Part 27 - Korban Kecelakaan

1079 Words
MINGGU pagi, waktu yang cocok untuk mengisi waktu luang dengan berolahraga, menikmati udara segar yang belum tercemar, juga menyegarkan pikiran dari rutinitas harian yang memabukkan. Seperti yang sudah direncanakan, hari ini, Alka akan berolahraga bersama dengan Alden dan Delma. Olahraga yang dipilih adalah jogging keliling kompleks perumahan Alka dan Delma tinggal. Selesai bersiap, Alka berpamitan pada Agatha dan Sandy. Barulah, gadis yang rambutnya kini dikuncir seperti ekor kuda itu berjalan ke luar rumah. Sejenak, ia berdiri di teras, merentangkan kedua tangan dan menghirup udara segar di sekitarnya. Ia rasakan oksigen bersih memenuhi organ pernapasannya, membuatnya merasa tenang. Perhatian Alka tak sengaja terjatuh pada dua laki-laki yang baru saja keluar dari rumah di seberang. Kedua laki-laki itu berpakaian khas orang yang akan berolahraga—kaus pendek dan celana training, tak jauh berbeda dengan yang dikenakan Alka saat ini. Bedanya, Alka menambah jaket untuk membalut tubuh atasnya. Senyum cerah secara otomatis terbit di bibir Alka. Gadis itu berteriak, menyapa kedua laki-laki di seberang sambil melambaikan tangan. “Hei, kalian!” Kedua laki-laki itu menoleh ke sumber suara dan bertemu tatap dengan Alka. Keduanya sama-sama tersenyum memandang gadis itu. Alka segera berjalan menghampiri kedua laki-laki itu, di mana yang satu berstatus sebagai pacarnya, sedangkan yang satu lagi berstatus sebagai sahabat dekatnya. Ya, kedua laki-laki tersebut adalah Alden dan Delma. Laki-laki yang sama-sama memiliki peran penting di hidup Alka. “Udah siap?” tanya Alka yang kemudian dianggukki oleh Alden dan Delma. Melihat respons mereka berdua, Alka mengangguk sekali. “Jalan sekarang?” “Bentar,” kata Alden. Laki-laki itu terlihat mengeluarkan sesuatu dari saku celana training-nya. Alka dan Delma memerhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Alden. Ternyata, laki-laki itu mengeluarkan dua buah earphone tanpa kabel dari saku celana. “Kamu mau dengerin playlist aku?” tawar Alden pada Alka. Gadis itu tersenyum dan mengangguk dengan semangat. Senyum tersebut kemudian menular pada Alden. Laki-laki itu memasangkan satu buah earphone di telinga kiri Alka, sedangkan yang satu lagi, ia pasang di telinga kanannya. Begitu earphone terpasang, Alden mulai memainkan playlist musik dari ponselnya. Alka tersenyum saat mendengar musik yang mengalun dari earphone. Aksi dua orang yang berstatus sebagai pacar itu 'tak luput dari pandangan Delma. Laki-laki itu menghela napas, mulai muak jika setiap hari harus melihat kemesraan orang yang tengah berpacaran. Seharusnya, ia tolak saja ajakan Alka untuk berolahraga pagi. Delma harusnya sadar kalau Alka pasti tidak akan mengajak dirinya saja karena ada Alden di sini. “Al, aku jogging duluan, ya. Aku mau ambil rute yang arah sana,” pamit Delma dengan telunjuk mengarah ke jalur kanan. Kedua alis Alka terangkat mendengar perkataan sahabatnya itu. “Lho, kok, gitu? Kan rencananya mau ke arah sana bareng-bareng.” Alka menunjuk arah yang sebaliknya dari Delma. “Cuma pengen milih jarak yang lebih jauh aja. Kamu sama Alden aja. Entar kalo kamu ikut aku, kamu malah kecapekan, soalnya jaraknya jauh.” Bohong! Sebenarnya, bukan itu alasan utama Delma memilih jalur yang lain. Ia hanya tidak ingin menjadi pengganggu saat Alka dan Alden berduaan alias berpacaran. Delma juga tidak ingin merusak suasana hatinya sendiri pada hari ini. Mendengar alasan Delma tersebut, membuat Alka sedikit kecewa. Terlihat dari perubahan ekspresi gadis itu yang menjadi sedikit lebih muram. “Dah, ya. Aku duluan. Kalian hati-hati. Alden,” Delma menatap pacar sahabatnya, “jaga Alka, ya. Jangan sampe dia kenapa-napa.” Alden hanya mengangguk. “Delma kamu, kok, gitu, sih? Aku kan pengen kita bertiga olahraga bareng,” keluh Alka dengan bibir mengerucut. Gadis itu agaknya benar-benar kecewa dengan keputusan Delma. “Udah, Al. Gak usah sedih gitu. Cuma olahraga doang juga. Gak usah baper,” kata Delma. “Lagian, harusnya kamus seneng karena bisa berduaan sama Alden.” Alka refleks menatap Delma sewot. “Kok, kamu ngomongnya gitu?” “Dah, ah. Aku jalan dulu, ya. Bye!” “Eh, Delma!” pekik Alka, berusaha menahan Delma. Akan tetapi, laki-laki itu tidak menggubrisnya dan sudah berlari pergi. Alka menghela napas berat. Melihat ekspresi Alka yang terlihat tak bersemangat itu membuat Alden tak tega. Laki-laki tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepala Alka. Alka menoleh dan menatap Alden. “Udah, gak usah sedih. Kan masih ada aku, Alk,” ujar Alden, menenangkan perasaan Alka. “Jogging sekarang, yuk. Mumpung mataharinya belum panas banget.” Alka mengangguk dengan malas dan wajah 'tak bersemangat. Alden menghela napas pelan. “Muka kamu, kok, bete gitu? Jangan gitu lah. Senyum dulu, dong.” Alka menatap Alden. Ia menemukan sosok Alden yang tengah tersenyum manis ke arahnya. Beberapa detik berselang, Alka mulai menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membentuk senyuman seperti yang terlukis di bibir Alden. “Nah, gitu, dong. Yuk, jogging!” ajak Alden. Alka mengangguk. Kali ini semangatnya mulai tumbuh lagi. Dua anak muda itu mulai berlari kecil, jogging, melintasi pinggir jalan di kompleks perumahan tempat tinggal Alka. Sesekali, mereka menyenandungkan lagu yang terdengar dari earphone. Mereka tergelak saat ada yang salah menyanyikan lirik lagu. Suasana hati Alka mulai membaik setelah dibuat kecewa oleh keputusan Delma tadi. Menit demi menit berlalu, tenaga Alka mulai berkurang. Begitupun dengan Alden. Keringat mulai membasahi wajah mereka, menandakan bahwa kalori dalam tubuh mereka sudah terbakar. “Ald, berhenti bentar, dong. Aku ... capek ...,” pinta Alka, sedikit terengah-engah. Gadis itu berhenti berlari. Ia membungkuk dengan kedua telapak tangan menyentuh lutut kaki. Alden ikut berhenti dan memperhatikan pacarnya yang tampak kelelahan. Laki-laki itu juga terlihat terengah-engah. “Kamu ... masih kuat? Kalo enggak ... nanti aku gendong aja.” Alka dengan segera melambaikan tangan, menolak tawaran Alden tersebut. “Enggak usah. Aku bisa jalan aja, kok, nanti.” Gadis itu mencoba mengatur napas agar lebih teratur. Ia menyeka keringat menggunakan lengan. CIIIT ...! BRUK! Suara decitan yang cukup keras itu mencuri perhatian Alka dan Alden. Keduanya segera menoleh ke sumber suara. Terkejutnya mereka menemukan sebuah sepeda motor dengan pengendaranya yang jatuh ke jalanan beraspal di seberang. Ada juga seorang laki-laki yang jatuh tepat di depan sepeda motor. Alka membulatkan kedua mata melihat salah satu sosok yang tak asing di matanya. Tanpa pikir panjang, gadis itu segera berlari menyeberang, ke titik terjadinya kecelakaan. “Alka!” pekik Alden melihat Alka yang tiba-tiba berlari tanpa memperhatikan jalan sebelum menyeberang. Segera, Alden menyusul langkah pacarnya itu. Alka terus berlari hingga sampailah ia di titik tujuan. Benar dugaannya bahwa ia mengenali salah satu dari korban kecelakaan itu. “DELMA!” BERSAMBUNG ke PART 28 Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku di, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD