Pagi itu, suasana di kantor KUA setempat terasa begitu tenang namun sakral. Tidak ada pesta pora mewah khas keluarga Kalandra, tidak ada lampu kristal atau karpet merah. Hanya ada Paman Ahmad dan Bibi Ratminah yang duduk dengan mata berkaca-kaca, serta Candra yang berdiri sebagai saksi dari pihak Abimanyu.
Elvina tampil sangat anggun dengan kebaya putih sederhana dan riasan tipis yang justru menonjolkan kecantikan alaminya. Di sampingnya, Abimanyu tampak gagah dengan kemeja putih dan peci hitam. Meski penampilannya sederhana, aura kepemimpinan dan ketulusan terpancar kuat dari wajahnya.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Elvina Prayoga binti (Alm) Prayoga dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Abimanyu mengucapkan ijab kabul dengan satu napas, suaranya lantang dan mantap, menggetarkan ruangan kecil itu. Mas kawin sebesar seratus juta rupiah menjadi simbol bahwa meskipun ia telah melepas harta ayahnya, ia tetaplah pria mapan yang mampu memuliakan istrinya.
"Sah!" teriak para saksi.
Elvina mencium punggung tangan Abimanyu dengan khidmat. Air mata haru jatuh di pipinya. Ia kini resmi menjadi istri sah dari pria yang telah menyelamatkan nyawanya dan hatinya.
Setelah prosesi sederhana di KUA dan makan siang bersama keluarga Paman Ahmad, malam harinya Abimanyu membawa Elvina menuju sebuah apartemen mewah miliknya di pusat kota Yogyakarta—salah satu aset pribadi yang ia bangun tanpa sepengetahuan ayahnya.
"Mulai malam ini, ini adalah rumah kita, El," bisik Abi sambil menggendong Elvina masuk melewati ambang pintu kamar utama yang sudah dihias dengan aroma lilin terapi dan bunga-bunga segar.
Suasana kamar yang hangat dengan pencahayaan temaram menciptakan atmosfer yang begitu intim. Abimanyu menatap Elvina dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan penuh pemujaan. Ia mendekat, jemarinya perlahan membelai pipi istrinya yang merona merah.
"Aku mencintaimu, Elvina... sangat mencintaimu," gumam Abi sebelum menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang lembut namun penuh kerinduan.
Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi keduanya. Abimanyu memperlakukan Elvina dengan sangat lembut, seolah Elvina adalah porselen yang paling berharga di dunia. Ia mencium setiap inci tubuh istrinya, menghapus sisa-sisa trauma masa lalu dengan sentuhan kasih sayang yang nyata.
Namun, kelembutan itu perlahan berubah menjadi gairah yang membara saat api cinta mereka menyatu. Elvina, yang selama ini menutup diri, akhirnya melepaskan seluruh gairahnya hanya untuk suaminya yang sah.
"Mas Abi... ahhh... Mas Abi..." desah Elvina lirih, suaranya bergetar menyebut nama pria yang kini menjadi pemilik seluruh jiwanya.
Abimanyu mengerang penuh kenikmatan, merasakan kehangatan dan ketulusan Elvina yang begitu luar biasa.
Di puncak gairah mereka, saat mencapai klimaks bersama, Abimanyu mendekap erat tubuh Elvina, seolah ingin menyatukan dua raga itu selamanya. Malam itu bukan hanya tentang penyatuan fisik, tapi tentang janji bahwa tidak akan ada lagi pria lain yang boleh menyentuh atau melukai Elvina selain dirinya.
Keesokan paginya, cahaya matahari Yogyakarta masuk melalui celah gorden apartemen. Elvina terbangun di pelukan Abimanyu yang masih terlelap. Ia merasa utuh kembali. Luka kehilangan anak dan pengkhianatan Reza seolah terbasuh oleh cinta tulus Abimanyu.Abi terbangun dan mengecup kening istrinya. "Pagi, Nyonya Abimanyu. Sudah siap berangkat ke Jakarta?"
Elvina mengangguk mantap. "Aku siap, Mas. Bersamamu, aku tidak takut menghadapi apa pun."
"Bagus," Abi beranjak dari ranjang, matanya kembali menunjukkan kilat ketegasan seorang pemimpin. "Candra sudah menyiapkan jet pribadi. Kita akan mendarat di Jakarta bukan sebagai pelarian, tapi sebagai pemilik masa depan. Reza dan Anya harus tahu, bahwa badai yang mereka buat akan kembali menghantam mereka sendiri."
Abimanyu sudah menyiapkan rencana besar. Ia tidak hanya akan membawa Elvina ke rumah Kalandra, tapi ia akan memperkenalkan PT Abimanyu Kalandra Perkasa sebagai kompetitor terberat bagi perusahaan ayahnya yang kini sedang diacak-acak oleh Reza.
Di ruang tamu yang luasnya hampir seluas lapangan bola, Pak Wahyu Kalandra duduk di kursi kebesarannya. Begitu matanya menangkap sosok Elvina, ia langsung memalingkan wajah dengan raut jijik yang kentara. Baginya, kehadiran Elvina adalah noda bagi nama besar keluarga.
"Siapa yang mengizinkan kalian masuk ke rumah ini?" suara Pak Wahyu menggelegar, dingin dan menusuk.
Namun, reaksi berbeda datang dari Ibu Amelia, istri Pak Wahyu. Sebagai seorang ibu yang tahu betul penderitaan Abimanyu selama ini, ia berdiri dan mendekat. Amelia menatap Elvina dengan pandangan lembut, mencari ketulusan di mata menantunya, dan ia menemukannya.
"Selamat datang di rumah, Abi... Elvina," ucap Amelia pelan, mengusap bahu Elvina. "Ibu merestui kalian. Ibu tahu Abi tidak akan salah memilih wanita untuk menjadi pendamping hidupnya."
"Ibu! Apa Ibu sudah gila?!" teriak Anya yang baru saja turun dari lantai dua bersama Reza. "Wanita ini bekas simpanan suamiku! Dia jalang yang menjerat Mas Abi karena sudah gagal mendapatkan harta Reza! Bagaimana Ibu bisa sudi menyentuhnya?"
Reza berdiri di belakang Anya, wajahnya pucat pasi namun matanya memancarkan kebencian. Ia tidak menyangka Elvina akan kembali dengan status yang jauh lebih tinggi darinya—sebagai istri dari pria yang paling ia takuti.
"Mas Abi benar-benar sudah buta," sindir Anya dengan tawa menghina. "Dulu dia bekas Reza, Mas. Apa rasanya memakai sisa dari adik iparmu sendiri? Murahan sekali."
"Jaga mulutmu, Anya!" bentak Abimanyu, suaranya merendah namun penuh ancaman. "Jika kamu menghina istriku sekali lagi, aku tidak akan segan-segan menghancurkan apa pun yang kamu miliki sekarang."
Pak Wahyu berdiri, amarahnya sudah di ubun-ubun. "CUKUP! Abimanyu, jika kamu membawa wanita ini hanya untuk mengacaukan rumahku, lebih baik kamu pergi sekarang! Keluar dari rumah ini! Jangan pernah kembali sampai kamu menceraikan wanita tidak tahu diri ini!"
Abimanyu tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang membuat Pak Wahyu tertegun. "Tanpa Papa suruh pun, aku akan pergi. Aku datang ke sini hanya untuk menunjukkan pada kalian semua bahwa Elvina bukan lagi orang yang bisa kalian injak-injak. Dia adalah istri sah Abimanyu Kalandra, dan siapapun yang menghinanya, berurusan langsung denganku."
Abi menarik Elvina pergi, meninggalkan ruangan yang penuh dengan ketegangan.
Setelah kepergian mereka, Ibu Amelia tidak tinggal diam. Ia menatap suaminya dengan tatapan yang jarang ia tunjukkan—sebuah ketegasan dari seorang istri yang selama ini selalu patuh.
"Wahyu, dengarkan aku sekali saja," ujar Amelia saat mereka hanya berdua di kamar.
"Abi adalah anak sulungmu. Dia yang membangun perusahaan itu hingga sebesar sekarang. Kamu mengusirnya demi membela menantu pengecut seperti Reza?"
"Reza berdedikasi, Amelia! Dia setia pada Anya!" bantah Pak Wahyu.
"Setia?" Amelia tertawa getir. "Kamu percaya pada pria yang bahkan tidak mengakui anaknya sendiri yang sudah meninggal di Jogja? Wahyu, Reza itu parasit. Dia hanya menginginkan hartamu. Sedangkan Abi? Dia rela melepas hartamu demi cintanya. Pikirkan, siapa yang lebih punya harga diri?"
Amelia terus membujuk suaminya untuk mengembalikan posisi Abimanyu.
"Kembalikan Abi sebagai pewaris. Perusahaan mulai kacau di tangan Reza. Jika kamu terus begini, bukan hanya keluarga yang hancur, tapi seluruh kerja kerasmu seumur hidup akan hilang ditelan keserakahan Reza."
Di kamarnya, Reza mulai panik. Ia mendengar sayup-sayup perdebatan mertuanya. Ia tahu jika Abimanyu kembali, posisinya tamat.
"Anya, kita harus lakukan sesuatu," bisik Reza pada istrinya. "Ibumu mulai berpihak pada mereka. Jika Papa luluh, kita akan ditendang ke jalanan."
Anya meremas bantalnya dengan geram. "Tenang, Reza. Aku punya rencana. Jika Kak Abi tidak bisa diusir dengan kata-kata, kita akan gunakan cara lain agar Papa benar-benar membenci mereka selamanya.
Elvina harus hilang dari dunia ini jika ingin Kak Abi kembali jadi penurut."
Reza mengangguk, sebuah rencana jahat mulai tersusun di kepalanya. Ia tidak tahu bahwa Abimanyu sudah menyiapkan mata-mata di setiap sudut rumah itu melalui Candra.
Apartemen Abimanyu di kawasan segitiga emas Jakarta itu menjadi pelabuhan cinta yang tenang bagi Elvina. Jauh dari kebisingan drama keluarga Kalandra dan tatapan tajam Anya, di sini Elvina benar-benar menjadi ratu.
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Elvina terbangun oleh aroma bawang putih goreng dan kopi yang harum. Saat ia melangkah ke dapur, ia terpaku melihat pemandangan yang "luar nalar" baginya.
Abimanyu, CEO yang ditakuti ribuan orang, kini hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong, sedang sibuk memegang sudip di depan kompor.
"Mas Abi? Kok Mas yang masak? Biar aku saja," ucap Elvina merasa tidak enak, mencoba merebut sudip tersebut.
Abimanyu justru melingkarkan tangan kirinya di pinggang Elvina dan mencium pipinya singkat. "Nyonya Kalandra, tugasmu di rumah ini hanya satu: tersenyum dan bahagia. Biar urusan dapur dan tenaga, suamimu yang urus."
"Tapi Mas, kamu itu laki-laki, pemimpin keluarga. Tidak pantas kalau harus mengerjakan pekerjaan rumah begini," protes Elvina lembut.
Abimanyu mematikan kompor, lalu membalikkan tubuh Elvina agar menatap matanya. "El, dengerin aku. Di luar sana, aku mungkin pemimpin. Tapi di dalam rumah ini, aku adalah pelindungmu. Menolongmu memasak atau mencuci piring tidak akan membuat harga diriku turun. Justru, melihatmu kelelahan adalah kegagalanku."
Abimanyu mengangkat dagu Elvina, menatapnya dengan pandangan yang begitu dalam. "Aku ingin menghapus setiap jejak lelah dan sedih di wajahmu. Jadi, biarkan aku meratukanmu, ya?"
Elvina akhirnya hanya bisa pasrah. Hatinya menghangat. Ia teringat dulu saat bersama Reza, ia harus bangun paling pagi, menyiapkan segala kebutuhan Reza, dan jika ada yang kurang sedikit saja, Reza akan mengeluh. Tapi bersama Abi, segalanya terbalik.
"Kamu terlalu memanjakanku, Mas," bisik Elvina.
"Bukan memanjakan, Sayang. Ini investasi. Kalau istriku bahagia, rezekiku pasti makin lancar," gombal Abi sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Elvina tertawa kecil.
Hari-hari mereka diisi dengan kemesraan yang membuat siapa pun iri. Abimanyu adalah raja gombal jika mereka sedang berduaan.
Suatu sore, saat mereka sedang duduk di balkon melihat matahari terbenam, Abi tiba-tiba mematikan laptopnya.
"El, kamu tahu nggak bedanya kamu sama matahari?" tanya Abi tiba-tiba.
Elvina tersenyum geli. "Apa, Mas?"
"Kalau matahari terbenam, dunia jadi gelap. Tapi kalau kamu yang 'terbenam' di pelukanku, duniaku jadi terang benderang," ucap Abi sambil menarik Elvina ke dalam dekapannya.
"Gombal terus!" Elvina mencubit perut Abi pelan, namun ia menyandarkan kepalanya di d**a suaminya dengan nyaman.
"Aku serius, El. Aku tidak butuh warisan Papa, aku tidak butuh takhta di Kalandra Wahyu Perkasa. Asal ada kamu di sampingku, aku merasa sudah menjadi orang terkaya di dunia."
Meski Abi sangat memanjakannya, Elvina tidak mau tinggal diam. Ia mulai membantu Abi mengelola urusan administrasi di perusahaan baru Abi, PT Abimanyu Kalandra Perkasa. Mereka bekerja sama membangun bisnis tersebut dari apartemen mereka.