Pengkhianatan Anya di Balik Luka Elvina

1639 Words
Kedatangan keluarga besar Kalandra ke ruang VVIP membuat suasana yang tadinya tenang menjadi penuh ketegangan tersembunyi. Pak Wahyu dan Mama Amelia tampak sangat terpukul melihat putra kebanggaan mereka terbaring dengan kepala diperban, sementara Elvina duduk di sampingnya dengan luka-luka di sekujur tubuh. Mama Amelia langsung menghambur memeluk Elvina, air matanya jatuh melihat menantunya yang malang. "Ya Tuhan, Elvina... maafkan Mama, Sayang. Mama nggak nyangka keluarga Mahardika sejahat itu. Kamu pasti takut banget kemarin." Pak Wahyu berdiri di ujung brankar, menatap Abimanyu dengan tatapan bangga sekaligus prihatin. "Kamu sudah melakukan hal yang benar, Abi. Melindungi istri adalah tugas laki-laki Kalandra. Papa sudah minta tim hukum kita untuk tidak memberi celah sedikit pun bagi Andika." Abimanyu hanya mengangguk kaku. Matanya tidak lepas dari sosok yang berdiri sedikit di belakang: Anya. Anya melangkah mendekat dengan wajah yang disetel dalam mode "berduka". Ia memegang perut buncitnya seolah-olah guncangan berita ini memengaruhi janinnya. "Mbak El... aku bener-bener nggak nyangka," ucap Anya dengan suara bergetar yang dibuat-buat. "Padahal kemarin kita baru aja mau seneng-seneng di mall. Aku ngerasa bersalah banget udah ajak Mbak keluar. Ternyata Andika itu iblis! Kok tega banget dia lakuin itu sama Mbak?" Elvina, dengan kebaikan hatinya yang tak terbatas, hanya tersenyum tipis dan membalas genggaman tangan Anya. "Nggak apa-apa, Nya. Ini bukan salah kamu. Yang penting sekarang Mas Abi sudah sadar." Abimanyu yang sejak tadi diam, tiba-tiba bersuara. Suaranya rendah, serak, namun memiliki daya tekan yang membuat ruangan itu mendadak sunyi. "Nolan dan Candra sudah mengantongi beberapa bukti baru," ucap Abimanyu sambil menatap Anya lurus-lurus. "Andika nggak mungkin tahu posisi Elvina di gerai minuman itu kalau nggak ada yang 'buka pintu' atau kasih informasi dari dalam." Anya tersentak, jari-jarinya meremas pinggiran tasnya dengan kuat. "Gue bersumpah," lanjut Abimanyu dengan kilat mata yang mematikan, "siapa pun yang terlibat, mau itu orang jauh atau orang yang punya hubungan darah sekalipun... gue sendiri yang bakal seret dia ke penjara. Gue nggak akan kenal kata ampun buat pengkhianat yang berani kasih Elvina ke tangan penjahat." Mendengar kata "pengkhianat" dan "hubungan darah", wajah Anya langsung pucat pasi. Ia merasa seolah-olah oksigen di ruangan itu hilang. Ia segera menunduk, pura-pura merasa mual untuk menutupi kepanikannya. "M-mas Abi bener... mereka harus dihukum," sahut Anya terbata-bata. Mama Amelia yang tidak menyadari ketegangan itu segera mengelus punggung Anya. "Sudah, Anya, kamu jangan terlalu stres, ingat kandunganmu. Abi, jangan bicara soal hukum dulu, fokus sembuh." Abimanyu tidak menjawab. Ia meraih tangan Elvina dan menggenggamnya sangat erat di atas brankar, seolah sedang mengirimkan pesan pada siapa pun di ruangan itu bahwa Elvina adalah garis merah yang tidak boleh dilangkahi lagi. Setelah beberapa saat, Pak Wahyu mengajak Mama Amelia dan Anya untuk keluar agar Abimanyu bisa beristirahat. Saat berjalan di koridor, Anya tertinggal beberapa langkah di belakang orang tuanya. Ia merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, menghapus semua riwayat pesan singkat yang tersisa. "Gue harus hilangin jejak. Kalau Andika tertangkap dan dia buka mulut... Mas Abi beneran bakal bunuh gue," batin Anya dalam ketakutan yang amat sangat. Rencana Anya untuk menghapus jejak justru menjadi bumerang yang akan menjerat lehernya sendiri. Di balik ketenangan rumah sakit, sebuah jaring laba-laba hukum yang dipasang oleh Nolan mulai menyempit. Setelah berpamitan dengan Mama Amelia di lobi, Anya beralasan ingin ke toilet sebentar. Di dalam bilik yang tertutup, napasnya memburu. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Dengan tangan gemetar, ia membuka sebuah aplikasi pesan tersembunyi dan menghubungi seseorang yang ia kenal sebagai "Pembersih". > Anya: "Hapus semua log percakapan gue dengan nomor Andika semalam. Jangan sisakan satu bit pun di server. Gue bayar dua kali lipat!" > Ia menunggu balasan dengan jantung yang berdegup kencang, tidak menyadari bahwa setiap ketikan jarinya sedang dipantau secara real-time. Dua lantai di bawah kamar VVIP Abimanyu, di dalam sebuah mobil van hitam yang terparkir di sudut basement, Nolan duduk di depan deretan layar monitor bersama seorang ahli IT dari Kalandra Group. Ting. Sebuah notifikasi muncul di layar besar. "Dia baru saja menghubungi hacker, Pak Nolan. Pesannya sudah masuk ke sistem kita sebelum sempat dia enkripsi," lapor sang teknisi. Nolan menyandarkan punggungnya, sebuah senyum sinis tersungging di wajahnya yang tampan. "Bodoh. Dia pikir teknologi bisa menyelamatkannya dari kejahatan yang sudah terencana. Biarkan dia merasa aman sejenak. Jangan blokir pesannya, biarkan si 'Pembersih' itu membalas." Nolan kemudian menyesap kopinya dengan tenang. "Gue mau lihat seberapa jauh adik kesayangan Abi ini berani melangkah untuk menutupi boroknya." Anya keluar dari toilet dengan perasaan sedikit lega setelah si hacker menyanggupi permintaannya. Namun, saat ia berjalan menuju parkiran, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk. > Nomor Tak Dikenal: "Andika tertangkap di perbatasan. Dia sebut nama Anda dalam interogasi awal. Temui saya di Cafe seberang RS kalau mau rekaman aslinya dihapus. - S" > Wajah Anya mendadak pucat pasi, hampir saja ia jatuh tersungkur jika tidak berpegangan pada pilar. "Andika tertangkap? Nggak mungkin! Siapa 'S' ini?" pikirnya panik. Tanpa berpikir panjang, rasa takutnya mengalahkan logika. Ia segera memacu mobilnya menuju kafe yang dimaksud. Di atas, Abimanyu sedang disuapi buah potong oleh Elvina. Meski suasana tampak mesra, mata Abimanyu sesekali melirik jam dinding. Ia tahu Nolan sedang bekerja. "Mas... kok bengong terus?" tanya Elvina lembut sambil menyodorkan sepotong apel. Abimanyu kembali fokus pada istrinya, mengelus kepalanya dengan penuh kasih. "Enggak, Vin. Gue cuma lagi mikir, nanti kalau lo udah sembuh, gue mau ajak lo liburan jauh. Ke tempat yang nggak ada orang jahatnya." Elvina tersenyum manis, tidak tahu bahwa di balik kelembutan itu, Abimanyu sedang menunggu kabar dari Nolan tentang "eksekusi" adiknya sendiri. Anya tiba di kafe dengan kacamata hitam besar untuk menutupi wajahnya. Ia mencari sosok "S". Namun, yang ia temukan duduk di sudut ruangan yang sepi bukanlah informan gelap, melainkan Nolan Kalandra yang sedang membaca koran digital. "Duduk, Nya. Kamu kelihatan pucat banget, mau pesan minum yang segar?" tanya Nolan dengan nada yang sangat santai, namun matanya menatap tajam seperti elang. Anya mematung. "K-kak Nolan? Ngapain di sini? Dan... pesan itu..." Nolan meletakkan ponselnya di meja, memperlihatkan rekaman percakapan Anya dengan sang hacker beberapa menit yang lalu. "Pesan itu dari saya. Dan rekaman ini... sudah cukup buat bikin kamu kehilangan hak asuh anak yang ada di kandungan itu kalau Abi tahu." Anya terduduk lemas, dunianya benar-benar runtuh. "Kak... tolong... aku cuma khilaf..." "Khilaf itu sekali, Anya. Kalau berkali-kali itu namanya rencana pembunuhan," desis Nolan dingin. "Sekarang, pilihannya cuma dua: Kamu jujur semuanya ke Abi sekarang, atau saya yang kasih bukti ini ke polisi saat ini juga." Suasana di ruang VVIP mendadak menjadi medan perang emosional yang mencekam. Kebenaran yang terungkap seperti bom waktu yang meledak tepat di wajah Abimanyu. Mama Amelia masuk ke ruangan dengan langkah berat, diikuti Anya yang menunduk dalam dengan bahu yang bergetar. Abimanyu yang sedang bersandar di bantal langsung merasakan firasat buruk. "Abi..." suara Mama Amelia bergetar. "Mama mau jujur. Anya... dia yang kasih tahu posisi Elvina kemarin ke orang-orang itu. Dia khilaf, Bi. Dia iri sama Elvina." Hening. Mata Abimanyu melebar, pupilnya mengecil menahan amarah yang luar biasa. Ia menoleh ke arah Anya yang kini bersimpuh di lantai. Darah Abimanyu mendidih. Tanpa mempedulikan selang infus di tangannya yang hampir tercabut, Abimanyu turun dari brankar dengan langkah goyah namun penuh intimidasi. Abimanyu berdiri di depan Anya yang duduk bersandar di sofa. Wajahnya merah padam, urat lehernya menonjol. PLAK! Satu tamparan mendarat di pipi Anya. Bukan karena Abimanyu ringan tangan, tapi karena rasa dikhianati oleh darah daging sendiri jauh lebih sakit daripada luka di kepalanya. "LO BINATANG, ANYA! LO MAU BUNUH ISTRI GUE?! DIA ADIK IPAR LO!" teriak Abimanyu menggelegar. Anya menjerit histeris, ia merangkak memeluk kaki Abimanyu. "Mas... maafin Anya! Anya iri, Anya ngerasa Mas lebih sayang Elvina daripada aku! Mas... tolong, demi bayi ini... jangan lapor polisi! Aku nggak mau anakku lahir di penjara, Mas!" "Gue nggak peduli!" desis Abimanyu dingin. Ia merogoh ponselnya untuk menelepon Nolan. "Orang kayak lo harus dibusukkan di sel biar lo tahu rasa sakitnya Elvina kemarin!" Saat Abimanyu hendak menekan tombol panggil, sebuah tangan yang lembut namun tegas menahan pergelangan tangannya. Elvina, dengan kaki yang masih dibalut perban, berdiri di samping suaminya. "Mas... sudah," ucap Elvina lirih. "Jangan ikut campur, Vin! Dia hampir bikin lo mati!" bentak Abimanyu, namun matanya melunak saat melihat wajah istrinya. Elvina menggeleng pelan, air matanya menetes. Ia menatap Anya yang sedang menangis tersedu-sedu di lantai. "Mas, dia adik kandung kamu. Darah kamu mengalir di tubuh dia. Dan lihat perutnya... anak itu nggak berdosa. Apa kamu tega keponakan kamu tumbuh di balik jeruji?" Elvina berlutut di samping Anya, memegang bahu adik iparnya itu. "Aku sudah maafkan Anya, Mas. Kalau aku yang jadi korban saja bisa memaafkan, kenapa kamu nggak bisa?" Abimanyu terdiam. Napasnya masih memburu, namun melihat kebaikan hati Elvina yang begitu murni, bahkan kepada orang yang mencelakainya, membuat pertahanan kemarahan Abimanyu runtuh. Ia menjatuhkan ponselnya ke sofa, lalu menarik Elvina ke dalam pelukannya yang sangat erat. "Lo terlalu baik, Vin... terlalu baik buat dunia yang busuk ini," bisik Abimanyu dengan suara serak. Abimanyu menatap Anya yang masih ketakutan. "Dengerin gue, Anya. Gue maafin lo hari ini cuma karena Elvina. SATU KALI LAGI... gue nggak akan lihat lo hamil atau nggak. Gue sendiri yang bakal antar lo ke kuburan kalau perlu. Pergi dari sini!" Anya menangis semakin keras, ia bangkit dan langsung memeluk Elvina dengan erat. Rasa bersalah yang nyata mulai merayap di hatinya. Kelembutan Elvina justru terasa lebih tajam menyayat hati Anya daripada tamparan Abimanyu tadi. "Mbak El... maafin aku... makasih banyak, Mbak. Aku janji, aku janji bakal jaga Mbak seumur hidupku," ucap Anya terisak-isak. Mama Amelia mengembuskan napas lega yang panjang, memeluk kedua menantu dan anaknya itu. Sementara di sudut ruangan, Abimanyu kembali duduk di brankar, menatap mereka dengan tatapan waspada. Ia sudah memaafkan, tapi mulai sekarang, ia akan memasang mata-mata di setiap langkah Anya untuk memastikan istrinya benar-benar aman. Beberapa hari kemudian, Abimanyu dan Elvina diperbolehkan pulang. Abimanyu memutuskan untuk membawa Elvina berlibur ke sebuah pulau pribadi untuk memulihkan trauma mereka, namun tanpa mereka sadari, Andika Mahardika masih memantau dari kejauhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD