Bab 4. Pernikahan Kedua

1084 Words
Nadira terpaku seketika. Kakinya terasa begitu ringan seakan tidak memiliki pijakan. Dia hampir ambruk ke atas lantai jika tidak berpegangan pada sofa. Chandra memang tidak salah sudah mencari istri baru untuk bisa memiliki anak. Nadira juga sadar karena dia sendiri sudah meminta suaminya untuk menikah lagi. Namun, Nadira tidak menyangka sang suami begitu cepat menemukan calon istri keduanya. Air mata mulai berdesakan ingin menetes. Hati Nadira terasa begitu nyeri. Tenggorokannya seakan diganjal dengan batu besar sehingga napas Nadira terasa sesak dan dia kesulitan untuk bicara. "Kamu nggak keberatan, 'kan?" Chandra menaikkan sebelah alisnya ketika memastikan bahwa sang istri menerima keputusannya untuk menikahi Dania. Nadira terdiam. Dia tidak mampu menjawab apa yang ditanyakan oleh sang suami. Lidahnya seakan kelu dan membeku di dalam mulut. Nadira hanya bisa tersenyum getir sambil menatap Dania yang kini tersenyum lembut dengan sorot mata yang sulit diartikan. Akhirnya Nadira hanya menjawabnya dengan satu kali anggukan kepala. Perempuan tersebut balik kanan dan hendak melangkah masuk ke kamarnya. Namun, Dania mencegahnya. Dania mendekati Nadira dan berusaha memegang lengannya, tetapi perempuan tersebut menolaknya secara refleks. "Aku cuma mau bilang kalau membawakan kopi dan kue buat Mbak Dira." "Terima kasih atas perhatiannya, tapi maaf. Aku sedang diet. Konsumsi gulaku hari ini sudah terlalu banyak," ucap Nadira dengan suara bergetar dan tanpa menoleh ke arah Dania. Nadira pun berjalan ke arah tangga. Dia menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar. Tangan Nadira gemetar ketika memegang tuas pintu dan membukanya. Setelah masuk kamar, Nadira langsung menutup pintu dan menempelkan punggung pada benda tersebut. Tubuhya mulai merosot ke atas lantai. Nadira merasa dad4nya kini diimpit oleh berton-ton batu sehingga membuat sesak. Dia terus memukuli d4da berharap beban yang menyesakkan itu perlahan gugur. Namun, tidak ada tangis yang keluar. Hanya ada rasa nyeri yang semakin meremas hati. Nadira khirnya meringkuk di atas lantai dengan rasa sakit yang begitu dalam. *** "Cepatlah, Dira! Kita akan terlambat!" perintah Chandra. "Mas Chandra pergi saja tanpa aku," jawab Nadira lesu. Nadira meringkuk di atas kasur dengan pakaian tidur yang masih menepel di badannya. Lingkar mata wanita tersebut terlihat semakin menghitam. Mata Nadira pun terlihat bengkak. "Kamu harus ikut! Aku adalah orang penting dan terpandang di daerah ini. Aku ingin orang-orang tahu kalau kedua istriku bisa akur satu sama lain." Nadira terkekeh mendengar ucapan sang suami. Dia yang awalnya memunggungi Chandra, kini memutar tubuh sehingga bisa menatap suaminya itu. Chandra sudah rapi dalam balutan setelan jas dan sedang mematut diri di depan cermin. "Aku sudah merelakan kamu menikah lagi demi ibumu bisa memiliki cucu kandung, Mas. Kenapa kamu harus menyiksaku dengan menghadiri acara pernikahan kalian?" Tawa kecil Nadira kini menyisakan sebuah senyum getir dan hati yang kembali terasa nyeri. Chandra pun balik badan. Dia kini menatap tajam perempuan yang pernah begitu dia cintai sepenuh hati itu. Perlahan Chandra mendekati Nadira dan melipat lengan di depan d**a. "Berangkat ke resepsi pernikahanku atau cerai!" Nadira terbelalak. Senyumnya mendadak hilang begitu saja. Dia mengembuskan napas kasar kemudian beranjak dari ranjang. Nadira berdiri tegap di depan sang suami. Sebuah tatapan tajam dilayangkan Nadira kepada Chandra. Air mata pun perlahan menggenang hendak meluncur membasahi pipi. "Aku mengizinkn Mas Chandra menikah dengan syarat kita tetap bersama dalam ikatan pernikahan, Mas! Apa Mas Chandra lupa?" Nadira terkekeh kemudian memalingkan wajah. "Aku akan menghadiri pernikahan kalian. Tapi, jangan salahkan acara itu kacau karena aku tidak mampu menahan diri untuk mengamuk!" Nadira pun melangkah ke kamar mandi, menanggalkan pakaian, dan mulai menyalakan pancuran. Tangisnya langsung pecah seiring dengan air hangat yang keluar dari pancuran. Tubuhnya bergetar hebat karena menahan rasa sakit yang telah ditorehkan oleh sang suami. Setelah selesai membersihkan diri, Nadira berganti pakaian. Dia pun mengantar sang suami ke gedung tempat Dania dan Chandra menggelar resepsi pernikahan. Pesta digelar dengan sangat meriah. Nadira kembali teringat akan pernikahannya dulu. Dania pasti merasakan hal yang sama. Penuh cinta dan kasih serta kebahagiaan menular kepada orang-orang yang hadir. "Kosong sekali rasanya." Nadira tersenyum getir ketika berada di keramaian, tetapi dua hanya duduk sendirian di sudut venue. "Kepada istri pertama Pak Chandra, mohon untuk berdiri dan mendampingi Pak Chandra menjemput istri keduanya." Kalimat yang diucapkan oleh MC langsung membuat Nadira melotot. Dia menatap Chandra yang kini berdiri gagah di ambang pintu aula yang terbuka lebar. Sorot lampu kini menerangi suaminya itu. Di sisi lain, cahaya terang dari lampu sorot menyinari Dania yang sudah terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantin. "Konsep pernikahan ini gila! Ide siapa ini?" gerutu Nadira sambil menatap tajam Chandra yang kini tersenyum lebar ke arahnya. Tepuk tangan meriah membuat Nadira mengembuskan napas kasar. Dia terpaksa menarik bibirnya agar melengkung ke atas. Perlahan kaki jenjangnya melangkah mendekati sang suami. Nadira melingkarkan lengannya pada tangan sang suami. Keduanya pun berjalan pada karpet merah yang membentang dari arah pintu masuk menuju pelaminan. Semua mata tertuju pada mereka. Air mata penuh rasa pedih dan penderitaan kembali menggenang di pelupuk mata Nadira. Suami serta madunya sekarang tengah tersenyum lebar, seakan sedang mengejek kesedihan dan kepahitan yang dirasakan oleh Nadira. Dia kini mati-matian menahan rasa sakit hati dan kecewa. "Terima kasih sudah mengizinkan kami bersatu, Mbak." Dania tersenyum lebar kemudian memeluk tubuh Nadira. Setelah itu Nadira melepaskan tangan sang suami dan memberikan genggaman tangan Chandra kepada Dania. Perlahan Nadira melangkah mundur turun dari pelaminan. Kini tidak ada lagi lampu sorot yang menyinarinya. Dalam pernikahan kedua suaminya itu, Nadira hanyalah pemeran figuran yang harus segera keluar agar tidak semakin merasa sakit. Dia memutuskan untuk keluar dari venue dan menyendiri di tangga darurat yang sepi dan sedikit remang-renang. "Gini banget hidupku, Tuhan. Karma-Mu sakit banget!" Nadira menangis tergugu sambil menenggelamkan wajah ke dalam kedua telapak tangan. Nadira langsung teringat kesalahannya di masa lalu. Seakan kemurkaan Tuhan tak berhenti saat dia harus melakukan histerektomi. Setelahnya banyak sekali hal buruk yang terjadi dalam hidup Nadira. Mantan suami yang menggoda wanita lain, kehilangan keluarga yang selama ini merawatnya, dan dijauhi teman. Reputasi buruk yang terus menghantui seumur hidup juga harus dia tanggung karena apa yang dia rencanakan untuk membalas sang mantan suami justru berakhir tak terduga. Bahkan penderitaan Nadira tidak sampai di situ. Pada pernikahan keduanya ini, Nadira harus rela berbagi cinta suaminya dengan wanita lain. Dia tidak tahu sampai kapan lingkaran penderitaan ini akan berakhir. Nadira hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar Dia memaafkan semua kesalahannya di masa lalu dan segera memberikan kebagiaan pada hidupnya. "Astaga, Tuhan. Aku capek! Aku lelah!" ujar Nadira sambil mengangkat wajahnya. Sisa tangis kini menghiasi wajah cantik Nadira. Ketika hendak mengusap air matanya, tiba-tiba seseorang menyodorkan sapu tangan kepada Nadira. Dia mendongak, lalu menatap orang yang memberikannya sapu tangan itu. "Pakai ini untuk menghapus air matamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD