SEMENJAK diizinkan berpacaran oleh Agatha dan Sandy, Alka lebih banyak menghabiskan waktu berdua bersama dengan Alden ketimbang bersama Delma, sahabatnya. Perubahan itu dirasakan langsung oleh Delma. Ia ... serasa tidak dipedulikan lagi oleh Alka.
“Al,” tegur Delma.
Alka yang sedang berdiri di pinggir jalan depan indekos sambil menenteng helm pun menoleh. Ia tersenyum tipis melihat kehadiran sahabatnya. “Ada apa, Ma?”
“Kamu udah sarapan belum? Kalo belum, sarapan bareng, yuk. Oh, ya. Tenang aja. Aku yang bayar kali ini. Gimana?”
Kedua mata Alka terlihat berbinar mendengar ajakan Delma. Bibirnya pun mengembangkan senyum. Namun, senyum itu perlahan-lahan memudar. Raut wajah gadis itu berubah sendu. Ia menunduk sambil menggoyang-goyangkan helm yang ia bawa. “Eum ..., sebenernya aku mau-mau aja, sih, tapi ....”
TIN! TIN!
Ucapan Alka terhenti karena kemunculan suara klakson sepeda motor. Alka dan Delma serempak menoleh ke sumber suara. Mereka memusatkan perhatian pada seorang pengendara sepeda motor yang berhenti di depan mereka. Sebelum pengendara sepeda motor itu melepas helm, menampakkan wajahnya, Alka dan Delma sudah bisa mengenali siapa sosok tersebut.
“Hai, Alk,” sapa pengendara sepeda motor itu pada Alka.
Alka tersenyum lebar menatap pengendara sepeda motor itu. “Hai juga, Ald.”
Alden ikut tersenyum saat melihat wajah berseri pacarnya. Laki-laki itu beralih menatap Delma yang berdiri tak jauh dari Alka. Ia hanya mengangguk agak malas. “Hai, Delma,” sapanya, agak terpaksa.
Delma mendengkus samar. Ia hanya menanggapi sapaan Alden itu dengan deheman singkat. Malas sekali ia berurusan dengan pacar Alka itu.
“Ya udah, kita jalan sekarang?”
Alden mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Alka. “Ayo aja.”
Alka tersenyum. Gadis itu menoleh, menatap sahabatnya. “Maaf, ya, Delma. Lain kali aja kita sarapan barengnya, ya. Soalnya, sekarang aku mau sarapan barengnya sama Alden dulu. Enggak apa-apa, ‘kan?”
Delma mengangkat bahu. “Ya ..., enggak apa-apa. Emang siapa yang bakal ngelarang? Kamu enggak mau sarapan bareng sama aku juga enggak masalah, kok.”
Alka sedikit mengerucutkan bibir usai mendengar perkataan Delma yang terkesan menyindir. “Ih, kamu, kok, ngomongnya kayak gitu, sih? Bukannya aku enggak mau, tapi kebetulan kamu keduluan sama yang lain. Jangan bikin kesel, deh, pagi-pagi.”
“Siapa yang bikin kesel coba? Aku biasa aja. Kamu kali yang baperan.”
Alka tercenung mendengar kalimat terakhir Delma. Apa? Aku ... baperan? batin Alka tidak menyangka. Gadi itu menatap tajam Delma. “Kamu kenapa, sih, omongannya nyebelin banget akhir-akhir ini. Aneh tau, enggak? Pake bilang aku baperan segala,” ungkap Alka dengan muka kusut.
Alden menatap Alka dan Delma secara pergantian. Ia mulai merasakan atmosfer yang berbeda. Laki-laki itu berdeham, menginterupsi perdebatan mereka berdua. “Udah, udah. Alk, kamu yang sabar, dong.”
Alka menatap Alden. Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya berat. “Udah, yuk. Kita pergi sekarang.” Alka segera mengenakan helm dan duduk di jok sepeda motor Alden. Ia sempat melirik sinis Delma sejenak. Namun, ia langsung memalingkan wajah saat Delma menatapnya. Entahlah, Alka merasa agak sakit hati dengan perkataan Delma yang mengecapnya sebagai orang ‘baperan’. Emangnya salah jadi orang ‘baperan’? Kan, tiap orang punya hati, perasaan. Delma enggak punya kali hati kali, ya? kesal Alka dalam hati.
“Kita pergi dulu, ya, Delma,” pamit Alden.
Delma mengangguk sekilas. “Ya. Hati-hati. Oh, ya.” Laki-laki itu mendekati sepeda motor Alden dan menatap pacar Alka itu dengan tajam. “Jaga Alka baik-baik. Inget janji kamu kemarin-kemarin. Ngerti?”
Alden tersenyum miring. “Tenang aja. Alka pasti aman sama aku.”
Delma tidak menanggapi apa-apa. Ia mundur, mempersilakan Alka dan Alden pergi. Ia sempat memandang. Sayangnya, gadis itu memalingkan wajah. Maafin perkataanku tadi, Al. Aku ... enggak maksud, ucap Delma dalam hati.
Alka dan Alden menempuh perjalanan dalam diam. Jalanan yang dilewati pun belum terlalu ramai karena masih begitu pagi. Udara pun masih terasa sejuk dan bersih, baik untuk organ pernapasan.
Alden mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Sesekali, ia mencuri pandang pada pacarnya melalui kaca spion. Akan tetapi, ia dibuat heran karena wajah pacarnya itu terlihat kusut, seperti orang yang sedang kesal.
Laki-laki itu sedikit menengok belakang. “Alk, kamu kenapa, kok, cemberut gitu mukanya?”
Alka menatap lurus ke depan, menatap Alden dari belakang. Gadis itu mendengkus pelan. “Sebel aku, tuh, sama omongannya Delma tadi. Enggak berperasaan banget sama sahabatnya sendiri.” Ia melupakan keluh kesahnya terkait Delma. “Kamu tau enggak, sih? Enggak sekali ini aja aku dibuat kesel sama dia. Sebelumnya-sebelummya juga sering. Bahkan, dia pernah ngomporin aku tentang kamu.”
Alden tertegun dengan apa yang baru saja dikatakan Alka. “Apa? Ngomporin tentang aku? Emang ... dia ngomong apa?”
Alka berdecak pelan. “Dia sering banget bilang ke aku supaya hati-hati sama kamu. Katanya, kamu itu bukan laki-laki yang baik. Aku jelas tersinggung, lah. Siapa dia coba ngomong buruk kayak gitu?”
Mendengar hal tersebut, Alden ikut tersulut emosinya. Bukan hanya Alka yang tersinggung, tetapi ia juga. Namun, Alden berusaha kuat untuk menahan kekesalannya. Ia mengira kalau Delma berlaku seperti itu karena iri. Iri karena Alka lebih banyak menghabiskan waktu pacar daripada sahabat.
Alden tersenyum miring. Laki-laki itu melirik Alka dari kaca spion. “Udah, Alk. Enggak usah terlalu dipikirin. Mungkin, Delma lagi banyak pikiran, jadi ngelampiasin keselnya ke kamu.”
Alka hanya diam, tak menanggapi apa-apa. Ia sudah kadung malas untuk membahas tentang sahabatnya yang sikapnya mulai berubah akhir-akhir ini.
“Alk,” panggil Alden.
Alka mencondongkan wajah agar bisa mendengar perkataan Alden lebih jelas. “Kenapa, Ald?”
Alden tersenyum sambil menatap lurus ke depan. “Kalo Delma enggak bisa bikin kamu seneng, enggak perlu khawatir.”
“Kenapa?” Alka bertanya lugu.
Alden kembali tersenyum. Sejenak, ia memegang tangan Alka yang melingkar di sekitar perutnya. Ia memegangnya cukup lama dengan satu tangan.
Mendapat perlakuan tersebut, Alka tiba-tiba merasa salah tingkah. Jantungnya berdegup kencang. Ia menelan ludah berat. Sebisa mungkin, ia bersikap biasa saja, walaupun sebenarnya ia sudah ingin berteriak.
“Karena masih ada aku. Biar aku yang bikin kamu seneng kalo misal Delma enggak bisa.”
Alka terdiam mendengar perkataan Alden. Gadis itu perlahan tersenyum. Ia memejamkan mata dan mengangguk. “Iya, Ald.” Aku juga jauh lebih percaya kalo kamu bisa bikin aku seneng terus daripada Delma, lanjutnya dalam hati.
BERSAMBUNG
ke
PART 32
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡