HARI ini, Alka akan kembali ke indekos. Tentu, bersama dengan Alden dan Delma.
“Kalian hati-hati, ya,” pesan Agatha pada tiga anak muda yang terlihat sudah siap pergi.
“Siap, Ma!” sahut Alka. Gadis itu berjalan mendekati Agatha, menyalami tangan wanita itu. “Alka pergi, ya, Ma.”
“Iya. Baik-baik di sana. Jaga kesehatan. Hati-hati apa pun keadaannya, ya.”
“Iya.”
“Jangan lupa, kalo udah sampe, kabarin mama atau papa atau adek kamu. Jangan lupa kayak kemarin, ngerti?”
“Iya, Mamaku tersayang.” Setelah mengatakan hal tersebut, Alka memberi kecupan ringan di pipi kanan mamanya.
“Tumben cium pipi mama,” sindir Agatha.
Alka tersenyum lebar dan mendekatkan bibirnya ke telinga Agatha, lalu berkata, “Soalnya lagi seneng.”
Agatha tersenyum geli mendengar perkataan putrinya. “Mentang-mentang udah dikasih restu.”
Alka hanya tersenyum.
Alden dan Delma lantas bergantian menyalami tangan Agatha, sopan. Sama seperti Alka, Agatha juga menitipkan pesan untuk dua laki-laki tersebut.
“Delma, jagain Alka, ya. Kalo Alka nakal, jitak aja kepalanya biar sadar.”
Delma terkekeh pelan. “Iya, Tante.”
“Terus ...,” Agatha beralih menatap Alden, pacar dari putrinya, “Alden? Kamu juga jagain Alka, ya.”
Perkataan Agatha tersebut sedikit mengejutkan Delma. Laki-laki itu termenung. Alden mendapat tugas juga untuk menjaga Alka? Itu artinya ... Delma berbagi tugas dengan laki-laki itu? Jujur, Delma kurang suka ada yang merebut tugasnya. Ya ... walaupun sebenarnya itu adalah hal sepele.
“Jangan buat dia sedih. Inget apa yang udah pernah kamu janjiin ke dia. Okay?”
Sebenarnya, Alden tidak terlalu paham mengapa Agatha berpesan seperti itu. Namun, ia tetap mengangguk. “Iya, Tante. Alden akan jaga Alka baik-baik dan enggak akan ngecewain dia.”
“Bagus kalo gitu. Kamu ngomong kayak gitu janjinya bukan sama Alka aja, lho, ya. Tapi, sama diri kamu sendiri, saya—selaku orang tua Alka, juga sama Tuhan. Jadi, jangan main-main sama omongan dan jangan main-main sama janji. Paham?”
Alden mengangguk yakin. “Siap, Tante!”
Alka berdeham, menginterupsi. “Mama udah, 'kan, ngobrolnya?”
“Udah.”
“Ya udah. Kita berangkat sekarang, ya. Dah, Mama!” pamit Alka sembari melambaikan tangan pada Agatha.
Agatha membalas dengan hal serupa. Ia melambaikan tangan dengan tatapan mengekori kepergian putri sulungnya. Wanita itu menyelipkan doa dalam hati agar putrinya baik-baik saja. Ia juga berharap jika keputusannya menyalakan lampu hijau untuk hubungan Alka dan Alden tidak salah.
Semoga saja.
Alka berjalan diapit oleh sahabat dan juga pacar. Ia merasa seperti sedang dikawal. Ia juga merasa menjadi seseorang yang diistimewakan.
Sepanjang perjalanan, Alka 'tak henti-hentinya tersenyum. Gadis itu melangkah dengan wajah berseri. Ia tidak sadar jika ada yang diam-diam memperhatikannya.
“Kamu kenapa, Alk? Kok, kayaknya dari tadi senyum-senyum mulu, kayak orang lagi seneng.”
Alka tersentak dan segera menoleh ke arah Alden. Gadis itu kian melebarkan senyum. Ia mengangguk penuh semangat kemudian. “Iya, aku lagi seneng.”
Kedua alis Alden terangkat, antusias mendengar pernyataan pacarnya itu. “Wah, seneng kenapa nih?”
Alka tersenyum malu-malu. Ia kembali merasakan hangat yang menjalar di kedua pipi. “Aku seneng karenaaa ....” Sengaja Alka memanjangkan perkataannya agar Alden penasaran.
Delma memperhatikan dalam diam. Laki-laki itu berusaha untuk tidak peduli pada percakapan Alka dan Alden dan memilih untuk fokus memperhatikan jalan yang dilaluinya.
“Ah, kamu bener-bener bikin aku penasaran, deh, Alk. Ada apa, sih?”
Alka tertawa kecil. Ekspresinya itu membuat kedua matanya menyipit. “Semalem aku dapet kabar baiiik banget dari mama.”
“Oh, ya?”
Alka mengangguk yakin.
“Emang ... apa kabar baiknya?”
“Kabar baiknya ....” Alka meluruskan bibir, merasa gugup untuk mengungkapkan kabar baik yang dimaksudnya. Gadis itu mengerling pada Alden. Senyumnya 'tak tertahankan lagi. “Mama kasih izin buat kita pacaran.”
Alden tampak terkejut mendengar kabar tersebut. Laki-laki itu berkedip, nyaris 'tak percaya dengan indra pendengarannya. “S—serius, Alk?”
Alka mengangguk dengan semangat. Gadis itu kian merekahkan senyuman. Senyuman itu lantas menular pada Alden. Laki-laki itu terlihat senang mendengar kabar yang baru saja diungkapkan oleh pacarnya. Namun, tidak dengan satu laki-laki yang semula berjalan di sisi kanan Alka.
Ya, laki-laki itu adalah Delma.
Begitu mendengar kabar dari Alka yang mengatakan bahwa Agatha memberikan izin untuk gadis itu berpacaran dengan Alden, Delma tanpa sadar berhenti melangkah.
Pikirannya mendadak buntu. Laki-laki itu termenung, memikirkan kembali apa yang tidak sengaja ia dengar.
Delma meluruskan pandang. Langkahnya sudah tertinggal beberapa meter dari Alka dan Alden. Pasangan itu sudah berjalan jauh di depannya.
Sepertinya, mereka juga tidak sadar jika Delma sudah tidak selangkah dengan mereka. Oh, tentu saja. Siapa Delma di hubungan mereka? Bukan siapa-siapa! Jadi, wajar jika pasangan itu tidak menyadari hilangnya Delma.
Delma tersenyum kecut melihat punggung pasangan yang ada di depan snaa. Entah mengapa, mendengar kabar jika Alka dan Alden sudah benar-benar ‘resmi’ boleh berpacaran, membuat Delma sedikit terusik.
Laki-laki itu agaknya kurang bisa menerima keputusan yang diberikan oleh Agatha. Akan tetapi, sekali lagi, siapa dia di hidup Alka? Hanya sebatas sahabat dan seterusnya akan seperti itu.
Di depan sana, Alka dan Alden terlihat senang dengan keputusan yang diberikan oleh Agatha pada mereka berdua.
“Aku enggak nyangka kalo mama kamu bakal kasih izin ke kita buat pacaran.”
Alka tersenyum menanggapi pernyataan dari sang pacar. “Aku juga enggak nyangka. Malem-malem tadi mama ngajak aku buat ngobrol bertiga—sama papa juga. Eh, ternyata mereka mau bilang kalo mereka ngizinin aku pacaran sama kamu.” Dari nada bicara Alka itu, dapat disimpulkan bahwa gadis itu merasa senang.
“Semoga ... hubungan kita terus baik, ya, Alk.”
Alka mengangguk dan mengamini doa tersebut dalam hati.
“Aku akan tepati janji aku tadi.”
Alka menoleh dan menatap pacarnya dengan dahi berkerut samar. “Janji apa?”
Alden tersenyum penuh arti. Ia berhenti melangkah yang kemudian diikuti oleh Alka. Mereka berdua berdiri berhadapan, kontak mata pun ‘tak terhindarkan.
“Janji apa, Ald?” Alka mengulang pertanyaan.
Lagi, Alden tersenyum. Tiba-tiba saja, laki-laki itu mencondongkan tubuh ke arah Alka, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Alka.
Mendapati aksi tersebut, membuat Alka spontan menahan napas. Jantungnya berdegup kencang. Ia menunggu apa yang akan dikatakan atau dilakukan oleh pacarnya.
Alden tersenyum dan mulai menggerakkan bibir, mengatakan sesuatu untuk Alka. “Aku akan jagain kamu, apa pun yang terjadi nanti. Aku juga enggak akan buat kamu sedih, kecewa, atau marah. Aku ... akan buat kamu selalu bahagia,” Alden menjeda perkataannya untuk menatap Alka sejenak, “dengan caraku.”
Alka mendadak lupa bagaimana caranya berkedip. Gadis itu kembali merasakan sesuatu yang hangat menjalar di kedua pipi. Ia terpana dengan perkataan Alden baru saja.
‘Aku ... akan inget terus janji kamu, Ald.’
BERSAMBUNG
ke
PART 31
Delma, sabar, ya, hehe:D
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡