Nadira terbelalak ketika mendegar perempuan di hadapannya itu berteriak demikian. Begitu juga dengan Nathan yang kini melongo dan terpaku di depan kasir. Tiba-tiba Chandra berjalan ke arah Nadira dan melingkarkan lengan pada pinggang sang istri.
"Maaf, Bu. Dia istri saya." Chandra tersenyum lebar ketika manatap Pitaloka.
"Ah, sepertinya saya sudah salah paham. Nathan mengatakan kalau kafe ini milik seorang kenalannya." Pitaloka menangkupkan kedua telapak tangannya dan mulai mengangguk sebagai tanda permintaan maaf.
"Nad, kamu kembali saja ke dalam. Beliau klien yang aku maksud tadi pagi," kata Chandra sambil memegang bahu sang istri.
Nadira mengangguk kemudian berpamitan kepada Pitaloka dan Nathan. Setelah Nadira pergi dari meja tersebut, Chandra menarik kursi yang ada di depannya dan duduk pada benda tersebut. Nathan terus mengamati Nadira hingga pasiennya itu masuk ke dapur.
Melihat gelagat Nathan membuat rahang Chandra mengeras dan menatap lelaki itu tajam. Dia berdeham sehingga membuat Nathan mengalihkan tatapannya dari Nadira.
"Maaf," ucap Nathan kemudian ikut bergabung dengan Chandra dan sang ibu.
Mereka pun akhirnya membahas konsep acara yang akan diadakan di hotel milik Chandra. Selain menyewakan ruangan, Chandra juhga menyediakan jasa dekorasi serta katering. Jadi, bisa dibilang lelaki itu juga mengelola bisnis event organizer.
Setelah keduanya sepakat dengan harga yang harus dibayarkan Pitaloka, mereka pun berpisah. Nathan dan Pitaloka meninggalkan kafe, sementara Chandra tetap berada di sana. Lelaki itu masih duduk di kursinya sambil menatap punggung Nathan yang terus menjauh dan menghilang di balik pintu.
"Siapa lelaki itu? Sepertinya Nadira sangat akrab dengannya."Jemari Chadra mengepal di atas paha dan lagi-lagi rahangnya mengeras.
Chandra menarik napas anjang kemudian mengembuskannya kasar. Dia beranjak dari kursi kemudian masuk ke dapur menyusul Nadira. Sang istri sedang sibuk memanggang kue ketika Chandra menghampirinya.
"Aku pulang duluan, ya? Nanti aku jemput."
"Iya, Mas." Nadira tersenyum lembut seraya mengangguk.
"Kalau begitu aku pergi. Ingat jangan capek-capek. See you," Chandra mengecup dahi sang istri kemudian meninggalkannya.
"Hati-hati di jalan, Mas!" seru Nadira ketika sang suami mulai keluar dari dapur.
Chandra menoleh sekilas kemudian mengangkat tangan dan melambai sebagai tanda perpisahan dengan sang istri. Dia berjalan keluar dari kafe menuju mobil. Ketika baru saja masuk ke kendaraannya, sebuah panggilan dari Dania masuk.
"Ya, ada apa, Babe?" tanya Chandra sambil perlahan mengendarai mobilnya.
"Aku sudah sampai rumah ibu, bisa jemput aku?" tanya Dania dengan nada santai.
"Loh, katanya ke Jogja selama seminggu?" tanya Chandra.
"Kok, kedengarannya kamu nggak suka aku balik cepat, sih?"
"Bukannya begitu, Babe. Bahkan ini belum ada 24 jam kamu pergi." Chandra mengerutkan dahi sambil tersenyum miring.
"Ternyata klienku yang datang ke sini, semalam. Pas kamu keluar dari bandara, kami bertemu di gate. Akhirnya aku membatalkan penerbangan. Maaf nggak mengabari kamu, Babe."
Chadra mengangguk berusaha mengerti kesibukan sang istri. Akhirnya dia mengakhiri sambungan telepon setelah berpamitan kepada sang istri. Lelaki tersebut menjemput sang istri ke rumah ibu mertuanya.
Begitu sampai sana, Dania dan Chandra langsung kembali ke rumah mereka. Dania membongkar kopernya dan mengeluarkan beberapa bungkus makanan khas Jogja yang dibawakan oleh kliennya. Mereka pun bersantai sambil bercengkerama.
"Kamu kangen nggak sih sehari nggak ketemu sama aku, Babe?" tanya Dania sambil memainkan ujung jarinya di atas d**a sang suami.
Sebenarnya Chandra belum terlalu merindukan Dania. Akan tetapi, dia tidak mungkin mengatakannya secara gamblang. Bisa-bisa Dania merajuk lama dan sulit untuk dibujuk.
"Kangen banget, aku, Babe!" jawab Chandra singkat sambil megusap pipi sang istri.
"Gimana semalam sama Nadira?"
Chandra kembali menelan ludah kasar. Dia bisa dalam maut jika sampai salah jawab. Bibir Chandra terkunci, tetapi otaknya tengah berisik untuk mencari jawaban yang tepat agar Dania tidak merasa terluka.
"Ah, itu ...." Chandra masih belum menemukan jawaban yang tepat untuk menanggapi pertanyaan Dania.
"Jujur aja, Sayang. Aku nggak akan marah. Kan memang aku yang memintamu untuk datang ke rumah Nadira selama aku nggak ada. Biar kamu nggak kesepian. Tapi, bisa nggak malam ini kamu temani aku? Aku benar-benar lagi panas!" Dania menggigit bibir bawahnya dan mulai mengusap keperkasaan sang suami.
Chandra langsung menelan ludah kasar. Darahnya seakan berdesir seiring dengan usapan lembut yang diberikan oleh sang istri. Perlahan pusakanya bangkit, sehingga Chandra tidak mampu lagi menahan h4sratnya.
Chandra langsung membalikkan tubuh. Kini dia mendominasi dengan berada di atas tubuh Dania. Lelaki itu langsung beraksi dan mendapatkan respon luar biasa dari sang istri.
Keduanya pun melpaskan semuanya dalam selimut dengan peluh yang membasahi tubuh. Mereka terus bersama sampai Chandra melupakan janji untuk menjemput Nadira di kafe. Ketika dia tersadar, jam sudah menunjukkan pukul 07:00 malam.
"Astaga!" seru Chandra ketika melirik jam dinding yang menggantung di kamar sang istri.
"Kenapa, Ma?" tanya Dania sambil bangkit dari ranjang mengikuti gerakan sang suami yang kini duduk di tepi ranjang.
"Aku sudah janji sama Nadira buat jemput malam ini!" Chandra berdiri dan hendak melangkah menuju kamar mandi.
Akan tetapi, Dania menahannya. Perempuan itu melingkarkan lengan pada pinggang sang suami. Chandra mengusap wajah kasar.
Lelaki itu perlahan melepaskan tangan Dania dari pinggangnya. Dia balik badan, lantas merangkum wajah Dania. Chandra tersenyum lembut dan mengusap puncak kepala sang istri.
"Maaf, ya, Babe. Aku harus menginap di sana 2 hari lagi. Aku harus adil terhadap kalian. Bagaimanapun juga kita bisa kembali bersatu atas izin dari Nadira. Kamu nggak boleh egois." Chandra mengusap lembut pipi Dania yang kini menatapnya sendu.
"Nadira juga sudah berusaha keras untuk tidak egois. Aku sangat terpukul ketika mengetahui dia datang ke psikiater untuk mengembalikan kesehatan mentalnya. Dia tidak hanya terlukai hatinya, tapi sudah menjalar ke mental. Bahkan dia mencoba bunuh diri di hari pernikahan kita, Babe." Chandra berusaha memberikan pengertian kepada sang istri agar Dania mau memahami kondisi Nadira.
"Baiklah, aku akan mencoba untuk menekan rasa egoisku. Tapi, saat Nadira bekerja dan kamu sedang tidak melakukan apa pun, bisa kita bertemu? Aku benar-benar nggak bisa terlalu lama jauh darimu, Sayang!" pinta Dania manja.
Chandra pun mengangguk. Dian mengusap pipi Dania kemudian membungkuk dan mendaratkan kecupan di sana. Akhirnya Chadra masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Dania membawakannya beberapa oleh-oleh yang dibawa klien untuk Nadira. Chandra pun membawanya dengan senang hati. Dia merasa beruntung bisa memiliki dua orang istri yang mau mengerti keadaan satu sama lain.
Chandra berharap keharmonisan pernikahan poligaminya ini akan berjalan selamanya. Jam menunjukkan pukul 20:00 ketika Chandra sampai di depan kafe Nadira. Dari mobil, dia bisa melihat dengan jelas Nadira yang sedang duduk di kursi depan bersama seorang lelaki.
"Siapa lelaki itu?" gumam Chandra dengan rahang mengeras.