Kombinasi kecerdasan Elvina sebagai dosen dan ketegasan Abi sebagai pebisnis membuat perusahaan baru mereka melesat cepat.
Elvina merasa diakui, bukan hanya sebagai istri, tapi sebagai mitra hidup.
Namun, di tengah kemesraan itu, Abi tetap waspada. Ia tahu di luar sana, Reza dan Anya sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan mereka.
"Mas," ucap Elvina suatu malam saat mereka sedang merancang presentasi bisnis. "Apakah kamu tidak menyesal melepas semuanya demi aku?"
Abimanyu meletakkan bolpoinnya, menatap Elvina dengan sangat serius. "El, melepas kemewahan palsu untuk mendapatkan cinta sejati sepertimu adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat dalam hidupku. Jangan pernah tanyakan itu lagi, oke? Kamu adalah satu-satunya hartaku yang paling berharga."
Elvina memeluk Abi erat, merasakan ketulusan yang luar biasa. Di Jakarta yang keras, mereka menciptakan oase cinta mereka sendiri.
Namun, ketenangan ini akan segera terusik, karena di kediaman utama Kalandra, Pak Wahyu tiba-tiba jatuh pingsan setelah bertengkar hebat dengan Reza terkait manipulasi dana perusahaan.
Gedung pertemuan itu menjadi saksi bisu kekalahan telak Reza. Pengumuman pemenang tender infrastruktur senilai tiga triliun rupiah baru saja dibacakan. Nama yang muncul bukan PT Kalandra Wahyu Perkasa, melainkan PT Abimanyu Kalandra Perkasa.
Reza duduk mematung dengan wajah pucat, sementara Abimanyu berdiri dengan wibawa di samping Elvina yang kini menjabat sebagai direktur keuangan di perusahaannya sendiri.
"Selamat, Mas," bisik Elvina bangga sambil menjabat tangan suaminya.
Abimanyu menatap Reza dengan tajam saat mereka berpapasan di lorong.
"Kekalahanmu hari ini baru permulaan, Rez. Bisnis yang dibangun dengan kesombongan dan uang curian tidak akan pernah bertahan lama."
Reza hanya bisa mengepalkan tangan. Ia tidak peduli pada tender itu, karena baginya, yang terpenting adalah uang yang sudah ia "garap" dari rekening perusahaan mertuanya. Jutaan dolar telah ia pindahkan ke rekening rahasia di luar negeri, bersiap untuk melarikan diri jika keadaan memburuk.
Di mansion Kalandra, kondisi Pak Wahyu memburuk dengan sangat tidak wajar. Tubuhnya yang dulu gagah kini kurus kering, dan ia sering mengalami kejang di tengah malam. Semua ini adalah hasil dari "obat khusus" yang dipesan Reza melalui seorang perawat yang disuap.
Puncaknya terjadi saat Pak Wahyu jatuh pingsan di ruang kerjanya dan dilarikan ke ICU dalam kondisi kritis. Abimanyu dan Elvina langsung menuju rumah sakit setelah mendapat telepon histeris dari Ibu Amelia.
Dokter Wijaya, dokter pribadi keluarga, keluar dengan raut wajah penuh kecurigaan. "Ibu Amelia, Mas Abi... ada sesuatu yang janggal. Hasil laboratorium menunjukkan kadar racun kimia yang biasanya ada pada obat dosis tinggi yang bukan resep dari saya. Seseorang telah mengganti obat Pak Wahyu secara sistematis."
Ibu Amelia gemetar hebat. "Siapa... siapa yang setega itu pada suamiku?!"
Abimanyu tidak menunggu lama. Dengan insting detektifnya, ia segera menyuruh Candra untuk mengamankan Suster Nisa, perawat yang selama ini bertugas menjaga Pak Wahyu di rumah.
Di sebuah ruangan sunyi di rumah sakit, Abimanyu menginterogasi suster tersebut dengan tatapan mata yang seakan bisa menembus tulang. "Katakan yang sebenarnya, atau aku pastikan kamu membusuk di penjara seumur hidup karena percobaan pembunuhan!"
Suster Nisa menangis tersedu-sedu. "Saya terpaksa, Mas Abi! Pak Reza yang mengancam saya... dia yang memberikan obat itu dan menyuruh saya menggantinya dengan obat dari Dokter Wijaya. Dia bilang itu hanya vitamin, tapi ternyata..."
Mendengar nama Reza Mahardika, amarah Abimanyu meledak seketika. Ia memukul tembok rumah sakit hingga tangannya berdarah. Elvina segera memeluk suaminya dari belakang, mencoba meredam api kemarahan yang bisa membuat Abi kehilangan kendali.
"Tenang, Mas... Jangan pakai emosi. Kita punya bukti sekarang," bisik Elvina menenangkan.
Abimanyu melepaskan pelukan Elvina, matanya berkilat penuh dendam yang dingin. "El, pria itu tidak hanya menghancurkan hidupmu dan membunuh anak kita... dia juga mencoba membunuh ayahku demi harta. Cukup. Kali ini tidak akan ada ampun."
Abimanyu langsung menghubungi tim hukumnya dan pihak kepolisian. Ia memiliki bukti mutlak: pengakuan perawat, rekaman CCTV rahasia yang dipasang Candra di kamar Pak Wahyu, dan data aliran dana perusahaan yang dikorupsi Reza.
Sementara itu, di kantor pusat, Reza sedang mengemasi barang-barangnya ke dalam koper, bersiap untuk terbang ke luar negeri bersama Anya.
"Anya, cepat! Kita harus pergi sekarang sebelum Abi tahu soal dana itu!" perintah Reza panik.
"Kenapa harus buru-buru, Sayang? Papa kan masih di ICU?" tanya Anya bingung.
Tiba-tiba, pintu ruangan CEO didobrak kasar. Abimanyu masuk bersama rombongan polisi berseragam lengkap.
"Mau pergi ke mana, Adik Ipar?" tanya Abi dengan nada mengejek yang sangat dingin.
Reza membeku. Koper di tangannya jatuh ke lantai. Anya berteriak histeris saat polisi memborgol tangan suaminya.
"Reza Mahardika, Anda ditahan atas dugaan percobaan pembunuhan berencana, malpraktik medis, dan penggelapan dana perusahaan senilai ratusan milyar rupiah," tegas sang perwira polisi.
Elvina berdiri di ambang pintu, menatap pria yang dulu mencampakkannya dengan tatapan iba sekaligus puas. Keberadaan Elvina di samping Abimanyu yang kini menjadi pelindungnya adalah pemandangan paling menyakitkan bagi Reza di saat-saat terakhir kebebasannya.
"Lepaskan suamiku! Kalian semua sudah gila!" teriak Anya histeris. Ia menunjuk wajah Elvina dengan telunjuk yang gemetar.
"Ini semua pasti rencana busukmu, kan? Kamu menghasut Mas Abi untuk menjebak Reza karena kamu tidak terima Reza lebih memilih aku daripada kamu! Kamu hanya sampah yang ingin balas dendam!"
Reza, yang wajahnya sudah sepucat kertas, mencoba bersembunyi di balik punggung istrinya. "Anya, tolong aku... Mas Abi memfitnahku karena dia ingin menguasai seluruh harta Papa sendiri!"
Abimanyu hanya menatap mereka dengan tatapan dingin yang muak, namun Elvina melangkah maju. Ia tidak tampak marah, tidak juga membalas teriakan Anya dengan nada tinggi. Wajahnya tenang, memancarkan kedewasaan seorang wanita yang sudah kenyang dengan asam garam penderitaan.
"Anya..." suara Elvina terdengar lembut namun tegas, memecah kebisingan teriakan Anya. "Berhentilah menghina orang lain hanya untuk menutupi borok pria yang kamu sebut suami ini."
Anya tertawa sinis. "Diam kamu! Kamu tidak berhak bicara soal suamiku!"
"Aku bicara sebagai sesama wanita, Anya," lanjut Elvina, menatap langsung ke bola mata adik iparnya itu.
"Cinta memang indah, tapi jangan biarkan cinta membuatmu menjadi bodoh. Lihat pria di belakangmu itu. Dia tidak hanya mengkhianatiku, dia juga membohongimu. Dia meracuni ayah kandungmu sendiri! Apakah itu jenis cinta yang ingin kamu bela mati-matian?"
Elvina menarik napas panjang, menatap iba pada Anya. "Buka matamu sebelum semuanya terlambat. Sebelum kamu tersadar bahwa orang yang kamu lindungi adalah orang yang akan pertama kali mendorongmu ke jurang saat dia terdesak. Jangan sampai penyesalanmu datang saat kamu sudah kehilangan segalanya—termasuk harga dirimu."
Bukannya sadar, Anya justru semakin kalap. Ia seolah menutup telinga dari kenyataan. Baginya, mengakui kejahatan Reza berarti mengakui bahwa pilihannya selama ini salah.
"Cukup! Aku tidak butuh nasihat dari wanita rendahan sepertimu!" Anya berbalik memeluk Reza yang hendak dibawa polisi.
"Reza, aku akan sewa pengacara terhebat. Aku akan mengeluarkanmu. Mas Abi tidak akan bisa memisahkan kita!"
Abimanyu maju satu langkah, menarik Anya menjauh dari Reza dengan paksa namun terkendali. "Cukup, Anya! Polisi sudah punya bukti aliran dana ke rekening rahasia Reza, dan mereka punya bukti rekaman CCTV serta pengakuan suster. Kamu mau membela pembunuh ayahmu sendiri?!"
Reza akhirnya digiring keluar oleh petugas. Sepanjang jalan, ia terus menunduk, menghindari kamera wartawan yang entah bagaimana sudah mencium berita besar ini di lobi gedung.
Setelah polisi membawa Reza, ruangan itu mendadak sunyi. Anya terduduk lemas di lantai, menangis meraung-raung. Ia masih menyalahkan Elvina atas semua yang terjadi.
Abimanyu merangkul pundak Elvina, menenangkan istrinya yang tampak lemas setelah menghadapi konfrontasi tadi.
"Sudah, El. Kamu sudah melakukan hal yang benar. Sisanya biar hukum yang bicara."
"Aku hanya kasihan pada Anya, Mas," bisik Elvina. "Dia sangat mencintai orang yang salah, sama seperti aku dulu. Tapi dia jauh lebih parah karena dia kehilangan akal sehatnya."
"Setiap orang harus menanggung konsekuensi dari pilihannya, El," jawab Abi tegas. "Sekarang, kita harus ke rumah sakit. Ibu Amelia butuh kita, dan Papa... kita harus pastikan Papa selamat dari racun yang diberikan pria itu."
Abimanyu dan Elvina melangkah keluar dari gedung Kalandra, meninggalkan Anya yang masih terisak di lantai. Di luar, langit Jakarta tampak mendung, seolah menggambarkan keruntuhan sebuah dinasti yang dibangun di atas keserakahan, namun juga menjadi awal dari pembersihan nama baik Elvina yang selama ini terkubur.
****
Ruang sidang penuh sesak. Anya hadir dengan tim pengacara papan atas yang dibayar mahal menggunakan sisa simpanannya. Ia bahkan sempat mendatangi Pak Wahyu di rumah sakit, memohon-mohon dengan tangis histeris agar ayahnya mencabut tuntutan. Namun, Pak Wahyu yang masih lemah hanya bisa memejamkan mata, terlalu kecewa untuk bicara pada putri bungsunya yang buta hati.
"Mas Abi, tolong hentikan ini! Reza hanya khilaf, dia dijebak!" bisik Anya tajam saat mereka berpapasan di koridor pengadilan.
Abimanyu berhenti, menatap adiknya dengan tatapan iba yang mendalam. "Anya, sadarlah. Dia mencoba membunuh Papa. Dia mencuri uang perusahaan. Kamu membela iblis, bukan suami. Berhentilah sebelum kamu ikut terseret ke dalam lubang yang sama."
Anya tidak peduli. Ia justru menatap Elvina dengan mata merah penuh kebencian. "Ini semua gara-gara kamu, jalang! Kamu puas melihat keluargaku hancur?"
Elvina hanya diam, ia menggenggam tangan Abimanyu lebih erat. Ia tidak lagi takut, karena ia tahu ia berada di pihak yang benar.
Di dalam ruang sidang, suasana sangat mencekam. Pengacara Abimanyu memaparkan bukti-bukti yang tidak bisa dibantah: rekaman suara saat Reza menyuap perawat, mutasi rekening rahasia ke luar negeri, dan hasil uji lab obat-obatan yang mengandung racun.
Reza Mahardika duduk di kursi pesakitan dengan tubuh gemetar. Ia tidak lagi tampak seperti CEO muda yang sombong. Ia hanya seorang kriminal yang ketakutan.
"Menimbang seluruh bukti dan keterangan saksi, maka pengadilan memutuskan: Terdakwa Reza Mahardika terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan percobaan pembunuhan berencana dan penggelapan dana. Menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara!"
TOK! TOK! TOK!
Suara palu hakim bagaikan lonceng kematian bagi masa depan Reza. Anya menjerit histeris, mencoba menerobos pagar pembatas untuk memeluk suaminya yang langsung diborgol oleh petugas.
"TIDAK! REZAAA!" tangis Anya pecah.