Sinar matahari pagi menembus jendela ruang makan, menyinari meja yang penuh dengan hidangan sarapan. Namun, suasana di meja makan itu terasa sangat kontras. Pak Wahyu duduk di kursi kebesarannya dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih muda, ia menyesap kopinya dengan senyum puas yang tak kunjung hilang. Di sampingnya, Mama Amelia lebih banyak menunduk, wajahnya merona merah setiap kali mata suaminya melirik ke arahnya, sebuah rahasia manis dari malam tadi yang hanya mereka berdua yang tahu. Anya mengaduk sereal di depannya tanpa selera. Matanya sesekali melirik ke arah pintu depan, menunggu kedatangan Candra yang biasanya sudah siaga. "Anya, makan yang banyak. Kamu harus kuat buat cucu Papa," tegur Pak Wahyu dengan nada riang yang tak biasa. Ia kemudian menoleh pada pelayan di s

