Cinta yang Menggulingkan Tahta

1616 Words
Suasana di ruang keluarga Kalandra di Jakarta terasa begitu mencekam. Pak Wahyu duduk dengan wajah kaku, sementara di hadapannya berdiri Anita, putri dari Bramantyo, yang tampil sempurna dengan gaun desainer terbaru. Anita adalah definisi wanita idaman para konglomerat: cantik, cerdas, dan berasal dari keluarga setara. "Abimanyu, Papa tidak menerima penolakan," suara Pak Wahyu berat dan penuh otoritas. "Anita adalah pasangan yang paling pantas untukmu. Bukan dosen kampung yang punya sejarah kelam dengan adik iparmu sendiri!" Abimanyu berdiri dengan tegap, tangannya masuk ke saku celana bahan, tatapannya tidak goyah sedikit pun. "Papa benar. Anita memang sempurna. Tapi dia bukan Elvina. Dan aku tidak akan menikahi wanita hanya untuk menambah angka di rekening bank Papa." "ABIMANYU!" Pak Wahyu menggebrak meja. "Kalau kamu tetap keras kepala mengejar janda itu, aku akan mencoret namamu dari daftar pewaris! Kamu akan kehilangan posisi CEO, mobil, apartemen, dan semua fasilitas Kalandra. Kamu akan menjadi orang asing bagi keluarga ini!" Anya yang duduk di sudut ruangan tersenyum sinis, merasa menang karena jika kakaknya pergi, maka jalannya dan Reza untuk menguasai harta Papa akan semakin mulus. "Silakan, Pa," jawab Abi tenang, nyaris tanpa emosi. "Aku sudah menyiapkan surat pengunduran diriku sebagai CEO PT Kalandra Wahyu Perkasa. Aku lebih memilih hidup tanpa nama Kalandra daripada hidup tanpa harga diri." Abi berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan ayahnya yang murka dan Anita yang merasa terhina. Begitu keluar dari gerbang rumah ayahnya, Abimanyu menarik napas panjang. Ia merasa bebas. Ia tidak lagi menggunakan mobil kantor. Sebuah sedan hitam sederhana menjemputnya. Di dalamnya duduk Candra, asisten sekaligus sahabat setia yang selama ini mengelola bisnis rahasia Abimanyu. "Semua sudah siap, Bos?" tanya Candra serius. "Sudah. Mulai hari ini, fokus kita sepenuhnya pada PT Abimanyu Kalandra Perkasa," jawab Abi tegas. Selama bertahun-tahun menjabat di perusahaan ayahnya, Abi diam-diam membangun kerajaannya sendiri dari nol. Ia memiliki perusahaan makanan olahan yang sudah merambah pasar ekspor. Tak hanya itu, ia juga mulai bergerak di bidang properti dan infrastruktur di bawah tangan dingin Candra. "Aku ingin membuktikan pada Papa, bahwa tanpa nama besar 'Wahyu Kalandra' di belakangku, aku tetaplah Abimanyu yang bisa menaklukkan dunia. Dan aku akan melakukannya dari Yogyakarta," tambah Abi. Abimanyu kembali ke Yogyakarta, namun kali ini penampilannya berbeda. Tidak ada lagi jas mahal seharga puluhan juta. Ia mengenakan kemeja flanel sederhana dan mengendarai mobil biasa. Ia datang ke rumah Paman Ahmad saat Elvina sedang menyiram bunga. "Mas Abi? Kenapa kembali lagi?" tanya Elvina, menyadari ada yang berbeda dari raut wajah Abi. "Aku sudah tidak punya apa-apa, El," ucap Abi sambil bersandar di pagar. Elvina menghentikan kegiatannya. "Maksudnya?" "Aku diusir dari keluarga Kalandra. Aku bukan lagi CEO, bukan lagi pewaris. Aku melepaskan semuanya karena aku memilih untuk tetap di sini, mengejarmu," Abi menatap Elvina dengan senyum tulus yang tidak pernah berubah. "Sekarang aku setara denganmu. Hanya pria biasa yang sedang merintis usaha kecil-kecilan. Apa sekarang kamu masih mau menolakku karena alasan kasta?" Elvina terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu betapa mewahnya hidup Abimanyu di Jakarta, dan pria ini melepaskan segalanya hanya demi wanita hancur seperti dirinya? "Mas... kamu gila," bisik Elvina, air mata mulai menggenang. "Kenapa kamu sebodoh itu? Aku nggak layak buat pengorbanan sebesar itu." "Layak atau tidak, biar aku yang tentukan," sahut Abi lembut. Ia mendekat, namun tetap menjaga jarak agar Elvina tidak merasa terintimidasi. "Aku akan membuktikan pada dunia, dan pada Ayahku, bahwa cinta bisa membangun kerajaan yang lebih besar dari sekadar warisan." **** Abimanyu mulai bekerja dari kantor kecil di Yogyakarta. Ia terjun langsung ke lapangan, mengecek pabrik makanan olahannya dan memantau proyek properti pertamanya di tanah Jawa Tengah. Setiap sore, ia tetap datang ke rumah Elvina. Bukan membawa perhiasan, tapi membawa hasil kebun atau martabak pinggir jalan. Ia membantu Paman Ahmad membersihkan saluran air, ia mengajari Galang (anak paman Ahmad) tentang bisnis. Elvina melihat semua itu. Ia melihat Abimanyu yang berkeringat, yang makan di warteg bersamanya tanpa mengeluh, dan yang tetap menatapnya dengan pemujaan yang sama meski ia sudah kehilangan kemewahannya. Dinding hati Elvina yang setebal baja mulai retak. Ia mulai menyadari perbedaan mencolok: Reza memfitnah dan membuangnya demi naik jabatan, sedangkan Abimanyu membuang jabatan dan kekuasaannya demi menjaganya. **** Setelah Abimanyu pergi, kantor pusat PT Kalandra Wahyu Perkasa di Jakarta berubah menjadi tempat yang penuh intimidasi. Reza Mahardika, yang berkat manipulasi Anya berhasil menduduki posisi CEO Muda, kini menampakkan wajah aslinya. Tidak ada lagi Reza yang pura-pura santun; yang ada hanyalah pria haus kuasa yang merasa dirinya tak tersentuh. "Laporan ini sampah! Kamu lulusan mana, hah?!" teriak Reza sambil melemparkan berkas tebal ke wajah seorang manajer senior yang usianya jauh di atasnya. Reza berdiri di depan jendela besar kantornya, menatap kemacetan Jakarta dengan senyum miring. Ia merasa telah memenangkan segalanya. Abimanyu yang sombong itu kini mungkin sedang mengais remah-remah di Yogyakarta, sementara dirinya menghirup aroma uang di singgasana Kalandra. "Anya, Sayang... Papa sedang apa sekarang?" tanya Reza saat Anya masuk ke ruangannya. "Papa sedang di vila Puncak, Yang. Katanya dadanya sering sesak belakangan ini. Mungkin karena stres mikirin Kak Abi," jawab Anya sambil memeluk suaminya dari belakang. Reza mengelus tangan Anya, namun matanya memancarkan kilat yang dingin. d**a sesak? Bagus. Satu dorongan kecil lagi, dan seluruh kerajaan ini akan jatuh ke tanganku, batinnya licik. Reza mulai menjalankan misi rahasianya. Ia tidak puas hanya menjadi CEO; ia ingin menjadi pemilik mutlak. Ia mulai memindahkan dana-dana perusahaan ke rekening luar negeri melalui perusahaan cangkang. Namun, rintangan terbesarnya adalah Pak Wahyu yang masih memegang kendali atas aset-aset utama. Diam-diam, Reza mengganti obat-obatan jantung Pak Wahyu dengan dosis yang salah melalui perantara yang ia suap. Ia ingin melenyapkan ayah mertuanya secara perlahan, membuatnya seolah-olah meninggal karena serangan jantung alami akibat tekanan batin. "Semuanya harus beres sebelum Abi sadar apa yang terjadi," gumam Reza di ruang kerjanya yang terkunci. Reza merasa sangat aman. Dengan Abimanyu yang sudah dicoret dari daftar pewaris, tidak ada lagi penghalang baginya untuk menguasai harta Anya. Ia memperlakukan Anya seperti ratu hanya untuk memastikan istrinya itu tetap berpihak padanya dan terus membencinya sang kakak. Di Yogyakarta, Abimanyu sedang duduk di sebuah kafe sederhana bersama Candra, asisten setianya. Mereka sedang membahas perkembangan proyek infrastruktur baru di Jawa Tengah yang mulai menunjukkan keuntungan besar. Tiba-tiba, Candra meletakkan tabletnya. "Bos, ada kabar kurang enak dari Jakarta. Informan kita di kantor pusat bilang Reza bertindak semena-mena. Banyak karyawan lama yang mengundurkan diri. Dan satu lagi... kesehatan Pak Wahyu dikabarkan menurun drastis." Rahang Abimanyu mengeras. Meskipun ia marah pada ayahnya, namun darah lebih kental daripada air. Ia tahu betul siapa Reza. Ia tahu pria itu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang ia mau. "Awasi terus, Can. Jangan biarkan tikus itu menggigit telinga ayahku terlalu dalam," ucap Abi dingin. *** ​Sore itu, Yogyakarta diselimuti langit jingga yang tenang. Abimanyu sedang duduk di meja kerja kecilnya di kantor darurat yang ia bangun sendiri. Ia tampak sibuk memeriksa bagan proyek infrastruktur barunya, namun pikirannya terus terbagi pada sosok Elvina yang sedang merapikan beberapa buku di rak sudut ruangan. ​Elvina mendekat, membawakan secangkir kopi hitam yang aromanya memenuhi ruangan. Ia meletakkan cangkir itu di meja, namun tidak segera beranjak. Matanya tertuju pada guratan kelelahan di wajah Abimanyu, namun juga pada semangat yang tak pernah padam di mata pria itu. ​"Mas Abi... beristirahatlah sebentar," ucap Elvina lembut. ​Abimanyu mendongak, lalu meraih tangan Elvina. Kali ini, Elvina tidak menarik tangannya. Ia membiarkan jemari besar Abimanyu menggenggam jemarinya yang mungil. ​"El... aku tidak lelah selama kamu ada di dekatku," bisik Abi dengan suara rendah yang menenangkan. "Aku hanya sedang memikirkan masa depan kita. Aku ingin membuktikan pada semua orang bahwa kamu adalah alasanku untuk menjadi pria yang lebih baik." ​Elvina terdiam sejenak. Ia menatap mata Abimanyu dalam-dalam, mencari celah keraguan yang biasa ia temukan pada pria lain, namun ia hanya menemukan ketulusan yang murni. Bayangan pengorbanan Abi, meninggalkan kemewahan, jabatan CEO, dan nama besar keluarga demi melindunginya—tiba-tiba menghantam dadanya dengan rasa haru yang tak terbendung. ​"Mas..." suara Elvina bergetar. "Kenapa kamu melakukan semua ini? Kenapa kamu rela kehilangan segalanya hanya untuk wanita hancur sepertiku?" ​Abimanyu berdiri, menarik Elvina perlahan ke dalam pelukannya. "Karena kamu bukan kehancuran bagiku, El. Kamu adalah penyembuhanku. Harta bisa dicari, jabatan bisa dibangun lagi, tapi wanita sepertimu hanya ada satu dalam hidupku." ​Tembok es yang selama ini membentengi hati Elvina akhirnya runtuh sepenuhnya. Ia menyandarkan kepalanya di d**a bidang Abimanyu, mendengarkan detak jantung pria itu yang tenang namun pasti. Untuk pertama kalinya setelah badai yang dikirimkan Reza, Elvina merasa benar-benar pulang. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Abi, membalas pelukan itu dengan erat. ​"Aku mencintaimu, Mas Abi... Maafkan aku yang terlalu lama meragukanmu," bisik Elvina lirih di tengah isak tangis bahagianya. ​Mendengar pengakuan itu, Abimanyu merasa seperti baru saja memenangkan dunia yang lebih besar dari seluruh aset Kalandra. Ia melepaskan pelukan sedikit hanya untuk menangkup wajah Elvina dan mengecup keningnya dengan penuh rasa syukur. ​"Terima kasih, El. Terima kasih sudah mengizinkanku masuk," ujar Abi dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku tidak ingin menunggu lagi. Aku ingin segera meresmikan hubungan kita. Aku ingin dunia tahu bahwa kamu adalah istriku yang sah." ​Abimanyu menatap Elvina dengan tekad yang bulat. "Menikahlah denganku secepatnya di sini, di Yogyakarta, secara sederhana namun sakral. Setelah itu, ikutlah denganku ke Jakarta. Kita tidak akan kembali sebagai peminta-minta, tapi kita akan kembali untuk merebut apa yang seharusnya menjadi milik kita dan membersihkan nama baikmu di depan keluargaku." ​Elvina mengangguk pasti. "Aku ikut denganmu, Mas. Kemanapun kamu pergi." ​Kebahagiaan terpancar di wajah Abimanyu. Ia segera menghubungi Candra untuk mempersiapkan pernikahan sederhana di rumah Paman Ahmad. Namun di balik kebahagiaan itu, Abi tahu bahwa membawa Elvina ke Jakarta berarti membawanya ke kandang singa tempat Reza dan Anya berkuasa. Ia bersumpah dalam hati, tidak akan ada satu helai rambut pun dari Elvina yang terluka saat mereka menginjakkan kaki di ibu kota nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD