"Loh, Pak ...." Nadira terdiam sejenak.
Perempuan itu berusaha menggali kembali ingatannya tentang lelaki yang sedang berdiri di dekatnya itu. Lelaki itu hanya tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya. Nadira berusaha keras untuk mengingat nama dokter itu, tetapi tak kunjung mendapatkannya.
"Dokter Nathan," ucap Nathan sambil tersenyum lebar.
"Ah, ya." Nadira tersenyum tipis kemudian perlahan bangkit.
"Saya cek tensinya dulu, ya, Bu?" Sang perawat pun mulai melingkarkan manset pada lengan Nadira.
Tensi meter elektrik itu langsung memompa secara otomatis sehingga menekan lengan Nadira. Setelah beberapa menit, layar tensimeter berkedip dan menunjukkan diastole dan sistole Nadira. Perawat mengucapkan tekanan darah yang tertera dan juga mencatatnya.
"Habis nangis?" tanya Nathan setelah pemeriksaan dasar selesai.
Nadira terdiam. Dia menatap perawat dan Wulan yang masih berdiri di belakang Nathan. Nathan langsung menyadari kalau pasiennya itu tidak nyaman dengan situasi di dalam bangsal.
"Ah, saya paham. Mbak, Sus, bisa keluar dulu?" pinta Nathan.
"Baik, Dok." Perawat pun keluar dari ruangan itu disusul dengan Wulan.
Setelah pintu bangsal tertutup, Nadira mulai sedikit lebih tenang. Dia menatap Nathan dengan sorot keraguan. Nathan tersenyum lembut, kemudian menarik kursi yang ada di depannya dan mendaratkan tubuh ke atas sana.
Dokter tampan itu mulai mengeluarkan buku kecil dan pulpen. Dia terus mengamati Nadira yang kini menatapnya. Nathan mengembuskan napas perlahan dan mulai untuk membuka sesi konsultasi kepada pasiennya tersebut.
"Begini, setiap kasus percobaan bunuh diri sudah menandakan kalau kamu butuh konsultasi dengan psikiater. Anggap saja saya ini bukanlah seorang dokter. Bayangkan kalau saya adalah seorang teman lama yang sangat akrab denganmu." Nathan mencoba melakukan pendekatan kepada Nadira agar dia mau lebih terbuka.
"Anggap saja kita sedang melepas rindu dengan saling bertukar cerita tentang hari-hari yang kita lalui ketika tidak pernah bertemu. Mari kita bertukar cerita dan saling mendengarkan satu sama lain."
Nadira masih terdiam. Dia kembali menunduk dengan posisi tubuh membungkuk sambil memainkan kukunya. Melihat hal itu membuat Nathan semakin yakin kalau Nadira sedang membutuhkan dukungan emosional yang lebih banyak.
"Baiklah, aku akan bercerita lebih dulu." Reza menutup buku kecilnya dan kembali memasukkan pena ke dalam saku snelli.
"Beberapa bulan terakhir ini hariku sangat berat, Nadira. Aku harus mengurus banyak hal sendirian sejak papa meninggal. Orang selalu mengira aku baik-baik aja karena aku terlihat sangat bahagia dan selalu tersenyum." Nathan tersenyum kecut dengan tatapan menerawang ke depan.
"Sebenarnya aku juga memmbutuhkan psikiater lain. Aku banyak mengonsumsi obat untuk memperbaiki mood akhir-akhir ini."
"Memangnya Apa yang harus Dokter Nathan urus?" tanya Nadira mulai penasaran dengan kehidupan dokter berusia 35 tahun itu.
"Banyak! Papaku memiliki usaha yang hampir mengalami kebangkrutan. Aku mengeluarkan banyak tabungan agar bisa menggaji karyawan. Belum lagi ibuku yang selalu menuntut gaya hidup mewah. Adik-adikku semua sedang kuliah di luar negeri dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan ...." Nathan kembali tersenyum kecuit.
"Aku baru saja dikhianati oleh pacarku."
Nadira terdiam seketika. Dia baru menyadari kalau setiap orang hidup dengan masalah mereka masing-masing. Perlahan sebuah senyum mengembang di bibir Nadira.
"Sabar, ya, Dok!"
Mendengar ucapan Nadira membuat Nathan terkekeh. Hal itu sontak membuat Nadira mengerutkan dahi. Kini Nathan kembali membuka buku kecil yang ada dalam pangkuannya.
"Kamu itu lucu. Orang yang hampir mati karena menyayat pergelangan tangannya sendiri bisa-bisanya memintaku untuk bersabar." Nathan tertawa kecil sehingga membuat pipi Nadira berubah menjadi merah.
"Jadi, kamu bisa menceritakan semuanya kepadaku. Keluarkan semua yang membuatmu begitu tertekan. Kalau mau nagis, nangis aja. Nggak ada orang lain di sini. Cuma kita berdua. Mulai hari ini kita brteman!" Nathan mengulurkan tangannya kepada Nadira.
Nadira menatap lengan Nathan yang masih menggantung di udara sebelum akhirnya meraihnya. Sebuah senyum lebar kini terukir di bibir Nathan. Nadira juga mengangguk sebagai tanda bahwa dia menyetujui sesi konsultasi sore itu dengan Nathan.
"Jadi, saya sebenarnya semalam baru saja menghadiri pernikahan kedua suami saya, Dok. Saya memang menyuruhnya menikah karena desakan keluarga suami saya yang menginginkan cucu kandung." Suara Nadira mulai bergetar dengan mata berkaca-kaca.
Nathan masih setia mendengar sambil sesekali menggoreskan penanya ke atas kertas. Di terus menatap dan mengamati ekspresi wajah Nadira. Lelaki itu berusaha masuk ke dalam ceritanya dan memahami situasi yang dialami oleh Nadira.
"Lalu apa yang kamu rasakan sesaat sebelum melukai dirimu sendiri?"
Nadira menghapus bulir bening yang perlahan menetes membasahi pipi. Dia tersenyum miring kemudian menatap sendu Nathan. Nadira mengembuskan napas kasar dan kembali memainkan kukunya.
"Katakan saja, jangan ragu. Aku bukanlah ibu-ibu julid yang akan menyebarkan aibmu ke ibu lain saat arisan tas branded!"
Mendengar ucapan Nathan membuat Nadira sedikit terhibur. Dia langsung terkekeh dan terlihat jauh lebih rileks. Nadira kembali duduk tegak.
"Aku merasa sedih karena suamiku sudah menikahi wanita lain dengan mudahnya, aku marah saat mengetahui orang-orang tidak mau mengerti bagaimana perasaanku saat ini. Dan aku ...."
"Kecewa pada takdirku yang menyedihkan. Aku tidak bisa memiliki anak karena prosedur histerektomi yang aku jalani pada pernikahan pertamaku, Dok." Nadira tersenyum kecut ketika mengingat semua hal yang membuatnya frustrasi itu.
"Baiklah, tidak apa-apa. Tapi, aku harap kamu nggak mengulangi lagi perbuatan itu, Nad. Hidupmu terlalu berhaga jika harus diakhiri sekarang. Aku yakin masih banyak hal yang belum kamu lakukan di dunia ini. Kamu masih muda dan memiliki banyak kesempatan untuk melanjutkan hidup dengan baik dan nyaman." Nathan menutup bukunya kemudian beranjak dari kursi.
"Kita akan bertemu lagi besok. Aku akan mempelajari hal ini untuk menentukan terapi apa yang cocok agar dirimu pulih dari rasa depresi an kembali bangkit."
"Terima kasih, Dok. Terima kasih sudah mendengar semua cerita saya yang menyedihkan ini." Nadira tersenyum lebih ceria sekarang.
"Sudah tugas saya."
Beban di d4da Nadira seakan terangkat perlahan. Dia merasa lebih baik dan memiliki semangat hidup kembali. Nathan seperti menyalakan kembali lentera kehidupannya yang sempat hampir padam.
"Kita ketemu lagi besok. Istirahatlah dengan baik dan cukup. Semoga nggak terlalu lama di sini. Bukankah sangat membosankan di rumah sakit sendirian begini?"
"Saya besok akan pulang, Dok!" ujar Nadira penuh keyakinan.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Nathan balik kanan dan berjalan ke arah pintu.
***
Tujuh hari setelah kepulangannya dari rumah sakit, Nadira mulai bisa menerima keadaannya. Dia lebih sering mengobrol bersama Wulan. Demi menjaga kesehatan tubuh dan mental, Nathan menyarankan Nadira untuk menutup salah satu kafenya.
Jika tetap menjalankan bisnis dengan dua kafe, Nathan khawatir justru Nadira akan menjadi stres karen terlalu sibuk mengurus bisnis. Dia menyarankan Nadira untuk mengikuti kelas yoga seminggu sekali. Nathan juga meresepkan beberapa obat yang digunakan untuk memperbaiki perasaan Nadira jika mulai terasa cemas.
Sore itu Nadira sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca buku tentang kesehatan mental. Ketika sedang ayik dengan bukunya, tiba-tiba Wulan datang dengaan langkah tergopoh-gopoh. Nadira yang melihat hal itu langsung meletakkan bukunya ke atas meja dan menanyakan alasan kenpaa Wulan terlihat begitu khawatir.
"Bu, Pak Chandra pulang. Tapi ...." Ucapan Wulan menggantung di udara dan terlihat jemarinya yang meremas rok.