NIAT awal ingin beristirahat di kamar terpaksa Alka urungkan. Saat hendak membuka pintu kamar, dirinya dipanggil oleh sang adik, Sena. Gadis SMA itu menyuruh Alka untuk masuk ke dalam kamarnya. Alka dibuat bingung dengan tingkah adiknya itu. “Kenapa, sih, Dek?”
Sena tidak menjawab dan terus mendorong tubuh Alka dari belakang. Ia kemudian meminta kakaknya untuk duduk di atas tempat tidur.
Alka memperhatikan Sena yang kini berjalan menuju meja belajar. Tak lama kemudian, gadis itu kembali padanya dengan membawa beberapa buah buku dan juga alat tulis. Melihat hal tersebut, Alka mendengkus pelan. Ia akhirnya paham maksud Sena memaksanya masuk ke dalam kamar gadis itu. “Jangan bilang kalo kamu minta Kakak buat bantu ngerjain PR kamu.”
Sena tersenyum dan menunjukkan cengiran lebarnya pada sang kakak. “Kakak tau aja. Pengertian banget, deh.”
Alka mengembuskan napas berat. “Sayangnya, Kakak enggak mau,” katanya, lantas berdiri dari posisi duduknya, hendak beranjak dari kamar sang adik.
Sena buru-buru menaruh peralatan belajar di atas kasur dan segera menggapai tangan Alka, mencegahnya untuk pergi. “Jangan gitu, dong, Kak. Bantuin Sena, ya? Kakak, kan, pinter. Please .... Bantu Sena, ya?” rengek Sena dengan kedua tangan tertangkup di depan wajah.
Alka menatap adiknya dengan ekspresi datar. Kedua tangannya terlipat di depan d**a kemudian. “Jaminannya apa kalo Kakak bantuin ngerjain tugas kamu?”
Sena menurunkan kedua tangan dari wajah. Ia tatap kakaknya dengan raut muka masam. “Perhitungan amat bantu adik sendiri.”
“Dih, emang Kakak udah bilang kalo Kakak mau bantu kamu? Belum, ya.”
“Aaa .... Kak Alka ....” Sena kembali merengek sambil menggoyang-goyangkan tangan Alka. Sikapnya ini terkesan seperti anak kecil yang tengah meminta dibelikan mainan oleh orang tuanya. Padahal, Sena sudah SMA kelas 3, tetapi tingkahnya masih kekanakan. Manja kalau menurut Alka.
“Ah, udah, dong. Jangan digoyang-goyangin terus tangan Kakak. Nanti tangan Kakak putus, mau tanggung jawab kamu, hm?”
“Ih, Kakak lebay banget. Aku goyang kayak gini enggak akan putus kali. Ayo, lah, Kak. Bantuin aku. Nanti kalo aku enggak lulus ujian gimana, coba? Please ....” Sena terus berusaha membujuk Alka.
Alka mengembuskan napas berat. Lama-kelamaan, ia jadi merasa tidak tega pada adiknya itu. “Ya udah, Kakak bantuin.”
Kedua mata Sena langsung berbinar mendengar kesanggupan kakaknya. Tentu, gadis dengan rambut dikucir bagai ekor kuda itu merasa senang. Ia langsung menarik tangan Alka, mengajak kakaknya itu duduk bersama di atas kasur.
Alka hanya menurut dengan apa yang dilakukan oleh Sena. Ia mulai membantu Sena mengerjakan PR. Dengan sabar, Alka menjelaskan pada Sena tentang cara menyelesaikan soal yang ditanyakan. Beberapa kali, Sena mengalami kesulitan, tetapi Alka berusaha untuk menyederhanakan bahasa yang digunakannya agar lebih mudah dipahami oleh Sena. Bukan hanya Sena saja yang mengalami kesulitan, Alka juga beberapa kali sempat mengalami kesulitan karena harus mengingat kembali materi yang pernah ia dapat dulu saat SMA. Beruntungnya, semua dapat teratasi dengan baik.
Tak terasa, tinggal dua soal lagi yang harus diselesaikan.
“Dek, coba kamu cariin ini, dong, di internet,” pinta Alka sambil menunjuk sebuah halaman buku.
“Okay, bentar.” Sena meraih tablet dan segera mencari apa yang diminta oleh Alka.
Alka menunggu sambil membaca ulang materi di buku pelajaran. Bibirnya bergerak tanpa suara, melafalkan kalimat-kalimat dalam halaman yang dibacanya.
Fokus Alka terpecah saat ponselnya bergetar. Ia mengeluarkan benda canggih itu dari saku celana, memeriksa notifikasi yang baru saja masuk. Senyum cerah langsung terpatri di bibir gadis itu kala melihat notifikasi pesan singkat yang dikirimkan oleh seseorang. Seseorang yang ia suka, sayang, dan cintai sejak satu tahun yang lalu.
Baru saja, Alden mengiriminya beberapa pesan singkat. Tak mau dirundung penasaran lebih lama, Alka segera membuka notifkasi tersebut.
Alden♡
[Hai, Alk]
[Udah tidur?]
[Kayaknya udah, ya?]
[Kalo gitu, selamat malam]
[Have a nice dream, ya]
Alka tersenyum membaca pesan-pesan tersebut. Segera, ia mengetikkan pesan balasan untuk Alden.
Alka
[Hai juga, Ald]
[No, aku belum tidur, kok]
[Ini, aku lagi bantuin adek ngerjain tugas]
Alka mengirimkan bukti berupa foto tempat tidur yang dipenuhi buku dan alat tulis. Gadis itu menunggu respons dari Alden. Centang dua abu-abu. Namun, tak berapa lama kemudian, tanda itu berubah warna menjadi biru, menandakan bahwa pesan yang ia kirimkan telah dibaca oleh Alden. Lagi-lagi, Alka tersenyum.
Terlihat keterangan bahwa Alden sedang mengetik. Beberapa kemudian, pesan balasan dari Alden muncul di layar.
Alden♡
[Oh, belum tidur ternyata?]
[Aku kira udah, hehe]
[Baik bangat kamu, ya, bantu adek ngerjain tugas]
Alka
[Terpaksa, sih, sebenernya]
[Tadinya, aku udah mau ke kamar buat tidur
[Tapi, dipanggil duluan sama adek]
[Ternyata suruh bantu ngerjain PR]
Alden♡
[Enggak apa kali]
[Biar adek kamu ketularan pinternya kamu]
Alka dibuat tersipu membaca pesan yang menyiratkan pujian itu. Untung, itu hanya obrolan via chatting. Alden tidak akan tahu ekspresi Alka saat ini.
Sejenak, Alka lupa dengan urusannya dengan sang adik dan lebih fokus chatting-an dengan pacar.
Alden♡
[Jangan senyam-senyum sendiri, Alk]
Alka tertegun membaca pesan dari Alden yang baru saja masuk itu. Ia dibuat heran, bagaimana bisa Alden tahu kalau dirinya sedang tersenyum?
Alka
[Apaan?]
[Mana ada aku senyam-senyum sendiri]
[Enggak usah lagak jadi peramal, deh, Ald]
Alden♡
[Iya, aku bukan peramal, tapi ... pemilik hati kamu]
Alka
[Apaan, sih, Ald?]
[Enggak usah gembel, deh:|]
Alden♡
[Kok, gembel, sih?]
[Typo, ya, kamu?]
Alka tersenyum geli. Jemarinya kembali bergerak lincah di atas keyboard ponsel, mengetikkan balasan untuk Alden.
Alka
[Sengaja, wlek!]
[Omong-omong, kamu sendiri kenapa belum tidur?]
[Delma bikin kamu enggak bisa tidur, ya?]
[Heuh, pasti dia ngorok:|]
Alden♡
[:D]
[Enggak, kok]
[Lagian, aku enggak sekamar sama dia]
[Beda kamar kita]
Alka
[Oh, gitu]
[Terus, kenapa belum tidur?]
Alden♡
[Sama kayak kamu dan adek kamu]
[Aku juga lagi belajar]
Dahi Alka berkerut samar membaca pesan tersebut, penasaran dengan maksud Alden.
Alka
[Belajar?]
[Belajar apaan emang?]
Tak seperti sebelumnya, Alden tidak langsung mengirimkan pesan balasan. Alka menunggu beberapa detik hingga akhirnya muncul pesan terbaru dari Alden. Pacarnya mengirimkan sebuah foto. Segera, Alka mengunduhnya.
Gadis itu termangu memandang foto yang dikirimkan oleh Alden tersebut. Terlihat foto ibu jari dan jari telunjuk yang menyilang, membentuk lambang hati.
Alden kembali mengiriminya pesan.
Alden♡
[Aku lagi belajar itu]
Alka
[Belajar apa, sih?]
Alden♡
[Mencintai kamu dengan sepenuh hati]
Alka terdiam usai membaca pesan tersebut. Lagi-lagi, ia tersipu. Rasa hangat tiba-tiba menjalar di permukaan kedua pipinya. Pun, tercipta desiran aneh dalam diri Alka.
Mungkin, sebagian besar orang akan menganggap bahwa Alden adalah ‘tukang gombal’ atau ‘tukang rayu’. Akan tetapi, Alka tidak peduli. Toh, ia yakin bahwa Alden benar-benar tulus mengungkapkan hal tersebut, bukan sekadar ‘gombalan’.
BERSAMBUNG
ke
PART 26
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡