“SILAKAN ditunggu, ya, Mas, pesanannya.”
“Ya, Mbak, terima kasih.” Delma mengangguk pada pelayan. Ia duduk menyandarkan punggung pada kursi. Ia menoleh ke kanan, menatap kaca besar yang menjadi sisi dinding sebuah kafe. Mata Delma bergerak naik, menatap langit yang terlihat mendung oleh gumpalan-gumpalan awan putih keabu-abuan. Tepat saat Delma menatap langit, ia melihat jalanan di luar mulai terhias oleh bintik-bintik air yang jatuh dari langit. Hujan telah turun membasahi bumi. Air yang semula turun rintik-rintik berangsur menderas.
Delma mengalihkan tatapannya dari pemandangan luar. Ia kembali menatap ke dalam kafe. Biasanya, ia pergi ke kafe ini bersama dengan Alka. Akan tetapi, kali ini tidak seperti biasanya. Ia hanya pergi sendiri. Tentu saja, Alka tidak bisa menemaninya karena sudah ada agenda dengan pacarnya. Siapa lagi kalau bukan Alden. Lagi pula, tidak mungkin juga Alka mau pergi ke sini jika ia ajak. Pastilah gadis itu lebih memilih bersama dengan Alden. Apalagi, hubungannya dengan Alka juga sedang bermasalah. Perdebatan yang terjadi beberapa menit yang lalu di indekos adalah pemicunya.
Embusan napas berat keluar dari mulut Delma saat mengingat perdebatannya dengan Alka. Ia mencoba untuk melupakannya. Salah satu caranya, ya, dengan pergi ke kafe ini. Walaupun pada kenyataannya, ia tetap terbayang akan sosok Alka.
Perhatian Delma terpecah oleh ponsel yang berdering nyaring. Laki-laki itu melirik ponsel di atas meja kafe. Layar benda canggih itu terlihat menyala. Delma mencondongkan badan, memeriksa apa yang membuat ponselnya berdering. Setelah ia cek, ternyata ada panggilan telepon yang masuk dari Agatha, mamanya Alka. Pasti, wanita itu akan menanyakan kabar terkini Alka padanya.
Delma terdiam beberapa saat dengan tatapan terpusat pada ponsel. Ia agak ragu untuk menjawab panggilan tersebut. Namun, pada akhirnya, ia menjulurkan tangan dan mengusap ikon untuk menjawab panggilan telepon. Ia tempelkan layar ponsel ke telinga. “Halo? Siang, Tante,” sapa laki-laki itu lebih dulu.
“Halo, Delma? Kamu ... jadi pergi sama Alka hari ini?Oh, sama Alden juga.” Agatha di seberang sana langsung pada intinya menghubungi Delma.
Delm terdiam beberapa saat. Ia menatap lurus ke depan, tepatnya pada bangku kosong di seberangnya.
“Delma? Kamu denger suara Tante, ‘kan?”
Kedua alis Delma terangkat. Laki-laki itu segera tersadar dari lamunan. Ia mengangguk, tetapi segera tersadar kalau Agatha tidak akan mungkin bisa melihat anggukan yang baru dilakukannya. “I-iya, Tante. Delma denger, kok.”
“Jadi, gimana? Kamu jadi perginya sama mereka?”
Secara tidak sengaja, Delma teringat dengan pesan Alka kemarin dan hari ini. Intinya, gadis itu memintanya untuk berbohong demi kebaikan. Ya, demi kebaikan. Setidaknya, untuk diri Alka sendiri.
“Delma? Kok, diem lagi, sih?”
Delma mengerjap beberapa kali. Laki-laki mengusap wajah dengan telapak tangan. “Maaf, Tante. Agak kurang fokus. Iya, Delma ... jadi, kok, pergi bareng Alka sama Alden.” Baiklah, terpaksa Delma mengikuti permintaan Alka untuk tidak ‘ember’ pada Agatha ataupun Sandy.
“Beneran, ‘kan, enggak bohong?”
“Beneran, Tante.”
“Tapi, kok,.suara kamu kayak rame, ya. Kalian lagi di mana, sih?”
Delma menelan ludah. Ia tiba-tiba merasa cemas. Ia khawatir kalau Agatha akan curiga padanya. “Eum ..., itu, Tante. Rame, soalnya ... saya, Alka, sama Alden lagi mampir dulu ke kafe.”
Terjadi hening selama beberapa saat. Delma menunggu dengan perasaan tak tenang. Ia terus merapal doa dalam hati semoga Agatha tidak merasa curiga. Bisa bahaya kalau Agatha tahu hal yang sebenarnya. Marahnya bukan hanya pada dirinya, tetapi pasti juga kepada Alka dan Alden. Nanti, Alka pasti akan semakin marah padanya karena dikira tidak bisa menjaga amanah.
“Coba kamu fotoin kafenya. Tante mau liat.”
Mampus! batin Delma. Laki-laki itu terdiam usai mendengar permintaan Agatha. Gimana ini?
“Delma? Kamu denger suara Tante?”
Delma mengerjap beberapa kali. Laki-laki itu segera menjawab dengan perasaan gugup. “I-iya, Tante. Delma denger, kok.”
“Ya udah, buruan kirim. Tante mau liat.”
Terpaksa, Delma menyanggupi permintaan Agatha. Laki-laki itu membuka kamera dan memotret keadaan kafe. Begitu berhasil terpotret, ia segera mengirim hasilnya pada Agatha. Delma menunggu respons mamanya Alka itu. Ia kembali merapal doa dalam hati agar Agatha tidak merasa curiga sama sekali dengan foto yang baru saja ia kirim.
“Lho, Alka sama Alden-nya mana? Kok, si fotonya enggak ada?”
Delma terdiam mendengar pertanyaan Agatha. Laki-laki itu segera memutar otak terkait jawaban apa yang akan ia berikan pada Agatha agar wanita itu percaya. “Eum ..., maaf, Tante. Alka-nya ... lagi di toilet.”
“Terus, Alden?”
“Kalo Alden ....” Delma mengedarkan pandang, menatap keadaan dalam kafe.
“Alden lagi apa?”
“Euh, lagi pesen, Tante. Masih di kasir dia.”
Hening kembali terjadi selama beberapa saat. Delma kembali dibuat gelisah oleh keheningan tersebut. Semoga mamanya Alka enggak curiga. Semoga, semoga, semoga ..., rapalnya dalam hati.
“Oh, ya udah, deh. Intinya, kamu beneran lagi sama mereka berdua, ‘kan?”
Delma terdiam beberapa saat. “Iya, Tante.”
“Okay, deh. Makasih, ya, infonya. Tante cuma mau mau mastiin aja. Takut Alka kenapa-napa. Tante lebih yakin sama kamu soalnya, Ma. Secara, kamu sama Alka, kan, udah sahabatan dari kecil.”
Delma tersenyum tipis mendengar penuturan Agatha. Ia bersyukur karena Agatha tidak bertanya lebih lanjut.
“Udah dulu, ya. Selamat bersenang-senang. Oh, ya, kalo terjadi apa-apa sama Alka, buruan kabarin Tante, ya.”
“Siap, Tante.”
Tak lama kemudian, sambungan telepon antara Delma dan Agatha pun berakhir. Delma mengembuskan napas lega. Ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Benar-benar saat-saat yang menegangkan saat diinterogasi oleh bermacam pertanyaan oleh Agatha. Namun, walaupun Delma merasa lega, tetap saja ada rasa bersalah yang hingga di hari karena ia baru saja membohongi orang tua.
Hujan di luar sana masih turun dengan derasnya. Suaranya membuat daya pendengaran Delma berkurang. Musik kafe yang semula ia dengar jelas pun kini tidak bisa lagi ia dengarkan. Kalah oleh pekaknya suara hujan.
Delma kembali menatap langit dari dinding kaca tembus pandang. Tanpa sengaja, ia jadi terbayang akan sosok Alka. Ia menebak-nebak apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu bersama sang pacar. Pastilah, sahabatnya itu merasa sangat bahagia karena bisa menghabiskan waktu hanya berdua bersama Alden. Delma menghabiskan waktu selama beberapa menit untuk melihat hujan deras di luar sana.
Embusan napas berat kembali keluar dari mulut Delma. Terlalu lama memandangi hujan di luar sana membuat Delma ingin pergi ke toilet untuk buang air kecil. Laki-laki itu segera berdiri. Namun, ia tidak memperhatikan keadaan sekitar sehingga tidak sadar kalau ada pelayan yang baru datang di tempatnya untuk mengantar pesanan kopi. Delma menubruk cangkir yang dibawa pelayan. Alhasil, cairan hitam yang masih mengepulkan uap itu mengenai tangan kiri Delma. Sontak saja, Delma mengaduh sakit.
“Ya ampun! Maaf, Mas. Saya ... enggak sengaja.” Pelayan buru-buru menaruh cangkir dan piring kecil ke meja. Ia mengambil beberapa lembar tisu yang ada di meja. “Saya bantu bersihin, ya, Mas,” katanya sambil mengelap cairan kopi panas yang tertinggal di tangan kiri Delma.
Delma meringis samar. Kopi yang dibawa pelayan tadi benar-benar terasa panas. Ia menurunkan pandang, menatap tangan kirinya yang terlihat agak memerah usai terkena cairan kopi yang panas.
“Sekali lagi, saya minta maaf, ya, Mas. Saya ... enggak hati-hati.”
Delma menatap pelayan di depannya yang berjenis kelamin perempuan. “Enggak apa-apa, Mbak. Saya juga enggak sadar kalo ada Mbak-nya di deket saya.”
“Kalo gitu, kopinya saya ganti dulu, ya, Mas.”
Delma hanya mengangguk. Ia membiarkan pelayan tersebut pergi untuk menyiapkan kopi yang baru untuknya. Laki-laki itu segera kembali pada niat awalnya. Ia berjalan menuju toilet. Saat berjalan, ia terus memandangi tangan kirinya yang terasa agak perih karena cairan kopi panas. Sampai di toilet, ia segera membuang. Begitu beres, ia berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan, juga membersihkan bekas kopi yang mengenai sedikit bajunya.
Saat membersihkan tangan kiri, Delma tercenung. Ia terdiam saat melihat garis samar di tangan kirinya. Ia mendekatkan tangan kirinya ke depan wajah. Garis tersebut adalah bekas luka. Ya, Delma masih ingat dari mana asal bekas luka itu muncul. Ia tidak menyangka kalau bekas lukanya masih terlihat hingga sekarang, tidak hilang-hilang. Padahal, kejadiannya sudah sangat lama, yaitu saat ia dan Alka masih kelas 1 SD.
Delma terdiam saat mengingat sahabatnya. Bekas luka di tangan kirinya ia dapatkan dari Alka. Saat itu, mereka sedang bermain masak-masakan dan terjadilah insiden tak terduga. Alka kurang berhati-hati menggunakan pisau untuk memotong pelepah daun pisang. Akibatnya, tangan Delma yang jadi imbasnya. Delma ingat betul kalau saat itu ia tampak biasa saja, sedangkan Alka yang terlihat panik sendiri.
Mengingat peristiwa di masa kecilnya itu, tanpa sadar membuat kedua sudut bibir Delma tertarik ke atas. Laki-laki itu tersenyum geli mengingat kebersamaannya dengan Alka sewaktu masih kecil. Begitu polos dan lugu. Ia ... juga jadi teringat dengan kata-kata yang pernah ia lontarkan pada Alka saat itu. Ya, ia masih mengingatnya dengan ‘sangat’ baik.
“Kamu kalo misal luka atau sakit, kasih tau aku, ya.”
“Kenapa?” tanya Alka kecil waktu itu.
Delma kecil tersenyum lebar. “Biar aku obatin, sama kayak kamu ngobatin aku tadi.”
Lagi-lagi, Delma tersenyum mengingat kenangan tersebut. Sepertinya, ia memang dilahirkan untuk tidak bisa membenci Alka. Walaupun gadis itu sering melukainya, entah itu fisik maupun batin, pada akhirnya, Delma tetap akan berinteraksi seperti biasa pada gadis itu.
Delma mengembuskan napas. Ia memutar keran air, menghentikan aliran airnya. Ia segera keluar dari toilet dan kembali ke mejanya. Ternyata, kopi pesanannya sudah diganti dan tersaji manis di meja. Delma duduk di kursi. Baru saja ia akan menikmati secangkir kopi hitam manis, niatnya terpaksa urung saat ponselnya berdering nyaring.
Laki-laki itu melirik layar ponsel yang menyala. Ia mencondongkan badan, mengecek apa yang membuat ponselnya berdering. Ternyata, ada sebuah panggilan telepon. Kedua mata Delma membulat sempurna saat melihat nama kontak yang melakukan panggilan telepon.
“Alka?” gumamnya merasa heran. Tanpa pikir panjang, laki-laki itu segera menjawab panggilan Alka. Sayangnya, ia kurang cepat dan tanggap. Alka sudah mengakhiri panggilan telepon. Delma menatap ponsel. Ia segera menghubungi balik sahabatnya. Nada sambung terdengar. Jantungnya berdegup kencang menunggu Alka merespons panggilannya.
“Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silakan coba beberapa saat lagi.”
Delma tercenung. Ia menatap ponsel dengan raut bingung. Entah mengapa, perasaannya jadi tidak enak. Seperti ada yang ganjal dan ... tidak beres.
BERSAMBUNG
ke
PART 42
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡