Part ini mengandung konten yang sensitif
Kalo mau tetep dibaca silakan, kalo enggak di-skip aja enggak apa-apa
Bijak-bijaklah kalian:)
***
ALKA semakin tak bisa berpikir jernih. Ia merasa gugup, takut, cemas, dan panik. Pikirannya benar-benar buntu. Sebenarnya, apa yang sedang direncanakan oleh Alden?
Alden menatap Alka dengan lekat. Ia menelan ludah, membuat jakunnya bergerak turun-naik saat melihat bagian merah di antara hidung dan dagu Alka. Entahlah, rasanya ia seperti baru saja menemukan buah ranum yang siap untuk dicicipi kemanisannya.
Laki-laki itu berjalan mendekati Alka. Tangannya bergerak cepat menangkup sebelah pipi gadis itu. Tepat saat itu juga, Alden mempertemukan bagian merah ranum milik Alka dengan miliknya sendiri.
Alka yang mendapat perlakuan tersebut tentu saja terkejut. Kedua matanya membulat sempurna. Kejadian itu terjadi begitu cepatnya. Alka merasakan sesuatu yang lembab menyapa permukaan bibir. Ia semakin dibuat bertanya-tanya mengapa Alden nekat melakukan hal ini.
Alden memejamkan mata sejenak dan perlahan mengurai pagutan bibirnya dengan milik Alka. Timbul sedikit rasa penyesalan di dalam benak Alden. Akan tetapi, ini belum ada apa-apanya dengan tujuan utama masuk ke kamar Alka.
Alka mengerjap beberapa kali. Gadis itu menatap Alden dalam diam. Entahlah, merasa pikirannya semakin buntu atas tindakan Alden baru saja. Jantung gadis itu bergedup dengan kencangnya. Ia masih ingat dengar jelas bagaimana bibir Alden yang menempel dengan permukaan bibirnya. Terasa geli sekaligus menggelitik.
Alden menatap Alka dengan lekat. Pacarnya itu terlihat hanya diam di tempat. Gadis itu tidak memperlihatkan raut kesal, marah, atau semacamnya. Lantas, semisal Alden melakukan sesuatu yang ‘lebih dari’ sekadar pertemuan bibir, apakah gadis juga akan tetap diam saja?
Alka menunduk, menatap handuk yang dipegangnya. Ia sejenak lupa untuk memberikan benda tersebut pada Alden.
Alden ternyata masih merasa merasa penasaran dengan reaksi Alka yang sebenarnya. Maka dari itu, ia kembali mendekati Alka. Ia kali ini menangkup kedua pipi gadis itu, membuat Alka menatap penuh ke arahnya.
“Kenapa ... kamu ngelakuin ini, Ald?”
Alden menghentikan sejenak niatnya. Laki-laki itu menatap kedua bola mata Alka. Iris gelap yang dimiliki gadis itu membuatnya merasa tenang.
Alka menatap Alden. Gadis itu mengerjap beberapa kali. Ia memperhatikan wajah pacarnya dengan tatapan menyelisik. Ia penasaran dengan isi kepala pacarnya saat ini.
Alden menelan ludah berat. Ia menatap Alka dengan lekat. “Aku ngelakuin ini karena ... aku pengin,” pungkas Alden.
Alka hanya diam dengan mata mengerjap beberapa kali. Gadis itu tidak bergerak sedikit pun saat Alden kembali memangkas jarak wajah mereka berdua. Sempat Alka rasakan pucuk hidungnya yang bersinggungan dengan hidung. Alka menahan napas saat jaraknya dengan wajah Alden semakin menipis. Apa yang bisa ia lakukan hanya diam dan memejamkan kedua mata.
Akhirnya, terjadi kembali pertemuan bibir antara milik Alka dan juga Alden. Kedua remaja itu sama-sama terbuai dengan sentuhan yang mereka ciptakan sendiri. Tidak ada yang memberontak. Keduanya sama-sama terlena.
Alden memperdalam tautan bibirnya dengan milik Alka. Bahkan, ia berani untuk menyesapnya. Hal itu membuat Alka sedikit terkejut dan mengeluarkan lenguhan samar. Tak sengaja, handuk yang semula dipegang gadis itu terjatuh ke lantai. Namun, tidak ada yang memedulikan hal tersebut. Tentulah, dua remaja itu lebih memedulikan kenikmatan permainan bibir yang masih berlangsung hingga sekarang.
Perlahan-lahan, tanpa sadar, Alka menggerakkan kedua tangan. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Alden. Kedua remaja itu benar-benar sudah mabuk oleh pengalaman berciuman untuk yang ke sekian kali. Tidak peduli di mana mereka berada sekarang. Juga, tidak peduli dengan suara derasnya hujan yang turun di luar sana. Sungguh, mereka tidak peduli.
Entahlah apa yang dirasakan kedua remaja itu saat ini. Perasaannya sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata.
Alden mengurai sejenak, pertemuan bibirnya dengan Alka untuk meraup oksigen. Ia menatap kedua mata gadis di hadapannya dengan lekat.
Alka membalas tatapan Alden. Refleks, ia membasahi bibir, titik di mana titik pertemuan bibirnya dengan milik Alden terjadi.
Alden menatap Alka dan berkata dengan lirih dan suara agak serak, “Karena kita enggak jadi pergi ke luar, jadi mending kita kayak gini, ‘kan?”
Alka terdiam mendengar pertanyaan Alden. Gadis itu menelan ludah susah payah. Ia tidak ada ide untuk menanggapi perkataan Alden. Sayangnya, yang bisa ia lakukan hanya mengulum bibir.
Hal itu tentu saja tidak luput dari pandangan Alden. Laki-laki itu hendak mempertemukan kembali bibirnya dengan bibir Alka, tetapi Alka dengan cepat mengelak.
Alka menarik kepala ke belakang. Refleks saja ia melakukan aksi tersebut. Jantungnya berdegup kencang. Ia menelan ludah dengan susah payah. Gadis itu mengerjap mata dan membungkuk. Tangannya terjulur untung memungut handuk yang sempat terjatuh. Ia segera menyodorkan handuk tersebut pada Alden. “Ini. Buruan badan kamu dikeringin pake itu, biar enggak enggak sakit nanti.”
Alden menatap handuk yang disodorkan oleh Alka. Perlahan, ia mulai menerimanya. Laki-laki itu mengangguk. Ia melepas jaket yang dikenakannya. Beberapa detik kemudian, ia tanpa aba-aba apa pun langsung menanggalkan kaus lengan pendek yang dikenakannya.
Sontak saja, hal itu membuat Alka terkejut. Gadis itu langsung membalikkan badan, memunggungi Alden. Jantung gadis itu berdegup dengan kencang. Ia berdecak pelan. “Kamu kalo mau buka baju bilang-bilang, dong, Ald. Aku, kan, jadi kaget.”
Mendengar gerutuan Alka itu membuat Alden tersenyum. Ia mengeringkan tubuh yang agak basah karena air hujan yang berhasil menembus jaket dan kaus yang kenakannya. “Maaf, Al, sengaja.”
Alka memutar bola mata malas. Gadis itu melipat kedua tangan di depan d**a, menunggu Alden selesai mengeringkan tubuh. Namun, gadis itu dibuat terkejut saat ada yang melingkari tubuhnya. Gadis itu menurunkan pandang, menatap tangan yang melingkar di sekitar perut. Ia langsung bisa menebak siapa pemilik dari tangan tersebut. Alka menoleh dan tepat saat saat itu juga wajahnya berhadapan tepat dengan wajah Alden. Gadis itu menegang di tempat. Ia kembali dibuat tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Alden.
Alden memeluk Alka dari belakang. Ia tidak peduli tubuhnya kembali basah oleh pakaian Alka. Tangannya melingkari erat tubuh ramping sang pacar. Sepertinya, ini momen yang tepat untuk melakukan rencana kedua.
“Ald, badan kamu basah lagi kalo meluk aku,” tegur Alka. Ia memegang tangan Alden yang melingkari tubuhnya.
Alden tersenyum tipis. Tipis, tetapi sukses memikat orang yang melihatnya. Siapa lagi jika bukan Alka. “Enggak apa-apa.”
“Tapi, kalo kamu nanti kedinginan, gimana?”
Alden tertawa kecil. Sungguh, tawa.itu menggeletik indra pendengaran Alden. “Gampang, Alk. Di luar sana boleh dingin karena hujan, tapi ... di luar sini harus dihangatin dengan cinta.”
Alka terdiam. Gadis itu menatap kedua iris gelap milik Alden. Jujur, ia tidak terlalu paham dengan maksud perkataan Alden. Sayangnya, baru saja ia hendak bertanya, bibirnya kembali dibungkam oleh Alden menggunakan bibir, dengan keadaan masih berpelukan.
Alden mengeratkan pelukan dengan Alka. Perlahan-lahan, ia membawa gadis dalam pelukannya untuk duduk di tempat tidur yang duduk dari posisi mereka berdua.
Alka terkejut. Apalagi, dengan posisinya saat ini adalah duduk di pangkuan Alden. Tentulah, gadis itu merasa tidak nyaman. Terpaksa, ia mengurai pagutan bibirnya dengan Alden. “Ald ...,” tegurnya lirih.
“Kenapa?”
Alka menelan ludah. Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. “Ald, ini ... enggak bener. Seharusnya, kita enggak kayak gini sekarang.” Alka baru saja akan berdiri, tetapi niatnya langsung ditahan oleh Alden.
Alden semakin mengeratkan pelukannya dengan Alka. Ia menaruh dagu pada pundak gadis yang berada di pangkuannya. “Alk, aku kedinginan, makanya ... aku butuh kehangatan.”
Alka mengernyit bingung dengan maksud perkataan Alden. Ia baru saja akan bertanya, tetapi ia buat salah fokus dengan apa yang sedang dilakukan oleh Alden saat ini.
Tangan Alden yang semula melingkar di sekitar perut Alka perlahan bergerak, mengurai satu per satu kancing dari hem yang dikenakan oleh gadis itu.
Alka membulatkan kedua mata. Ia menoleh sekilas ke belakang. “Ald, kamu ngapain?” Gadis itu berusaha menahan tangan Alden yang telah berhasil mengurai semua kancing hem miliknya. Alhasil, bagian dalam tubuhnya pun terlihat. Padahal, Alka hanya mengenakan sport bra berwarna putih di dalamnya.
Alden seolah tuli dengan pertanyaan Alka. Laki-laki itu mulai membaringkan tubuh di kasur. Perlahan, ia mengubah posisi. Ia menarik diri dari bawah tubuh Alka dan berpindah posisi. Ia mengurung tubuh Alka yang berbaring di kasur.
Raut wajah Alka terlihat tegang. Gadis itu dibuat salah fokus dengan tubuh atas Alden yang telanjang. Gadis itu menelan ludah berat. Ia lantas beralih menatap tubuhnya sendiri. Hem marun yang dikenakannya telah terbuka, bagian dalamnya pun terlihat. Ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih. “Ald, kamu mau apa sebenernya?” tanya Alka dengan suara bergetar. Kedua mata gadis itu mulai terasa panas, tanda-tanda akan ada yang keluar dari indra penglihatannya itu.
“Sesuatu yang bakal ngangetin kita, Alk. Anggap aja, ini sebagai ganti karena kita enggak jadi quality time di luar.”
“Tapi, Ald. Aku takut ...,” cicit Alka.
Alden terdiam sejenak. Sepertinya, Alka sudah mengetahui maksud ‘kehangatan’ yang sejak tadi ia singggung. Sudut bibir Alden tertarik ke atas. Ia membelai pipi Alka menggunakan punggung tangannya.
Alka yang mendapat perlakuan itu mulai tidak bisa tenang. Gadis itu mulai melelehkan air mata. “Ald, ini ... salah .... Ini ... udah kelewatan, Ald. Kita enggak seharusnya kayak gini.”
Sayangnya, Alden tidak peduli dengan perkataan Alka. Laki-laki itu mulai melancarkan aksinya. Pertama-tama, ia menenangkan Alka dengan memberikan sentuhan lembut di bibir gadis itu, walaupun hasilnya kurang memuaskan karena Alka menangis. “Alk, kamu yang tenang. Ini enggak akan sakit. Aku harap begitu ....”
Alden mengembuskan napas berat. Dengan perasaan agak ragu, laki-laki itu mulai menelanjangi Alka. Alka sempat melakukan perlawanan, tetapi Alden segera membungkamnya dengan ciuman bibir. Terus, saja seperti hingga kedua remaja itu telah sama-sama memamerkan seluruh anggota tubuh masing-masing.
“Alden ..., aku mohon ...,” rengek Alka dengan berurai air mata. Gadis itu benar-benar takut. Bukan, yang di hadapannya ini bukan Alden! Ini bukan Alden yang Alka kenal!
Untuk ke sekian kalinya, Alden tidak menghiraukan rengekan Alka. Laki-laki itu mengembuskan napas berat. Maafin aku, Alk. Aku ... terpaksa lakuin ini semua. Setelah memejamkan mata sejenak, Alden mulai melancarkan aksinya.
Laki-laki itu perlahan-lahan mencoba untuk menembus pintu rahasia milik Alka. Sang pemilik pintu rahasia itu terus saja menangis. Tangisannya semakin keras terdengar saat kekuatan Alden menembus pintu rahasia miliknya semakin dalam.
Alka memejamkan mata rapat-rapat. Kekuatan yang diberikan Alden membuatnya sakit, tetapi merangsang hasratnya. Gadis itu berusaha kuat agar tidak mengeluarkan suara, tetapi gagal. Ia sedikit menggeliat dan melenguh samar dengan air matanya yang terus meleleh. “Alen ...,” lirihnya.
Di tengah riuhnya suara hujan dari luar yang begitu deras, dua insan yang terikat hubungan asmara anak muda itu mengadukan suara mereka. Jenis suara yang membangkitkan hasrat dan adrenalin.
Alden terus memperjuangkan kekuatannya untuk bekerja semaksimal mungkin. Sekali lagi, ia melakukan aksi ini bukan untuk dirinya, tetapi untuk seseorang yang lain. Dalam hari, Alden terus mengucap maaf atas apa yang diperbuatnya pada pacar sendiri. Ya, ia tahu ini salah, sangat-sangat salah. Persis seperti yang dikatakan Alka.
“Alden ....” Alka menyebut nama pacarnya. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, gadis itu terlihat memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Ia kelelahan karena menangis, menyuarakan kesakitannya, dan terutama karena kekuatan Alden yang sempurna memasuki pintu rahasinya. Alka tidak berdaya di atas tempat tidur.
Napas Alden terengah-engah. Laki-laki itu menunduk, menatap peraduan dirinya dengan pacarnya sendiri. Air mata tanpa sadar menetes. Rasa penyesalan merundung benak laki-laki itu itu. “M-maafin aku, Alk. M-maaf ...,” ucap Alken susah payah.
Laki-laki itu perlahan-lahan mulai mengurai peraduan dirinya dengan Alka. Iamengenakan kembali pakaiannya, tidak peduli walaupun keadaan pakaiannya masih basah karena air hujan. Alden berdeham beberapa kali. Ia membalikkan badan, menatap pacarnya yang terbaring tak berdaya di tempat tidur. Perlahan, Alden berjalan mendekati Alka. Ia menarik selimut dan menutupi tubuh gadis itu yang sempurna loncos.
Alden mengembuskan napas berat. Dengan perasaan sesak, laki-laki itu memberi kecupan di dahi, kedua kelopak mata, pucuk hidung, dan terakhir bibir Alka. Ia diam cukup lama saat mengecup bibir ranum pacarnya. Setetes cairan bening kembali lolos dari sudut matanya. “Alk ..., aku janji, kalau sesuatu terjadi sama kamu nanti, aku ... bakal tanggung jawab. Aku ... janji, Alk.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Alden berdiri tegak sambil menyeka air mata. Ia membalikkan badan dan berjalan ke arah pintu. Sebelumnya, ia mengambil terlebih dahulu ponsel yang ia letakkan di meja dekat pintu. Ia matikan perekaman video dan beralih membuka kontak seseorang. Ia segera melakukan panggilan telepon.
Sembari menunggu, Alden menoleh ke belakang, menatap Alka yang tertidur dengan dengan deru napas yang teratur.
“Halo, Al?”
Alden tersentak. Ia segera menjawab sapaan seseorang di seberang sana sambil membuka kunci kamar Alka. Laki-laki itu keluar dari kamar dan menutup kembali pintu. Keadaan di luar indekos ternyata masih hujan deras.
“Gimana?”
Alden mengambil napas dan mengembuskannya secara perlahan. “Gue udah selesai.”
BERSAMBUNG
ke
PART 40
Ada yang mau komen sesuatu tentang part ini?
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡