Namun, di balik kabar bahagia ini, bayang-bayang masa lalu tidak tinggal diam. Di Jakarta, Reza Mahardika baru saja menerima perintah dari Pak Wahyu Kalandra untuk segera menyusul Abimanyu ke Yogyakarta guna menandatangani berkas akuisisi penting. Reza tidak tahu, bahwa keberangkatannya kali ini akan membawanya berhadapan langsung dengan dosa terbesarnya di depan kakak iparnya sendiri.
Reza Mahardika melangkah terburu-buru menyusuri selasar rumah sakit. Hatinya tidak tenang sejak ia menginjakkan kaki kembali di tanah Yogyakarta. Niat awalnya adalah mencari tahu kabar Elvina secara diam-diam—mungkin sekadar untuk meredakan sedikit rasa bersalah yang menghantuinya di Jakarta. Namun, jawaban tetangga Elvina di Sleman tadi pagi bagaikan petir: "Mbak Elvina jatuh di kamar mandi, Mas. Katanya pendarahan hebat dan dibawa ke ICU."
Langkah Reza terhenti mendadak saat matanya menangkap sosok Paman Ahmad dan Bibi Ratminah yang duduk di kursi tunggu dengan wajah kuyu.
"Paman... Bibi..." suara Reza tercekat.
Paman Ahmad mendongak. Begitu melihat wajah pria yang telah menghancurkan keponakan tercintanya, darahnya mendidih. Pria tua yang biasanya sabar itu bangkit dengan kecepatan yang tak terduga.
BUGH!
Satu pukulan mentah mendarat di rahang Reza, membuatnya tersungkur ke lantai rumah sakit yang dingin.
"BINATANG KAMU, REZA!" teriak Paman Ahmad, suaranya menggelegar hingga memecah kesunyian koridor. "Berani-beraninya kamu menampakkan muka di sini setelah apa yang kamu lakukan pada Elvina!"
Reza meringis, memegangi rahangnya yang berdarah. "Paman, saya cuma mau tahu keadaan Elvina..."
"MAU TAHU?!" Paman Ahmad mencengkeram kerah kemeja mahal Reza, menyeretnya berdiri. "Elvina kritis! Dia koma! Dan anak yang dia kandung... anakmu... MATI! Dia meninggal karena ibunya menanggung beban derita yang kamu berikan! Kamu laki-laki pengecut, Reza! Kamu cuma mau enaknya saja, tapi saat masalah datang, kamu buang dia seperti sampah!"
Reza membeku. Lidahnya kelu. Mati? Anaknya meninggal? Kenyataan itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan Paman Ahmad.
Pintu ruang steril ICU terbuka pelan. Abimanyu keluar dengan raut wajah lelah setelah berjam-jam membisikkan doa di telinga Elvina. Ia mendengar keributan itu. Ia mendengar nama "Reza" disebut-sebut.
Pandangan Abi terjatuh pada sosok pria yang sedang dipukuli Paman Ahmad. Matanya membelalak. Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Abimanyu Kalandra.
"Reza?" suara Abi berat, penuh ketidakpercayaan.
Reza menoleh, dan seketika itu juga seluruh nyawanya seolah terbang. "Mas... Mas Abi? Ngapain Mas Abi di sini?"
Abimanyu melangkah maju dengan aura yang sangat mengintimidasi. Ia menatap Paman Ahmad, lalu menatap Reza kembali. Otaknya yang cerdas mulai menyatukan kepingan-kepingan teka-teki. Cerita Elvina tentang suami yang menikahinya siri, nama keluarga Kalandra yang dibenci Elvina, dan kini kehadiran adik iparnya di depan ruang ICU Elvina.
"Paman Ahmad," suara Abi bergetar karena amarah yang ditahan. "Siapa pria ini bagi Elvina?"
Paman Ahmad menunjuk Reza dengan jari yang gemetar. "Dia suaminya, Nak Abi! Dia laki-laki yang menikahi Elvina secara siri lalu menceraikannya secara tidak manusiawi demi mengejar jabatan di Jakarta! Dia yang menyebabkan Elvina jatuh dan kehilangan bayinya!"
Deg.
Hening yang mematikan menyelimuti koridor itu. Abimanyu menatap Reza dengan pandangan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun—tatapan kebencian murni yang dingin.
"Jadi... wanita yang aku cintai, wanita yang nyawanya hampir hilang karena ditelantarkan, adalah wanita yang kamu khianati demi harta ayahku?" bisik Abi, suaranya rendah namun sangat mengerikan.
"Mas... Mas Abi, dengerin dulu, aku..." Reza mencoba meraih lengan Abi, namun Abi menepisnya dengan kasar.
"JANGAN SENTUH AKU!" teriak Abi. "Selama ini aku mencari siapa pria b******k yang sudah menginjak-injak harga diri Elvina. Dan ternyata pria itu adalah orang yang makan dari hasil keringatku? Orang yang masuk ke keluargaku dengan cara menjual istrinya sendiri?"
Abimanyu mencengkeram leher baju Reza, menyudutkannya ke dinding dengan kekuatan penuh. "Kamu tahu, Rez? Anakmu baru saja aku kuburkan tadi malam. Dia meninggal tanpa pernah tahu kalau ayahnya adalah seorang pengecut yang lebih memilih jas mahal daripada nyawa anaknya sendiri."
Reza gemetar hebat. Air mata ketakutan dan penyesalan mulai mengalir. "Mas, tolong... jangan kasih tahu Anya... jangan kasih tahu Papa..."
Mendengar itu, Abi tertawa getir. Sebuah tawa yang membuat bulu kuduk berdiri. "Kamu masih memikirkan posisi kamu? Di saat Elvina berjuang antara hidup dan mati di dalam sana?"
Abi melepaskan cengkeramannya, lalu merapikan kerah bajunya sendiri dengan tangan yang masih bergetar. "Mulai detik ini, kamu bukan lagi bagian dari PT Kalandra. Dan jangan harap kamu bisa kembali ke rumah Anya. Aku sendiri yang akan menyeretmu ke pengadilan atas semua penipuan yang kamu lakukan pada adikku dan Elvina."
"Mas Abi! Saya mohon!" Reza berlutut di lantai, menangis meraung-raung.
Namun Abimanyu tidak peduli. Ia berbalik, membelakangi Reza, dan kembali menatap kaca ruang ICU tempat Elvina terbaring. "Pergi dari sini sebelum aku sendiri yang menghabisimu, Reza. Dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu lagi di depan Elvina. Dia sudah punya pelindung yang jauh lebih baik daripada pengecut sepertimu."
Reza tergeletak di lantai koridor, hancur dan hina. Singgasana yang ia bangun di atas air mata Elvina kini runtuh seketika di tangan kakak iparnya sendiri.
Suara derit pintu ICU yang terbuka perlahan terasa seperti musik paling indah di telinga Abimanyu. Di atas bangkar, kelopak mata Elvina bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka perlahan. Matanya yang sayu menatap langit-langit putih dengan linglung.
"El... Elvina?" bisik Abi, suaranya parau karena haru.
Elvina menoleh pelan. Hal pertama yang ia lakukan adalah meraba perutnya yang kini terasa kosong dan rata. Matanya membelalak panik. "Mas Abi... anakku? Di mana bayiku?"
Abimanyu terdiam. Ia menggenggam tangan Elvina yang gemetar, mencoba menyalurkan keberanian yang ia sendiri hampir kehabisan. "El, dengerin aku... Tuhan lebih sayang sama dia. Dia sudah tenang, Sayang."
Tangis Elvina pecah seketika. Suara raungan yang memilukan memenuhi ruangan itu. Ia menarik diri dari sandaran bed, meronta dalam pelukan Abimanyu. "Nggak! Enggak mungkin! Aku ibu yang buruk, Mas! Aku nggak bisa jaga dia! Harusnya aku yang mati, bukan dia!"
Abimanyu memeluk Elvina erat-erat, membiarkan air mata wanita itu membasahi pundaknya. Ia mendekap kepala Elvina, mencium puncak rambutnya berkali-kali. "Bukan salahmu, El. Demi Allah, ini bukan salahmu. Kamu sudah berjuang sendirian selama ini. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri."
"Aku sendirian, Mas... dia satu-satunya yang aku punya," isak Elvina di d**a Abi, tubuhnya terguncang hebat.
"Kamu nggak sendirian. Ada aku. Aku janji, El, detik ini... menit ini... sampai napas terakhirku, aku nggak akan ninggalin kamu sedetik pun. Aku bukan dia, El. Aku bukan laki-laki yang membuang permata demi tumpukan tanah," tegas Abi dengan nada yang sangat dalam.
Setelah tangis Elvina sedikit mereda, Abimanyu membimbingnya untuk kembali bersandar. Ia menghapus sisa air mata di pipi Elvina dengan ibu jarinya. Ada satu hal yang harus ia katakan, meski ia tahu ini akan mengguncang jiwa Elvina.
"El... ada sesuatu yang harus kamu tahu. Tentang laki-laki itu. Tentang mantan suamimu," ujar Abi dengan nada berat.
Elvina menegang. Nama itu selalu menjadi momok baginya. "Kenapa, Mas? Kenapa harus bahas dia sekarang?"
Abimanyu menarik napas panjang. "Tadi dia datang ke sini. Dia menemuiku di depan ruang ICU."
Mata Elvina membelalak. "Reza? Dia... dia ada di sini?"
"Iya. Dan yang membuatku lebih muak dari apa pun adalah kenyataan bahwa dia bukan orang asing bagiku, El." Abi menjeda kalimatnya, matanya menatap Elvina dengan tatapan penuh luka sekaligus perlindungan. "Reza Mahardika... dia adalah suami dari adik kandungku, Anya. Dia adalah adik iparku sendiri."
DEG.
Dunia Elvina seolah berhenti berputar. Wajahnya yang sudah pucat kini berubah menjadi seputih kertas. Ia merasa seolah ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya secara bersamaan.
"Mas Abi... apa?" suara Elvina nyaris hilang. "Jadi... selama ini aku... aku berhubungan dengan keluarga laki-laki yang menghancurkanku? Kamu kakaknya Anya?"
Elvina mencoba menarik tangannya dari genggaman Abi. Rasa trauma dan takut mendadak menyergapnya. Ia merasa masuk ke dalam lingkaran setan keluarga Kalandra yang telah merenggut segalanya darinya.
Abimanyu menahan tangan Elvina, tidak membiarkan wanita itu menjauh. "El, dengerin aku! Aku memang kakaknya Anya, tapi aku bukan Reza! Aku tidak tahu apa-apa soal kebusukannya sampai hari ini! Dan demi nyawa anakmu yang baru aku kuburkan, aku bersumpah... aku ada di pihakmu."
Elvina menggeleng-gelengkan kepalanya, shock. "Kenapa dunia sekecil ini, Mas? Kenapa harus kamu?"
"Mungkin karena Tuhan mau aku yang membalaskan sakit hatimu, El," jawab Abi tegas. "Aku sudah memecatnya. Aku sudah membuangnya dari perusahaan. Dan aku pastikan, dia tidak akan pernah mendapatkan satu persen pun harta Kalandra lagi. Dia akan kembali jadi gelandangan seperti saat dia pertama kali merayap di depan keluargaku."
Abimanyu meraih wajah Elvina, memaksa wanita itu menatap matanya. "Percaya sama aku, El. Namaku memang Kalandra, tapi hatiku milikmu. Aku tidak akan membiarkan Anya atau siapa pun menyentuhmu lagi. Kamu adalah prioritasku sekarang. Kita akan lewati ini bareng-bareng."
Elvina menatap mata Abi yang penuh dengan ketulusan dan amarah yang tertuju pada Reza. Perlahan, kekakuan di tubuh Elvina melunak. Ia kembali luruh ke pelukan Abi, menangis dalam kepasrahan yang luar biasa. Ia takut, ia shock, tapi di dalam pelukan pria ini, ia merasa untuk pertama kalinya ada seseorang yang benar-benar siap menjadi tameng untuknya.