Bisnis bimbel Elvina yang diberi nama "Kalandra Education Center" berkembang pesat. Dengan sentuhan personal Elvina yang cerdas dan hangat, tempat itu menjadi favorit para siswa. Namun, di balik kaca mobil yang terparkir tak jauh dari sana, sepasang mata menatap dengan penuh api cemburu.
Elvina berdiri di depan papan tulis digital, tangannya dengan lincah menuliskan rumus-rumus matematika yang rumit. Para siswa SMA yang hadir tampak terpesona; Elvina tidak hanya cantik, tapi cara bicaranya membuat materi yang paling sulit sekalipun terasa sederhana.
"Jadi, kuncinya bukan dihafal, tapi dipahami logikanya," ucap Elvina dengan senyum lembut yang membuat suasana kelas begitu nyaman.
Setelah kelas usai, Elvina merasa sangat puas. Ia merasa hidup kembali. Ia bangga bisa membantu guru-guru muda yang ia rekrut untuk berkembang bersama. Namun, saat ia keluar dari ruko bimbelnya, sebuah sosok yang sangat ia kenal sudah menunggunya.
Anya berdiri di samping mobilnya, mengenakan baju hamil yang modis. Begitu melihat Elvina, ia langsung memasang wajah ceria, seolah semua kebencian di masa lalu telah menguap.
"Mbak Elvina!" panggil Anya sambil melambaikan tangan.
Elvina sempat tertegun, namun karena hatinya yang tulus dan sudah memaafkan, ia menghampiri Anya. "Anya? Ada apa? Kok ke sini nggak kabar-kabar?"
Anya memegang tangan Elvina dengan hangat. "Aku habis kontrol dokter di dekat sini, terus ingat Mbak El. Aku mau minta maaf lagi soal yang dulu-dulu. Aku kesepian di rumah, Mbak. Mas Abi sibuk terus. Boleh nggak kalau hari ini aku culik Mbak El sebentar buat jalan-jalan ke mall? Kita bonding sebagai adik kakak, ya?"
Elvina menatap Anya dengan rasa iba. Ia melihat perut Anya dan berpikir bahwa mungkin kehamilan memang telah mengubah sifat buruk adik iparnya itu.
"Ya sudah, sebentar ya, aku izin Mas Abi dulu."
"Nggak usah, Mbak! Nanti kalau izin Mas Abi, pasti dia protektif banget dan nggak kasih. Kita kasih kejutan aja, nanti aku yang bilang kalau kita lagi girls time," cegah Anya dengan nada manja yang meyakinkan.
Akhirnya, Elvina luluh. Mereka pun berangkat menuju salah satu mall mewah di Jakarta Pusat.
Sepanjang jalan, Anya sangat manis. Ia bercerita tentang kehamilannya, menanyakan tips-tips pada Elvina, dan tertawa bersama. Elvina benar-benar menganggap Anya sebagai adik kandungnya sendiri sekarang.
Namun, di dalam hati Anya, setiap senyuman Elvina adalah pisau yang mengiris dadanya.
"Tertawalah sekarang, Elvina. Nikmati saat-saat terakhir lo merasa aman. Lo udah rebut perhatian Papah, Mamah, bahkan Mas Abi. Tapi lo bakal ngerasain gimana rasanya kehilangan semuanya dalam sekejap," batin Anya penuh dendam.
Sesampainya di mall, Anya mengajak Elvina ke sebuah butik bayi yang sangat mahal. Ia membiarkan Elvina sibuk memilihkan baju-baju lucu, sementara Anya diam-diam mengirimkan pesan singkat kepada seseorang.
> Pesan Anya: "Target sudah di lokasi. Di butik lantai 2. Lakukan sekarang, pastikan dia terlihat bersalah dan Mas Abi membencinya."
> Anya kembali mendekati Elvina. "Mbak, lucu banget ya bajunya. Eh, Mbak... aku tiba-tiba haus banget. Bisa tolong belikan minum di gerai depan itu nggak? Aku agak pusing kalau jalan ke sana."
Tanpa rasa curiga sedikit pun, Elvina mengangguk. "Oh, iya. Kamu duduk dulu di sini ya, Nya. Biar aku yang belikan."
Begitu Elvina melangkah pergi meninggalkan Anya sendirian di sudut butik, Anya tersenyum sinis. Rencana besar untuk membuat Elvina terlihat seperti orang yang ingin mencelakai kandungannya sudah siap dijalankan.
Elvina berdiri di depan gerai minuman, menggenggam dua gelas jus buah. Senyumnya mengembang saat melihat nama "Mas Abi" di layar ponselnya.
"Halo, Mas? Aku lagi di Mall bareng Anya. Tadi dia jemput ke Bimbel," ucap Elvina lembut.
Di seberang telepon, suara Abimanyu terdengar meninggi, penuh kecemasan.
"Anya? Kenapa dia nggak izin gue dulu? Vin, jangan ke mana-mana. Tunggu di sana, gue sudah di jalan. Perasaan gue nggak enak. Jangan lepas dari pengawasan Raga!"
"Tapi Mas, Raga tadi aku suruh tunggu di parkiran karena Anya bilang ini girls time..."
"Sialan! Tetap di tempat ramai, Vin. Gue sampai dalam sepuluh menit!" klik. Abimanyu mematikan telepon dengan terburu-buru.
Baru saja Elvina memasukkan ponselnya ke dalam tas, sebuah tangan kasar membekap mulutnya dari belakang dengan sapu tangan yang sudah dibasahi cairan kimia berdosis tinggi.
"Mmpfftt—!" Elvina mencoba meronta, namun kesadarannya langsung menguap.
Dunianya menjadi gelap seketika. Tubuhnya lemas dan jatuh ke pelukan pria tersebut.
Pria itu, yang mengenakan masker dan topi, dengan tenang menggendong Elvina. Saat beberapa pengunjung menoleh heran, ia memasang wajah panik yang dibuat-buat.
"Tolong minggir! Istri saya pingsan! Dia punya riwayat jantung, saya harus bawa ke rumah sakit sekarang!" ucapnya dengan suara yang meyakinkan.
Orang-orang memberikan jalan dengan rasa iba, tanpa tahu mereka baru saja membiarkan seorang penculik lewat. Elvina dimasukkan ke dalam mobil van hitam yang sudah menunggu di lobi samping, dan kendaraan itu langsung melesat membelah kemacetan Jakarta.
Sepuluh menit kemudian, Abimanyu tiba dengan napas memburu. Ia berlari menuju gerai minuman, namun yang ia temukan hanyalah dua gelas jus yang sudah mencair di atas meja dan tas tangan Elvina yang tergeletak di lantai.
"ELVINA!!!" teriak Abimanyu, suaranya menggelegar membuat pengunjung mall terdiam ketakutan.
Ia segera menarik kerah baju petugas keamanan di dekat sana. "Mana cewek yang ada di sini tadi?! Mana?!"
Di saat yang sama, Anya muncul dari kejauhan dengan wajah yang disetel dalam mode "bingung". "Mas Abi? Kok di sini?
Elvina mana? Tadi dia bilang cuma mau beli minum sebentar tapi nggak balik-balik..."
Abimanyu menatap Anya dengan tatapan yang bisa membunuh. Ia mencengkeram bahu Anya dengan keras.
"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Elvina karena lo bawa dia ke sini tanpa izin gue, gue nggak akan peduli lo lagi hamil atau nggak, Anya! Gue bakal hancurin hidup lo!"
Abimanyu langsung menghubungi Candra dan tim IT Kalandra Group. "Lacak GPS ponsel Elvina sekarang! Blokir semua pintu keluar area Jakarta Pusat! Candra, hubungi Nolan, minta dia akses CCTV mall jalur lobi samping!"
Wajah Abimanyu pucat pasi, tangannya gemetar menahan amarah dan ketakutan yang luar biasa. Baginya, Elvina adalah nyawanya. Kehilangan Elvina berarti kiamat bagi seorang Abimanyu Kalandra.
Sementara itu, di dalam mobil van yang terus melaju, si penculik melepas maskernya. Ia menatap wajah cantik Elvina yang tak sadarkan diri dengan seringai tipis. Ia merogoh ponselnya.
"Target sudah di tangan. Kita bawa ke gudang tua pelabuhan sesuai perintah. Beritahu bos, hadiahnya sudah siap."
Gudang tua di pinggiran dermaga itu terasa mencekam. Bau karat dan kayu lapuk menyengat udara.
Elvina tersadar dengan kepala yang berdenyut hebat. Ia mendapati dirinya terikat kuat di sebuah kursi kayu. Di hadapannya, berdiri seorang pria dengan wajah yang sangat mirip dengan Reza, namun sorot matanya jauh lebih liar dan penuh kebencian.
"Sudah bangun, Istri Simpanan?" sapa pria itu dingin.
"Siapa kamu? Apa mau kamu?!" teriak Elvina gemetar.
"Aku Andika Mahardika. Adik kandung Reza, pria yang hidupnya lo hancurkan sampai masuk penjara. Karena lo, kakak gue mendekam di sana, dan keluarga gue kehilangan segalanya," desis Andika. Ia mendekat, membelai pipi Elvina dengan kasar.
"Gue penasaran, apa yang bikin Mas Reza dan Abimanyu sampai gila karena lo. Kayaknya gue harus mencicipi dulu seberapa hebatnya lo."
Tanpa mempedulikan teriakan Elvina, Andika memutus tali pengikatnya dan menggendong Elvina secara paksa. Ia membawa Elvina ke sebuah kamar kecil di pojok gudang dan menghempaskannya ke atas ranjang usang yang berdebu.
****
Elvina mencoba merangkak mundur, namun Andika dengan cepat menyeret pergelangan kakinya.
Pria itu mengukung tubuh Elvina, menulikan telinganya dari tangisan dan perlawanan Elvina. Ciuman dan sentuhan kasar mulai mendarat di tubuh Elvina, membuat wanita itu merasa jijik luar biasa.
Saat Andika dengan liar merobek pakaian atas Elvina, gairahnya semakin memuncak. Elvina merasa dunianya runtuh, namun insting bertahannya bangkit. Di saat Andika lengah karena nafsu yang menguasai kepalanya, Elvina mengumpulkan seluruh tenaga di kakinya dan...
BUGH!
Tendangan telak mendarat di kemaluan Andika. Pria itu mengerang kesakitan dan tersungkur ke lantai.
Dengan tangan gemetar, Elvina segera menyambar kemeja milik Andika yang tersampir di sana, memakainya dengan terburu-buru, dan lari keluar kamar.
Di ruang tengah, matanya menangkap sebuah gunting tajam di atas meja kayu. Ia segera menggenggamnya erat sebagai senjata terakhir.
Andika muncul dari kamar dengan wajah merah padam karena amarah. "Sialan! Lo nggak akan bisa lari!"
"Jangan mendekat! Kalau kamu maju satu langkah lagi, aku lebih baik mati daripada harus ternoda oleh kamu!" teriak Elvina histeris, mengarahkan ujung gunting itu ke perutnya sendiri.
Andika tertawa meremehkan. "Coba saja kalau berani!"
Saat Andika menerjang maju untuk merebut gunting itu, Elvina gelap mata. Ia mengayunkan guntingnya, namun Andika berhasil menangkap pergelangan tangannya. Dalam pergulatan itu, mata gunting yang tajam justru menyayat lengan Andika dengan cukup dalam.
"AAAKKKH!" Andika mengerang kesakitan melihat darah segar mengucur dari lengannya.
Memanfaatkan momen itu, Elvina berlari menuju pintu belakang gudang. Ia menerobos kegelapan, menuju pagar beton yang mengelilingi area tersebut. Dengan susah payah, ia memanjat pagar kawat berduri.
"Aakh!" kakinya tergores kawat tajam, menyisakan luka robek yang perih. Saat mendarat di tanah, pergelangan kakinya terkilir, namun ia terus merangkak dan mencoba berlari menuju jalan raya.
Di belakangnya, suasana gudang menjadi ricuh. Anak buah Andika berlarian keluar.
Sebagian memberikan pertolongan pada bos mereka yang bersimbah darah, sementara sebagian lagi berteriak penuh ancaman.
"Kejar cewek itu! Jangan biarkan dia sampai ke jalan raya! Tangkap!"
Elvina terus berlari di tengah semak-semak, air matanya bercampur dengan peluh dan darah. Di kejauhan, ia melihat sorot lampu mobil yang bergerak cepat menuju arahnya.