"Suamiku kembali ke rumah dengan membawa madunya." Suara Nadira bergetar ketika mengungkapkan apa yang terjadi.
Sebenarnya ini merupakan aib dari keluarganya. Akan tetapi, Nadira tiak bisa diam saja dan membiarkan mentalnya dihancurkan oleh keadaan. Dia bertekad untuk bisa menjalani hidup lebih baik ketika memutuskan untuk menikah dengan Chandra.
"Apakah normal jika aku marah? Aku memang menerima pernikahan itu. Tapi, jika harus melihat wanita lain yang dicintai suamiku di dalam rumahku setiap hari, rasanya aku sangat keberatan, Nath!" Isak tangis kembali terdengar di bibir Nadira.
"Wajar dan sangat normal, Nad. Sejatinya manusia tidak ingin berbagi orang yang dia cintai dengan orang lain."
"Aku mengungkapkan hal itu kepada Mas Chandra. Beruntungnya dia mau sedikit memahami. Namun, aku sangat sedih dan marah sama Mas Chandra. Sikap lembutnya kepadaku berubah akhir-akhir ini. Terlebih sejak kembali bertemu dengan Dania." Nadira terus menghapus air mata, walau butir bening itu enggan berhenti menetes.
"Mungkin dia juga sedang mengalami tekanan lain, Nad. Dia tidak mengerti cara mengatasi rasa tertekan itu dan akhirnya melampiaskannya kepadamu."
"Jika memang begitu ... kenapa harus aku yang menerima akibat buruknya? Apa karena aku menyembunyikan fakta bahwa sudah tidak memiliki rahim?" Nadira tersenyum miring sambil menatap langit-langit di atasnya.
"Hanya suamimu yang tahu, Jika dia tidak bisa memahami dirinya sendiri, mungkin perlu berkonsultasi denganku juga." Chandra terkekeh kemudian menyandarkan punggungnya.
"Ada hal lain lagi yang membuat kekhawatiranmu bertambah?" tanya Nathan.
"Ya, sikap ibu mertuaku benar-bemar berbalik 180 derajat. Dia seakan bukanlah ibu mertua yang aku kenal sebelumnya. Entah mengapa aku merasa orang-orang berubah menjadi asing di mataku. Keadaan saat ini benar-benar berbalik jauh."
"Aku paham. Tapi, bolehkah aku memberikanmu sebuah saran?" tanya Nathan sebelum mengungkapkan apa yang dia usulkan untuk memecahkan masalah Nadira.
"Apa. Nath?"
Nathan terlihat sedikit menggoyang tubuh. Lelaki itu menatap lantai sambil mengusap dagu. Dia menarik napas panjang dan mengmbuskannya perlahan sebelum akhirnya mengungkapkan jalan keluar yang dia maksud kepada Nadira.
"Bercerailah dengan suamimu! Masalah ini muncul sejak pernikahan kalian berlangsung, bukan?"
"Nggak, aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepadamu, Nath! Bagaimana bisa kamu bisa berpikir seperti begitu?" Nadira tersenyum kecut kemudian kembali menutup mata.
"Untuk apa menikah jika pada akhirnya justru merusak mentalmu? Hubungan kalian sudah tidak sehat!"
Nadira langsung terduduk , kemudian melipat selimut. Dia menatap tajam Nathan yang kini menutup bukunya. Nathan tahu betul kalau Nadira tersinggung dengan ucapannya.
"Ya, ya, maaf, Nad. Duduklah dulu. Kamu belum selesai mengungkapkan semuanya." Nathan mencoba menahan bahu Nadira agar tidak pergi dari ruangan itu.
"Aku salah karena sudah mengatakan hal itu. Maaf, ya?" Nathan mengucapkan kalimat itu penuh penyesalan.
Beruntungnya Nadira mau menerima permintaan maaf Nathan. Dia meraih cangkir yang ada di atas meja, lalu mulai menyesap cairan hitam yang ada di dalamnya. Kafein berhasil membuat Nadira sedikit lebih tanang sekarang.
"Aku mulai begini sejak Chandra menikah lagi. Sebelumnya pernikahan kami baik-baik saja," tegas Nadira.
"Nggak, masalah ini muncul sejak kamu dan suamimu ditekan untuk memiliki anak kandung. Dari sana awal mula masalah. Jadi, sebenarnya apa yang aku katakan tidak salah juga," jelas Nathan.
Nadira kembali menatap tajam lelaki di hadapnnya itu. Akan tetapi, Nadira mencoba untuk bersabar. Dia berpikir ini adalah sesi konsultasi yang dia butuhkan untuk memecahkan masalah. Jadi, Dia tetap duduk di kursi dan menunggu kalimat selanjutnya keluar dari bibir Chandra.
"Kondisi tubuhnya tidak salah, Nad. Chandra juga tidak salah karena di awal pernikahan sudah menerimamu. Bahkan ketika tahu kamu tidak bisa mengandung, dia tidak menceraikanmu. Aku rasa sebenarnya dia itu sangat mencintaimu."
"Lalu, kenapa dia mengucapkan cerai sehingga membuatku depresi setelah menghadiri pernikahannya dengan Dania?" tanya Nadira dengan rahang yang kembali mengeras.
"Aku tidak yakin untuk hal ini. Tapi bisa saja dia juga tertekan dan ingin mendapatkan pengakuan dari masyarakat kalau pernikahan keduanya terlihat baik-baik saja. Bagini saja ...." Nathan pun meletakkan bukunya ke atas meja.
"Aku di sini bicara bukan sebagai seorang psikiater. Aku mengatakan ini sebagi sahabat. Kamu tidak ingin bercerai dengan Chandra, bukan?"
Nadira mengangguk sekali secara perlahan. Akan tetapi, jemarinya terlihat terus brgerak membuat pola yang rumit di atas permukaan rok. Nathan paham betul kalau sebenarnya bukan jawaban itu yang ingin dikeluarkan oleh Nadira.
"Tetap bertahan dalam pernikahan itu dan terimalah kenyataan kalau kamu sudah bersedia dan mengizinkan suamimu menikah lagi. Untuk urusan ibu mertuamu, sebaiknya hindari pertemuan dengannya jika tidak terlalu penting. Selebihnya aku akan meresepkan obat untuk mengatasi kegelisahanmu. Sepertinya kamu juga kurang tidur." Nathan mengetahui hal itu dari lingkar hitam dan kantung mata Nadira yang semakin memburuk.
"Ya, begitulah." Nadira tersenyum kecut kemudian beranjak dari kursi dan duduk di depan meja kerja Nathan.
Nathan menyusul Nadira dan mulai mengeluarkan kertas resep. Dia menggoreskan pena di atas kertas itu dan menyerahkan resep obat kepada Nadira. Nadira membacanya sekilas dan di sana tertulis satu resep baru yang harus dia konsumsi.
"Yang satunya obat tidur. Hanya konsumsi itu jika kamu tidak bisa tidur di atas jam 10 malam. Ingat, kamu harus tidur maksimal jam 22:00 agar hormon stres tidak semakin meningkat."
"Baiklah, aku akan mengingatnya, Nath. Terima kasih untuk konsultasi hari ini." Nadira tersenyum lembut kemudian beranjak dari kursi.
Namun, ketika hendak mengangkat lengan untuk berpamitan dengan Nathan, Nadhira teringat sesuatu. Dia pun mengurungkan niat untuk meninggalkan tempat itu. Nadira kembali mendaratkan b****g ke atas kursi.
"Bolehkah aku bertanya satu hal lagi kepadamu?" tanya Nadira dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Nathan.
"Kenapa aku merasa begitu mual ketika melihat Dania? Aku langsung mual dan memuntahkan isi perut usai berbicara dengannya."
"Itu reaksi karena kamu sangat membencinya, Nad."
"Aku sama sekali tidak ada rasa benci kepada ...." Ucapan Nadira menggantung di udara karena Nathan meletakkan jarinya pada bibir.
"Bibirmu bisa saja mengatakan tidak. Tetapi reaksi tubuhnmu tidak bisa berbohong. Hal itu secara keilmuan medis disebut psikomatis."
Nathan pun mulai menjelaskan lebih detail mengenai hal yang dialami oleh Nadira. Psikomatis adalah kondisi di mana emosi atau pikiran negatif memicu gejala fisik seperti mual atau muntah. Dalam konteks psikologis, hal tersebut mungkin juga terkait dengan aversi emosional yang kuat terhadap orang tersebut.
Rasa benci yang intens dapat memicu reaksi tubuh melalui sistem saraf, khususnya jika individu tersebut mengalami peningkatan kecemasan atau stres saat berhadapan dengan orang yang tidak disukai.
"Baiklah, lalu cara aku mengatasinya?"
"Kamu bisa menghindari Dania untuk sementara waktu. Tetap olahraga terutama yoga, lakukan teknik pernapasan dalam yang pernah aku ajarkan. Jika memungkinkan terus pikirkan hal positif mengenai Dania. Saat bertemu dengannya bayangkan hal-hal menyenangkan yang mungkin bisa kalian lakukan bersama. Ah, satu lagi!" Reza mengacungkan jari telunjuknya.
"Jangan pernah memendam emosi, apa pun itu. Marah, sedih, kecewa, kesal, ungkapkan saja dengan sewajarnya. Kami juga bisa menghubungiku kapan saja jika tidak bisa datang ke rumah sakit."
"Baiklah, aku akan mengingat semuanya. Aku pulang dulu kalau begitu," Nadira akhirnya benar-benar pulang kali ini.
Nadira yang merasa begitu lelah, langsung kembali ke rumah. Ketika baru saja masuk ke kamarnya, Chandra sudah duduk di atas ranjang dengan punggung yang disandarkan pas kepala ranjang. Tatapan lelaki tersebut begitu tajam sehingga membuat Nadira menelan ludah kasar.
"Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang?"