Part 28 - Lebih Baik Denganku

1124 Words
“AW, aw! Sakit, Ma ...,” keluh Delma saat tangannya diurut oleh Elma. Mendengar keluhan dari Delma tersebut, bukannya iba, Elma malah semakin menguatkan urutannya ke tangan Delma. Sontak saja, hal itu membuat Delma mengerang kesakitan. Suaranya terdengar cukup keras. “Makanya, kalo jalan itu hati-hati. Untung ada Alka sama Alden yang nemuin kamu. Kalo enggak?” Delma hanya diam, ‘tak menanggapi perkataan Mamanya. “Bener itu, Tante,” timpal Alka, ikut dalam obrolan. “Mana ... Delma pake acara pilih jalur yang beda dari Alka sama Alden. Celaka, ‘kan, jadinya.” Delma melirik Alka tajam. “Aduan kamu!” cibirnya. “Biarin!” balas Alka, ketus. “Lagian, kamu ada-ada aja, sih, Delma. Kenapa malah misah dari Alka sama Alden?” Elma ikut merasa gemas dengan Delma. Sembari menunggu putranya menjawab, wanita itu membaluri tangan Delma dengan minyak urut, lalu menggosoknya. “Enggak ada apa-apa. Cuma lagi pengen sendiri aja.” “Kamu males jadi orang ketiga di antara Alka sama Alden, ya?” tebak Elma. Sontak saja, Delma membulatkan mata mendengar dugaan Mamanya itu. Dengan tegas, laki-laki itu menggeleng. “Enggak, ya! Buat apa Delma kayak gitu? Delma emang cuma pengen lagi sendiri aja, Ma. Jalur yang Delma pilih juga jauh. Takutnya nanti Alka kecapekan.” Mendengar hal tersebut, Alka tersenyum geli. Ia menyabet bahu Delma menggunakan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengelap keringat. “Ah, bisa aja kamu, Ma.” Delma melirik Alka sinis. Laki-laki itu lantas berkata, “Heh, jangan ge-er dulu. Aku ngomong kayak gitu, bukan berarti aku perhatian sama kamu. Kalo kamu kecapekan, pasti kamu ngerengek minta aku gendong. Capek tau gendong kamu tuh. Berat. Lebih berat dari beban hidup.” Senyum yang semula menghiasi bibir Alka sekejap lenyap. Ia kembali menyabet bahu Delma dengan handuk kecilnya, kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Delma mengaduh dan memelotot ke arah Alka. “Sakit, Al!” sungutnya. “Nyebelin!” balas Alka, memasang raut muka sebal. Terlihat, bibirnya mengerucut ke depan. “Udah, udah,” lerai Elma. “Gimana? Masih sakit enggak?” Delma menatap Elma, lalu beralih menatap tangan kanannya yang terkilir akibat kecelakaan kecil beberapa menit lalu. Laki-laki itu mencoba menggerakkan tangan. Ia sedikit meringis saat masih merasa sakit. Namun, rasa sakitnya sudah lebih berkurang daripada yang sebelumnya. “Gimana?” Elma kembali bertanya. “Udah lebih mendingan dari yang tadi, kok, Ma.” Elma mengembuskan napas lega. Wanita itu mengulas senyum tipis. “Syukurlah kalo gitu. Ya udah, mama mau balik masuk dulu, ya, buat sarapan.” “Iya, Ma.” Elma berpamitan juga dengan Alka dan Alden. Baru setelahnya, ia masuk ke dalam rumah. Tersisa Alka, Delma, dan Alden yang duduk melingkar di kursi teras dengan meja bundar di bagian tengah. “Gimana? Masih sakit enggak?” Alka iseng bertanya dan memperhatikan tangan Delma yang baru saja diurut. Refleks, Delma menatap kembali tangannya. Laki-laki itu lantas menggeleng pelan. “Kamu denger sendiri, ‘kan, tadi aku ngomong apa? Udah gak sesakit tadi. Tenang aja.” Mendengar penjelasan dari Delma, Alka terdiam sambil manggut-manggut. Beberapa saat kemudian, hening mengambil alih keadaan. Tiga anak muda itu hanya diam satu sama lain. Hingga sebuah suara samar mencuri perhatian mereka. Mereka bertiga saling lirik. “Suara apa itu?” tanya Alka. “Eum ... kayaknya suara perut,” duga Alden. “Kamu laper, Ald?” Alden dengan segera menggeleng. “Enggak, bukan aku, Alk.” “Terus ... siapa?” Alka dan Alden bertatapan selama beberapa saat. Lalu, secara perlahan, mereka memutar leher, menatap ke arah Delma. Ditatapi seperti itu, membuat Delma merasa terintimidasi. Ia terkesan seperti oknum yang baru saja melakukan tindakan buruk. Delma menghela napas berat. Ia kemudian mengangguk. “Iya, itu suara perut aku. Aku laper,” akunya kemudian. Ternyata, suara samar dan aneh yang didengar Alka dan Alden tadi merupakan suara perut dari Delma. “Oh, laper, ya?” tanya Alka. Delma hanya mengangguk dengan raut datar. “Eum ... kamu sendiri laper enggak, Ald?” Alka beralih bertanya pada Alden. “Belum terlalu, sih. Kamu? Udah laper?” “Sedikit,” aku Alka dengan suara pelan. Lalu, gadis itu menunjukkan cengiran lebarnya. Alden tersenyum geli melihat ekspresi Alka tersebut. Tangan laki-laki itu terangkat, menyentuh puncak kepala Alka, lalu mengusapnya lembut. Melihat adegan itu, membuat Delma mendengkus pelan. Malas rasanya harus menyaksikan dua orang yang tengah bermesraan. Apalagi, hal itu dilakukan di depannya. “Kalo gitu, kita pulang, yuk! Mama kayaknya udah masak.” Alden tersenyum dan mengangguk, menyetujui saran dari sang pacar. “Delma, aku sama Alden ke rumah dulu, ya. Cepet sembuh tangannya.” “Iya,” balas Delma datar, tanpa memandang Alka atau Alden sama sekali. Hal itu membuat Alka mengerucutkan bibir kesal. Untuk ketiga kalinya, ia menyabet bahu sahabatnya dengan handuk kecil miliknya. Sayang, sabetan handuk itu malah menyasar ke lengan Delma yang baru saja diurut. Sontak saja, Delma mengerang kesakitan. Alka hanya meringis melihatnya. Ia buru-buru menggandeng tangan Alden untuk pergi dari rumah Delma. Delma menatap kepergian Alka dan Alden sambil menahan sakit sekaligus kesal. “Kurang ajar kamu, Al!” pekiknya. “Maaf! Sengaja!” Alka balas berteriak diikuti suara tawa. Delma mendesis kesal. Ia memegang lengannya yang terasa sakit akibat kecelakaan, diurut, dan juga disabet dengan handuk oleh Alka. Laki-laki itu mendengkus pelan. Ia menatap lurus ke depan, di mana rumah Alka berada. Belum ada niatan bagi laki-laki itu untuk masuk ke dalam rumah. Padahal, perutnya sudah ramai berkonser ria, menyuarakan lagu kelaparan. Perhatian Delma kini terpusat pada dua orang yang baru saja keluar dari dalam rumah Alka. Dua orang tersebut adalah Alka dan Alden. Alka terlihat membawa dua gelas minuman. Sedangkan Alden, membawa dua buah mangkuk. Melihat hal itu, Delma bisa menebak bahwa mereka berdua—Alka dan Alden—akan sarapan bersama. Mungkin juga, akan saling menyuapi makan. Delma menghela napas berat ketika tebakannya itu benar terjadi. Alka terlihat menyuapi makan pada Alden. Hal yang sama dilakukan oleh Alden kemudian pada Alka. Pasangan itu saling melempar senyum, kadang juga tertawa. Terlihat bahagia. Berbanding terbalik dengan ekspresi Delma saat ini. Ekspresi laki-laki itu terlihat datar, sendu, dan ‘tak b*******h. Seharusnya, melihat kemesraan Alka dengan Alden sudah menjadi hal yang biasa baginya. Akan tetapi, akhir-akhir ini, mengapa hatinya terasa seperti dicubit saat melihat kebersamaan pasangan itu? Memang, Delma pernah mengaku bahwa ia memiliki perasaan terpendam pada Alka. Akan tetapi, waktu itu juga ia masih belum terlalu yakin, apakah ia benar-benar menyukai Alka atau tidak. Namun sepertinya, detik ini, Delma mulai yakin ada yang tidak beres dengan perasaannya. Delma tidak suka saat Alka bersama dengan Alden. Ia lebih suka jika Alka ... yang bersama dirinya. BERSAMBUNG ke PART 29 Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku di, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD