Bab 9. Retak

1066 Words
Dari arah ruang tamu Dewi sedang berjalan menghampiri Nadira dan Candra. Dia menatap tajam sang menatu dengan rahang mengeras. Nadira tersenyum tips kemudian membuang muka. "Jadi, begini caramu? Kamu mengadu domba aku dengan putraku?" Dewi tersenyum miring sambil melipat lengan di depan d**a. "Maaf sebelumnya, Bu. Tapi aku nggak ada niatan buat adu domba ibu sama Mas Chandra. Aku hanya menceritakan soal apa yang terjadi selama dia tidak di rumah. Apa itu salah?" tanya Nadira dengan nada selembut mungkin. "Salah, kamu salah! Seharusnya kamu bisa mejaga hubungan baik antara mertua dengan suamimu!" Nadira hanya bisa menghela napas. Dia tidak ingin berdebat lebih panjang lagi dengan sang mertua. Nadira pun akhirnya memilih untuk beranjak dari meja makan dan menghampiri Wulan. "Lan, tolong buatkan ibu teh tawar," perintah Nadira kepada Wulan yang sedang membersihkan dapur. "Baik, Bu." Wulan mengangguk dan bergegas mengerjakan apa yang diminta oleh sang majikan. Nadira menaiki satu persatu anak tangga tanpa menoleh lagi. Akan tetapi, ketika sampai di lantai dua, dia melihat Dania yang sedang bersandar pada pintu kamarnya. Saat melihat Nadira yang datang menghampiri, Dania tersenyum sinis dan mulai menegakkan punggung. "Kamu puas?" tanya Dania sambil berjalan mendekati Nadira yang kini masih ada di dekat anak tangga. "Puas untuk apa?" tanya Nadira sambil mengerutkan dahi. "Kamu sudah berhasil mempengaruhi Mas Chandra agar aku tidak tinggal di sini!" "Sebenarnya aku melakukan hal ini untuk ketenangan dan kebahagiaan kita bersama, Dania." Nadira tersenyum lembut berusaha menekan emosinya yang sebenarnya sudah bergejolak sejak tadi. "Seperti yang aku bilang tadi. Perempuan pada dasarnya adalah makhluk pencemburu. Aku tidak akan bisa melihat suamiku bermesraan dengan wanita lain di depan mata. Ya, tapi kalau kamu kuat seandainya aku nantinya mesra-mesraan dan bermanja sama Mas Chandra di depanmu, aku nggak masalah kamu mau tetap tinggal bersamaku sini, Dan." Nadira tersenyum miring kemudian berjalan ke arah kamarnya dan mengabaikan Dania begitu saja. Ketika masuk ke kamarnya, mendadak Nadira kembali merasa mual. Dia langsung berlari ke arah kamar mandi dan mengeluarkan seluruh isi perutnya. Keringat dingin mengucur membasahi dahinya. Badan perempuan itu kembali lemas. Nadira pun naik ke ranjangnya dengan susah payah. Dia merebahkan tubuh di atas kasur dan memijat pelipis yang terasa berdenyut. Nadira berusaha untuk tidur dengan terus memejamkan mata, tetapi tetap terjaga. Setelah melakukan banyak cara agar bisa tidur, barulah perempuan tersebut terlelap saat lewat tengah malam. Keesokan harinya Nadira bangun terlambat, sehingga terburu-buru ketika hendak pergi ke kafe. Saat hendak keluar dari rumah, Nadira berpapasan dengan Dewi. "Loh, Ibu nginep?" tanya Nadira sambil berusaha mengenggam tangan Dewi untuk mencium punggung tangannya. Akan tetapi, Dewi menarik lengannya. Nadira tersenyum kecut ketika mendapatkan perlakuan itu dari mertuanya tersebut. Nadira mengabaikan Dewi dan berniat untuk pergi tanpa mencium punggung tangan Dewi seperti biasa. Namun, ketika baru saja memegang tuas pintu, tiba-tiba Dewi berteriak. "Oh, jadi begini kelakuanmu yang sebenarnya? Kamu mulai tidak menghormati dan menghargai ibu!" Nadira memutar bola mata kemudian balik kanan. Saat itulah baru Nadira sadar kalu sang mertua tengah bermain drama di depan Chandra. Chandra sedang berdiri di ambang pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah. Lelaki itu menggandeng tangan Dania dengan tangan kanan. Tangan kirinya kini memegang koper. "Buka matamu lebar-lebar, Chan! Dia itu bukanlah perempuan yang baik! Dia sudah mulai tidak menghargai ibu! Dia nggak salim saat mau berangkat kerja!" tuduh Dewi. "Loh, Bu. Tadi kan Nadira sudah ...." "Cukup, Nad!" bentak Chandra. Nada tinggi yang keluar dari bibir Chandra berhasil menusuk hati Nadira. Matanya berkaca-kaca dengan hidung yang mulai terasa berair, Nadira mati-matian menahan air matanya agar tidak meleleh. Dia bahkan kesulitan menelan ludah karena rasa sesak yang menghalangi tenggorokannya. "Ya, Mas. Maaf." Nadira tertunduk dan mulai mengangkat tangan untuk mengusap wajah. "Saya pamit, Bu." Nadira kembali menghampiri Dewi dan kembali mengulurkan tangannya. Namun, lagi-lagi Dewi mengabaikannya. Nadira akhirnya mengepalkan jemarinya dan kembali menarik lengan. Dia tersenyum kecut dan ujung hidung terlihat memerah. "Kamu lihat sendiri gimana sikap Ibu sama aku, Mas. Bukannya aku yang nggak mengormati Ibu. Tapi aku yang tidak dihargai saat mecoba untuk tetap hormat kepada beliau meski perlakuannya ...." "Cukup, Nad! Sudahlah aku malam ini bakalan nemenin Dania di rumah baru kami!" Suara Chandra terdengar begitu asing di telinga Nadira. Perempuan iu merasa sang suami menjelma menjadi orang lain. Seakan Chandra bukanlah Chandra yang dia kenal. Dia merasa suaminya itu sangaat banyak berubah dan menjadi lebih keras kepadanya. "Mas, seharusnya sesuai perjanjian yang kita buat kemarin, malam ini sampai tiga hari ke depan Mas Chandra sama aku. Baru setelahnya balik lagi sama Dania." Suara Nadira bergetar dan sedikit terputus-putus. "Maklumi aja, deh! Mereka pengantin baru! Pasti nggak akan mau pisah lama-lama! Kamu harusnya pengertian sama suamimu," ucap Dewi ketus. Nadira melihat ke arah Dania yang tersenyum miring seraya menatapnya sinis. Rahang Nadira langsung mengeras. Rasa mual kembali mendera perut Nadira. Nadira langsung keluar dari rumah dan berlari ke arah taman. Perempuan itu mengeluarkan isi perutnya. Saat menjadi sedikit lebih baik, dia pun berjalan ke arah mobil. Nadira menghubungi Nathan untuk membuat janji konsultasi. Perempuan tersebut akhirya mendapatkan giliran bertemu sang dokter pukul 18:00. Hari itu terasa begitu panjang bagi Nadira. Pikiran yang kacau membuatnya melakukan banyak kesalahan ketika membuat kue. Bahkan tanpa sengaja Nadira melukai tangannya sendiri saat sedang memarut keju. Karyawan Nadira akhirnya meminta sang bos untuk beristirahat. *** "Silakan masuk, Bu." Seorang perawat memanggil Nadira yang sedang duduk di depan ruang praktik Nathan. Nadira mengangguk kepada perawat itu dan beranjak dari bangku. Ketika memasuki ruangan Nathan, tercium aroma kopi yang sedang diseduh. Nathan tersenyum lembut dan meminta Nadira untuk duduk di kursi santai. "Sebelum memulai sesi konsultasi kali ini, kita ngopi dulu." Nathan menyodorkan secangkir espreso kepada Nadira. "Terima kasih, Dok." Nadira menerima cangkir itu dan mulai mengirup aroma kopi yang menguap ke uadra. Akan tetpi, Nadira lebih memilih untuk meletakkan cangkir itu. Nathan yang mengamati gelagat Nadira tentu saja langsung paham. Pasiennya itu memiliki kondisi buruk jika dibandingkan dengan sesi konseling mereka terakir kali. "Apa kamu lupa, Nad. Kita ini teman. Jadi saat ada di sini panggil nama saja. Selalu anggap aku ini teman dekatmu, Nad." Nadira menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia mulai merebahkan tubuh ke kursi santai. Nathan langsung sigap menyelimuti tubuh bagian bawah Nadira. Nadira memejamkan mata. Ketika kelopak matanya tertutup rapat, bulir bening keluar dari sana dan menetes membasahi pipi. Nathan tersenyum getir ketika menyadari kalau faktor pemicu stres Nadira sudah kembali. "Jadi. apa yang sebenarnya terjadi, Nad?" Nathan meletakkan cangkirya ke atas meja kemudian mulai mengeluarkan buku kecil serta pena miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD