Chandra kemudian mengulurkan tangannya. Chandra masih terpaku akan sosok wanita cantik di hadapannya itu. Debar jantung terus berpacu ketika melihat Dania. Ya, perempuan di depan Chandra itu merupakan cinta pertama yang sudah lama tidak dia jumpai. "Chan, halo!" Dania tersenyum lebar sambil menggerakkan telapak tangan di depan wajah Chandra. "Ah, eh, a-aku baik-baik saja!" jawab Chandra terbata-bata. "Dari gelagatmu, kamu terlihat sedang tidak baik-baik saja, Sayang!" terka Dania. Chandra akhirnya tersenyum kecut karena kembali teringat akan masalah yang menimpa rumah tangganya. Dia kembali menyesap koktail dengan kadar alkohol rendah itu. Dania pun akhirnya memilih untuk menemani Chandra. Dalam kondisi setengah mabuk, Chandra mulai mengungkapkan apa yang dia alami. Dari sana, Dania mulai bersimpati. Dia setia mendengarkan ocehan Chandra meski tidak bisa memberikan solusi untuk lelaki tersebut. Keduanya ada di klub malam tersebut hingga lewat tengah malam. Dania yang kebingungan harus membawa mantan kekasihnya itu ke mana, akhirnya memutuskan untuk membawa pulang ke hotel tempat Dania menginap. Dia menidurkan Chandra ke atas ranjang dengan bantuan seorang pegawai hotel. "Aku harus bagaimana?" gumam Chandra dalam kondisi mabuk karena sudah menghabiskan beberapa gelas koktail. "Aku juga tidak tahu, Chan. Aku bahkan tidak peduli dengan masalah rumah tanggamu sekarang. Jika boleh jujur, sebenarnya aku masih mencintaimu. Aku meninggalkan karier di New York dan kembali ke Malang untuk mencarimu. Tapi, kata orang-orang keluarga kalian pindah ke Bali." Dania tersenyum kecut saat teringat bagaimana dia yang terlihat naif. Rasa rindu menggebu mendorong Dania untuk mulai mendekati tubuh Chandra. Dia mengusap lembut d4da sang mantan kekasih dan bermain-main di sana selama beberapa detik. Hal itu membuat Chandra melenguh dan mendapatkan sedikit kesadarannya. Perlahan Chandra membuka mata dan mendapati bayangan Dania di hadapannya meski sedikit tampak kabur. Tiba-tiba lelaki itu menarik lengan Dania. Wanita tersebut pun akhirnya jatuh ke atas tubuh Chandra. "Dania, kamu masih sama seperti dulu. Cantik dan menggoda. Kenapa tidak datang lebih cepat?" tanya Chandra dengan suara serak. "Maaf, aku mengejar karier dan meninggalkanmu bersama luka itu. Tapi, setelah mendapatkan apa yang aku mau untuk karier ... aku merasa ... kosong." Dania menatap sendu lelaki di bawahnya itu. "Dania, apakah kamu mau kembali bersamaku? Menikah denganku dan memulai hidup baru bersama?" tanya Chandra sambil tersenyum lembut dan membelai wajah cantik Dania. Dania pun mengangguk cepat. Chandra langsung menekan leher Dania ke arahnya. Lelaki tersebut pun mendaratkan ciuman pada bibir sang matan kekasih. Malam itu membuat benih-benih cinta yang lama terkubur kembali bersemi. Keduanya melewati malam panas dan menggali kembali ingatan tentang masa lalu. Seakan tak ada lagi yang akan memisahkan mereka di kemudian hari. *** Embusan angin yang masuk melalui sela hendela membuat tirai dalam kamar hotel melambai. Sisa percintaan semalam masih terasa karena seprai putih yang sedikit lembab karena peluh. Chandra sudah terjaga dengan tatapan menerawang ke langit-langit kamar. "Good morning, Babe!" ujar Dania setelah membuka mata. Chandra mengalihkan pandangan dari langit-langit pada perempuan cantik yang masih memeluknya erat. Sebuah senyum kaku terukir di bibir lelaki itu. Lengannya terasa kaku ketika hendak mengusap wajah Dania. "Pagi, Dania. Mengenai insiden tadi malam aku minta maaf," ucap Chandra penuh sesal. "Kenapa harus minta maaf, Chan? Kita sama-sama mau, kok." Dania tersenyum lebar kemudian memainkan jemarinya di atas tubuh lelaki di samoingya itu. "Tapi aku sudah menikah, Dan! Aku sudah mengkhianati istriku. Bagaimana kalau dia tahu? Aku benar-benar lelaki b******k!" ujar Chandra sambil mengusap wajah kasar. "Bukankah kamu semalam mengajakku untuk menikah? Aku setuju, Chan. Aku sangat setuju asal bisa bersama denganmu! Bagaimana kalau kita memberitahu istrimu saja!" ungkap Dania. Chandra terdiam karena tidak ingat sudah mengatakan kalau ingin menikahi Dania. Hati pria tersebut kini sedang terombang-ambing dengan perasaannya sendiri. Chandra tidak yakin kalau sang istri bisa menerima hal ini. "Mas, bukankah kamu semalam bercerita kalau istrimu itu memintamu unuk menikah lagi?" "Ya, memang dia mengatakan hal itu. Tapi, di dunia ini mana ada perempuan yang benar-benar mau dimadu, Dan? Sekarang posisikan saja hal ini kepadamu. Terlebih semalam dia mengatakan hal ini dalam kondisi yang sangat tertekan dan kalut. Mungkin saja Nadira hanya asal bicara." Chandra tersenyum kecut sambil mengusap lembut pipi Dania. "Sekarang bersiap dulu, Chan. Kita nggak akan pernah tahu kalau tidak mencobanya." Dania turun dari ranjang tanpa sehelai benang pun. Sialnya hal itu memuat hasrat Chandra kembali bangkit. Hubungannya dengan Nadira memang tidak begitu baik sejak kebohongan sang istri terungkap. Akhirnya keduanya kembali memadu kasih di dalam kamar mandi sambil membersihkan diri. Waktu menunjukkan pukul 09:00 ketika Dania dan Chandra keluar dari hotel. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Chandra dan Dania lebih sering bergandengan tangan. Cinta yang baru saja kebali bersemi itu seakan memberikan kehidupan dan harapan baru untuk Chandra. Lelaki tersebut terus tersenyum lebar. Sesekali Chandra mengecup punggung tangan Dania. Sebelum membawa Dania pulang ke rumahnya, dia memastikan keberadaan Nadira dengan menghubungi asisten rumah tangga. "Chan, apa makanan kesukaan istrimu?" tanya Dania tiba-tiba. "Kenapa?" "Aku ini bertamu, 'kan? Bukankah sebaiknya aku membawa oleh-oleh untuknya?" tanya Dania. Chandra akhirnya mengangguk. Dia menepikan mobil dan memilih unuk membeli kopi serta beberapa potong kue di salah satu kafe milik sang istri. Beberapa karyawan saling berbisik ketika menyaksikan Chandra terlihat begitu mesra dengan wanita lain. Setelah mendapatkan apa yang mereka mau, keduanya pun meninggalkan kedai kopi tersebut. Seakan Chandra sudah tidak memiliki rasa malu, secara terang-terangan membawa Dania ke tempat umum di mana banyak orang mengenal dirinya. Mereka akhirnya sampai di rumah Chandra. Lelaki itu membuka pintu rumahnya menggunakan kunci cadangan dan langsung mengajak Dania duduk di ruang tamu. Tak lama berselang Nadira keluar menemui sang suami setelah diberitahu oleh sang ART. Dia mengerutkan dahi ketika mendapati suaminya pulang bersama perempuan lain. "Mas Chandra dari mana saja semalaman? Dihubungi kenapa nggak bisa?" tanya Nadira sambil sesekali melirik Dania yang mulai melingkarkan tangan pada lengan sang suami. "Baterai ponselku habis dan nggak sempat isi ulang." "Dia siapa, Mas?" tanya Nadira dengan suara bergetar.l dan tatapan tertuju pada Dania. "Ah, iya. Perkenalkan dia Dania. Semalam kamu memintaku untuk menikah lagi, bukan? Jadi, tolong terima dia sebagai madumu. Aku memikirkannya semalaman dan kebetulan kami bertemu setelah sekian lama." Chandra melemparkan tatapannya pada Dania yang kini tersenyum tipis. "Dania adalah cinta pertamaku. Mungkin kami memang berjodoh karena dia kembali di saat yang begitu rumit. Mungkin Dania adalah jawaban dari permasalahan yang kita alami, Nad."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD