Pengkhianatan di Balik Pintu Apartemen

1530 Words
Elvina turun dari taksi dengan perasaan sedikit gugup. Ia melangkah menuju pintu utama yang besar. Sebelum ia sempat mengetuk, pintu sudah terbuka dan Ibu Amelia menyambutnya dengan pelukan hangat seolah Elvina adalah anak kandungnya sendiri. "Elvina! Masuk, Sayang, masuk! Kamu cantik sekali malam ini," puji Ibu Amelia sambil menggandeng tangan Elvina masuk ke ruang makan yang sangat luas. "Terima kasih, Bu. Rumah Ibu sangat indah," jawab Elvina sopan. "Panggil Mama saja, jangan Ibu," sahut Ibu Amelia riang. "Ayo, semua sudah menunggu di ruang makan. Mama mau kenalkan kamu sama suami Mama dan anak-anak Mama." Elvina mengikuti langkah Ibu Amelia. Jantungnya berdegup aneh. Di meja makan yang panjang itu, beberapa orang sudah duduk dengan rapi. Seorang pria paruh baya yang berwibawa (Wahyu Kalandra), seorang gadis muda yang cantik (Aqilla), dan seorang pemuda (Raditiya). Namun, ada satu kursi lagi yang masih kosong di ujung meja. "Nah, itu dia anak sulung Mama baru turun," ujar Ibu Amelia sambil menunjuk ke arah tangga. Elvina menoleh. Dan saat itu juga, dunianya seolah berhenti berputar. Dari arah tangga, muncul seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Pria dengan tatapan tajam yang sangat familiar. Pria yang tempo hari melempar uang ke arahnya di pinggir jalan. Abimanyu Kalandra. Langkah Abimanyu terhenti di anak tangga terakhir. Matanya bertemu dengan mata Elvina. Keduanya membeku di tempat, seolah baru saja disambar petir di tengah ruangan ber-AC itu. "Kamu?!" suara Abimanyu terdengar tertahan, penuh dengan nada tidak percaya. Elvina hanya bisa mengepalkan tangannya di balik gaun. Oh Tuhan, kenapa dunia ini sempit sekali? **** Lampu kristal yang menggantung megah di ruang makan kediaman Kalandra seolah memantulkan ketegangan yang tiba-tiba membeku di udara. Elvina berdiri mematung di samping Ibu Amelia, sementara di hadapannya, Abimanyu Kalandra menatapnya dengan rahang mengeras. Pria itu tampak sangat berbeda dari pertemuan pertama mereka yang kacau. Malam ini, Abimanyu mengenakan kemeja hitam satin yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan jam tangan mewah dan kesan maskulin yang kuat. Namun, tatapan matanya tetap sama—tajam, angkuh, dan kini dipenuhi keterkejutan yang luar biasa. "Kamu?!" Abimanyu akhirnya bersuara, memecah kesunyian. "Lho, Abi? Kamu sudah kenal sama Elvina?" tanya Ibu Amelia dengan nada riang, tidak menyadari percikan api di antara keduanya. Elvina menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Ia memaksakan senyum paling sopan yang ia miliki. "Hanya... sempat berpapasan di jalan beberapa hari lalu, Tante." "Oh, syukurlah kalau begitu! Berarti memang sudah jodoh untuk bertemu lagi," celetuk Ibu Amelia sambil menggandeng Elvina duduk di kursi tepat di hadapan Abimanyu. Suasana makan malam itu sangat mewah. Berbagai hidangan mulai dari wagyu steak hingga salmon panggang tersaji rapi. Wahyu Kalandra, sang ayah, tampak terkesan dengan ketenangan Elvina, sementara adik-adik Abimanyu, Aqilla dan Raditiya, sibuk memperhatikan tamu cantik sang mama. "Kalian tahu tidak," Ibu Amelia memulai ceritanya dengan penuh semangat, "tadi pagi di pasar, Mama dijambret. Dan Elvina ini... dia luar biasa! Dia jegal malingnya sampai jatuh, lalu dia hajar pake tas belanjanya. Mama sampai melongo lihat keberaniannya." Wahyu Kalandra tertawa bangga. "Wah, jarang ada wanita pemberani seperti Nak Elvina sekarang ini. Kamu kerja di mana, Nak?" "Saya mengajar di Universitas Nusantara, Om. Kebetulan saat ini dipercaya mengelola fakultas hukum di sana," jawab Elvina rendah hati. "Dosen? Dekan?" Aqilla membelalak. "Wah, Kak Abi, ini sih paket lengkap! Cantik, pinter, jago bela diri pula." Abimanyu hanya mendengus pelan, memotong daging steak-nya dengan gerakan yang kaku. Matanya sesekali melirik Elvina dengan sinis. Di pikirannya masih terbayang rasa panas di wajahnya saat Elvina melemparkan uang tempo hari. "Mama benar-benar jatuh cinta sama kepribadian Elvina," lanjut Ibu Amelia tanpa henti. "Mama pikir, kalau Mama punya menantu seperti Elvina, Mama tidak perlu khawatir lagi sama Abi. Ada yang bisa jagain Abi dan ngatur hidup Abi yang berantakan itu." Uhuk! Abimanyu tersedak minumannya. Elvina hanya bisa tersenyum canggung sambil menunduk, merasa wajahnya memanas. "Ma, jangan mulai deh. Dia cuma kebetulan lewat saja tadi pagi," sahut Abimanyu ketus. "Kebetulan atau tidak, dia pahlawan Mama. Kamu harus berterima kasih secara resmi, Abi," tegas sang mama sambil melotot ke arah putra sulungnya. *** Setelah makan malam selesai dan perbincangan hangat keluarga (yang lebih banyak berisi pujian untuk Elvina), waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. "Abi, antar Elvina pulang. Mama tidak mau dia naik taksi malam-malam begini," perintah Ibu Amelia saat mereka berdiri di teras depan. "Ma, Abi ada janji sama temen. Dia bisa pesen ojol kan?" tolak Abimanyu terang-terangan. Ibu Amelia langsung memberikan tatapan "maut"-nya. Ia melotot tajam ke arah Abimanyu, sebuah isyarat yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun di rumah itu. "Antar. Sekarang. Atau kartu kredit kamu Mama sita." Abimanyu menghela napas kasar, menyambar kunci mobilnya di atas meja konsol. "Ayo. Cepat." Elvina berpamitan dengan sopan kepada keluarga Kalandra sebelum masuk ke dalam mobil SUV mewah milik Abimanyu. Begitu pintu tertutup, suasana mendadak berubah menjadi sangat dingin—sedingin suhu AC di dalam mobil tersebut. Selama sepuluh menit pertama, hanya ada keheningan. Abimanyu fokus menyetir dengan wajah datar, sementara Elvina menatap ke luar jendela. "Soal kemarin..." Abimanyu akhirnya membuka suara saat mobil berhenti di lampu merah. Suaranya tidak lagi membentak. "Gue... minta maaf. Soal uang itu. Gue lagi stres banyak urusan kantor." Elvina menoleh, sedikit terkejut mendengar kata maaf dari pria sesombong Abimanyu. "Sudahlah, Mas. Saya sudah lupakan. Saya juga minta maaf karena melempar uang itu ke wajah Anda." Abimanyu mendengus, tapi kali ini ada sedikit lengkungan tipis di bibirnya. "Baru kali ini ada cewek yang berani permaluin gue di depan umum. Dan sekarang, lo malah jadi pahlawan nyokap gue. Dunia emang aneh." "Saya nggak sengaja jadi pahlawan siapa-siapa. Saya cuma nggak suka lihat ketidakadilan," balas Elvina santai. "Anyway... makasih," gumam Abimanyu pelan, hampir tak terdengar. "Makasih udah nolongin nyokap gue. Dia itu segalanya buat gue." Elvina tersenyum tulus untuk pertama kalinya malam itu. "Sama-sama. Ibu Amelia orang yang sangat baik." Mobil berhenti tepat di depan gedung kost eksklusif tempat Elvina tinggal. Elvina melepas sabuk pengamannya. "Sudah sampai. Makasih sudah diantar," ujar Elvina. Ia menatap Abimanyu sejenak, lalu secara formalitas menawarkan, "Mau mampir sebentar? Mungkin mau minum air putih dulu?" Abimanyu melihat ke arah gedung kost itu, lalu melirik jam tangannya. "Nggak usah. Gue ada urusan penting. Banyak kerjaan yang belum beres." "Oh, oke. Hati-hati di jalan," sahut Elvina. Ia turun dari mobil dan melangkah masuk menuju kamarnya dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Ternyata, di balik kesombongannya, Abimanyu masih punya sisi manusiawi. Abimanyu memperhatikan punggung Elvina sampai menghilang di balik pintu lobi. Ada rasa aneh yang berdesir di hatinya—rasa kagum yang ia sangkal mentah-mentah. Namun, ia segera menepis pikiran itu. Ia teringat janjinya dengan Anita, kekasihnya yang cantik dan selalu manja. Abimanyu menginjak gas dalam-dalam, melajukan mobilnya menuju sebuah kafe rooftop tempat ia seharusnya bertemu Anita. Namun, rasa penasaran mulai tumbuh. Kenapa Anita tiba-tiba membatalkan janji dengan alasan sakit, padahal tadi sore ia melihat unggahan teman Anita yang menunjukkan mereka sedang bersiap pergi? Tanpa sadar, Abimanyu sedang melaju menuju sebuah kebenaran pahit yang akan mengubah hidupnya malam itu juga. Malam semakin larut, namun jalanan Jakarta seolah tidak pernah tidur. Abimanyu melajukan mobilnya membelah hening setelah mengantar Elvina. Pikirannya masih sedikit terganggu oleh pertemuan tak terduga di rumah mamanya, namun fokus utamanya sekarang adalah Anita. Kekasihnya itu mendadak membatalkan janji makan malam dengan alasan migrain hebat dan harus istirahat total. "Gue cuma mau mastiin dia udah minum obat," gumam Abimanyu sambil melirik buket bunga lili putih yang tadi sempat ia beli di pinggir jalan. Namun, ada sebuah firasat yang terus mengusik batinnya. Sesuatu yang terasa janggal sejak sore tadi. Mengapa asistennya bilang sempat melihat mobil Arsen, sahabat karibnya sejak masa kuliah, terparkir di depan apartemen Anita? Abimanyu tiba di lobi apartemen mewah di kawasan Kuningan. Ia tidak menghubungi Anita, ingin memberikan kejutan kecil sekaligus memastikan kondisi kesehatan wanita itu. Dengan langkah ringan, ia menaiki lift menuju lantai 22. Sesampainya di depan pintu unit 2205, Abimanyu mengeluarkan kunci cadangan yang memang dipercayakan Anita kepadanya. Ia memutar kunci itu perlahan, nyaris tanpa suara. "Sayang, aku dat..." Kalimat Abimanyu terhenti di tenggorokan. Keadaan ruang tamu gelap, namun cahaya remang-remang terpancar dari arah kamar utama yang pintunya sedikit terbuka. Suara tawa genit yang sangat ia kenali, suara Anita terdengar bersahutan dengan suara rendah seorang pria. Jantung Abimanyu berdegup kencang, menghantam rongga dadanya hingga sesak. Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu kamar itu lebar-lebar. Pemandangan di depannya bagaikan hantaman godam yang menghancurkan seluruh dunianya. Di atas ranjang luas itu, Anita sedang bermesraan secara intim, hampir tanpa busana, dengan seorang pria yang selama ini Abimanyu anggap sebagai saudara sendiri: Arsen. "Abi?!" Anita menjerit, segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Wajahnya yang tadi kemerahan karena gairah kini berubah menjadi putih pucat karena ketakutan. Arsen tersentak, mencoba bangkit dengan wajah yang tak kalah paniknya. "Bi... dengerin gue dulu, ini nggak kayak yang lo liat..." Abimanyu berdiri mematung di ambang pintu. Buket bunga di tangannya jatuh berserakan di lantai, seolah melambangkan hatinya yang baru saja hancur berkeping-keping. Tidak ada teriakan histeris. Tidak ada amukan yang menghancurkan barang. Yang ada hanyalah keheningan yang jauh lebih mematikan. "Jadi ini migrain kamu, Nit?" suara Abimanyu terdengar sangat datar, namun dinginnya sanggup membekukan seluruh ruangan. "Dan ini tugas kantor yang bikin lo sibuk, Sen?" "Abi, aku minta maaf... aku cuma khilaf, tadi aku lagi kesepian..." ratih Anita sambil mencoba meraih tangan Abimanyu dengan tangisan buaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD