Bab 11. Keharmonisan

1083 Words
Nadira terbelalak saat mendapati sang suami sudah ada di kamarnya. Dia ingat betul kalau tadi pagi Chandra mengatakan akan menemani Dania lagi malam ini. Perempuan tersebut berjalan pelan mendekati sang suami lalu mengulurkan tangannya. "Kok, nggak dijawab? Kamu dari mana?" tanya Chandra dengan nada bicara yang begitu dingin. "Maaf, Mas. Dira nggak izin sama Mas Chandra." Nadira menggenggam kembali tangannya kemudian menurunkannya dari udara karena tak kunjung disambut oleh sang suami. Tiba-tiba Chandra menarik lengan Nadira. Wanita itu pun jatuh ke dalam pelukan sang suami. Chandra mencium puncak kepala sang istri, lalu mengusap rambut Nadira penuh kasih. Mendapat perlakuan yang sangat lembut dari sang suami membuat mata Nadira berkaca-kaca. Dia mengerat pelukannya pada pinggang sang suami seakan enggan kehilangan Chandra. Isak tangis perlahan keluar dari bibir Nadira. "Kenapa, kok malah nangis, Sayang?" tanya Chandra lembut. Mendapat pertanyaan dengan nada yang begitu menenangkan benar-benar membuat hati Nadira merasa terharu. Tangisnya justru semakin pecah dan bahunya bergetar. Dia begitu bahagia mendapatkan perlakuan seperti itu lagi dari sang suami setelah sekian lama. Chandra membiarkan sang istri terus mengeluarkan emosi kesedihannya. Dia mengusap punggung Nadira sambil sesekali mengecup puncak kepalanya. Setelah puas meluapkan tangis, Nadira menepaskan pelukannya dari tubuh Chandra. "Kenapa kok nangis?" tanya Chandra seraya mengusap air mata Nadira. "Di-Dira senang, M-Mas. Mas Chandra sudah kembali seperti dulu. Dira kangen mendapatkan perlakuan Mas Chandra yang begitu lembut." Nadira menjawab pertanyaan sang suami sambil sesengukan. "Maafin Mas Chandra, ya?" Chandra mengusap lembut pipi Nadira ambil tersenyum. "Terus, kalau Mas boleh tahu dan kamu nggak keberatan, tadi Nadira dari mana?" Kali ini Chandra menanyakan hal yang sama dengan nada bicara yang lebih lembut dan hangat. "Aku pergi ke psikiater, Mas." Nadira meremas rok yang dia pakai. Mendengarkan pernyataan dari sang istri membuat Chandra mengerutkan dahi. Dia tidak mengerti kenapa sang istri sampai harus berurusan dengan dokter ahli kejiwaan itu. Lelaki itu kini merangkum wajah sang istri dengan alis yang saling bertautan. "Untuk apa kamu pergi ke psikiater?" tanya Chandra dengan tatapan lembut. "Aku datang ke sana setelah mencoba untuk bunuh diri, Mas. Hari di mana kamu menikah membuatku sangat tertekan. Aku merasa sudah tidak ada seorang pun yang menginginkan aku. Keesokan harinya aku sengaja menggoreskan pecahan bingkai foto pernikahan kita pada pergelangan tangan." Hati Chandra mencelos ketika mendengar pengakuan dari sang istri. Lelaki tersebut langsung memeluk erat sang istri, lalu mengusapnya penuh kasih. Nadira kembali tersentuh saat mendapat perlakuan baik dari sang suami. "Maafkan aku, Sayang. Aku benar-benar menyesal. Aku harus melakukan hal ini kepadamu. Sebenarnya ibu mengatakan kepadaku untuk menceraikanmu. Namun, aku tidak akan mungkin melakukannya. Aku sangat mencintaimu, Sayang. Bertahanlah dalam situasi ini, ya? Aku mohon." Chandra mendaratkan kecupan pada puncak kepala Nadira. "Apa ibu membenciku sekarang, Mas? Sikap ibu benar-benar berbalik 180 derajat sejak mengetahui kekuranganku?" "Kamu harus memakluminya, Sayang. Ibu baru bisa mengandungku setelah melewati perjuangan dan pengorbanan luar biasa. Dia hanya ingin aku memiliki keturunan, Nad. Agar garis keturunan kami tidak putus." Chandra mencoba untuk memberikan penjelasan dan pengertian kepada sang istri. "Kenapa harus aku yang terus memaklumi kalian, Mas? Sementara kalian tidak mau mengerti kondosiku?" Suara Nadira terdengar lemah dan sedikit bergetar. "Maaf, aku harus bersandiwara seperti itu ketika ada di hadapan ibu dan Dania, Sayang. Aku tahu ini akan menyakiti hatimu. Jika aku terlihat baik kepadamu di hadapan ibu dan Dania, beliau akan terus menekanku untuk menceraikanmu. Maaf, ya? Aku benar-benar menyesal. Karena hal ini kamu harus rutin mendatangi psikiater. Seharusnya aku membicarakan ini semua denganmu sejak awal. Maaf, Nad." Chandra terus mendaratkan kecupan pada wajah Nadira Hati Nadira yang lemah pun langsung menerima permintaan maaf sang suami. Dia kembali menangis sesenggukan setelah Chandra meminta maaf. Setelah kembali tenang, sebuah pertanyaan pun kembali diungkapkan oleh Nadira. "Mas, kenapa waktu itu mengancamku dengan sebuah perceraian?" tanya Nadira sambil menatap sang suami. "Aku sebenarnya saat itu sedang menyampaikan keinginan ibu. Beliau mengharuskan aku untuk membawamu ke pesta pernikahan keduaku. Setelah sampai sana aku juga sangat terkejut, Sayang. Pembawa acar memintamu untuk mengantarkan aku kepada Dania! Aku sangat kesal waktu itu. Tapi, aku benar-benar tidak bisa berkutik. Aku juga sangat tertekan dengan banyak permintaan ibu." Mata sendu Chandra seakan sedang menyimpan kesedihan luar biasa. "Ibu terus memintaku unuk menceraikanmu jika tidak melakukan apa yang beliau mau. Sekali lagi aku minta maaf, Sayang. Aku benar-benar merasa sangat frustrasi dan tertekan. Semoga kamu juga mau memahami posisiku." Kali ini Chandra mencium punggung tangan sang istri. "Aku selalu merasa bersalah setelah berkata kasar dan membentakmu, Sayang. Rasanya aku ingin memotong lidahku sendiri karena sudah menyakitimu." Mata Chandra kini berkaca-kaca. "Jadi, Mas Chandra menginginkan aku untuk ikut masuk ke dalam drama ini?" tanya Nadira. Chandra mengangguk. Dia pun memeluk tubuh sang istri. Nadira mengambil napas dalam dan menghirup aroma tubuh Chadra yang sudah lama dia rindukan. "Lalu, kenapa Mas Chandra bisa datang ke sini malam ini? Apakah Dania tidak marah?" tanya Nadira hati-hati. "Dania sedang ke luar kota karena panggilan dari kliennya. Dia itu desainer dan baru saja merintis usaha butik. Jadi, aku datang ke sini dan akan menemanimu selama dia ada di luar kota." "Apa Dania nggak masalah kalau Mas Chandra sering bersamaku?" Nadira mengangkat kedua alisnya sambil memiringkan kepala. "Aku suddah memberitahukan hal ini kepada Dania. Katanya dia nggak masalah. Dia sadar kalau tidak bisa menemaniku setiap hari. Sebenarnya dia juga merasa sangat beruntung bisa memiliki partner untuk mendampingiku." Chandra tersenyum tipis seakan ada yang sedang dia sembunyikan. "Benarkah?" Nadira menaikkan satu alisnya sambil tersenyum tipis. Kali ini Nadira sedikit tidak percaya dengan yang dikatakan oleh sang suami. Dia measa sejauh ini Dania terlihat tidak menyukainya dan terus berusaha untuk mengganggunya. Jadi, jika Chandra mengatakan bahwa madunya itu beruntung dan merasa kondisi ini juga menguntungkan dia, tentu saja Nadira sangsi. "Sayang, aku sangat merindukanmu." Chandra mulai melepaskan pelukannya dan mendaratkan kecupan pada pipi Nadira. Perempuan itu melingkarkan lengan pada leher sang suami. Keduanya saling melepaskan rindu dengan sentuhan-sentuhan penuh cinta. Perlahan tapi pasti, Chandra mulai memberikan nafkah batin kepada Nadira. Peluh mulai membasahi tubuh keduanya. Bercampur menjadi satu dan menempel pada selimut yang menutupi tubuh mereka yang sudah polos tanpa sehelai benang pun. Sebuah lenguh panjang keluar dari bibir Chandra sebagai pertanda kalau dia sudah mencapai puncak. Tubuh Chandra pun ambruk ke samping Nadira. Perempuan itu tersenyum malu dengan pipi merona karena kegiatan panas yang baru saja mereka lakukan. Dia merasa sudah kembali mendapatkan kasih sayang dari Chandra. "I love you, Babe," bisik Chandra pada telinga Nadira. Saat mendengar kalimat itu, mata Nadira mulai berkaca-kaca. Dadanya terasa begitu sesak dengan napas tersengal. Saat mengedipkan mata, bulir bening turun membasahi wajah cantik Nadira yang masih terlihat kelelahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD