Langkah catur Abimanyu semakin presisi. Di balik dinding rumah Kalandra, drama keluarga memuncak, sementara di gedung pencakar langit, mesin bisnisnya mulai menderu kencang dengan pasukan baru yang loyal.
Abimanyu membanting rekaman suara Gavin ke atas meja marmer ruang tengah. Suara Gavin yang mengakui keterlibatan "seorang wanita Kalandra" bergema di ruangan yang mendadak mencekam itu.
"Apa lagi yang mau lo sangkal, Anya?!" suara Abimanyu menggelegar. "Gue nggak nyangka lo sejahat itu sama Elvina! Lo hampir hancurin hidup istri gue!"
Anya gemetar, wajahnya pucat pasi. Ibu Amelia berlari menengahi, memeluk putri bungsunya yang mulai terisak histeris. "Abi, cukup! Anya lagi hamil, ingat kandungannya!"
"Hamil bukan alasan buat jadi iblis, Mah!" bentak Abimanyu.
Tiba-tiba, Anya bersimpuh di kaki Abimanyu. Ia menangis tersedu-sedu, sebuah akting yang sangat sempurna.
"Mas... maafin Anya. Anya khilaf. Anya cuma sakit hati lihat Mas Reza dipenjara, Anya pikir Elvina penyebabnya. Tapi Anya sadar sekarang, Anya salah. Anya mau tobat, Mas. Anya mau minta maaf langsung sama Elvina, Anya janji bakal baik sama dia."
Ibu Amelia ikut memohon dengan mata berkaca-kaca. Melihat perut Anya yang membuncit dan tangis adiknya yang terdengar tulus, benteng amarah Abimanyu sedikit goyah. Ia menghela napas berat, memijat pangkal hidungnya.
"Sekali ini, Nya. Sekali ini gue maafin lo demi bayi itu. Kalau lo ulangi lagi, gue sendiri yang bakal seret lo ke kantor polisi," ucap Abimanyu dingin sebelum melangkah pergi meninggalkan rumah.
Abimanyu tiba di kantor pusat PT Kalandra Wahyu Perkasa. Aura kepemimpinannya terpancar kuat saat ia melewati lobi. Di ruang kerjanya, Candra sudah menunggu bersama empat pria dengan penampilan sangat profesional dan tatapan yang tajam.
"Pak, ini orang-orang kepercayaan yang saya janjikan," ucap Candra sigap.
Abimanyu menatap mereka satu per satu. Hasan, Rendy, Umar, dan Raga. Empat pilar yang akan mengukuhkan kekuasaannya.
"Rendy, lo jadi Sekretaris Utama di sini, di Kalandra Wahyu. Umar, lo asisten Rendy, pastikan semua memo dan keputusan gue tersampaikan tanpa celah," perintah Abimanyu dengan nada otoriter.
"Siap, Pak!" sahut Rendy dan Umar serempak.
"Hasan, Raga... kalian pegang kendali penuh di PT Abimanyu Perkasa. Laporkan setiap pergerakan sekecil apa pun di sana ke gue setiap sore," lanjut Abimanyu.
Candra tersenyum puas. "Semua sesuai instruksi, Pak. Tim audit sudah membersihkan sisa-sisa 'sampah' peninggalan Reza."
Hanya dalam hitungan minggu, di bawah kepemimpinan Abimanyu dan tim barunya, Kalandra Wahyu Perkasa yang hampir bangkrut mulai meroket. Proyek-proyek besar yang dulu mandek di tangan Reza, kini berhasil direbut kembali.
Di ruangannya, Abimanyu memeriksa laporan keuangan yang meningkat drastis. Efisiensi kerja Rendy dan Umar membuat Abimanyu memiliki lebih banyak waktu untuk memantau pasar.
"Kerja bagus, Candra. Gue suka kecepatan lo," puji Abimanyu sambil menandatangani dokumen ekspansi perusahaan.
Candra membungkuk hormat. "Ini baru awal, Pak. Kalandra Group akan jadi nomor satu di Asia sesuai visi Bapak."
Di tengah kesibukan yang luar biasa itu, ponsel Abimanyu bergetar. Sebuah foto masuk dari Elvina. Foto istrinya yang sedang tersenyum manis mengenakan celemek, menunjukkan hasil masakannya di apartemen.
Seketika, tatapan mata Abimanyu yang tajam berubah melunak. Ia tersenyum tipis, mengetikkan balasan dengan cepat.
> Abimanyu: "Tunggu gue pulang, Sayang. Gue bakal habisin semuanya, termasuk yang masak."
> Abimanyu menyimpan ponselnya, kembali ke mode CEO yang tak tersentuh. Namun di balik itu semua, ia tetap waspada. Ia sudah memaafkan Anya, tapi instingnya sebagai pengusaha tetap menyuruhnya untuk menaruh mata-mata di sekitar adiknya.
Abimanyu melangkah masuk ke dalam apartemennya. Bunyi sensor pintu yang terbuka disambut oleh aroma masakan yang menggugah selera dan keharuman lilac yang menenangkan. Belum sempat ia meletakkan tas kerjanya, sosok Elvina sudah berdiri di hadapannya.
Elvina mengenakan midi dress berwarna soft pink yang memperlihatkan leher jenjangnya. Riasan wajahnya sangat minimalis, namun justru itu yang membuat kecantikan alaminya terpancar sempurna.
"Udah pulang, Mas?" sapa Elvina dengan senyum termanisnya.
Abimanyu terpaku sejenak. Ia menarik napas dalam, seolah ingin menghirup seluruh keberadaan istrinya untuk mengusir penat. Tanpa kata, ia menarik Elvina ke dalam pelukan singkat namun erat.
"Melihat lo dandan kayak gini, rasa capek gue mendadak hilang, Vin," gumam Abimanyu, mengecup kening istrinya.
Elvina menggandeng lengan kokoh Abimanyu menuju kamar utama. Dengan telaten, ia membantu suaminya melepas jas dan dasi yang seharian ini mencekik leher pria itu. Elvina sudah menyiapkan air hangat dan pakaian ganti yang rapi di atas tempat tidur.
"Mandi dulu ya, Mas. Biar seger. Aku tunggu di meja makan," ucap Elvina lembut sambil mengusap pundak Abimanyu.
Abimanyu menahan tangan Elvina, mengecup telapak tangannya dengan penuh perasaan. "Makasih ya, Sayang. Lo bener-bener tahu cara manjain gue."
Beberapa saat kemudian, Abimanyu keluar dengan kaos santai dan celana pendek, tampak jauh lebih rileks. Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan. Cahaya lampu gantung yang temaram menambah kesan intim di antara keduanya.
Elvina mulai menyendokkan nasi dan lauk ke piring Abimanyu. "Ini aku masak ayam betutu kesukaan kamu, Mas. Cobain deh."
Abimanyu menyantap suapan pertama dengan saksama. Matanya terpejam sesaat menikmati bumbu yang meresap sempurna. "Enak banget. Masakan lo selalu punya cara buat bikin gue nggak mau makan di luar lagi."
Elvina tertawa geli, pipinya merona. "Bisa aja gombalnya. Dimakan yang banyak, biar besok semangat lagi kerjanya."
Sepanjang makan malam, mereka berbincang ringan. Abimanyu sesekali menceritakan bagaimana Rendy dan Umar membantunya di kantor, namun ia sengaja tidak membahas soal Anya agar tidak merusak suasana.
Bagi Abimanyu, melihat Elvina yang duduk di depannya, tertawa kecil, dan memperhatikannya dengan penuh cinta, adalah bayaran yang lebih dari cukup untuk semua beban pekerjaan yang ia pikul.
Abimanyu menghentikan makannya sejenak, hanya untuk menatap Elvina.
"Kenapa, Mas? Ada yang kurang?" tanya Elvina bingung.
Abimanyu menggeleng, ia meraih tangan Elvina di atas meja dan menggenggamnya. "Enggak. Gue cuma baru sadar, sejauh apa pun gue lari buat cari kesuksesan, ujung-ujungnya cuma di sini gue ngerasa bener-bener menang. Bareng lo."
Elvina membalas genggaman itu, matanya berkaca-kaca karena bahagia. Di ruangan itu, tidak ada lagi CEO yang dingin atau istri simpanan yang tersakiti. Hanya ada dua orang yang saling jatuh cinta, membangun dunia mereka sendiri di tengah hiruk-pikuk Jakarta.
Abimanyu berjalan beberapa langkah di belakang Elvina sambil menempelkan ponsel di telinganya. "Ya, Candra. Pastikan besok pagi laporan dari Raga sudah masuk. Jangan ada yang terlewat," ucapnya dengan nada dingin dan profesional.
Elvina tersenyum tipis, asyik memilih deretan bumbu dapur dan deterjen. Karena terlalu fokus melihat daftar belanja di ponselnya, ia tidak sadar sudah berjalan cukup jauh dari jangkauan Abimanyu.
BRUK!
Elvina menabrak bahu seorang pria tegap yang sedang berdiri di depan rak minuman.
"Eh, maaf... maaf, saya nggak sengaja," ucap Elvina refleks sambil menunduk sopan.
Pria itu berbalik. Ia memakai kaos polo ketat yang menonjolkan otot lengannya, wajahnya tampan dengan gaya rambut undercut yang rapi. Ia menatap Elvina dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan lapar.
"Santai aja, Cantik," ucap pria itu dengan suara berat yang dibuat-buat. "Tabrakan kayak gini biasanya sih pertanda jodoh."
Elvina merasa risi. "Maaf, permisi," ucapnya dingin dan mencoba menghindar.
Namun, pria itu justru menggeser langkahnya, menghalangi jalan Elvina.
"Buru-buru amat? Kenalin, gue Satya. Sendirian aja? Barang belanjaan lo banyak banget, mau gue bantu bawa sampai ke mobil... atau sampai ke hati lo?"
"Nggak perlu. Tolong minggir," tegas Elvina.
Saat Elvina hendak melangkah pergi, Satya tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Elvina dengan kuat. "Eits, jangan sombong dong. Gue cuma mau kenalan."
"Lepasin! Sakit!" Elvina meringis, mencoba menarik tangannya. Namun, Satya justru semakin mempererat cengkeramannya hingga kulit putih Elvina memerah. "Gue bilang lepasin!"
"Dia bilang lepasin, b******n!"
Suara bariton yang menggelegar itu membuat Satya menoleh. Belum sempat ia bereaksi, sebuah tinju mentah mendarat telak di rahang kirinya.
Bugh!
Satya terpental hingga menabrak rak botol saus yang berjatuhan dan pecah. Abimanyu berdiri di sana dengan mata merah menyala. Ia tidak menunggu Satya bangkit; ia langsung menarik kerah baju pria itu dan melayangkan pukulan kedua ke arah perut.
"Mas Abi, udah! Mas!" teriak Elvina histeris melihat amukan suaminya.
Satya yang tidak terima mencoba membalas, namun Abimanyu yang memang terlatih jauh lebih dominan. Ia memiting lengan Satya dan menghantamkan wajah pria itu ke pinggiran rak. Suasana supermarket menjadi kacau, orang-orang berteriak, dan beberapa botol pecah berserakan.
"Jangan pernah... berani... sentuh istri gue... pakai tangan kotor lo!" desis Abimanyu di sela setiap pukulannya.
Dua orang satpam berlari melerai. Mereka harus mengerahkan tenaga ekstra untuk menarik Abimanyu yang sudah kalap. Keduanya akhirnya digiring ke ruang keamanan (Security Room) di lantai dasar mall tersebut.
Di dalam ruangan yang sempit itu, Satya duduk sambil mengompres wajahnya yang babak belur, sementara Abimanyu berdiri dengan angkuh, merapikan lengan kemejanya yang sedikit berantakan.
"Dia duluan yang mukul saya, Pak! Saya cuma mau kenalan!" protes Satya dengan suara sengau.
"Kenalan dengan cara mencengkeram tangan istri saya sampai merah?" Abimanyu menunjuk pergelangan tangan Elvina yang kini terlihat jelas bekas memar kemerahan.
Tatapan Abimanyu kembali tajam. "Gue bisa tuntut lo atas pasal pelecehan dan perbuatan tidak menyenangkan. Dan gue punya uang yang cukup buat bikin lo membusuk di sel kalau gue mau."
Kepala Keamanan Mall berkeringat dingin saat melihat kartu nama yang diletakkan Abimanyu di meja. Abimanyu Kalandra – CEO Kalandra Group.
"Maaf, Pak Abimanyu... kami akan selesaikan ini secara kekeluargaan atau bagaimana?" tanya petugas itu dengan sangat sopan.
Abimanyu melirik Elvina yang tampak terguncang, lalu kembali menatap Satya yang kini mulai ciut nyalinya setelah tahu siapa yang ia hadapi. "Gue nggak butuh kekeluargaan sama sampah kayak dia. Catat KTP-nya, biar pengacara gue yang urus sisanya besok pagi."
Setelah urusan di ruang keamanan selesai, Abimanyu membawa Elvina keluar menuju parkiran. Ia tidak lagi mempedulikan barang belanjaan yang tertinggal.
Di dalam mobil, Abimanyu menarik tangan Elvina, mengusap lebam merah di pergelangan tangan istrinya dengan sangat lembut, sangat kontras dengan tangan yang baru saja menghajar orang.
"Maafin gue, Vin. Gue lalai jagain lo cuma karena telepon sialan itu," ucap Abimanyu penuh penyesalan.
Elvina menggeleng, ia memeluk lengan Abimanyu. "Nggak apa-apa, Mas. Makasih udah dateng tepat waktu. Tapi tadi kamu serem banget..."
Abimanyu mengecup kening Elvina. "Gue bakal jadi monster buat siapa pun yang berani nyakitin lo, Vin. Itu janji gue."