AIR mata terus mengalir. Seorang gadis yang tertidur di atas tempat tidur terlihat mengerutkan dahi begitu dalam. Tak berselang lama, gadis itu membuka kedua mata secara tiba-tiba. Napasnya tersengal dengan keringat bercucuran di beberapa titik wajah.
Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri. Ia baru sadar kalau berada di kamarnya sendiri. Akan tetapi, ia merasa agak aneh saat bergerak, terutama di bagian rahasia miliknya. Ia menurunkan pandang, menatap tubuhnya yang tertutupi oleh selimut. Ia dibuat tercenung saat menatap lengannya yang terbuka. Buru-buru, ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh.
“ARGH!” Gadis itu memekik terkejut begitu melihat penampakkan dirinya. Gadis itu bangun dari posisinya menjadi duduk berselonjor di atas tempat tidur. “K-kok, aku ... t-telanjang ...?”
Gadis itu termenung. Ia mencoba mengingat apa yang sudah terjadi padanya. Pikirannya membawa ke sebuah ingatan. Ia terbayang akan suara lenguhan dan desahan. Samar, ia juga teringat dengan sosok laki-laki yang sepantaran dengannya tengah ....
Mengingat semua hal tersebut, si gadis membulatkan kedua mata dan segera membekap mulut dengan tangan. Gadis itu terkejut saat mengingat kejadian. Ia menatap kaku ke arah tubuhnya yang loncos. “Enggak, enggak .... Enggak mungkin ...,” gumam gadis itu dengan siara bergetar dan wajah ketakutan. Ia terus menggeleng-geleng, menepis ingatannya tadi. “Itu enggak mungkin dia, ‘kan?”
Gadis itu kembali menatap tubuh loncosnya dan kembali teringat akan suatu kejadian.
“Ald, ini ... salah .... Ini ... udah kelewatan, Ald. Kita enggak seharusnya kayak gini.”
“Alk, kamu yang tenang. Ini enggak akan sakit. Aku harap begitu ....”
“Alden ..., aku mohon ....”
Suara lenguhan, desahan, dan gesekan samar ikut terbayang di pikiran gadis itu. Gadis itu memegang kepala dan menutup kedua telinga menggunakan tangan. Ia menggeleng kuat-kuat. Air matanya mengalir deras, membahasahi wajah terlihat lesu. “Enggak! Kamu enggak mungkin ngelakuin itu ke aku, ‘kan, Alden? Itu ... bukan kamu, ‘kan, Ald? Itu bukan kamu, ‘kan?” Gadis itu terus bermonolog. Ia menangis tersedu-sedu. Ia masih tidak bisa mempercayai apa yang telah terjadi padanya. Perasaan kecewa, marah, kesal, dan malu bercampur menjadi satu, membuat gadis itu tertekan dan frustrasi. Ia jadi merasa tidak pantas hidup di dunia. Rasanya, kelakuannya bagai seorang hewan. “Enggak mungkin .... Ini, enggak mungkin ....”
Si gadis mencari ponsel. Ia turun dari tempat tidur untuk mencari benda canggih itu, tidak peduli dengan keadaannya yang masih loncos. Lagi pula, ia berada di kamarnya sendiri, tidak ada orang lain juga. Saat sedang mencari ponsel, perhatian gadis itu tak sengaja terjatuh pada sebuah kotak berwarna merah yang tergelatak di pojok kamar, di balik pintu tepatnya. Segera, gadis itu berjalan mendekat, memungut kotak merah tersebut.
Kotak merah itu sudah berpindah tempat ke tangannya. Gadis itu tercengang begitu menyadari apa kotak merah itu. Air matanya kembali meleleh. Ia tersenyum kecut. Ia menunduk, membiarkan air matanya jatuh mengenai lantai kamar yang dingin. “Kenapa kamu lakuin ini ke aku, Ald? Kamu bilang ... kamu bakal jaga aku, enggak akan bikin aku kecewa. Tapi, kenyataannya ....” Gadis itu mengambil string bad yang terletak di lantai. Ia ingat bahwa ponselnya tersimpan di sana. Ia memasukkan tangan dalam tas. Ia berhasil mendapatkan benda yang dibutuhkannya. Begitu layar ponsel menyala, gadis itu dibuat terdiam saat menatap lockscreen ponsel berupa foto seorang gadis dan laki-laki yang tengah berpelukan. d**a gadis itu terasa sesak melihat potret dirinya bersama laki-laki yang telah membuatnya terluka, fisik maupun batin. Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. “Alka, kamu harus tenang.”
Alka kembali menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Gadis itu segera membuka kunci layar dan mencari kontak seseorang. Langsung saja ia melakukan panggilan telepon. Ia buruh klarifikasi atas apa yang terjadi. Gadis itu harap-harap cemas menunggu panggilan teleponnya direspons.
“Maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.”
Alka terdiam. Ia dibuat heran usai mendengar pemberitahuan dari operator. Ia menatap ponsel dengan raut bingung. Ia tanpa pikir lama, ia kembali mencoba menghubungi kontak yang dipilihnya tadi. “Angkat, Alden ...,” katanya dengan suara agak bergetar. Sekarang, tiap mengingat laki-laki itu, Alka pasti merasa sesak. Ia benar-benar tidak menyangka kalau pacarnya berani bertindak di luar batas.
“Maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.”
Mendengar pemberitahuan tersebut, Alka langsung menggigit bibir bawah dengan kuat. Air mata gadis itu kembali meleleh. Ia menatap ponsel. Kali ini, ia mencoba untuk menghubungi Alden melalu pesan singkat.
Alka
[Ald]
Pesan tersebut terkirim. Sayangnya, ada yang aneh. Biasanya, pesan Alka akan langsung berubah status menjadi tanda dua centang abu-abu atau kalau beruntung, langsung berubah jadi centang berwarna biru. Namun sekarang, pesan yang baru saja ia kirim hanya berakhir tanda satu centang berwarna abu-abu. Begitu seterusnya, hingga beberapa menit berlalu.
Alka semakin dibuat kecewa oleh pacarnya itu. Ah, bahkan ia mulai ragu. Ragu apakah masih pantas ia menganggap Alden sebagai pacarnya atas apa yang telah dilakukan laki-laki itu padanya.
Pasalnya, Alden telah melanggar janji yang telah diungkapnya. Bukan hanya pada diri sendiri atau Alka, tetapi juga Tuhan, orang tua gadis itu dan juga Delma.
“Delma ...,” ucap Alka begitu lirih. Ia teringat sosok sahabatnya sejak kecil. Ia juga teringan dengan peringatan yang sering laki-laki itu sampaikan padanya agar terus berhati-hati, tak terkecuali pada Alden. Sayangnya, Alka saat itu tak mengindahkan sama sekali peringatan sahabatnya. Sekarang, ia pun merasa menyesal karena tidak percaya pada sahabatnya kalau Alden tidak sebaik yang dikira.
Alka menunduk. “Harusnya aku percaya sama kamu, Delma. Kalo gitu, kan ..., semua ini enggak terjadi ...,” ucap Alka diiringi isak tangis. Gadis itu kembali menatap ponsel. Ia mencari kontak sahabatnya. Ia berniat untuk menghubungi Delma. Akan tetapi, ia ragu apakah Delma masih mau menanggapinya atau tidak. Apalagi, hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja akibat perdebatan dan pertengkaran yang terjadi tadi siang.
Perasaan Alka benar-benar kacau. Ia butuh seseorang yang bisa menjadi sandarannya saat ini. Ia butuh kekuatan untuk tegar. Biasanya, ia akan bergantung pada Delma, tetapi ia tidak yakin kalau Delma masih mau meladeninya. Namun, tanpa sengaja, gadis itu teringat akan masa kecilnya dulu bersama Delma.
Saat itu, Alka dan Delma sedang bermain masak-masakan. Alka kecil berniat untuk memotong pelepah daun pisang. Memotongnya pun salah karena tidak diletakkan ke alas. Ia kesulitan memotong, makanya ia menambah kekuatan agar pelepah bisa terbelah. Akan tetapi, ia terlalu bertenaga hingga pisau kecil yang digunakannya menyasar tangan Delma. Tentu saja, kejadian itu mengejutkan Alka.
Gadis kecil itu memekik kaget melihat darah yang mengalir dari tangan Delma. Ia menangis dan panik. Namun, berbanding terbalik dengan Alka, Delma malah tampak santai-santai saja, seperti tidak terjadi apa-apa.
Alka kecil menangis. “Delma ..., aku minta maaf. Aku ... enggak sengaja ...,” cicitnya di sela-sela tangis.
Delma dengan santainya malah memegang luka gores di tangan. Ia mengusap darah yang keluar dari luka tersebut menggunakan jari telunjuk. Dengan polosnya, bocah laki-laki itu malah menjilat darah yang ada di jari.
Alka yang melihat hal tersebut langsung membulatkan mata. “Delma! Jangan dijilat darahnya, ih!” seru gadis itu kesal. Padahal, tadi Alka sedang sedih dan menangis.
Delma dengan tak berdosanya malah tergelak.
Alka mengerucutkan bibir. “Bentar, ya. Aku ambil plester dulu.” Gadis itu kecil itu bergegas mencari plester di dalam rumah. Beberapa menit kemudian, Alka keluar, membawa satu buah plester kuning dengan gambar dinosaurus berwarna hijau. “Sini tangan kamu.”
Delma menjulurkan tangan kirinya yang terluka. “Kenapa harus diplester, sih? Lagian, enggak sakit, kok.”
“Harus, lah. Kata mamaku, biar enggak i-i-in-infeksi,” ujar Alka bagai seorang dokter yang tengah menangani pasien. Plester pun telah terpasang, menutup luka gores di tangan Delma. Alka mengangkat wajah dan menatap Delma dengan raut bersalah. “Aku minta maaf, ya. Enggak sengaja ngelukain kamu.”
Delma tersenyum. “Iya, enggak apa-apa. Makasih udah obatin aku. Plesternya lucu. Ada gambar dino-nya.” Bocah laki-laki itu tergelak kemudian.
Alka pun ikut tergelak. “Iya, punya siapa dulu, dong.”
Delma tersenyum. Ia menatap Alka dengan lekat. “Alka,” panggilnya.
“Hm?”
“Kamu kalo misal luka atau sakit, kasih tau aku, ya.”
Alka mengernyit bingung. “Kenapa?”
Delma tersenyum lebar. “Biar aku obatin, sama kayak kamu ngobatin aku tadi,” ujarnya polos.
Mendengar perkataan Delma tersebut, Alka tersenyum lebar. Ia mengangguk dengan semangat, membuat poninya bergerak lucu.
Ingatan masa kecil itu membuat Alka semakin merasa bersalah. Gadis itu kembali menangis. Ia tersadar karena telah sering melukai perasaan Delma karena keegoisannya sendiri. Keegoisan atas dasar cinta.
Alka menatap layar ponsel dengan mata berkaca-kaca. Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Ia mencoba memantapkan diri apakah akan menghubungi Delma atau tidak. Ada keyakinan kecil jika Delma tidak akan ingkar janji karena biasanya seperti itu.
Beberapa detik berpikir, Alka memutuskan untuk menelepon Delma. Namun, baru beberapa saat mendengar nada sambung, Alka segera menjauhkan ponsel dari telinga. Gadis itu memutus sambungan telepon. Ia ... merasa tak yakin kalau Delma masih menganggapnya sebagai sahabat atas apa yang sudah ia lakukan pada laki-laki itu.
Alka ... merasa tak pantas.
BERSAMBUNG
ke
PART 41
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡