Bab 12. Benar-benar Drama

1035 Words
"Kenapa, Sayang?" tanya Chandra sambil mengerutkan dahi setelah menyadari sang istri meneteskan air mata. Nadira hanya menggeleng kemudian menghapus air matanya. Chandra tersenyum, lalu mengecup puncak kepala sang istri. Dia juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Nadira karena sudah melayaninya dengan baik. "Aku mandi dulu, ya?" Chandra turun dari ranjang setelah memakai celananya. Lelaki itu memasuki kamar mandi, lantas menutup pintunya. Setelah kamar itu kembali terasa sunyi, hati Nadira pun ikut kosong. Apa yang ucapkan Chandra berhasil membuatnya begitu cemburu dan berpikir negatif tentang sang suami. "Babe? Sejak kapan kamu memanggilku dengan sapaan itu, Mas?" Nadira kembali mengusap air mata yang tumpah. "Jangan-jangan tadi kamu membayangkan sedang bermain dengan Dania, Mas?" d**a Nadira langsung terasa begitu sesak ketika memikirkan kemungkinan itu. Akan tetapi, Nadira enggan memikirkannya lebih jauh. Baginya yang terpenting sekarang, sikap Chandra kembali lembut di depannya terlepas dia nantinya harus terus mengikuti drama yang dibuat oleh sang suami. Asalkan masih terus bisa bersama dengan Chandra, Dia akan mencoba untuk memahami situasi ini. Perempuan itu mulai menggeser tubuhnya mendekati nakas yang ada di samping ranjang. Nadira menarik laci kemudian mengeluarkan sebuah botol obat dari dalam sana. Dia menggoyangkan botol itu, sehingga dua butir pil keluar dari botol tersebut. Nadira mencoba menenangkan diri dan memperbaiki perasaannya menggunakan obat yang telah diresepkan oleh Nathan. Setelah berhasil menelan obat-obatan itu, Nadita mencoba untuk menarik napas panjang. Dia menunggu Chandra keluar dari kamar mandi untuk membersihkan tubuh, lantas menyiapkan makan malam. *** "Mas, bangun!" Nadira menggoyangkan tubuh sang suami yang masih terlelap di bawah selimut. Chandra masih tetap bergeming ketika sang istri terus berusaha membangunkannya. Nadira tersenyum lembut, kemudian membangunkan sang suami dengan cara lain. Dia mulai mendekatkan tubuhnya pada Chandra. Nadira pun memainkan jemarinya di atas wajah Chandra sehingga membuat sang suami sedikit bergerak. Tak lama kemudian Chandra membuka matanya. Dia tersenyum lebar ketika mendapati istri pertamanya itu sudah cantik dan rapi. "Pagi, Sayang!" sapa Chandra. "Pagi juga, Mas. Pagi ini mau sarapan apa?" Chadra melingkarkan lengannya pada pinggang ramping sang istri. Dia tersenyum tipis, lalu mendorong tubuh Nadira sehingga kini keduanya berpelukan. Chandra mengecup bibir Nadira dan mulai bermain-main pada area sensitif sang istri. "Aku maunya sarapan kamu."bChandra terkekeh sambil kembali mengecup bibir sang istri. "Ih, Mas Chandra makin nakal!" seru Nadira dengan nada manja. "Baiklah, kamu juga harus pergi ke kafe, kan? Sarapan yang gampang aja. Roti lapis selai mungkin?" "Oke, Nadira siapin, Mas. Sekarang Mas Chandra mandi dulu, ya? Nadira tunggu dibawah." Nadira perlahan bangkit dari atas ranjang dan keluar dari pelukan sang suami. Dia mendaratkan sebuah ciuman pada pipi sang suami sebelum akhirnya keluar dari kamar. Nadira bergegas menyiapkan sarapan untuk sang suami. Sarapan sudah siap sebelum Chandra turun ke ruang makan. Nadira tersenyum lebar ketika menyiapkan sarapan sederhana untuk sang suami. Dia merasa kembali hidup dan bersemangat setelah mulai mencoba menrima situasi saat ini. Terlebih sang suami kembali bersikap baik dan lembut kepadanya. Nadira akan berusaha untuk memaklumi segala situasi yang sedang mereka hadapi. Dia semakin tersenyum lebar ketika mendapati Chandra perlahan turun dari kamar sambil memperhatikan poselnya. "Kenapa senyum-senyum sendiri, Mas?" tanya Nadira ketika mendapati sang suami menghampirinya sambil tersenyum saat menatap pnsel. "Ini, Dania ...." Mendengar nama madunya disebut membuat suasana hati Nadira mendadak buruk. Dia kembali merasa cemburu dan tidak senang ketika sang suami menyebut nama Dania saat bersamanya. Rasanya seperti Chandra sedang berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya. Sebenarnya Nadira ingin mengatakan hal ini kepada sang suami. Namun, dia tidak ingin membuat Chandra marah setelah apa yang mereka lalui. Hubungan keduanya kembali membaik belum lama. Nadira takut sang suami akan tersinggung, jika banyak mau dan mengatakan kalau dia tidak suka Chandra menyebut nama Dania di hadapannya. Apalagi kalau sampai sang suami menceritakan banyak hal tentang Dania di depannya. akhirnya Nadira memilih untuk menekan saja rasa cemburu itu. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Chadra saat menyadari sang istri tiba-tiba menelan lagi seyum cantiknya. "Nggak," jawab Nadira singkat sambil memaksakan senyum pada rahangnya yang terasa kaku. Nadira menarik kursi kemudian duduk di atasnya. Dia perlahan menggigit ujung roti yang masih hangat. Melihat sikap sang istri membuat Chandra sedikit tersadar dengan kesalahan yang dia buat. "Maaf, lain kali aku tidak akan membicarakan soal Dania lagi di hadapanmu." Nadira tersenyum tipis kemudian kembali mengigit rotinya. Chandra pun mendekati Nadira dan mencium puncak kepaanya sebelum menarik kursi dan duduk di atasnya. Mereka menyelesikan sarapan saat jam menunjukkan pukul 09:00. "Aku antar ke kafe hari ini. Aku sekalian mau menemui klien yang akan menyewa hall hotel kita untuk acara keluarganya." Chandra meraih kunci mobilnya kemudian mengulurkan tangan kepada Nadira. Nadira tersenyum lebar dan menyambut uluran tangan Chandra. Mereka meninggalkan meja makan begitu sja dan meminta Wulan untuk membereskan semuanya. Sepanjang perjalanan menuju kafe, Nadira banyak menceritakan kesehariannya ketika tidak bersama dengan sang suami. Chandra pun mendengarkannya dan sesekali menanggapi sang istri agar Nadira merasa diperhatikan. "Mas Chandra nanti jemput aku pulang juga, ya? Kita makan nasi campur di warung langganan kita dulu! Kita sudah lama banget nggak makan di sana, loh! Dira kangen nasi campur buatan Mbok Tut!" "Oke, Sayang. As you wish!" Chandra tersenyum lebar sambil mencolek ujung hidung sang istri. Setelah keduanya sampai di kafe Nadira, suasana tempat usahanya itu sudah ramai. Kebanyakan dari mereka memesan kopi dan roti untuk sarapan. Sebagian besar yang datang ke sana merupakan warga asing. Namun, ada juga warga lokal yang berasal dari generasi muda. Mereka terliat sedang bekerja secara daring atau freelance. Nadira langsung masuk ke dapur untuk mulai membuat kue-kue yang stoknya semakin menipis, sementara Chandra menunggu kliennya di sudut kafe. Ketika sedang memanggang kue-kue itu, salah seorang karyawan mendatangi Nadira. "Bu, ada yang nyari!" ujar Siwi. "Siapa?" "Dokter Nathan, Bu." Nadira pun meninggalkan pekerjaannya untuk karyawan yang baru saja memanggilnya. Perempuan itu melepaskan celemek dari tubuhnya dan mulai merapikan penampilan. Saat menemui Nathan, dia tersenyum lebar. Lelaki itu kini sedang duduk bersama seorang wanita berusia 60 tahunan dengan penampilan yang tampak elegan. Dari semua yang dipakai oleh wanita itu, sangat terlihat kalau dia adalah orang kaya. Nathan pun memperkenalkan perempuan itu sebagai ibunya. Nadira tersenyum lebar dan mulai mengulurkan tangan. Keduanya bersalaman dan Nadira duduk berseberangan dengan Nathan. Tak lama kemudian pesanan Nathan siap. Lelaki itu pun berjalan ke arah meja saji untuk mengambil pesanannya. "Siapa namamu?" tanya Pita sambil tersenyum lebar. "Saya Nadira, Bu." Pitaloka melihat Nadira dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Namun, dia terlihat sedang menilai Nadira. Tak lama kemudian Pitaloka mengngguk-angguk. "Nath, Mama setuju kalau kamu menikah dengan perempuan ini!" teriak perempuan tersebut ke arah sang putra sehingga membuat mereka menjadi pusat perhatian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD