Part 26 - Sweet Moment

1362 Words
SAKING terhanyutnya Alka bertukar pesan dengan Alden, gadis itu sampai tidak sadar jika adiknya, Sena, memperhatikannya sejak tadi. Sena menatap Alka curiga. Pasalnya, kakaknya itu tampak serius menatap layar ponsel sambil tersenyum-senyum. Sena mengangguk-anggukkan kepala, menduga suatu hal. “Cie ... yang senyum-senyum sendiri. Lagi pacaran, nih, pasti.” Mendengar celetukan tersebut, Alka segera tersadar dari euforia-nya. Ia menoleh dan menemukan Sena tengah menatapnya. Buru-buru ia matikan layar ponsel dan kembali fokus untuk membantu adiknya mengerjakan PR. “Sampe mana tadi, Dek?” tanyanya sambil berpura-pura sibuk membolak-balik halaman buku. Sena yang melihat reaksi kakaknya itu tersenyum geli. “Cie ... yang salah tingkah gegara kepergok lagi chatting-an sama 'pa-car'. Cie ....” Ia kembali menggoda Alka. Alka mengerjapkan mata beberapa kali. Ia segera berkilah, “Apaan, sih? Pacaran apaan coba? Orang ... kakak lagi ... balesin chat temen.” “Halah, temen ... apa temen?” Sena menaikturunkan alis, menggoda sang kakak. “Gak perlu bohong lah, Kak. Toh, Sena, mama, sama papa juga udah tau kalo Kak Alka selama ini pacaran sama Kak Alden. Yang barusan itu Kak Alden, 'kan?” Alka terdiam beberapa saat. Benar juga apa yang dikatakan oleh Sena. Keluarganya sudah tahu jika ia berpacaran dengan Alden, jadi ... mengapa ia harus gugup saat kepergok tengah berpacaran dengan Alden? “Bener Kak Alden, 'kan?” Sena kembali bertanya. Alka menghela napas dan mengangguk. “Iya.” Sena tersenyum puas. Ia menggeser posisi tubuhnya agar lebih dekat dengan sang kakak hingga bahunya menempel dengan bahu Alka. Alka yang melihat gelagat adiknya itu mengerutkan dahi. “Kamu kenapa jadi deket-deket ke kakak gini, sih? Jadi sempit tau, Dek,” keluh Alka sambil mendorong bahu Sena agar adiknya itu memberi jarak. “Kak Alden romantis, gak, Kak?” Sena tak menghiraukan keluhan kakaknya dan malah bertanya tentang sosok Alden. Dahi Alka semakin berkerut mendengar pertanyaan tersebut. “Ngapain kamu nanya-nanya tentang Alden, ha?” “Mau aku embat,” jawab Sena asal. Sontak saja, Alka membulatkan kedua mata. Sena yang melihat ekspresi terkejut kakaknya tersebut langsung tergelak. “Bercanda, Kak. Tegang amat tuh muka.” Alka tanpa rasa berdosa langsung menghadiahi jitakan di dahi Sena. Tentu saja, perlakuan itu membuat Sena mengaduh sakit. “Jangan berani-beraninya kamu embat Alden dari kakak! Kamu tuh masih kecil. Lagian, mana mau Alden sama kamu.” “Pasti mau lah. Sama kakak aja mau, apalagi kalo sama aku. Jadi ... kalo seandainya nanti Kak Alden berpaling ke aku, jangan marah, ya, Kak.” Alka segera memelototi adiknya. “Sena ...!” geramnya. Ia merasa tersinggung, tidak terima Sena mencoba untuk merebut Alden darinya. Sena kembali tergelak sambil mengelus-elus dahinya yang dijitak kakaknya tadi. “Cemburu nih, ye.” Ekspresi Alka berubah masam. Ya ... walaupun ia tahu jika adiknya hanya bercanda, tapi tetap saja ia tidak suka ada yang mengusik hubungannya dengan Alden. Melihat Alden yang berjalan dengan teman kampus perempuan untuk keperluan tugas kuliah saja Alka sudah meradang. Namun, ia hanya menyimpan rasa cemburunya itu dalam hati, tidak ingin menciptakan perdebatan antara dirinya dengan Alden. “Jadi, gimana?” Alka melirik adiknya melalui ekor mata. “Gimana apanya?” “Ya ... Kak Alden. Orangnya romantis, gak? Tenang, Sena gak akan rebut Kak Alden dari Kakak, kok.” Alka terdiam beberapa saat, merenung. Ia mencoba mengingat kembali momen-momen yang pernah ia lalui bersama dengan Alden. Tanpa sadar, memorinya menuntunnya ke masa lalu, saat ia bertemu dengan Alden untuk pertama kalinya. Waktu itu sedang berlangsung ospek—orientasi studi dan pengenalan kampus—di universitas favorit yang telah menjadi dambaan Alka saat masih duduk di bangku SMA. Juga, dambaan Delma. Alka dan Delma berangkat ke kampus agak kesiangan karena harus menyiapkan keperluan ospek yang beraneka ragam. Harap-harap masih bisa datang tepat waktu, tetapi takdir berkata lain. Mereka terlambat. Padahal, hanya lewat satu menit saja. Para senior yang mengurus ospek mulai bergerak menyidak mahasiswa-mahasiswa baru atau maba yang terlambat datang. Alka dan Delma ikut terjaring bersama maba-maba yang lain. Sebagai konsekuensi, para senior memberi mereka hukuman, yaitu berdiri dengan satu kaki dan kedua tangan menyilang menjepit telinga. Hukuman itu dilakukan di depan barisan para maba yang tidak terlambat hingga upacara pembukaan selesai dilangsungkan. Alka hanya bisa menahan malu mendapat hukuman tersebut. Tentu, ada sedikit rasa kesal mengapa ia bisa terlambat berangkat. Apalagi, saat itu ia belum sarapan. Upacara pembukaan sudah berjalan setengahnya, Alka mulai kehabisan tenaga. Beberapa kali gadis itu tidak bisa menjaga keseimbangan tubuh. Ia juga merasa sedikit mual. Efek karena belum sarapan. Alka memaksa diri untuk tetap kuat. Akan tetapi, ketika hendak menyeimbangkan posisi berdiri dengan satu kaki, dirinya malah limbung dan hampir saja jatuh andai saja seseorang tidak menangkapnya dengan cepat. Jantung Alka serasa mencelus. Ia amat terkejut. Gadis itu mendongak dan bertemu tatap dengan mata orang yang menjadi malaikat penolongnya. Mendadak, Alka lupa bagaimana caranya berkedip. Ia seolah terbius oleh rupa orang yang menolongnya. Ia bahkan sangsi, apakah ia masih menapak di bumi atau justru di surga. “Kamu gak apa-apa?” tanya orang itu. Barulah Alka bisa berkedip dan tersadar dari lamunan. Namun, ia tak mampu mengeluarkan suara. Rasa gugup telah menyergapnya. “Kamu ... keliatan pucet,” kata orang itu. Refleks, Alka membasahi bibir. Bibirnya terasa kering. Kemungkinan, apa yang dikatakan oleh yang menolongnya itu benar. “HEH! YANG DUA ITU LAGI NGAPAIN, HA?!” Teriakan lantang itu membuyarkan lamunan Alka. Segera ia membenarkan posisi menjadi berdiri tegap. Gadis itu menunduk gugup saat seniornya datang. “Ngapain kalian, ha?” Alka meneguk ludah. Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Sayang, Delma tidak ada di dekatnya karena terpisah barisan. “Maaf, Kak. Alka ... pucet. Kayaknya lagi gak fit.” Bukan Alka yang menjawab, melainkan orang yang menolongnya. Alka tertegun. Ia langsung menoleh pada orang yang menolongnya itu. Ia heran bagaimana orang itu bisa mengetahui namanya. Matanya bergerak turun, menatap papan nama yang terkalung pada leher orang itu. Refleks, ia juga menatap papan nama miliknya sendiri. Pantas saja orang itu tahu namanya. Melihat papan nama tersebut, Alka jadi tahu nama orang yang menolongnya. Alden. ‘Nama yang bagus,’ pikirnya. Senior yang datang itu menatap Alka, menyelisik wajah gadis itu. “Itu pucetnya beneran atau pura-pura, ha? Jangan-jangan modus biar bebas dari hukuman.” Alka melebarkan mata mendengar dugaan seniornya itu. ‘Tega banget,’ batinnya. “Beneran, Kak, itu.” Lagi, Alden yang menjawab. “Lebih baik kalo Alka istirahat aja, takutnya nanti malah kenapa-napa.” “Aih, dari tadi kamu yang jawab mulu. Jubirnya dia kamu? Kalau dia istirahat, siapa yang mau nanggung hukuman dia, ha? Kamu?” Alka mengulum bibir. Ia merasa bersalah karena Alden harus ikut kena tegur oleh senior. Baru saja gadis itu akan membuka mulut, hendak bersuara, Alden malah mendahuluinya. “Iya. Saya yang akan nanggung hukumannya Alka.” Kedua mata Alka membulat sempurna mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alden. Ia menatap Alden dengan raut terkejut. Ia hendak menolak, tetapi seniornya sudah lebih dulu berkata, “Okay. Hukuman kamu ditambah. Habis upacara pembukaan selesai, kamu lari keliling lapangan ini sepuluh kali. Paham?” Alden tanpa ragu mengangguk. “Siap, Kak.” “Kamu,” tegur senior pada Alka, “pindah barisan ke belakang. Jangan sampe kamu pingsan dan ngerepotin panitia.” Alka dengan gugup mengangguk. “I—iya, Kak. Makasih.” “Cepet!” Lagi, Alka mengangguk. Ia menoleh sekilas ke arah Alden. Bibir gadis itu bergerak, melafalkan ‘terima kasih’ tanpa suara. Alden membalasnya dengan anggukan kecil dan senyum ramah. Hal yang akan Alka ingat sampai kapan pun. “Woi! Malah melamun.” Teguran itu membuyarkan lamunan Alka. Gadis itu tersentak, tersadar dari ingatan masa lalunya. Ia menoleh dan menemukan Sena yang tengah menatapnya dengan raut bingung. “Serius amat mikirin Kak Alden.” “Apaan, sih? Biasa aja. Udah, ah. Lanjutin PR-nya,” kilah Alka. Alka mencoba menutupi kegugupannya saat mengingat momen pertama kali berjumpa dengan Alden. Momen yang mengantarkan dirinya untuk menjatuhkan perasaan pada sosok tersebut. Perasaan yang tumbuh dari perhatian kecil yang diberikan laki-laki itu padanya. Hah, sepertinya Alka benar-benar sudah menjatuhkan perasaannya terlalu dalam pada Alden. BERSAMBUNG ke PART 27 Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku di, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD