Suasana ruang makan masih terasa panas. Abimanyu menarik napas panjang, lalu menggenggam tangan Elvina yang dingin. Ia menatap Ibu Amelia dengan sorot mata yang tak terbantahkan.
"Mamah, maaf. Abi nggak bisa biarin Elvina tinggal di sini kalau cuma buat jadi sasaran empuk mulut Anya," ucap Abimanyu sambil berdiri.
Ibu Amelia panik, ia ikut berdiri dan memegang lengan putranya. "Bi, jangan gitu. Anya cuma lagi emosi, dia lagi hamil, hormonnya nggak stabil. Jangan pergi sekarang, Sayang."
"Hamil bukan kartu bebas buat injak-injak harga diri istri Abi, Mah," sahut Abimanyu dingin.
"Abi bawa Elvina balik ke apartemen. Di sana lebih tenang buat dia. Abi nggak mau mental Elvina hancur cuma karena ulah adik Abi sendiri."
Ibu Amelia hanya bisa terdiam lesu. Ia tahu, jika Abimanyu sudah mengeluarkan suara rendah seperti itu, tidak ada yang bisa mengubah keputusannya. Elvina sempat menyalami Ibu Amelia dengan takzim, meski matanya masih sembap.
"Maafin Elvina ya, Ma. Elvina pamit dulu," bisik Elvina lirih.
****
Di dalam mobil sedan mewah milik Abimanyu, keheningan sempat menyelimuti. Abimanyu sesekali melirik Elvina yang menatap kosong ke luar jendela. Saat di lampu merah, Abimanyu meraih tangan Elvina dan mengecup punggung tangannya lama.
"Jangan dengerin dia, Vin. Dia cuma iri karena dia nggak punya apa yang lo punya sekarang," ucap Abimanyu lembut.
Elvina menoleh, tersenyum tipis. "Makasih ya, Mas. Kamu selalu ada buat belain aku. Aku cuma... kaget aja luka lama itu dibuka lagi."
"Selama ada gue, nggak akan ada yang bisa buka luka itu lagi tanpa seizin gue. Ngerti?" Abimanyu mengacak rambut Elvina pelan, mencoba mencairkan suasana. "Sekarang, fokus buat ngajar. Mahasiswa lo udah nungguin dosen cantiknya, kan?"
Mobil berhenti tepat di lobi gedung fakultas tempat Elvina mengajar. Beberapa mahasiswa yang lewat sempat menoleh, kagum melihat mobil mewah dan sosok pria gagah di balik kemudinya.
Elvina bersiap turun, namun Abimanyu menahan lengannya. "Bentar."
"Kenapa, Mas?"
Abimanyu mendekat, lalu mendaratkan ciuman dalam di kening Elvina, berpindah ke kedua pipinya, dan berakhir dengan kecupan singkat namun intens di bibir istrinya.
"Semangat kerjanya, Sayang. Nanti sore gue jemput. Jangan pulang sendiri, jangan naik taksi. Tunggu gue di lobi," pesan Abimanyu dengan nada posesif khasnya.
Elvina tersenyum malu-malu, pipinya merona merah. "Iya, Mas Posesif. Aku masuk dulu ya. Hati-hati di jalan."
Abimanyu memperhatikan punggung istrinya sampai benar-benar hilang di balik pintu gedung. Begitu Elvina tak terlihat lagi, ekspresi wajahnya langsung berubah. Gurat lembutnya hilang, berganti dengan rahang yang mengeras dan tatapan mata yang tajam.
Abimanyu memacu mobilnya membelah kemacetan Jakarta menuju kantor pusat perusahaannya yang baru. Di dalam mobil, ia menghubungi Candra melalui hands-free.
"Candra, siapkan laporan audit Kalandra Group yang terbaru. Gue mau lihat seberapa hancur perusahaan itu di tangan Reza sebelum gue ambil alih total secara paksa minggu depan," perintah Abimanyu dingin.
"Baik, Pak. Semuanya sudah siap di meja Bapak," jawab Candra sigap.
Abimanyu tersenyum sinis. Baginya, melindungi Elvina bukan cuma soal pelukan di tempat tidur, tapi juga soal memastikan musuh-musuhnya—termasuk siapapun yang mendukung Reza—tidak punya kekuatan lagi untuk berkutik.
***
Papan nama di atas meja mahoni itu telah berganti. Abimanyu Kalandra – CEO. Abimanyu duduk dengan punggung tegak, menatap layar monitor yang menampilkan aliran dana gelap bentukan Reza. Di sampingnya, Candra berdiri sigap dengan tumpukan dokumen audit.
"Hancur banget, Pak. Reza benar-benar menguras kas perusahaan buat gaya hidupnya dan Anya," lapor Candra ketus.
Abimanyu menyesap kopi hitamnya, matanya tajam seperti elang. "Mulai hari ini, potong semua akses keuangan yang berhubungan dengan Reza. Dan untuk Anya... batasi limit kartu kreditnya. Gue nggak mau uang keringat Papah dipake buat foya-foya di tengah kekacauan ini."
Abimanyu memutar kursinya, menatap pemandangan gedung pencakar langit Jakarta dari lantai 50.
"Gabungkan tim legal Abimanyu Perkasa dengan Kalandra Wahyu. Gue mau pembersihan total. Siapa pun yang masih setia sama Reza, tendang keluar hari ini juga."
"Siap, Pak!"
Berbeda dengan suasana kantor Abimanyu yang tegang, lingkungan kampus tempat Elvina mengajar terasa jauh lebih sejuk.
Elvina sedang duduk di meja dosennya, fokus mengoreksi tugas mahasiswa sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya.
Ia tidak sadar, dari balik pintu kaca yang sedikit terbuka, sepasang mata sedang memperhatikannya dengan intensitas yang aneh.
Gavin Dirgantara (30 tahun), Dekan termuda di universitas tersebut sekaligus sahabat lama Abimanyu saat kuliah di luar negeri, berdiri di sana. Ia melipat tangan di d**a, senyum tipis terukir di wajahnya yang tampan namun sulit ditebak.
"Masih sama kayak dulu," gumam Gavin pelan. "Selalu serius kalau lagi kerja."
Gavin tahu betul siapa Elvina. Ia tahu sejarah pahit wanita itu dengan Reza, dan ia tahu sekarang Elvina adalah istri sahabatnya sendiri. Namun, ada kilat obsesi yang ia sembunyikan dengan rapi di balik topeng profesionalismenya.
Gavin mengetuk pintu ruangan pelan, lalu melangkah masuk dengan gaya santai.
"Lembur lagi, Bu Elvina?"
Elvina mendongak, sedikit terkejut melihat sang Dekan sudah berdiri di depan mejanya. "Eh, Pak Gavin. Iya nih, Pak. Mumpung lagi senggang, sekalian beresin nilai mahasiswa."
Gavin menarik kursi di depan meja Elvina tanpa diminta. "Santai aja kalau sama saya, Vin. Kita kan udah kenal lama. Gimana kabar Abi? Katanya dia baru aja ambil alih Kalandra Group lagi, ya?"
"Iya, Pak. Mas Abi lagi sibuk banget akhir-akhir ini," jawab Elvina sopan, meski ia merasa sedikit risi dengan cara Gavin menatapnya.
Gavin mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah. "Abi itu beruntung banget punya kamu, Vin. Kalau seandainya dulu saya yang ketemu kamu duluan, mungkin ceritanya bakal beda."
Elvina terpaku. Kalimat itu terdengar seperti candaan, tapi tatapan Gavin sama sekali tidak menunjukkan sedang bercanda. "Pak Gavin bisa aja. Saya permisi dulu ya, Pak. Sudah jamnya Mas Abi jemput."
Gavin hanya tersenyum lebar, membiarkan Elvina bergegas merapikan tasnya.
"Hati-hati, Vin. Salam buat 'Si Posesif' Abi, ya."
Begitu Elvina keluar, senyum Gavin memudar. Ia mengambil pulpen yang tertinggal di meja Elvina, memainkannya dengan jemarinya.
"Nikmatin dulu kebahagiaan kalian, Bi. Gue cuma mau lihat seberapa kuat lo jagain dia dari gue."
***
Di lobi kampus, mobil hitam Abimanyu sudah terparkir manis. Abimanyu berdiri bersandar di pintu mobil dengan kacamata hitam, membuat beberapa mahasiswi berbisik genit saat melewatinya.
Begitu melihat Elvina keluar, wajah Abimanyu langsung melunak. Ia segera menghampiri istrinya, mengambil alih tas laptop Elvina.
"Lama banget? Ada yang ganggu lo di dalem?" tanya Abimanyu, matanya menyapu area lobi dengan curiga—insting posesifnya langsung aktif.
"Nggak kok, Mas. Tadi cuma ngobrol sebentar sama Pak Gavin," jawab Elvina jujur.
Rahang Abimanyu mengeras mendengar nama itu. "Gavin? Ngapain dia nemuin lo?"
"Cuma nanyain kabar kamu, kok."
Abimanyu membukakan pintu mobil untuk Elvina, lalu berbisik tajam. "Lain kali kalau dia deket-deket lagi, langsung telepon gue. Gue nggak suka cara dia ngelihat lo dari dulu."
****
Hujan rintik di luar jendela kaca besar apartemen menambah suasana syahdu. Abimanyu duduk di sofa ruang tengah, masih dengan kemeja kantor yang lengannya digulung hingga siku.
Di pangkuannya, Elvina meringkuk manja sambil menyandarkan kepala di d**a bidang suaminya.
"Mas... capek ya?" bisik Elvina sambil memainkan kancing kemeja Abimanyu.
Abimanyu mengecup puncak kepala Elvina, lalu menghirup aroma sampo istrinya yang menenangkan. "Capek gue ilang kalau lo udah nempel kayak gini, Vin. Lo itu kayak charger buat gue."
Elvina mendongak, menatap rahang tegas suaminya. "Gombal banget sih sekarang. Ketularan siapa?"
"Ketularan lo lah," Abimanyu mencubit hidung Elvina pelan. "Dulu lo kaku banget sama gue, sekarang malah manja kayak kucing. Gue jadi nggak mau balik ke kantor kalau begini caranya. Mau gue kurung aja lo di sini."
Elvina tertawa kecil, ia sengaja melingkarkan tangannya lebih erat di leher Abimanyu. "Kalau aku dikurung, nanti yang ngajar mahasiswa siapa? Kasihan mereka, Mas."
Mendengar kata 'mahasiswa', rahang Abimanyu sedikit mengeras. Ia teringat kembali pada Gavin dan tatapan pria-pria di kampus tadi siang.
"Nggak usah ngajar lagi kenapa sih? Gue bisa kasih lo gaji sepuluh kali lipat dari kampus itu," ucap Abimanyu dengan nada posesif yang mulai muncul. "Gue nggak suka lo dilihatin cowok-cowok lain, apalagi si Gavin itu."
Elvina mengusap pipi Abimanyu, mencoba menenangkan "singa" yang sedang cemburu. "Mas... aku kan suka ngajar. Lagian, hati aku kan cuma buat Mas Abi. Mau ada seribu Gavin juga nggak bakal ngaruh."
Abimanyu menatap mata Elvina dalam-dalam, tatapannya berubah intens.
"Janji? Kalau sampai ada yang berani nyentuh lo sedikit aja, gue nggak akan tinggal diam, Vin. Gue bakal hancurin siapa pun yang coba-coba ambil lo dari gue."
Abimanyu mengangkat tubuh Elvina dengan mudah, membawanya menuju kamar utama tanpa melepaskan kontak mata.
Elvina hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang merona di ceruk leher Abimanyu, menikmati aroma maskulin yang selalu membuatnya merasa tenang.
Begitu sampai di tempat tidur, Abimanyu merebahkan Elvina dengan sangat hati-hati, seolah istrinya adalah porselen yang sangat mahal.
"Mas... katanya tadi capek?" goda Elvina saat Abimanyu mulai mengecupi lehernya.
"Capek kerja iya, tapi kalau buat lo... gue selalu punya energi cadangan," gumam Abimanyu serak.
Malam itu kembali diisi dengan kemesraan yang membara. Abimanyu menunjukkan rasa cintanya lewat sentuhan yang posesif namun penuh pemujaan. Ia memanjakan Elvina, memenuhi setiap keinginan istrinya, dan memastikan bahwa Elvina tahu hanya dialah satu-satunya wanita yang bertahta di hati dan hidupnya.
Setelah badai gairah mereda, mereka berbaring berpelukan di bawah selimut tebal. Elvina sudah hampir terlelap saat merasakan kecupan lembut di keningnya.
"Gue sayang banget sama lo, Vin. Jangan pernah tinggalin gue, ya?" bisik Abimanyu pelan, hampir seperti sebuah permohonan yang tulus dari seorang pria yang biasanya sangat angkuh.
Elvina tersenyum dalam tidurnya, mengeratkan pelukannya pada pinggang Abimanyu. "Nggak akan, Mas. Aku bakal selalu di sini."