Cinta yang Dijaga, Pengkhianatan yang Diburu

1485 Words
Di ruang interogasi yang temaram, Gavin duduk dengan tangan terborgol. Di depannya, seorang pria muda dengan setelan jas navy yang sangat rapi duduk dengan tenang. Dia adalah Nolan Kalandra, pengacara papan atas sekaligus sepupu Abimanyu yang dikenal bertangan dingin. Nolan meletakkan sebuah map tebal di meja. "Gavin Dirgantara. Jabatan Dekan, masa depan cerah, tapi hancur dalam semalam karena obsesi konyol." Gavin mendongak, wajahnya yang lebam tampak sinis. "Gue cuma cinta sama dia, Nolan." Nolan tertawa hambar, suara tawanya terdengar meremehkan. "Cinta? Di kamus hukum gue, itu namanya pelecehan berat, penggunaan obat terlarang, dan percobaan pemerkosaan. Gue udah pastiin semua celah buat lo bebas tertutup rapat. Lo nggak akan cuma kehilangan jabatan, tapi lo bakal membusuk di penjara." Nolan mendekat, menatap mata Gavin dengan tajam. "Abimanyu itu saudara gue. Dan Elvina adalah kehormatan keluarga Kalandra. Jangan pernah mimpi bisa menghirup udara bebas dalam waktu dekat." Sementara itu, di apartemen, suasana sangat tenang. Elvina perlahan menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya. Matanya menatap kosong ke arah jendela, namun pikirannya melayang pada kejadian semalam. Wajahnya mendadak terasa panas, merah padam sampai ke telinga. "Ya Tuhan... apa yang aku lakuin semalam?" batinnya menjerit. Ingatan tentang bagaimana dia menarik baju Abimanyu, bagaimana dia mendominasi di atas ranjang, dan suara-suara desahan yang dia keluarkan sendiri membuat Elvina ingin menghilang saat itu juga. Dia merasa seperti wanita lain, sosok yang begitu asing dan... liar. "Kenapa aku bisa se-agresif itu? Malu-maluin banget di depan Mas Abi," gumamnya pelan sambil menyembunyikan wajah di balik bantal. Pintu kamar terbuka pelan. Abimanyu masuk membawa nampan berisi bubur ayam hangat dan segelas s**u. Melihat gundukan di balik selimut yang bergerak gelisah, Abimanyu sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan istrinya. Abimanyu duduk di tepi ranjang, meletakkan nampan di nakas. "Vin... bangun dulu. Makan dulu sebentar." Elvina muncul dari balik selimut dengan wajah yang masih merah padam. Ia bahkan tidak berani menatap mata Abimanyu. "Mas... aku... soal semalam..." "Ssh," Abimanyu memotong kalimat Elvina, ia mengusap pipi istrinya lembut. "Jangan dibahas kalau itu cuma bikin lo malu. Itu bukan salah lo, itu pengaruh obat. Dan jujur... gue nggak keberatan sama sekali kalau lo mau sesering itu sama gue." "Maaaass!" Elvina memukul lengan Abimanyu pelan, semakin salah tingkah. Abimanyu terkekeh, suara tawa yang sangat jarang terdengar. Ia menarik Elvina ke dalam pelukannya, mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang. "Gue serius. Lo cantik banget semalam. Tapi sekarang, kesehatan lo yang utama. Energi lo habis banyak, kan?" Di tengah kemesraan itu, ponsel Abimanyu bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Nolan. > Nolan: "Bi, Gavin mulai goyah di interogasi. Dia sempat nyebut soal 'instruksi'. Gue rasa dia nggak main sendirian. Ada seseorang yang bantu dia dapet akses dan obat itu. Gue bakal terus kejar siapa orangnya." > Abimanyu menatap layar ponselnya dengan mata menyipit. Rahangnya mengeras. Ia melirik Elvina yang sedang mulai menyuap buburnya dengan tenang. "Siapa pun orangnya, kalau dia ada di sekitar kita... dia bakal habis di tangan gue," sumpah Abimanyu dalam hati. Nolan mulai mencurigai Anya setelah melihat riwayat panggilan telepon Gavin yang dihapus secara profesional, namun ada satu pesan singkat yang tertinggal di cloud server yang mengarah pada inisial "A". Abimanyu dengan telaten meniup sendok bubur sebelum menyuapkannya ke mulut Elvina. Matanya tidak lepas menatap wajah istrinya yang masih terlihat sedikit pucat namun tetap cantik di matanya. "Ayo, satu suap lagi. Biar tenaga lo pulih, Vin. Soalnya kalau inget aktivitas semalam... kayaknya lo butuh asupan tiga porsi deh," goda Abimanyu dengan wajah lempeng, namun ada kilat jahil di matanya. Plak! Elvina memukul lengan kekar suaminya pelan, wajahnya kembali merah padam. "Mas Abi! Bisa nggak sih otaknya jangan m***m dulu? Aku ini masih lemes, tahu!" Abimanyu tertawa lepas, sebuah suara yang sangat renyah dan jarang terdengar oleh orang lain selain Elvina. "Gue cuma bercanda, Sayang. Lagian salah sendiri, siapa suruh semalam se-agresif itu? Gue kan cuma melayani permintaan 'ratu' gue." "Iih, itu kan karena obat! Mas Abi jangan bahas itu lagi, aku malu banget!" Elvina menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan, membuat Abimanyu semakin gemas dan menarik tangan istrinya untuk dikecup ujung jarinya. Suasana mendadak berubah haru saat Elvina menatap Abimanyu dengan pandangan yang dalam. Ia meraih tangan suaminya, menggenggamnya erat di atas pangkuannya. "Mas... makasih ya," ucap Elvina lirih. Abimanyu menaikkan sebelah alisnya. "Buat buburnya? Gampang, nanti gue pesenin lagi." Elvina menggeleng pelan. "Bukan itu. Makasih karena Mas Abi selalu jadi pelindung aku. Makasih karena Mas sudah mencintai aku tanpa syarat, bahkan saat semua orang ngerendahin aku. Aku nggak tahu apa jadinya kalau kemarin Mas nggak datang tepat waktu." Abimanyu terdiam sejenak. Ia meletakkan mangkuk bubur di nakas, lalu membawa Elvina ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya dengan sangat protektif, seolah-olah Elvina adalah permata yang paling rapuh di dunia ini. "Gue yang harusnya makasih, Vin. Karena lo tetep bertahan sama pria kaku kayak gue," bisik Abimanyu. Abimanyu merenggangkan pelukannya, menangkup wajah Elvina dengan kedua tangan besarnya. Ia mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya, meski ia tahu dirinya bukan tipe pria puitis. "Vin, dengerin gue. Dulu gue pikir hidup gue itu cuma soal angka, bisnis, dan tanggung jawab keluarga. Tapi sejak ada lo, semuanya jadi berantakan... dalam artian yang bagus." Elvina mengernyitkan dahi, bingung. "Maksudnya?" Abimanyu berdehem, sedikit salah tingkah. "Ya gitu... pokoknya cinta gue ke lo itu sekarang udah awur-awuran. Nggak karuan lagi bentuknya. Pokoknya gue maunya cuma sama lo, titik. Nggak mau yang lain." Elvina tertegun sejenak, lalu tawa gelinya pecah. "Hahaha! Mas, 'awur-awuran' itu bahasa apa? Kamu CEO atau anak gaul Jakarta sih?" "Ya ampun, gue serius malah diketawain," gerutu Abimanyu, meski ia ikut tersenyum lega melihat istrinya sudah bisa tertawa lagi. "Pokoknya intinya gue bucin banget sama lo. Puas?" Elvina memeluk leher Abimanyu, menyandarkan keningnya di kening suaminya. "Iya, aku puas. Makasih ya, Mas Bucin." Di tengah tawa mereka, Abimanyu kembali teringat janji Nolan untuk mengusut tuntas siapa yang membantu Gavin. Ia bersumpah dalam hati, kebahagiaan Elvina yang baru saja kembali ini tidak boleh dirusak oleh siapa pun lagi—bahkan oleh adiknya sendiri. Abimanyu mengecup bibir Elvina dengan lembut, ciuman yang tidak lagi menuntut, melainkan sebuah janji setia bahwa ia akan selalu menjadi benteng bagi wanita yang ia cintai dengan "awur-awuran" itu. Elvina keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun vanilla yang manis dan menyegarkan. Ia mengenakan slip dress rumahan berbahan sutra berwarna champagne yang jatuh pas di lekuk tubuhnya. Rambutnya yang masih sedikit lembap dibiarkan terurai, memberikan kesan cantik yang sangat natural. Abimanyu yang sedang merapikan jam tangannya di depan cermin, mendadak berhenti. Pantulan Elvina di cermin benar-benar merusak fokusnya. "Gue baru mau berangkat, Vin. Jangan bikin gue dapet alasan buat bolos kantor hari ini," gumam Abimanyu dengan suara berat, menatap istrinya lewat cermin. Elvina tersenyum tipis, ia melangkah mendekat dan membantu merapikan kerah kemeja Abimanyu. "Cuma pakai baju rumah biasa, Mas. Kok kamunya yang sensi?" "Baju rumah lo itu lebih berbahaya dari baju pesta, tahu nggak?" Abimanyu membalikkan badan, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Elvina, menariknya hingga tak ada jarak di antara mereka. Abimanyu membelai pipi Elvina, menatap mata istrinya yang kini memancarkan binar pemujaan yang sama dengan miliknya. "Sus Mirna udah di depan. Dia bakal jagain lo, siapin semua kebutuhan lo. Kalau ada apa-apa, sekecil apa pun, langsung telepon gue. Paham?" Elvina mengangguk pelan, jemarinya meremas pelan kemeja suaminya. "Iya, Mas. Tapi... kok tiba-tiba aku ngerasa nggak mau kamu pergi ya?" Hati Abimanyu mencelos. Ini adalah pertama kalinya Elvina menunjukkan ketergantungan yang begitu terang-terangan. Rasa bahagia menyeruak di dadanya, lebih besar daripada saat ia memenangkan tender triliunan rupiah. "Vin... jangan diginiin. Gue bisa beneran kunci pintu dan kita nggak keluar kamar sampai besok kalau lo ngomong gitu lagi," bisik Abimanyu, mengecup kening Elvina lama. Elvina menggandeng lengan kokoh Abimanyu, menuntunnya menuju pintu depan apartemen. Langkah mereka pelan, seolah ingin memperpanjang setiap detik kebersamaan itu. Di depan pintu, Sus Mirna sudah menunggu dengan sopan, namun Abimanyu seolah tidak peduli dengan kehadiran orang lain. Abimanyu berhenti, ia menangkup wajah Elvina dengan kedua tangannya. Tanpa aba-aba, ia memberikan ciuman yang sangat dalam dan penuh keintiman. Bukan ciuman yang terburu-buru, melainkan ciuman yang penuh janji—janji untuk selalu pulang, janji untuk selalu melindungi. "Gue pergi dulu. Jangan kangen-kangen banget," goda Abimanyu setelah melepaskan pagutan mereka, meski sebenarnya dialah yang akan merana merindukan Elvina di kantor nanti. Elvina tersenyum manis, melambaikan tangannya saat Abimanyu melangkah keluar. "Hati-hati, Mas! I love you." Langkah Abimanyu sempat terhenti. Ia menoleh sekilas, memberikan senyum tipis yang mematikan, lalu berjalan menuju lift dengan perasaan yang membuncah. Begitu pintu lift tertutup, ekspresi Abimanyu langsung berubah drastis. Ia merogoh ponselnya, wajahnya kembali dingin dan otoriter. "Nolan, gue udah di jalan. Kirim semua detail transaksi Anya ke email pribadi gue sekarang. Gue mau pelajari pelan-pelan sebelum gue konfrontasi dia," perintah Abimanyu pada sepupunya lewat telepon. Di atas sana, di dalam apartemen, Elvina kembali ke sofa dengan senyuman yang masih membekas. Namun, ia tidak tahu bahwa di balik cinta "awur-awuran" suaminya, ada sebuah perang besar yang sedang disiapkan Abimanyu untuk menghancurkan siapa pun yang telah menyakitinya, termasuk adik kandungnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD