Bab 6. Dokter Nathan

1159 Words
"Bu, Bu Dira!" panggil Wulan sambil mengetuk pintu kamar sang majikan. Setelah mengetuk pintu hampir 10 menit dan Nadira tak kunjung keluar dari kamarnya membuat Wulan mulai panik. Dia langsung menghampiri Pramono yang sedang mencuci mobil di depan garasi. "Pak, Pak Pram!" panggil Wulan dengan wajah yang terlihat begitu waswas. "Bu Dira tadi apa sudah keluar rumah, Pak?" Wulan tidak ingin mengeluarkan spekulasi yang nantinya akan merugikan orang lain. Jadi, Wulan memastikan dulu apakah Nadira masih di rumah atau sudah keluar tanpa sepengetahuannya. Namun, rasa paniknya bertambah ketika melihat Pramono menggelang. "Pak, bawa linggis atau apa pun yang bisa digunakan untuk membuka paksa pintu!" Wulan langsung menarik lengan Pramono. "Kamu kenapa, to, Lan?" tanya Pramono sambil berusaha melepaskan cengkeraman tangan Wulan dari lengannya. "Bu Dira tak panggil-panggil nggak jawab e, Pak! Ayo jangan banyak tanya lagi Pak Pram!" Mendengar bahaya mungkin saja sedang dialami oleh istri dari majikannya membuat Pramono segera berjalan cepat mengikuti Wulan. Dia membawa linggis dari gudang dan naik ke lantai dua. Sesampainya di depan kamar Nadira Pramono langsung mengunakan bahunya untuk mendobrak pintu kamar Nadira. Namun, usaha Pramono gagal karena pintu yang sangat kokoh. Mau tidak mau akhirnya dia menggunakan linggis yang dibawa untuk menjebol pintu kamar Nadira. Dua orang karyawan Nadira itu langsung terbelalak saat mendapati dirinya tergolek tak sadarkan diri bersimbah darah di atas lantai. "Ya Allah Gusti, Bu!" teriak Wulan histeris dan langsung berlari ke arah majikannya itu. Pramono pun langsung melakukan hal yang sama. Dia meminta Wulan untuk mengemas beberapa pakaian Nadira, sementara Pramono menggendong sang majikan masuk ke mobil. Setelah Wulan menyusulnya, lelaki paruh baya tersebut langsung melajukan mobil secepat yang dia bisa agar segera sampai ke rumah sakit terdekat. "Tolong kami, Pak!" ujar Wulan ketika melihat satpam yang sedang berjaga di depan IGD. Lelaki dengan baju sapari hitam itu pun langsung menghampiri Wulan. Dia memanggil perawat dan memindahkan tubuh Nadira ke atas brankar. Nadira pun langsung ditangani oleh tenaga medis. Wulan dengan setia menunggu hingga Nadira selesai ditangani. Ternyata Nadira membutuhkan transfusi darah segera. Pramono bergegas menghubungi Chandra untuk mengabarkan hal ini. Akan tetapi, panggilannya dialihkan. Akhirnya mau tak mau mereka menyetujui prosedur itu agar nyawa sang majikan segera bisa diselamatkan. Wulan masih menunggu kabar baik dari pihak rumah sakit degan setia menunggu di depan ruang IGD. "Kelurga pasien atas nama Nyonya Nadira Stevia!" panggil perawat. Pramono dan Wulan langsung maju. Keduanya menghampiri perawat itu dan mulai mendengarkan instruksi yang diberikan. Perawat tersebut mengabarkan kalau stok darah untuk golongan darah Nadira kosong. "Golongan darag Bu Dira apa, Mbak?" tanya Wulan. "Golongan darahnya O tetapi memiliki rhesus negatif, Kak." "Waduh, opo kuwi rhesus? Golongan darahku O, Mbak Perawat. Tapi yo ndak tahu rhesusnya apa." "kalau begitu ikut saya, Kak. Kita cek dulu darahnya." Perawat tersebut tersenyum lembut. Wulan pun akhirnya melakukan tes laboratorium. Beruntungnya golongan darah mereka sama persis. Berkat Wulan, Nadira bisa mendapatkan darah tepat waktu dan melewati masa kritisnya dengan selamat. Hari sudah berganti menjadi sore ketika Nadira sadar. Perempuan tersebut merintih ketika mendapatkan kesadaran. Rasa nyeri pada pergelangan tangannya yang diperban terasa berdenyut. Perempuan cantik itu mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk ,mencari keberadaan Chandra. Namun, ruangan itu terasa kosong dan sunyi karena hanya dirinya seorang diri berteman dengan udara hampa. Nadira tersenyum getir karena orang yang dia harapkan hadir tidak ada di sana. "Aku terlalu berharap banyak kepada Mas Chandra. Pasti dia juga tidak akan bisa dihubungi." Nadira mengembuskan napas kasar kemudian mulai beranjak dari posisinya. Perempuan itu langsung terduduk dengan punggung bersandar pada kepala brankar. Nadira menatap nanar jendela dengan tirai yang sedikit melambai. Tak lama kemudian, Wulan masuk ke ruangan tersebut. "Bu, sudah bangun? Maaf, ya, tadi tak tinggal cari makan." Wulan meletakkan plastik ke atas meja kemudian mendekati sang majikan. "Bu Dira mau minum? Atau makan? Biar Wulan ambilkan!" tanya Wulan penuh semangat. Nadira hanya menggeleng. Dia masih menatap pintu berharap Chandra datang menemuinya. Namun, apa yang dia harapkan pasti tidak akan terjadi, sehingga membuatnya kembali mengembuskan napas kasar. "Bu, sebelumnya saya minta maaf. Saya izin untuk mengatakan ini. Bu Nadira jangan berpikiran macam-macam, ya? Takutnya Bu Dira menganggap saya ada niatan buruk karena mengatakan hal ini." Wulan tertunduk sambil terus meremas rok panjang yang dia gunakan. Nadira menggenggam jemari sang asisten rumah tangga. Kini Wulan mengangkat wajahnya dan menatap nanar Nadira. "Katakan saja. Nggak apa-apa, nggak usah takut, Lan." Nadira tersenyum lembut. "Saya sudah berusaha menghubungi Pak Chandra juga Bu Dewi, Bu. Tapi mereka mengatakan kalau tidak bisa menjenguk Bu Dira karena sibuk. Jangan diambil hati, ya, Bu? Yang penting ada saya yang menemani Bu Dira." Wulan melepaskan tangannya dari genggaman Nadira kemudian menepuk dadanya. "Sekarang Bu Dira fokus saja buat pemulihan. Kalau Bu Dira butuh teman cerita, bilang saja sama Wulan! Wulan ini pendengar yang baik, lo! Ya, walau orang kampung yang nggak berpendidikan dan dungu, tapi Wulan bisa kok meringankan beban Bu Dira." Nadira tersenyum kecut. Dia merasa lebih beruntung sekarang. Apa yang diucapkan Wulan menyadarkannya kalau dirinya memang butuh teman untuk mendengarkan dan berbagi cerita. "Iya, maaf ya sudah ngerepotin kamu, Lan." "Lah, nggak Bu!"seru Wulan sambil menggerakkan telapak tangan di depan d**a. "Saya senang bisa menjadi pendengar yang baik. Kebetulan saya juga merasa kesepian di rumah sebesar itu. Saya cuma sesekali menghubungi bapak sama ibu di kampung, karena harus menunggu kakak saya berkunjung. Maklum, orang tua saya sudah sepuh dan nggak update soal teknologi. Jadi, nggak bisa pakai hape." Wulan terkekeh dengan kepolosannya. Nadira ikut tersenyum tipis. Kini dia sedang membayangkan bagaimana sederhana dan bahagianya kehidupan keluarga Wulan di kampung. Seketika Nadira teringat bahwa dia dan Wulan memiliki satu kesamaan. Ya, keduanya sama-sama merantau ke Denpasar seorang diri tanpa kerabat. Sejak detik itu Nadira berjanji kepada diri sendiri untuk lebih memperhatikan Wulan dan menjaganya. Nadira tersenyum lembut. "Ya sudah. Kamu makan dulu, Lan. Pasti kamu nahan lapar dari tadi, ya?" "Baik, Bu. Kalau Bu Dira butuh apa-apa bilang aja sama Wulan, ya?" Wulan pun beranjak dari kursi dan berjalan ke arah meja. Wulan mulai makan dan Nadira memutuskan untuk kembali merebahkan tubuhnya. Kini dia berbaring dengan posisi miring memuggungi Wulan. Dia menatap langit sore yang terlihat mulai berubah menjadi jingga. Hatinya terasa teriris saat teringat perkataan Wulan tentang suami dan ibu mertuanya. Dia merasa seperti sedang dibuang oleh mereka. Padahal dulunya kedua orang tersebut sangat berharap Nadira masuk ke keluarga mereka. Akan tetapi, sekarang berbanding terbalik. Seakan Dewi dan Chandra ingin menendang Nadira keluar dari keluarga itu. Air mata Nadira kembali menetes "Permisi!" ucap seorang perawat yang masuk ke ruangan Nadira. Mendengar suara orang lain yang masuk ke ruangan itu membuat Nadira langsung menghapus air mata. Di belakang perawat itu sudah ada seorang dokter laki-laki dengan kacamata yang menggantung pada pangkal hidungnya. Wulan menghentikan makan dan menghampiri Nadira untuk memberitahu sang majikan yang harus menjalani pemeriksaan. "Bu, waktunya kunjungan dokter." Nadira kini kembali memutar tubuh sehingga kembali berbaring dengan menghadap pada langit-langit kamar. Ketika dia menoleh ke arah perawat, Nadira terbelalak. Dokter yang ada di belakang perawat itu pun tersenyum lebar. "Apa aku bilang? Seharusnya kamu langsung menghubungiku semalam."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD