Bab 8. Melayangkan Protes

1088 Words
"Kenapa, Lan?" tanya Nadira saat mengamati Wulan yang terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu mengenai kedatangan Chandra. Namun, belum sempat Wulan menjelaskan, Chandra sudah masuk ke kamarnya. Lelaki itu menghampiri Nadira ke balkon sambil menggandeng Dania. Nadira mengerutkan dahi saaat melihat sang suami melakukan hal tersebut. "Mulai hari ini Dania tinggal di rumah ini!" ujar Chandra sambil menoleh ke arah Dania. Dania membalas senyuman sang suami, kemudian mulai mengamati sekeliling kamar Nadira. Dia berjalan-jalan di sekitar kamar. Langkahnya berhenti tepat di hadapan Nadira. Perempuan tersebut tersenyum lebar sambil mengangkat sebelah alisnya. Nadira menatap tajam perempuan di hadapannya itu. Dania pun memutar tubuh hingga kini berhadapan dengan Chandra yang berdiri di dekat ambang pintu menuju balkon. "Aku suka kamar ini, Sayang." "Apa maksudmu, Dan?" Nadira mengerutkan dahi ketika mendengar ucapan yang keluar dari bibir madunya itu. "Aku mau kamar ini saat tinggal di sini!" Dania berjalan ke arah sang auami kemudian bergelayut manja pada lengan Chandra. "Boleh, ya, Mas?" tanya Dania dengan nada manja yang dibuat-buat. "Itu ...." Ucapan Chandra menggantung di udara karena dipotong oleh Nadira. "Sebaiknya kalian istirahat dulu. Pikiran kalian sepertinya belum terlalu jernih. Aku juga mau mandi karena harus kembali pergi ke kafe." Nadira beranjak dari kursi. Nadira berjalan mendekati Chandra dan Dania. Ketika berpapasan dengan madunya, Nadira berhenti sebentar. Dia melirik Dania sinis dan kembali berjalan ke arah kamar mandi. Rasa mual yang sejak tadi ditahan oleh Nadira membuatnya mengeluarkan isi perut. Kepala seakan berputar dan semakin parah ketika tanpa sengaja terbayang wajah Dania. Perempuan tersebut sampai lemas karena terus mengeluarkan isi perutnya. "Astaga! Aku kenapa?" *** Suara denting sendok yang beradu dengan piring membuat suasana canggung di ruang makan menjadi lebih berisik. Dania, Chandra, dan Nadira sedang duduk bersama untuk menikmati makan malam. Begitu Nadira selesai dengan makan malamnya, dia langsung beranjak dari kursi untuk pergi ke kamarnya. "Tunggu!" cegah Chandra. Nadira mengembuskan napas kasar seraya memutar mata, kemudian kembali ke kursinya. Dia menyandarkan punggung lantas melipat lengan di depan d**a. Nadira menatap Chandra dan Dania secara bergantian. "Kamu benar-benar tidak akan memberikan kamarmu kepada Dania?" tanya Chandra dengan suara dingin. "Nggak, Mas. Maaf untuk mengatakan ini. Tapi ...." Nadira tersenyum miring dengan tatapan yang dia tujukan kepada Dania. "Memangnya dia mau, tidur di atas ranjang tempat kita biasanya memadu kasih? Kalau aku jadi dia, bahkan untuk menginjakkan kaki di rumah ini saja aku nggak akan mau, Mas?" Nadira tersenyum miring sambil melirik Dania. Jemari Dania mengepal kuat di bawah meja. Terlihat Chandra mulai mengangguk seraya mencembikkan bibir. Tak lama dia meraih jemari Dania dan menatap lembut perempuan di sampingnya itu. "Benar juga. Bukankah kamu akan kurang nyaman tinggal di sin, Daniai?" tanya Chandra sambil tersenyum. "I-itu ...." Dania menggantung ucapannya di udara karena Nadira memotong ucapannya. "Pasti, Mas! Aku ini perempuan juga sama kayak Dania. Pasti cara berpikir kami mirip-mirip walau tidak sama persis. Mana ada perempuan yang mau tinggal satu rumah dengan wanita lain yang mencintai suaminya? Normalnya, sih begitu, Mas." Nadira tersenyum miring ketika menatap Dania. "Kami makhluk perasa dan pecemburu. Aku nggak akan mau menyaksikan suamiku sedang bermesraan di depan mata dengan wanita lain. Bukankah begitu, Dania?" Nadira menaikkan alis kirinya sambil terus tersenyum. Wajah Dania terlihat merah padam. Dia langsung beranjak dari kursi dan mulai menjauh dari meja makan. Dia berharap sang suami segera menyusulnya. Akan tetapi, ketika Chandra hendak beranjak dari kursinya, Nadira menggenggam pergelangan tangan sang suami. "Mas, boleh minta waktunya sebentar? Dira pengen ngomong empat mata sama Mas Chandra." Akhirnya Nadira bisa menahan Chandra tetap di sana dan tidak jadi beranjak dari kursinya. Melihat Chandra yang ditahan oleh Nadira membuat Dania merajuk. Dia mengentakkan kaki ke atas lantai kemudian berjalan cepat masuk kamar tamu. Nadira tersenyum lebar saat melihat Dania yang kesal. Kini dia berpindah tempat duduk di samping Chandra. Perempuan itu menatap Chandra dengan tatapan sendu. "Mas, boleh nggak Dira minta sesuatu sama Mas Chandra?" Nadira mencoba untuk bicara baik-baik kepada Chandra. "Apa?" tanya Chandra. "Dira minta Mas Chandra bawa pergi Dania dari sini. Jangan sampai kami tinggal bersama karena akan memicu banyak masalah ke depannya. Ini bukannya Nadira nggak suka tinggal sama Dania. Cuma lebih untuk menjaga perasaan satu sama lain. Boleh begini nggak, Mas?" tanya Nadira sabil menatap sang suami penuh harap. Chandra terdiam. Dia terlihat mengerutkan dahi dengan bibir terkatup rapat. Tak lama kemudian Chandra mengembuskan napas kasar. "Baiklah, sepertinya kamu ada benarnya, Sayang." Sebuah senyum tipis kini tersungging di bibir Chandra. "Terima kasih pengertiannya, Mas!" Nadira tersenyum lega saat Chandra menyetujui keinginannya. "Ada satu hal lagi yang harus kamu ingat, Mas. Mas Chandra juga harus janji sama Nadira! Mas Chandra harus berlaku adil, ya? Kunjungi kami dengan intensitas yang sama. Tiga hari bersamaku dan tiga hari selanjutnya bersama Dania." "Aku akan selalu berusaha untuk adil sama kalian, Sayang. Ingatkan aku jika suatu saat aku mengingkari hal ini." Chandra mencolek hidung Nadira sehingga membuat istrinya itu tersipu. Di tengah obrolan itu, mendadak Nadira teringat insiden seminggu yang lalu. Dia mulai terasa sesak dan pandangannya kabur karena air mata yang terus berdesakan. Chandra yang menyaksikan hal itu pun bertanya tentang kondisi Nadira. "Mas Chandra kenapa nggak mengangkat panggilan dari Wulan?" tanya Nadira dengan suara bergetar. "Bahkan Mas Chandra mengabaikan panggilannya. Sebenarnya seminggu yang lalu aku mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit." Nadira tersenyum kecut ketika mengingat hal itu. Nadira merasa harus menanyakan hal ini kepada Chandra agar hatinya menjadi lebih tenang dan tidak terjadi salah paham di antara mereka. Dia sudah mulai menerima situasi bahwa suaminya itu berpoligami. Jadi, dia akan berusaha menjaga hubungan baik dengan sang suami. "Loh, aku nggak tahu kalau Wulan telepon!" seru Chandra. "Pak Pram juga sudah menghubungi Mas Chandra ketika aku harus menerima donor darah. Apa panggilan Pak Pram juga nggak masuk ke ponsel Mas Chandra?" tanya Nadira hati-hati. "Untuk apa aku bohong sama kamu, Nad! Aku tidak pernah menerima panggilan apa pun dari orang rumah! Aku bahkan tidak sempat memegang ponsel sejak acara resepsi selesai!" Chandra terlihat begitu marah karena menganggap sang istri seakan tidak mempercayainya. Sementara itu, Nadira bertekad untuk terus mencecar suaminya agar semua menjadi lebih jelas. Dari pertanyaan-pertanyaan sebelum, Nadira dapat menarik kesimpulan kalau ada yang tidak beres. "Wulan juga berusaha menghubungi ibu untuk mengabarkan insiden itu. Tapi ...." Nadira tertunduk lesu dan sedikit ragu untuk tetap melanjutkan ucapannya saat melihat Chandra yang terlihat marah. "Tapi ibu sama sekali tidak berkunjung, meski Wulan sudah mengabari beliau tentang kondisiku. Aku ada di rumah sakit hampir tiga hari, Mas. Aku tidak memiliki siapa pun di sini. Keluargaku hanya kalian. Tapi, kenapa seakan tidak ada yang memedulikanu?" Perlahan air mata Nadira mulai tumpah. "Oh, bagus, ya!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD