Sesampainya di apartemen, Abimanyu tidak membiarkan Elvina melakukan apa pun. Ia langsung menuntun istrinya duduk di sofa ruang tengah, sementara ia dengan sigap mengambil kotak P3K. Wajahnya masih terlihat kaku, sisa amarah dari kejadian di mal tadi belum sepenuhnya padam.
Abimanyu berlutut di depan Elvina, sebuah posisi yang menunjukkan betapa tingginya ia menghargai istrinya. Dengan sangat hati-hati, ia meraih tangan Elvina yang memar. Cengkeraman pria asing tadi meninggalkan bekas kemerahan yang sangat kontras di kulit putih Elvina yang halus.
"Mas, beneran aku nggak apa-apa. Ini cuma merah dikit, besok juga hilang," ucap Elvina lembut, mencoba menenangkan suaminya yang tampak sangat merasa bersalah.
Abimanyu tidak menjawab. Ia membuka salep lebam dan mengoleskannya dengan gerakan yang sangat pelan, seolah-olah jika ia menekan sedikit saja, Elvina akan hancur.
"Sedikit pun gue nggak akan biarin kulit lo cacat karena tangan kotor laki-laki tadi, Vin," sahut Abimanyu tanpa mendongak. "Harusnya tadi gue patahin aja tangannya sekalian."
Elvina tersenyum tipis, hatinya menghangat melihat sisi protektif Abimanyu yang luar biasa. Ia menggunakan tangannya yang bebas untuk mengusap rambut hitam suaminya.
"Mas Abi... lihat aku," bisik Elvina.
Abimanyu mendongak, matanya yang tadi tajam kini melunak saat bertemu dengan tatapan teduh Elvina.
"Aku seneng kamu lindungin aku. Tapi jangan terus-terusan ngerasa salah, ya? Kamu udah dateng tepat waktu, dan itu lebih dari cukup buat aku," lanjut Elvina.
Abimanyu menghela napas panjang, ia mencium pergelangan tangan Elvina yang baru saja ia obati. "Gue cuma nggak bisa bayangin kalau tadi gue telat semenit aja. Gue bisa gila kalau ada yang berani bawa lo pergi dari jangkauan gue."
Abimanyu bangkit dari posisi berlututnya dan duduk di samping Elvina, menarik istrinya ke dalam dekapan yang sangat erat.
Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Elvina, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu menjadi candu baginya.
"Mulai besok, lo nggak boleh ke mana-mana sendirian. Kalau gue nggak bisa nemenin, Raga atau Hasan yang bakal kawal lo. Paham?" ucap Abimanyu dengan nada otoriter yang tidak bisa dibantah.
Elvina terkekeh pelan di dalam pelukan Abimanyu. "Iya, Mas Posesif. Apa pun yang bikin kamu tenang, aku nurut."
Rasa trauma Elvina perlahan menguap, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa dalam dekapan Abimanyu. Di sisi lain, Abimanyu merasa perlu memastikan kembali bahwa Elvina adalah miliknya sepenuhnya.
Ia menjauhkan sedikit tubuh Elvina, menatap bibir istrinya dengan intensitas yang mulai berubah arah. Ketegangan yang tadinya penuh amarah, kini berubah menjadi getaran gairah yang matang.
"Tangan lo emang sakit, tapi bibir lo nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Abimanyu dengan suara serak yang menggoda.
Belum sempat Elvina menjawab, Abimanyu sudah mengunci bibir istrinya dengan ciuman yang dalam, sebuah ciuman yang seolah ingin menghapus jejak pria asing tadi dari ingatan Elvina dan menggantinya dengan d******i Abimanyu.
Keputusan Abimanyu untuk melarang Elvina bekerja adalah puncak dari rasa protektifnya yang hampir menyentuh batas obsesi.
Kejadian di mal kemarin benar-benar mengguncang kewarasannya sebagai seorang pria yang merasa gagal menjaga miliknya.
Suasana pagi yang biasanya hangat kini terasa sedikit kaku. Abimanyu duduk dengan setelan jas lengkap, namun matanya menatap tajam ke arah Elvina yang sedang menyiapkan kopi.
"Vin, mulai hari ini... lo nggak usah ke kampus lagi. Gue udah minta Candra urus surat pengunduran diri lo sebagai dosen tetap," ucap Abimanyu tanpa basa-basi.
Tangan Elvina yang memegang teko kopi sempat bergetar. Ia terdiam sesaat, menunduk menatap cangkir di depannya.
"Tapi, Mas... mengajar itu duniaku. Mahasiswa—"
"Dunia lo adalah di sini, di samping gue," potong Abimanyu tegas. Suaranya rendah namun penuh penekanan. "Gue nggak mau kecolongan lagi. Di luar sana terlalu banyak b******n kayak Satya atau Gavin. Gue nggak bisa tenang di kantor kalau mikirin lo ada di luar jangkauan pengawasan gue."
Elvina meletakkan cangkir kopi itu perlahan. Ia tidak membantah dengan emosi, melainkan menatap Abimanyu dengan tatapan sedih yang tulus.
"Mas, aku tahu kamu khawatir. Tapi kalau aku cuma di apartemen seharian... aku pasti bosan. Menunggu kamu pulang berjam-jam sendirian itu rasanya sepi, Mas," bisik Elvina lembut.
Abimanyu bangkit dari kursinya, melangkah mendekat dan berdiri tepat di depan Elvina. Ia menangkup wajah istrinya, memaksa Elvina untuk menatap matanya yang penuh dengan kilat kecemasan dan cinta yang berlebihan.
"Gue mohon, Vin. Kali ini aja... nurut sama gue. Penuhi permintaan suami lo ini. Gue bakal tanggung semua kebutuhan lo, apa pun yang lo mau, tinggal tunjuk. Gue cuma mau lo aman. Gue cuma mau lo ada di rumah pas gue pulang," ucap Abimanyu dengan nada memohon yang jarang ia tunjukkan.
Elvina menatap dalam ke mata suaminya. Ia melihat ketakutan yang nyata di sana, ketakutan kehilangan dirinya. Meskipun hatinya berat harus meninggalkan profesi yang ia cintai, rasa cintanya pada Abimanyu mengalahkan segalanya.
Ia menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya di d**a bidang Abimanyu. "Ya sudah, Mas. Kalau itu memang mau kamu... aku nurut. Aku akan di rumah saja."
Abimanyu memejamkan mata lega, mendekap Elvina seolah-olah istrinya itu akan terbang jika ia lepaskan. "Makasih, Sayang. Makasih sudah mau ngertiin ego gue."
Sebelum berangkat, Abimanyu menyerahkan sebuah kartu kredit hitam (Black Card) dan sebuah kunci mobil baru di atas meja.
"Gue udah minta Sus Mirna buat nemenin lo belanja atau apa pun kalau lo bosen, tapi tetep dalam pengawalan Raga. Di ruang tengah, gue udah minta orang pasang peralatan home theater dan perpustakaan kecil biar lo nggak bosen," jelas Abimanyu, mencoba menebus kebebasan Elvina dengan kemewahan.
Elvina hanya tersenyum tipis, menerima kartu itu tanpa gairah yang besar. Baginya, bukan kemewahan ini yang ia butuhkan, melainkan ketenangan suaminya.
Abimanyu mengecup bibir Elvina dengan sangat lama sebelum melangkah keluar pintu. "Jangan keluar tanpa seizin gue, Vin. Gue bakal telepon lo setiap jam."
Begitu pintu tertutup, Elvina duduk sendirian di sofa yang luas. Apartemen mewah itu kini terasa seperti istana yang indah, namun sekaligus menjadi sangkar emas yang sunyi. Ia tahu, Abimanyu melakukan ini karena cinta, tapi ia juga sadar bahwa hidupnya kini sepenuhnya berada di bawah kendali mutlak sang suami.
Malam itu, saat mereka sedang bersantai di tempat tidur, Elvina memberanikan diri mengutarakan idenya. Ia menjelaskan rencananya dengan sangat matang, tentang manajemen pengajar, kurikulum, hingga sistem belajar online dan offline yang tetap terpantau.
Abimanyu sempat terdiam, jemarinya memainkan rambut Elvina dengan saksama. Ia menimbang-nimbang risiko keamanan istrinya.
"Oke," ucap Abimanyu akhirnya. "Gue bakal siapin ruko di lokasi paling strategis dan aman, atau lo bisa pakai salah satu lantai di gedung cadangan Kalandra. Gue yang bakal pilih sistem keamanannya. Selama lo nggak perlu capek-capek turun ke lapangan setiap hari, gue izinin."
Mata Elvina berbinar. Rencana ini bukan hanya soal uang, tapi soal harga diri dan kreativitasnya yang tetap terjaga.
Tanpa bisa membendung rasa bahagianya, Elvina langsung bangkit dan memeluk leher suaminya erat. Ia mulai memberikan "balasan" yang membuat jantung Abimanyu berdegup kencang.
Cup. Elvina mendaratkan ciuman lembut di kening Abimanyu. "Ini makasih karena Mas sudah jadi suami yang luar biasa baik buat aku."
Cup. Ia beralih mencium pipi kiri Abimanyu. "Ini makasih karena Mas selalu mengkhawatirkan keselamatanku."
Cup. Ciuman mendarat di pipi kanan. "Dan ini makasih karena Mas sudah jadi pelindung yang sangat protektif."
Terakhir, Elvina menatap mata Abimanyu dengan dalam, lalu menempelkan bibirnya di bibir suaminya dalam sebuah ciuman yang panjang dan penuh rasa cinta. "Dan ini... tanda kalau cintaku ke kamu itu sudah semakin ugal-ugalan, Mas."
Elvina melepaskan pagutannya sambil terkekeh jahil. "Aku cinta kamu seluas kebon paman Ahmad!"
Abimanyu sempat terpaku, lalu tawa renyahnya pecah. "Kebon paman Ahmad? Referensi gombalan lo makin nggak jelas, Vin."
Namun, tawanya segera berubah menjadi tatapan yang sangat intens dan gelap.
Abimanyu menarik pinggang Elvina hingga tubuh mereka kembali merapat tanpa celah. Ia membalikkan posisi dengan cepat, kini mengukung Elvina di bawah tubuh tegapnya.
"Gombalan lo dimaafin, tapi tindakan lo barusan itu provokasi, Sayang," bisik Abimanyu dengan suara serak yang sangat maskulin. "Lo nggak bisa lepas setelah bikin gue 'bangun' kayak gini."
Gairah yang semula tenang kini meledak.
Abimanyu mencium Elvina dengan penuh tuntutan, sebuah ciuman yang membara dan menunjukkan d******i mutlaknya.
Tangan besarnya menjelajahi lekuk tubuh Elvina, sementara Elvina hanya bisa mendesah pasrah, menikmati setiap sentuhan suaminya yang selalu berhasil membawanya terbang.
Malam itu, apartemen mewah tersebut kembali menjadi saksi bisu keintiman mereka yang tanpa batas. Di tengah pelampiasan gairah yang meluap, Abimanyu berkali-kali membisikkan janji bahwa ia akan membangunkan "kerajaan" pendidikan impian Elvina seindah mungkin.
Pagi harinya, sebelum berangkat ke kantor, Abimanyu langsung menghubungi Rendy.
"Rendy, cari ruko tiga lantai di area perumahan elit. Cek sistem keamanannya, pasang CCTV yang terkoneksi langsung ke ponsel gue. Istri gue mau buka bimbel. Pastikan semua perizinannya beres dalam minggu ini," perintah Abimanyu sambil mengenakan dasinya.
Elvina yang baru bangun tidur hanya bisa tersenyum melihat bagaimana cepatnya suaminya itu bergerak. Bagi Abimanyu, jika itu untuk kebahagiaan Elvina, maka seluruh dunia pun akan ia gerakkan.