Malam Berdarah Keluarga Kalandra

1472 Words
Ketegangan malam itu mencapai puncaknya di bawah langit yang mendung. Elvina, dengan tubuh gemetar dan kaki yang terluka, meringkuk di balik meja kayu tua sebuah warung kosong yang sudah lama ditinggalkan. Napasnya tersengal, dadanya sesak oleh rasa takut yang luar biasa. Abimanyu menerjang masuk ke dalam gudang tua dengan pistol di tangan, namun yang ia temukan hanyalah kesunyian yang menyiksa. Matanya tertuju pada lantai; ada robekan kemeja Elvina, tas tangannya yang terinjak, dan genangan darah yang masih segar. "Vin... Elvina!" teriak Abimanyu dengan suara pecah. Pikirannya kalut, ia mengira darah di lantai itu adalah darah istrinya. "Candra! Kerahkan semua orang! Sisir radius satu kilometer dari sini! Siapa pun yang membawa istri gue, bawa kepalanya ke hadapan gue!" Andika Mahardika ternyata sudah melarikan diri lewat jalur tikus tak lama setelah lengannya terluka. Ia tahu, menghadapi amukan Abimanyu Kalandra secara langsung sama saja dengan bunuh diri. Di warung tua yang gelap, Elvina mendengar deru langkah kaki yang mendekat. Ia tidak tahu apakah itu teman atau lawan. Dalam kegelapan, ia melihat siluet pria tinggi besar bergerak menuju arah persembunyiannya. "Jangan biarkan mereka menyentuhku lagi," batin Elvina bertekad. Ia meraih sebuah batu besar yang tergeletak di pojok warung. Tangannya gemetar, namun adrenalin membuatnya kuat. Saat siluet pria itu masuk ke dalam warung dan membelakanginya untuk memeriksa sudut ruangan, Elvina keluar dari persembunyiannya. Dengan teriakan parau, Elvina menghujamkan batu besar itu tepat ke arah kepala pria tersebut. PLAK! Pria itu tersungkur. Elvina bersiap untuk memukul lagi, namun saat cahaya lampu senter dari luar masuk ke dalam warung, ia melihat wajah pria yang baru saja ia hantam. "Mas... Mas Abi?" suara Elvina bergetar hebat. Batu di tangannya terjatuh begitu saja. Abimanyu berlutut, darah segar mulai mengalir dari pelipisnya, membasahi kemeja putihnya. Meski menahan sakit yang luar biasa, Abimanyu memaksakan sebuah senyum tipis saat melihat wajah istrinya. Ia lega, Elvina masih hidup. "Vin... akhirnya... gue nemuin lo..." bisik Abimanyu lemah. "Mas, maaf! Aku nggak tahu kalau itu kamu! Mas Abi, bangun!" Elvina menghambur ke pelukan Abimanyu, menangis histeris sambil mencoba menahan perdarahan di kepala suaminya dengan tangan kosong. Abimanyu sempat menyentuh pipi Elvina, memastikan istrinya nyata, sebelum akhirnya matanya terpejam dan tubuhnya lunglai tak sadarkan diri dalam dekapan Elvina. "MAS ABIII!!! BANGUN!!! TOLOOONGG!" teriak Elvina yang menggema di kesunyian malam. Candra dan beberapa anak buahnya segera masuk ke dalam warung. Mereka terkejut melihat bos mereka sudah bersimbah darah di pelukan istrinya. Candra dengan sigap langsung menggendong tubuh Abimanyu menuju mobil. "Bu Elvina, ikut kami sekarang! Kita ke rumah sakit terdekat!" seru Candra. Di dalam mobil, Elvina terus mendekap kepala Abimanyu di pangkuannya. Ia menangis tanpa henti, merutuki dirinya sendiri karena telah melukai pria yang datang untuk menyelamatkannya. Sementara itu, mobil melaju kencang dengan sirene yang membelah malam, menuju Unit Gawat Darurat. Sampai di rumah sakit, Abimanyu langsung dilarikan ke ruang tindakan. Elvina berdiri di depan pintu dengan baju yang masih berlumuran darah, darah Andika, darahnya sendiri karena luka di kaki, dan darah suaminya. Nolan, sang sepupu yang mendapat kabar, segera tiba di lokasi. Ia melihat Elvina yang hancur dan Abimanyu yang sedang berjuang di dalam. "Tenang, Vin. Abi itu kuat," ucap Nolan mencoba menenangkan. Elvina menoleh dengan mata sembab yang kini memancarkan kebencian mendalam. "Cari mereka, Nolan. Cari Andika Mahardika. Aku mau dia merasakan sakit yang lebih hebat dari apa yang Mas Abi rasakan sekarang." Operasi berjalan dengan penuh ketegangan. Di luar ruang bedah, Elvina duduk bersimpuh di lantai koridor, mengabaikan luka di kakinya sendiri yang baru saja diobati oleh perawat. Fokusnya hanya satu: pintu dengan lampu merah yang menandakan suaminya sedang berjuang di dalam. Setelah dua jam yang terasa seperti selamanya, lampu ruang operasi akhirnya padam. Dokter keluar dengan wajah lelah namun memberikan anggukan kecil pada Elvina. "Benturannya cukup keras dan menyebabkan gegar otak ringan, tapi beruntung tidak ada pendarahan dalam yang fatal. Pak Abimanyu sudah melewati masa kritis. Sekarang beliau dipindahkan ke ruang pemulihan," jelas dokter. Elvina terduduk lemas, tangis syukurnya pecah. Ia segera menuju ruang rawat inap VIP, menolak untuk beristirahat sampai ia melihat mata suaminya terbuka. *** Di sisi lain kota, di sebuah rumah tua tersembunyi di kawasan hutan kota, Candra dan Nolan berdiri di depan gerbang kayu yang kokoh. Mereka tidak datang dengan tangan kosong; puluhan anak buah Abimanyu Perkasa sudah mengepung lokasi tersebut. "Andika pikir dia bisa main petak umpet sama keluarga Kalandra?" Nolan merapikan sarung tangan hitamnya. "Candra, pastikan tidak ada lubang tikus yang terbuka. Gue mau b******n itu diseret keluar hidup-hidup." "Siap, Pak Nolan. Tim sudah di posisi," jawab Candra dengan nada dingin yang mematikan. Tanpa peringatan, mereka mendobrak masuk. Suara baku hantam pecah di dalam rumah tersebut. Andika, yang lengannya masih dibebat perban kasar, mencoba kabur lewat jendela belakang, namun ia langsung disambut oleh moncong senjata Raga. "Mau ke mana, Andika? Pesta baru saja dimulai," bisik Raga sinis. *** Pagi harinya, cahaya matahari mulai masuk ke celah gorden rumah sakit. Abimanyu menggerakkan jemarinya perlahan. Rasa pening yang hebat menghantam kepalanya, namun hal pertama yang ia rasakan adalah genggaman hangat di tangan kirinya. Ia membuka matanya dengan susah payah. Hal pertama yang ia lihat adalah Elvina yang tertidur dengan posisi duduk di samping ranjangnya, wajahnya masih menyisakan bekas air mata yang mengering. "Vin..." suara Abimanyu terdengar serak dan sangat lemah. Elvina tersentak bangun. Begitu melihat mata Abimanyu terbuka, ia langsung berdiri dengan wajah berbinar. "Mas! Mas Abi... kamu sudah sadar? Tunggu, aku panggil dokter—" Abimanyu menahan tangan Elvina, tenaganya masih lemah tapi genggamannya posesif. "Enggak usah... sini aja." Abimanyu menatap perban di kaki Elvina dan memar di lengannya. Bukannya mengeluh soal kepalanya yang baru saja dioperasi, kalimat pertamanya justru menunjukkan prioritas hidupnya. "Lo... nggak apa-apa? b******n itu... nggak sempet macem-macem kan?" tanya Abimanyu dengan tatapan khawatir yang mendalam. Elvina menangis lagi, kali ini karena rasa haru. "Aku nggak apa-apa, Mas. Justru aku yang minta maaf... aku yang bikin kepala kamu kayak gini. Aku bodoh banget nggak ngenalin kamu." Abimanyu tersenyum tipis, meski bibirnya masih pucat. Ia menarik tangan Elvina dan mencium punggung tangannya lama. "Gue malah bangga. Istri gue ternyata jago berantem. Batu itu... keras juga ya." Elvina tertawa di sela isakannya, menyandarkan kepalanya di bahu Abimanyu dengan hati-hati. "Jangan bercanda, Mas. Aku takut banget kehilangan kamu." Pelarian Andika yang licin menambah daftar hitam yang harus diselesaikan oleh keluarga Kalandra. Namun, di balik dinding rumah sakit yang sunyi, waktu seakan berhenti bagi sepasang suami istri yang baru saja melewati maut ini. Di luar kediaman rahasia Mahardika, debu aspal masih berterbangan. Candra memukul kap mobil dengan keras, rahangnya mengeras karena kesal melihat sebuah mobil melesat hilang di kegelapan hutan kota. "Sial! Dia pakai jalur bawah tanah yang nggak ada di peta!" geram Candra. Nolan yang berdiri di sampingnya tampak lebih tenang, meski matanya berkilat tajam. Ia merapikan jam tangannya dengan gerakan perlahan. "Tenang, Candra. Dia cuma memperpanjang napasnya beberapa jam lagi. Gue sudah minta tim siber buat blokir semua akses rekening dan paspornya. Mau dia sembunyi di lubang semut pun, asalkan dia masih butuh makan, dia bakal keluar." "Gue nggak enak sama Pak Abi, Nolan. Ini keteledoran gue," sahut Candra rendah. "Abi nggak akan marah kalau dia tahu istrinya aman. Fokus kita sekarang, temukan Andika sebelum dia sempat menghubungi sisa-sisa kelompoknya," perintah Nolan tegas. Sementara itu, di kamar 701 yang sangat privat, suasana terasa begitu damai. Bau obat-obatan seolah kalah oleh aroma vanilla dari rambut Elvina yang kini menyandar nyaman di d**a Abimanyu. Meski kepalanya masih dibalut perban dan tangan kirinya terpasang infus, Abimanyu memaksa Elvina untuk naik ke atas brankar bersamanya. Ia tidak peduli jika ranjang rumah sakit itu terasa sempit, yang ia butuhkan hanyalah merasakan detak jantung istrinya. "Mas... nanti susternya masuk, malu," bisik Elvina lirih saat tadi Abimanyu menariknya naik. "Biarin. Istri sendiri ini," jawab Abimanyu pendek sambil mengeratkan pelukannya. Hanya butuh beberapa menit sampai akhirnya napas Elvina menjadi teratur dan berat. Kelelahan fisik karena penculikan, rasa sakit di kakinya yang terluka, serta tekanan mental yang luar biasa membuat Elvina langsung terlelap begitu merasakan kehangatan tubuh suaminya. Abimanyu menatap wajah tidur Elvina dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara cinta yang memuncak dan kemarahan yang tertahan. Ia sesekali mengecup puncak kepala Elvina dengan sangat lembut, seolah-olah istrinya adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja. Dalam tidurnya, Elvina merapatkan tubuhnya, mencari posisi paling nyaman di pelukan Abimanyu. Di sinilah, di antara dekapan lengan kokoh suaminya, Elvina merasa benar-benar aman. Tidak ada Andika, tidak ada gunting, dan tidak ada ketakutan. Abimanyu tetap terjaga, meski rasa pening akibat operasi masih menyerangnya. Ia mengusap punggung Elvina dengan tangan kanannya yang bebas. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan lampu-lampu kota Jakarta. "Tidur yang nyenyak, Sayang. Gue nggak akan biarin satu orang pun nyentuh lo lagi. Siapa pun yang bikin lo nangis semalam, mereka bakal berharap nggak pernah dilahirkan ke dunia ini," sumpah Abimanyu dalam hati. Abimanyu memejamkan matanya sejenak, ikut terhanyut dalam ketenangan itu, namun otaknya tetap bekerja mengatur strategi untuk menghancurkan keluarga Mahardika hingga ke akar-akarnya tanpa sisa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD