Di sebuah kafe remang-remang, Anya menyesap jusnya dengan tatapan tajam. Di depannya, Gavin duduk tenang. "Gue tahu lo mau Elvina, Vin. Dan gue mau dia hilang dari hidup Mas Abi. Kita punya musuh yang sama," bisik Anya sinis.
Gavin tersenyum tipis, menyesap kopinya. "Obsesi gue nggak main-main, Nya. Kalau gue nggak bisa milikin dia dengan cara halus, cara kasar pun jadi."
Sore itu, kampus sudah mulai sepi. Seorang OB masuk ke ruangan Elvina membawa segelas jus jeruk. "Ini dari Pak Dekan, Bu. Katanya permintaan maaf karena tadi agak kasar," ucap si OB.
Elvina yang merasa haus dan tidak curiga, meminum jus itu hingga tandas. Tak butuh waktu lama, tubuhnya mulai terasa aneh.
Suhu tubuhnya meningkat drastis, napasnya memberat, dan ada sensasi menggelitik yang tak tertahankan di sekujur tubuhnya.
"Vin? Kamu nggak apa-apa?" Gavin masuk dan langsung mengunci pintu dari dalam. Klik.
"Pak... keluar. Saya mau pulang," igau Elvina, tangannya gemetar mencengkeram pinggiran meja.
Gavin mendekat, tangannya mulai berani menyentuh paha Elvina. "Jangan nolak, Vin. Abi nggak akan bisa kasih lo kenikmatan kayak yang bakal gue kasih sore ini."
"Jangan sentuh aku! Pergi!" Elvina menepis tangan Gavin dengan sisa tenaganya, namun efek obat itu membuat tubuhnya lemas. Gavin justru semakin liar, ia menggendong Elvina dan menghempaskannya ke sofa panjang di ruangan itu.
Gavin mengukung tubuh Elvina, tangannya mulai membuka paksa kancing atas pakaian Elvina. Elvina menjerit, air mata ketakutan mengalir deras.
"Mas Abi... Mas, tolong!" teriak Elvina parau.
"Abi nggak akan datang, Vin! Dia lagi sibuk rapat!" seru Gavin sambil mencoba mencium leher Elvina dengan rakus.
Elvina meronta, memukul d**a Gavin, namun tenaga pria itu jauh lebih kuat. Saat Gavin mulai menanggalkan pakaiannya sendiri dan bersiap menyatukan dirinya dengan Elvina yang sudah setengah tak berdaya...
BRAKKKK!!!
Pintu kayu jati itu hancur didobrak dari luar. Sosok tinggi besar berdiri di sana dengan mata merah menyala penuh kilat pembunuhan. Abimanyu Kalandra.
"GAVIN!!! ANJING LO!!!"
Abimanyu menerjang seperti singa lapar. Ia menarik kerah baju Gavin dan mendaratkan satu pukulan mentah tepat di rahang Gavin hingga pria itu terpental ke meja kerja. Belum sempat Gavin bangkit, Abimanyu kembali menghujamkan tinjunya berkali-kali ke wajah Gavin.
"Gue udah peringatin lo, b******n! Jangan pernah sentuh milik gue!" Bugh! Satu tendangan keras mendarat di perut Gavin hingga ia terkapar di lantai, memuntahkan darah.
Abimanyu hampir saja meraih vas bunga kaca untuk menghantam kepala Gavin jika saja ia tidak mendengar isakan kecil dari sofa.
Elvina yang sedang gemetar hebat, berusaha menutupi tubuh bagian atasnya dengan pakaian yang sudah koyak. Amarah Abimanyu seketika berganti menjadi rasa sakit yang luar biasa melihat kondisi istrinya.
Ia melepas jas mahalnya, lalu menghambur ke arah Elvina dan menyelimuti tubuh istrinya dengan jas tersebut.
"Mas... Mas Abi..." Elvina menangis histeris, membenamkan wajahnya di d**a Abimanyu. Tubuhnya masih panas karena efek obat, namun ia merasa aman.
"Sshhh... gue di sini, Sayang. Gue di sini. Maafin gue telat," bisik Abimanyu, mendekap Elvina sangat erat. Ia menoleh ke arah Gavin yang sudah tak berdaya di lantai dengan tatapan mematikan.
"Candra! Bawa sampah ini ke gudang. Jangan kasih dia mati dulu sebelum dia ngerasain neraka yang sebenarnya!"
Candra dan beberapa bodyguard masuk dengan sigap, menyeret Gavin keluar dari ruangan tersebut tanpa ampun.
Abimanyu menggendong Elvina keluar menuju mobil. Ia tahu istrinya sedang di bawah pengaruh obat perangsang karena napas Elvina yang semakin panas di ceruk lehernya.
"Tahan sebentar, Vin. Kita pulang sekarang," ucap Abimanyu dengan suara berat. Di balik rasa marahnya pada Gavin, ada rasa posesif yang membuncah.
Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh istrinya, dan malam ini, ia sendiri yang akan menawarkan "penawar" untuk rasa panas yang menyiksa tubuh Elvina.
Abimanyu membanting pintu kamar dan langsung merebahkan Elvina di atas ranjang king size mereka.
Belum sempat Abimanyu melepas jas yang menyelimuti tubuh istrinya, tangan Elvina sudah menarik kerah kemeja Abimanyu dengan kasar, memaksa pria itu untuk mendekat.
"Mas... panas... tolong," rintih Elvina dengan mata yang sayu namun berkilat penuh gairah.
Abimanyu menatap wajah Elvina dengan pedih. Ia tahu istrinya sedang tersiksa oleh efek kimia di tubuhnya. "Vin, sabar, Sayang. Gue di sini..."
Namun, Elvina tidak butuh kata-kata. Ia mendominasi. Dengan gerakan yang tidak pernah Abimanyu bayangkan sebelumnya, Elvina membalikkan posisi hingga ia berada di atas tubuh tegap suaminya.
Jemari Elvina dengan gemetar membuka kancing kemeja Abimanyu, napasnya yang memburu terasa panas menerpa kulit d**a Abimanyu.
Abimanyu hanya bisa mengikuti ritme Elvina. Ia membiarkan istrinya mengambil kendali, meski dalam hatinya ia bersumpah akan membunuh siapa pun yang menyebabkan istrinya menderita seperti ini.
Suara desahan Elvina pecah di sunyinya malam, memenuhi setiap sudut kamar. Ia terus menuntut, seolah rasa haus di dalam dirinya tak kunjung padam. Setiap sentuhan Abimanyu dibalas dengan erangan yang semakin dalam.
"Mas... lagi... jangan berhenti," bisik Elvina parau di sela ciuman mereka yang menuntut.
Pelapasan demi pelapasan dicapai berkali-kali. Abimanyu sendiri sampai kewalahan mengimbangi energi Elvina yang seolah meledak-ledak.
Keringat membasahi tubuh mereka yang menyatu, menciptakan aroma keintiman yang pekat. Abimanyu terus bergerak, memberikan seluruh tenaganya demi menetralisir efek obat yang menyiksa istrinya.
Ia memeluk pinggang Elvina dengan posesif, memastikan hanya dialah yang menjadi penawar bagi rasa sakit dan nikmat istrinya.
Setelah berjam-jam bergulat dengan gairah yang dipicu paksa, akhirnya efek obat itu perlahan luruh seiring dengan lemasnya tubuh Elvina. Napas Elvina yang tadinya memburu kini mulai teratur, meski sisa-sisa isak tangis karena trauma masih terdengar lirih.
Elvina jatuh terkulai di d**a bidang Abimanyu, benar-benar kehilangan seluruh tenaganya. Abimanyu menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polos mereka, lalu mendekap Elvina sangat erat—seolah takut istrinya akan hancur jika ia melonggarkan pelukan itu sedikit saja.
"Mas... maafin aku," bisik Elvina sangat lemah, nyaris tak terdengar.
Abimanyu mengecup kening istrinya yang masih basah oleh keringat. "Sshhh... jangan ngomong apa-apa. Tidur, Sayang. Semuanya udah lewat. Gue nggak akan lepasin lo."
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu di balik gorden abu-abu. Elvina perlahan membuka matanya, badannya terasa remuk seolah habis dihantam ombak besar. Ingatan tentang kejadian sore kemarin di ruang dosen, obat itu, sentuhan menjijikkan Gavin, dan bagaimana ia "menyerang" Abimanyu habis-habisan karena pengaruh obat—membuatnya mendadak mual.
Abimanyu sudah bangun, ia duduk bersandar di kepala ranjang sambil mengusap rambut Elvina yang masih berantakan. Tatapannya sangat dalam, penuh rasa bersalah sekaligus posesif yang tak terbendung.
"Mas..." bisik Elvina parau.
"Ssh... jangan bangun dulu. Istirahat lagi," suara Abimanyu terdengar berat. Ia menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi bahu polos istrinya. "Gavin udah di tangan gue. Dia nggak akan pernah bisa liat matahari dengan tenang lagi."
Elvina memejamkan mata, air matanya jatuh. "Kenapa dia tega, Mas? Dia kan sahabat kamu."
Abimanyu mengepalkan tangannya di bawah selimut hingga buku jarinya memutih. "Dia iblis, Vin. Gue salah nilai orang. Gue pikir dia profesional, ternyata dia cuma predator yang nyari celah pas gue lengah."
Di saat yang sama, di rumah besar Kalandra, Anya sedang mondar-mandir di kamarnya dengan wajah gelisah.
Tangannya gemetar memegang ponsel. Ia baru saja mendengar kabar dari orang suruhannya bahwa Gavin babak belur dihajar Abimanyu dan sekarang menghilang, kemungkinan besar disekap di gudang rahasia kakaknya.
"Sial! Kenapa Mas Abi bisa tahu secepat itu?!" geram Anya.
Ia segera menghapus semua riwayat pesan dan panggilannya dengan Gavin. Ia harus memastikan tidak ada satu pun jejak yang menghubungkan dirinya dengan rencana obat perangsang itu.
"Gue harus tenang," gumam Anya sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
"Mas Abi nggak boleh tahu. Selama Gavin tutup mulut, gue aman. Gue bakal tetep jadi adik kesayangan yang nggak tahu apa-apa."
Abimanyu tiba di gudang bawah tanah kantornya. Di sana, Gavin terikat di kursi dengan wajah yang sudah tidak berbentuk. Darah mengering di sudut bibir dan pelipisnya.
Abimanyu melangkah masuk, melepas jasnya dan menggulung lengan kemeja putihnya. Ia mengambil seember air es dan mengguyurkannya ke kepala Gavin hingga pria itu tersedak dan sadar.
"Bangun, b******n," desis Abimanyu dingin.
"Sekarang kasih tahu gue... lo dapet obat itu dari mana? Nggak mungkin lo seberani itu ngerencanain ini sendirian di lingkungan kampus."
Gavin terbatuk, memuntahkan sisa darah di mulutnya. Ia menatap Abimanyu dengan tawa meremehkan yang lemah. "Kenapa, Bi? Lo ngerasa gagal jadi suami? Lo nggak bisa jaga dia?"
BUGH!
Satu pukulan mentah kembali mendarat di perut Gavin. "Jangan bawa-bisa nama istri gue pake mulut kotor lo! Siapa yang bantu lo?! Siapa yang kasih akses buat masuk ke ruang dosen sore itu?!"
Gavin terdiam. Ia teringat janji Anya untuk membantunya kabur jika rencana ini gagal. Ia memilih bungkam untuk saat ini, mencari celah untuk tetap bertahan hidup.
Sore harinya, Anya nekat datang ke apartemen Abimanyu dengan membawa buah-buahan. Ia memasang wajah sedih dan prihatin yang luar biasa.
"Mas Abi... Elvina mana? Aku denger dari Mamah ada kejadian buruk di kampus?" tanya Anya dengan nada cemas yang sangat natural.
Abimanyu, yang masih dalam emosi tinggi, menatap adiknya sekilas. Ia benar-benar tidak curiga sedikit pun. Baginya, Anya hanyalah adiknya yang manja dan sedang hamil tua, tidak mungkin punya pikiran sekeji itu.
"Dia di kamar, lagi tidur. Jangan diganggu dulu," jawab Abimanyu pendek.
Anya mendekat, menyentuh lengan Abimanyu. "Mas, aku minta maaf ya kalau dulu aku sering jahat sama Elvina. Pas denger dia mau dicelain sama orang, aku ngerasa berdosa banget. Aku nggak mau ponakan aku nanti dapet karma karena kelakuan aku."
Abimanyu menghela napas, ia mengusap kepala Anya pelan. "Bagus kalau lo sadar, Nya. Jaga kandungan lo baik-baik. Biar urusan Gavin, gue yang beresin."
Anya tersenyum tipis di balik bahu Abimanyu. Sebuah senyum kemenangan karena kakaknya masih sangat buta akan kebusukannya.