Seorang lelaki bertubuh tegap dengan wajah bule menyodorkan sapu tangan kepada Nadira. Dia terus menatap pria dan sapu tangan itu secara bergantian. Sebuah senyum tersungging di bibir pria asing tersebut.
"Pakai saja sapu tangan ini!" ujar lelaki tersebut.
"Terima kasih." Nadira akhirnya mengambil sapu tangan tersebut dari lelaki itu dan mulai mengusap air matanya.
"Saya tadi melihat Anda keluar dari ruangan sebelah sana. Tampaknya di sana ada pesta pernikahan. Kenapa Anda keluar dari sana dalam keadaan yang menyedihkan?"
Nadira tidak menjawab pertanyaan lelaki itu. Merasa tak enak hati, lelaki tersebut akhirnya menelan ludah kasar. Dia menyadari kalau terkesan terlalu ikut campur dengan urusan orang lain.
"Ah, maaf kalau terkesan kurang sopan. Hanya saja gelagat Anda menunjukkan kalau sedang mengalami depresi. Saya Dokter Nathan, lebih tepatnya saya ini seorang psikiater. Jadi ...."
"Bisa minta tolong, Pak?" tanya Nadira tanpa menatap lelaki tersebut.
"Ya?" Nathan menaikkan kedua alisnya.
"Tolong tinggalkan saya. Saya sedang ingin sendiri, Pak." Nadira mulai mendongak lagi menatap Nathan.
Saat tatapan Nathan bertemu dengan Nadira darahnya berdesir. Ada perasaan aneh yang kini bergelayut di hati Nathan. Dia tersenyum canggung kemudian mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya.
"Maaf sebelumya. Saya melihat Anda perlu teman untuk bercerita. Anda boleh datang ke tempat saya untuk sedikit menceritakan beban yang Anda alami." Nathan menyodorkan kartu namanya kepada Nadhira dan langsung diambil oleh perempuan tersebut.
Nadira menerima kartu nama itu bukan untuk benar-benar menghubungi Nathan. Dia melakukannya semata-mata agar lelaki tersebut segera pergi dari sana. Nadira tidak ingin kesedihannya saat ini dilihat orang lain.
"Maaf jika terkesan seperti mencari pasien. Tapi maksud saya ...."
"Aku tidak gila! Jadi tidak membutuhkan bantuan psikiater!" bentak Nadira.
"Hah? Maaf, saya mau meluruskan. Orang yang datang ke psikiater atau psikolog itu bukan berarti dia gila. Mental yang kacau, lemah, dan lainnya bisa menimbulkan penyakit fisik. Jadi, sebaiknya Anda segera memperbaiki mental. Saya sudah berkecimpung di bidang ini hampir 5 tahun. Jadi saya paham betul dengan apa yang sedang Anda rasakan saat ini."
Nadira terdiam. Dia melengos dari Nathan dan memilih untuk menenggelamkan wajah ke dalam lipatan tangan. Terdengar hela napas kasar dari bibir Nathan.
"Kalau begitu saya pergi. Maaf sudah mengganggu waktu Anda. Permisi," pamit Nathan.
Langkah kaki Nathan perlahan menjauh. Ketika suasana di tempat itu kembali senyap, barulah Nadira kembali mengangkat wajah. Dia menatap nanar kartu nama Nathan kemudian tertawa kecil.
"Apa aku terlihat perlu dikasihani?" Nadira tersenyum miring, lalu memasukkan kartu nama itu ke dalam tas, dan mulai berajak dari atas anak tangga.
Perempuan tersebut keluar dari tangga darurat, kemudian berjalan ke arah toilet. Perempuan itu menyalakan keran pada wastafel, lalu mulai membasahi mukanya. Saat menatap wajah pada cermin, barulah Nadira menyadari kalau dirinya memang terlihat sangat kacau. Nadira menarik napas panjang, lalu mengembuskannya kasar.
Nadira pun kembali ke aula dan mencoba berbaur dengan tamu undangan. Dia duduk di kursi tamu sambil menatap sang suami dan madunya yang sedang mengabadikan momen pernikahan dengan bantuan seorang fotografer dan videografer. Setelah pesta selesai, Nadira pulang seorang diri dengan diantar oleh sopir pribadi sang suami.
Sesampainya di rumah, suasana hampa langsung terasa. Setiap sudut rumh itu mengingatkan bagaimana momen kebersamaannya dengan Chandra terjalin. Namun, sekarang semuanya terasa kosong dan sepi meninggalkan Nadira yang masih berkubang dengan kesedihan seorang diri.
"Aku benci ini!" umpat Nadira.
Ranjang yang sebelumnya masih dia tiduri bersama Chandra, kini terasa lebih luas. Nadira menatap foto pernikahan mereka yang menggantung pada dinding. Dia meraih foto itu dan mengusap wajah tampan Chandra yang menurutnya lebih tampan daripada yang dilihat hari ini.
"Aku senang perlahan kamu mulai menerima keadaanku, Mas. Tapi, kenapa begini? Kenapa dengan mudahnya kamu menikahi perempuan lain saat aku memintamu? Sakit banget, Mas! Hanya dalam waktu semalam, kamu langsung menemukan lagi cinta lamamu yang sudah kau lupakan." Suara Nadira mulai bergetar dan tangisnya pun pecah.
Perempuan tersebut langsung membanting bingkai foto dalam genggamannya. Suara kaca pecah pun nyaring terdengar. Tak lama berselang terdengar ketukan pintu dan nama Nadira yang terus dipanggil-panggil oleh sang asisten rumah tangga.
"Bu, Bu Dira. Bu Dira, nggak apa-apa? Bu Dira, buka pintunya, Bu. Bu!" Suara ketukan itu semakin lama semakin keras dan suara Wulan terdengar semakin panik.
Nadira menghapus air matanya dan berjalan pelan ke arah pintu. Perempuan itu membuka sedikit pintunya. Dia menjawab pertanyaan sang ART melalui celah pintu tanpa menunjukkan wajah.
"Nggak apa-apa Mbak Wulan. Aku baik-baik saja." Usai mengucapkan kalimat itu, Nadira kembali menutup pintu secara perlahan."
Nadira langsung naik ke atas ranjang dan meringkuk di atasnya dengan air mata berlinang. Isak tangis perlahan keluar dari bibirnya. Pikirannya begitu kacau ketika membayangkan sang suami yang tengah menikmati malam pertama panasnya dengan Dania.
Nadira memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil karena menahan kesedihan yang begitu luar biasa. Air mata terasa panas ketika mengalir membasahi pipinya . Nadira pun akhirnya terlelap setelah lelah menangis.
***
Suara ponsel yang berdering membuat Nadira menggeliat dari tidurnya. Perempuan cantik tersebut meraba nakas di samping ranjang untuk mencari keberadaan ponselnya. Setelah menemukan benda pipih tersebut, Nadira bergegas mengangkat telepon itu.
"Halo," sapa Nadira tanpa melihat terlebih dulu siapa yang sedang menghubunginya.
Ternyata panggilan itu berasal dari salah satu karyawan kafenya. Dia menanyakan soal kafe yang mulai kehabisan stok kue dan roti. Nadira mengembuskan napas kasar ketika teringat bahwa memang sudah satu minggu dia tidak datang untuk membuat kue karena pikiran yang sangat kacau.
"Jual menu seadanya saja walau banyak pelanggan bertanya. Aku belum bisa membuat kue karena masih sibuk di rumah. Titip kafe untuk sementara waktu, Ris." Nadira pun mengakhiri panggilan tersebut.
Nadira meregangkan otot dan mulai turun dari ranjang. Saat menoleh ke arah dinding tempat biasa meletakkan foto pernikahan, dia langsung panik karena benda yang dicari tak ada. Nadira berlari ke sana tanpa memperhatikan langkahnya sehingga menginjak pecahan kaca tanpa sadar.
"Aduh!" Nadira meringis kesakitan kemudian menunduk.
Barulah Nadira ingat kalau semalam dia telah menghancurkan foto pernikahannya sendiri. Kenyataan bahwa sang suami telah menikah lagi pun kembali menyapa ingatannya. Pagi yang biasanya akan selalu membuatnya tersenyum, kini terasa begitu suram.
Nadira terduduk lesu di atas lantai. Dia mulai menatap pecahan bingkai foto itu. Wanita tersebut mengambil satu bagian dan menatapnya dengan air mata yang perlahan menetes.
Nadira perlahan menggoreskan pecahan kaca itu pada pergelangan tangan. Rasa nyeri kini menyerang syaraf sekitar kulitnya. Darah segar perlahan keluar dari sayatan itu sehingga membuat Nadira mual dan tatapannya mulai kabur. Tubuhnya kini ambruk ke atas lantai dengan kesadaran yang perlahan menghilang.