WARUNG bubur di pinggir jalan, menjadi pilihan Alka dan Alden untuk sarapan bersama. Mereka memang sudah merencanakan akan sarapan bersama sejak kemarin lusa. Untunglah, rencana itu bisa terealisasikan.
Keadaan warung bubur cukup ramai. Banyak pelanggan yang datang memesan, baik untuk dimakan di tempat atau dibungkus, lalu dibawa pergi. Alka dan Alden termasuk yang memesan dan memakan bubur ayam di tempat.
"Silakan, Mbak, Mas, buburnya."
"Makasih, Pak," ucap Alka dan Alden kompak.
"Sama-sama. Emang cocok banget sarapan pake bubur, apalagi buat pasangan suami istri kayak Mbak sama Mas. Mana ... masih muda lagi."
Sontak saja, Alka dan Alden dibuat terkejut dengan penuturan pengelola warung bubur. Terutama, Alka. Kedua mata mereka membulat sempurna, saking terkejutnya.
"Lho, omongan saya bener, 'kan, kalo Mas sama Mbak-nya udah nikah? Kalian suami istri, 'kan?"
Alka berdeham dan tersenyum kikuk. "Maaf, Pak, tapi sebe---"
"Iya, bener, kok, Pak." Alden menyela perkataan Alka. Ia menjawab dengan santainya, tidak peduli dengan raut ekspresi yang ditunjukkan Alka. Gadis itu membulatkan mata. Ia tidak menyangka dengan apa yang baru saja dilakukan pacarnya. Berani sekali laki-laki itu.
"Nah, kan. Feeling saya gitu, lho. Ya udah, silakan dilanjut sarapannya Mbak, Mas. Mari."
"Ya, Pak," balas Alden.
Begitu pengelola kedai pergi, Alka tanpa rasa ampun langsung memberi tepukan yang cukup keras tepat di bagian bahu Alden. Sontak saja, Alden yang baru saja melahap sesendok bubur jadi tersedak. Buru-buru, ia mengambil gelas minum dan menenggak isinya. "Kamu kenapa, sih, Al? Kaget tau aku."
"Harusnya aku yang kenapa ke kamu," balas Alke dengan nada sewot.
"Kenapa, sih, emang?"
"Ih, Ald. Kamu kenapa bilang kalo kita beneran suami istri, sih? Kamu kenapa bohongi penjual bubur itu? Padahal, kita cuma pacaran, 'kan? Belum lebih."
Alden tertawa geli melihat reaksi Alka. "Bercanda doang kali, Alk," kilah laki-laki itu dengan santai.
Alka geleng-geleng mendengar jawaban pacarnya. "Kayak enggak ada bahan bercandaan yang lain aja. Enggak baik tau bohong sama orang lain, apalagi sama orang tua." Gadis itu mengaduk bubur miliknya dengan bibir mengerucut.
"Iya, maaf. Lain kali, enggak akan bercanda lagi kayak gitu. Tapi, emang kamu enggak mau kalo ...."
Alka melirik Alden. Alisnya terangkat sebelah. "Kalo apa?"
Alden tersenyum dan menatap Alka penuh perhatian. "Emang kamu enggak mau kalo hubungan kita masuk ke jenjang yang lebih serius? Suami istri kayak yang bapak-bapak tadi sangka."
Alka terdiam beberapa saat. Gadis itu berdeham, meredakan kegugupan yang tiba-tiba melanda. Ia berdeham panjang, memikirkan jawaban atas pertanyaan Alden. "Mau enggak, ya?" godanya sambil tersenyum jahil.
Alden tanpa permisi mengacak-acak rambut Alka. Tentu saja, hal itu membuat Alka agak kesal. Gadis itu segera menyingkirkan tangan Alden dari kepalanya dan merapikan tatanan rambutnya yang jadi berantakan karena ulah Alden.
"Tapi, aku yakin kalo kamu pasti mau," ucap Alden tiba-tiba. Laki-laki itu menatap Alka dengan lekat. Ia tanpa permisi memegang tangan Alka.
Alka yang niatnya akan menyendok bubur jadi urung karena sentuhan Alden. Gadis itu menatap tangan kirinya yang dipegang Alden. Ia lantas menatap Alden tepat di mata.
"Kamu mau, 'kan, seandainya nanti aku ... ngajak kamu melangkah ke hubungan yang lebih serius lagi daripada yang sekarang?" Alden bertanya dengan raut muka serius, begitu juga dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya.
Alka terdiam beberapa saat. Gadis itu kembali menatap tangannya yang dipegang oleh Alden. Tak lama kemudian, gadis itu tersenyum pada Alden dan berkata, "Kamu pasti tau, lah, jawabanku."
Alden tersenyum mendengar jawaban Alka. Akan tetapi, senyumnya berangsur memudar. Laki-laki itu menunduk dan menjauhkan tangannya yang semula memegang tangan Alka.
Perubahan itu disadari oleh Alka. Gadis itu sedikit menelengkan kepala, meneliti ekspresi wajah Alden. "Ada apa, Ald? Kok, tiba-tiba kamu diem?"
Alden terdiam beberapa saat. Laki-laki itu mengembuskan napas berat dan berkata, "Aku ... cuma kepikiran sesuatu."
Alka mengerutkan dahi. Gadis itu menatap Alden dengan raut penasaran. "Kepikiran apa, Ald? Kamu bikin aku penasaran aja, deh."
Alden mengangkat wajah dan menengok kanan, menatap pacarnya. Tatapannya begitu serius. "Di hidup aku, ada satu pertanyaan yang sampe sekarang aku enggak tau jawabannya, Alk."
Dahi Alka semakin berkerut dalam. Gadis itu berdeham panjang dan bertanya, "Apa itu?"
Alden diam beberapa saat. Ia menatap Alka begitu lekat hingga gadis itu kembali dirundung rasa gugup. Tanpa Alden sadari, tangan gadis itu saling bertaut di bawah meja, menguatkan diri.
"Apakah ... aku bisa miliki kamu seutuhnya, Alk?"
Alka tertegun mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Alden. Gadis itu mengerjap beberapa kali. Ia merasa heran pada pacarnya. Alden kenapa nanya kayak gitu? batinnya penasaran.
Beberapa detik berlalu oleh keheningan usai Alden mengutarakan pertanyaannya.
Alka berdeham. Ia menatap Alden dan tersenyum kikuk. "Kamu kenapa nanya kayak gitu, sih, Ald? Kamu, kan, pacar aku. Otomatis kamu udah miliki aku sepenuhnya, lah. Apa lagi yang kamu raguin, hm?"
Alden tidak langsung menjawab. Laki-laki itu mengambil gelas minuman dan menyesapnya sedikit. Ia meletakkan kembali gelas di meja secara perlahan. Ia mengangkat bahu pelan dan berujar, "Aku ... ngerasa kalo aku emang belum miliki kamu seutuhnya, Alk." Laki-laki itu menatap Alka yang juga tengah menatapnya.
Alka tersenyum samar. Gadis itu memberanikan diri memegang tangan Alden. Ia mencoba untuk meyakinkan laki-laki yang sudah menjadi pacarnya selama satu tahun itu. "Hei, jangan ngomong gitu, dong, Ald. Pokoknya, aku udah jadi milik kamu dan kita saling suka, sayang, dan cinta. Enggak perlu mikir yang macem-macem, ya, Ald."
Alden menatap Alka. Ia merasa lebih tenang setelah mendengar perkataan gadis itu. Laki-laki itu tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Makasih, ya, Alk."
Alka mengangguk sambil tersenyum. "My pleasure. Ya udah, ah. Kenapa jadi galau gini, sih, hawanya. Yuk, makan buburnya." Gadis itu tertawa kecil dan segera melahap bubur ayam.
Alden mengangguk dan mengikuti jejak Alka. Mereka berdua menikmati bubur ayam. Sesekali mereka juga berbincang ringan untuk mencairkan suasana.
"Pak, udah selesai," ujar Alden pada pengelola warung bubur.
"Oh, ya." Seorang pria berkumis tebal datang menghampiri meja Alka dan Alden.
"Berapa, Pak, totalnya?"
"Bubur komplit dua 10 ribu aja, Mas."
Alden mengangguk. Ia segera mengeluarkan uang sejumlah 20 ribu dari dompet dan memberikannya pada pengelola warung bubur. "Saya pesen satu lagi, tapi dibungkus, ya, Pak."
"Siap, Mas. Ditunggu bentar."
Alden mengangguk dan tersenyum tipis.
Alka menatap Alden dengan raut penasaran. "Kamu masih laper, ya?"
Kedua alis Alden terangkat mendengar pertanyaan Alka. Segera, ia menggeleng sebagai jawabannya.
"Terus, kenapa pesen lagi?"
"Oh, itu. Eum ...." Alden refleks mengusap tengkuk.
Gelagat Alden itu membuat Alka bertanya-tanya. Ia jadi merasa curiga kalau ada yang sedang disembunyikan oleh pacarnya itu.
"Aku pesen lagi itu buat temen kos aku, kok, Alk."
Alka menatap Alden dengan pandangan menyelisik. "Bener?"
"Bener."
Alka mengembuskan napas pelan. "Iya, deh. Aku percaya." Gadis itu tersenyum tipis. Namun, senyumnya berangsur memudar saat melihat Alden tengah sibuk menatap ponsel. Gadis itu mengembuskan napas berat. Aku harap, enggak ada yang kamu tutup-tutupin dari aku, Ald.
BERSAMBUNG
ke
PART 33
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡