ALDEN berdiri di ambang pintu sebuah kamar tidur. Senyum getir terlukis di bibir kala melihat seorang gadis yang tengah berdiri di depan jendela kamar, menikmati sinar mentari pagi yang menyiram wajah polosnya. Gadis itu tersenyum. Senyum yang sangat tulus, meskipun keadaan memutus salah satu indranya. Tanpa sadar, Alden melamun dengan pandangan terpusat pada gadis yang tengah melakukan rutinitasnya, menikmati hangatnya sinar mentari pagi. Perasaan Alden terasa sesak. “Kakak?” Lamunan Alden terpecah mendengar panggilan pelan tersebut. Ia mengerjap beberapa kali, mengumpulkan kesadaran. “Kak Alden lagi di deket pintu, ya?” Refleks, Alden memperhatikan diri sendiri. Laki-laki itu tersenyum karena tebakan gadis yang baru saja bertanya benar. Ia lantas berjalan pelan, menghampiri si

