Saat petugas menggiring Reza keluar menuju mobil tahanan, Reza sempat menatap Elvina dengan tatapan penuh penyesalan, namun sudah terlambat.
Sementara itu, Anya berdiri kaku di tengah ruang sidang yang mulai sepi.
Ia melihat Abimanyu merangkul pundak Elvina dengan protektif, membimbing istrinya itu keluar dari ruangan.
Pemandangan kebahagiaan mereka di atas penderitaan suaminya membuat hati Anya menghitam.
"Kalian pikir ini sudah selesai?" gumam Anya dengan suara rendah yang mengerikan. "Kak Abi... Elvina... kalian sudah merebut segalanya dariku. Aku bersumpah, selama aku masih bernapas, kalian tidak akan pernah hidup tenang."
Anya menyalahkan Elvina sepenuhnya.
Dalam logikanya yang sudah rusak, jika saja Elvina tidak muncul kembali dalam hidup Abimanyu, maka Reza tidak akan terdesak dan rahasia mereka akan tetap aman.
Dendam itu kini tumbuh menjadi obsesi gelap yang berbahaya.
Abimanyu dan Elvina langsung menuju rumah sakit setelah sidang usai. Pak Wahyu sudah sadar sepenuhnya, meski tubuhnya masih sangat lemah. Saat melihat Abimanyu masuk bersama Elvina, mata Pak Wahyu berkaca-kaca.
"Abi... Elvina..." suara Pak Wahyu parau.
Abimanyu mendekat, mencium tangan ayahnya. "Reza sudah divonis 15 tahun, Pa. Semuanya sudah selesai."
Pak Wahyu menoleh ke arah Elvina yang berdiri di belakang Abi. Dengan tangan yang gemetar, ia memberi isyarat agar Elvina mendekat.
"Elvina... maafkan orang tua bodoh ini," bisik Pak Wahyu dengan air mata yang mengalir di pipinya yang cekung. "Aku sudah menghinamu, mengusirmu... padahal kamu adalah malaikat yang menyelamatkan nyawa anakku dan menjaga integritas keluarga ini. Maafkan aku..."
Elvina terisak, ia berlutut di samping ranjang Pak Wahyu. "Sudah saya maafkan, Pa. Yang penting Papa sehat sekarang."
Ibu Amelia memeluk Elvina dari belakang, menangis penuh syukur. Keluarga itu akhirnya bersatu kembali, namun mereka tidak tahu bahwa di luar sana, Anya sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih nekat untuk membalas dendamnya.
Apartemen mewah itu terasa sunyi, namun bukan sunyi yang mencekam. Aroma peppermint dan sisa hujan di luar jendela menciptakan suasana tenang. Abimanyu meletakkan kunci mobilnya di meja marmer, lalu menatap Elvina yang masih berdiri mematung di dekat balkon.
"Vin," panggil Abimanyu lembut.
Elvina menoleh, matanya masih sedikit sembap. "Mas, apa ini beneran udah selesai? Reza... dia beneran nggak akan ganggu kita lagi?"
Abimanyu melangkah mendekat, lalu menangkup wajah Elvina dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap pipi Elvina dengan gerakan protektif. "Dia di tempat yang seharusnya, Vin. Di balik jeruji besi. Gue nggak akan biarin satu helai rambut lo pun disentuh lagi sama b******n kayak dia."
Elvina tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di d**a bidang Abimanyu.
"Makasih, Mas. Makasih udah percaya sama aku saat semua orang bilang aku cuma parasit."
Abimanyu mengecup kening istrinya lama.
"Lo itu rumah gue, Elvina. Dan gue bakal lakuin apa pun buat jagain rumah gue."
Kondisi di rumah besar Kalandra berbanding terbalik. Anya Dian Safitri duduk bersimpuh di sofa beludru, wajahnya pucat pasi. Ibu Amelia duduk di sampingnya, mengusap punggung putrinya dengan tatapan nanar.
"Nya, dengerin Mamah," suara Ibu Amelia bergetar namun tegas. "Ikhlasin semuanya.
Kenyataan ini emang pahit, tapi lo harus sadar. Reza itu bukan laki-laki yang pantas buat dapet air mata lo."
Anya tetap bergeming. Pandangannya kosong menatap lantai.
"Dia pengkhianat, Nya! Dia tega ngeracunin Papah kamu pelan-pelan cuma demi harta," lanjut Ibu Amelia dengan nada perih. "Dia cuma manfaatin kamu buat masuk ke keluarga ini. Lo harus bangun dari mimpi buruk ini, Sayang. Reza nggak layak dapet kesempatan kedua."
Ibu Amelia menghela napas panjang melihat Anya yang hanya diam membisu.
"Mamah istirahat dulu. Kamu juga, ya. Jangan dipikirin terus."
Ibu Amelia beranjak pergi, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruangan itu.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, Anya bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju cermin besar. Matanya yang merah karena tangis kini berubah menjadi tajam dan penuh kebencian. Ia menyentuh permukaan cermin, tepat di bayangan wajahnya sendiri.
"Ikhlas?" Anya berbisik, suaranya terdengar mengerikan di tengah sunyi. "Gue nggak akan pernah ikhlas."
Ia mencengkeram pinggiran meja rias hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan saat Abimanyu memeluk Elvina di kantor tadi terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
"Ini semua karena lo, Elvina," desisnya penuh penekanan. "Istri simpanan murahan yang tiba-tiba merasa jadi ratu. Lo udah rebut Mas Abi dari gue, lo udah hancurin rumah tangga gue, dan sekarang lo bikin suami gue dipenjara."
Anya mengambil sebuah foto pernikahan Elvina dan Abimanyu yang sempat ia simpan secara sembunyi-sembunyi, lalu meremasnya hingga hancur.
"Lo pikir lo udah menang? Lo salah," Anya tersenyum sinis, sebuah senyum yang menyimpan kegilaan. "Gue bakal ambil semua kebahagiaan lo, satu per satu. Gue bakal bikin lo ngerasain gimana rasanya kehilangan segalanya, persis kayak apa yang gue rasain sekarang. Tunggu tanggal mainnya, Istri Simpanan."
****
Malam itu, kediaman Kalandra terasa lebih hidup. Aroma rendang dan sop buntut buatan Ibu Amelia memenuhi udara. Di kursi roda, Pak Wahyu tampak jauh lebih segar, meski gurat pucat masih ada di wajahnya.
"Sini, Elvina. Duduk dekat Mamah," sapa Ibu Amelia lembut, menarik kursi untuk menantunya. "Kamu harus makan banyak, badannya makin kurus sejak kejadian kemarin."
Abimanyu menarik kursi di samping Elvina, tangannya tak lepas merangkul pinggang istrinya dengan protektif. "Tuh, Sayang. Masakan Mamah itu obat paling ampuh. Jangan dipikirin yang lain-lain dulu, ya?"
Elvina tersenyum manis, rona merah muncul di pipinya. "Iya, Ma. Makasih banyak ya, Ma, Pa, udah mau terima Elvina lagi di sini."
Pak Wahyu mengangguk pelan, suaranya sedikit parau namun penuh penyesalan.
"Papah yang minta maaf, Vin. Papah hampir aja hancurin hidup kalian karena lebih percaya sama ular kayak Reza."
Suasana hangat itu tiba-tiba pecah oleh suara langkah kaki yang menghentak dari arah tangga. Anya muncul dengan gaun tidurnya, melipat tangan di d**a dengan tatapan yang bisa membunuh.
"Wah, rame ya? Berasa lagi ngerayain kemenangan?" Anya tertawa hambar, berjalan mendekat ke meja makan. "Gue nggak nyangka, ya. Standar keluarga Kalandra sekarang jadi rendah banget."
"Anya, jaga mulut kamu. Sini duduk, kita makan bareng," tegur Ibu Amelia tenang.
Anya tidak bergeming. Ia justru menunjuk Elvina dengan jari telunjuknya.
"Makan bareng sama dia? No way. Hebat ya lo, Elvina. Dari status istri simpanan yang dibuang Mas Reza, sekarang tiba-tiba lo ngerasa udah jadi ratu di rumah ini?"
Wajah Elvina seketika menunduk, tangannya gemetar di bawah meja. Namun, sebelum ia sempat bereaksi, Abimanyu meletakkan sendoknya dengan denting yang keras.
Abimanyu berdiri, sorot matanya yang tajam langsung mengunci Anya. "Cukup, Anya! Lo udah keterlaluan."
"Kenapa? Mas Abi nggak terima kenyataan kalau perempuan di sebelah lo itu bekas orang lain?" tantang Anya dengan nada sinis.
"Anya Dian Safitri!" suara Abimanyu meninggi, membuat suasana ruang makan membeku. "Satu kali lagi gue denger lo ngehina istri gue, gue nggak akan segan buat narik semua fasilitas yang lo punya atas nama keluarga ini."
Anya terbelalak. "Mas Abi bela dia? Mas, dia itu alasan Mas Reza dipenjara!"
"Reza dipenjara karena dia sampah, Nya! Dia yang bohongin Elvina, dia yang malsuin pernikahan, dan dia yang hampir ngebunuh Papah kita sendiri!" Abimanyu melangkah mendekati adiknya, suaranya kini merendah namun penuh tekanan.
"Harusnya lo malu. Lo bela laki-laki yang jelas-jelas pengkhianat dan hampir bikin lo jadi yatim. Lo mau jadi bodoh karena cinta atau lo emang udah nggak punya hati nurani?"
Anya terdiam, napasnya memburu karena marah dan malu. Ia melihat ke arah Pak Wahyu, namun ayahnya itu hanya memalingkan wajah, kecewa dengan sikap keras kepala putrinya.
"Lo denger baik-baik ya, Nya," lanjut Abimanyu tegas. "Elvina itu istri sah gue. Dia ratu di hidup gue dan di rumah ini. Kalau lo nggak bisa hormatin dia, mending lo angkat kaki sekarang juga."
Tanpa kata, Anya menghentakkan kakinya dan berlari kembali ke atas, membanting pintu kamarnya dengan sangat keras.
Setelah suasana mereda dan mereka kembali ke apartemen, Elvina masih tampak termenung di tepi ranjang. Abimanyu datang membawa segelas air hangat, lalu duduk bersimpuh di lantai, di depan kaki Elvina.
"Mas... maaf ya, gara-gara aku kamu jadi berantem sama Anya," bisik Elvina lirih.
Abimanyu menggeleng, ia menggenggam tangan Elvina dan mengecupnya berkali-kali. "Jangan pernah minta maaf buat sesuatu yang bukan salah lo. Gue bakal selalu jadi tameng lo, Vin. Siapa pun yang coba ngerendahin lo, harus berhadapan sama gue dulu."
Ia berdiri, menangkup wajah Elvina dan menatap matanya dalam-dalam. "Malam ini, lupain Anya, lupain Reza. Cuma ada gue dan lo."
Abimanyu mulai mengecup kening, hidung, hingga berhenti di bibir Elvina dengan penuh perasaan, menunjukkan bahwa cinta dan perlindungannya jauh lebih besar daripada kebencian dunia luar.
****
Abimanyu menutup pintu kamar dengan rapat, menguncinya perlahan seolah ingin memastikan dunia luar, termasuk kemarahan Anya, tak akan bisa menembus dinding privasi mereka. Ia berbalik, menatap Elvina yang berdiri canggung di ujung ranjang king size miliknya.
"Mas... beneran kita nggak apa-apa nginep di sini?" bisik Elvina, jemarinya meremas pinggiran gaunnya.
Abimanyu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah mendekat, langkahnya tenang namun pasti seperti pemangsa yang telah menemukan tujuannya. Ia berhenti tepat di depan Elvina, tangan besarnya terangkat untuk melepaskan jepit rambut istrinya, membiarkan rambut hitam legam itu jatuh terurai di bahu.
"Malam ini, lo cuma milik gue, Vin. Nggak ada Anya, nggak ada masa lalu," suara Abimanyu terdengar berat dan serak, penuh dengan keinginan yang tertahan.
Abimanyu merengkuh pinggang Elvina, menarik tubuh mungil itu hingga menempel sempurna pada dadanya yang bidang.
Elvina bisa merasakan detak jantung Abimanyu yang berpacu cepat, sama liarnya dengan miliknya sendiri.
Tanpa menunggu lebih lama, Abimanyu menunduk, mengunci bibir Elvina dengan ciuman yang awalnya menuntut namun perlahan berubah menjadi lumatan penuh pemujaan. Elvina mengalungkan lengannya di leher Abimanyu, membalas setiap sentuhan dengan keberanian yang baru ia temukan.
"Mas... Ahh," desahan lirih lolos dari bibir Elvina saat kecupan Abimanyu turun ke ceruk lehernya, memberikan sensasi terbakar yang nikmat.
Abimanyu membimbing tubuh Elvina ke atas ranjang, menyelimuti istrinya dengan tubuh tegapnya. Ia tidak melepaskan Elvina sedetik pun, seolah takut jika ia melonggarkan pelukannya, wanita ini akan hilang lagi.
Tangannya menjelajahi setiap inci kulit Elvina dengan penuh gairah, memberikan sentuhan-sentuhan yang menyalakan api di dalam diri mereka.