“GITU, Ald, ceritanya. Nyebelin banget, ‘kan, si Delma? Egois banget!”
Alden mendengar cerita Alka yang didominasi oleh perasaan kesal. Jujur, mendengar cerita dari Alka, ia juga merasa agak tersinggung dengan apa hang dikatakan oleh Delma. Kalau ia ada di tengah-tengah dua sahabat itu, pasti ia sudah menghajar habis Delma.
“Aku minta maaf karena Delma, ya, Ald. Tuh, cowok emang aneh. Enggak punya hati! Padahal, dia cuma sahabat doang, sedangkan pacar aku, kan, kamu.” Alka menaruh dagu di pundak Alden. Gadis itu kembali menguatkan lingkaran tangan di sekitar perut pacarnya.
“Udah, kamu enggak usah terlalu mikirin masalah itu. Nanti, Delma pasti sadar sama perbuatannya sendiri. Kamu jangan mikir macem-macem, nanti kamu stres.”
Alka mengangguk patuh.
“Terus, hubungan kamu sama dia sekarang, gimana?” Alden bertanya.
Alka mengangkat bahu. “Enggak tau, ah. Males juga aku mikirin dia. Biarin, lah, aku berantem sama dia. Asal enggak sama kamu berantemnya.” Usai berkata seperti itu, Alka tertawa kecil.
Alden ikut tertawa kecil. “Kamu jago gombal, ya, ternyata.”
“Enggak, ah. Aku, kan, ngomong apa adanya. Bukan gom-bal.”
“Iya, iya. Percaya, deh, sama kata kamu.”
Alka tersenyum. Namun, senyumnya memudar saat tangannya merasakan sesuatu. Terasa seperti cairan yang menetes di kulit tangan. Indra pendengaran Alka menangkap bunyi ‘tek’ yang sangat samar, seperti ada sesuatu yang jatuh mengenai helm.
Penasaran, Alka akhrinya mendongak. Gadis itu baru sadar kalau langit di atas sana terpenuhi oleh awan abu-abu yang begitu gelap. Sedikit demi sedikit, air dari langit mulai berjatuhan ke bumi. Awalnya hanya rintik kecil, tetapi intensitas lambat laun semakin banyak dan deras.
“Ald, hujan, ya?”
“Iya, Alk.” Alden sedikit mengeraskan suaranya agar dapat didengar Alka.
Hujan turun cukup deras. Sepeda motor yang membawa Alka dan Alden masih melaju di jalan raya. Alden terpaksa memberhentikan sejenak sepeda motornya di pinggir jalan.
“Kamu enggak bawa jas hujan?”
“Kayaknya, sih, bawa. Coba kamu turun bentar.”
Alka mengangguk patuh. Ia segera segera menuruti perkataan Alden untuk turun dari sepeda motor. Gadis itu memeluk lengan. Air hujan membasahi tubuhnya.
“Bentar, ya, Alk.” Alden segera membuka jok sepeda motornya. Ia berharap semoga tidak lupa menaruh jas hujan di dalam bagasi dalam jok sepeda motor. Sayangnya, setelah dicari-cari, ia tak menemukan adanya jas hujan. “Duh, Alk. Jas hujannya ketinggalan. Lupa aku masukkin ke jok.”
Mendengar pernyataan tersebut, membuat Alka jadi cemas. Gadis itu mendongak, menatap langit yang terus saja menangis deras.
“Apa kita pending aja hari ini, Alk? Kayaknya, enggak mungkin juga kita nekat jalan hujan-hujan gini. Deres soalnya. Risikonya tinggi kalo ... ada kecelakaan,” ujar Alden.
Alka mendesis kedinginan. Ia akhirnya memilih mengangguk. “Ya udah. Pulang aja, yuk, Ald. Kamu bener, hujannya deres banget. Mumpung masih belum terlalu jauh, kita balik ke kos aku aja, ya.”
Alden mengangguk. Laki-laki itu menutup kembali jok sepeda motor. Ia duduk di jok, lalu disusul oleh Alka. Kedua remaja itu sama-sama sudah dalam kondisi basah kuyup oleh air hujan.
Dengan penuh kehati-hatian, Alden memutar balik sepeda motornya. Ia melajukan kendaraan pribadinya itu dengan kecepatan yang cukup tinggi, menerjang derasnya air hujan. Secara otomatis, Alka mengeratkan tangannya yang melingkar di tubuh Alden.
Berhubung mereka berdua belum pergi terlalu jauh dari indekos Alka, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan dengan waktu yang singkat. Kondisi kawasan indekos Alka terlihat sepi. Alden menghentikan sepeda motornya di depan indekos putri. Buru-buru, ia dan Alka turun dari sepeda motor dan berteduh.
Alka mendesis kedinginan. Pakaiannya benar-benar sudah basah, tak ada sisa bagian yang kering. Ia melepas helm dan menoleh ke arah Alden yang juga basan kuyup. “Ald, bentar, ya. Aku ... ambil handuk di dalem buat ngeringin badan,” ujar Alka agak gemetar karena kedinginan.
Alden hanya mengangguk. Laki-laki itu mempersilakan Alka untuk masuk ke kamar indekos. Ia melepas helm dan merapikan tatanan rambut. Ternyata, dugaannya benar jika hujan akan turun hari ini. Gagal sudah rencananya bersama Alka untuk berkunjung ke salah satu tempat wisata. Padahal, Alka sudah sangat ingin untuk pergi ke sana.
Pandangan Alden mengedar. Hujan turun dengan deras, suaranya pun cukup memekakkan telinga. Laki-laki itu berjalan menuju meja yang ada di depan indekos Alka. Ia letakkan helmnya di sana. Perhatian Alden terjatuh pada pintu kamar indekos yang terbuka lebar.
Alden jadi teringat dengan rencana keduanya hari ini. Secara otomatis juga, ia jadi teringat dengan perbincangannya bersama Faza beberapa hari lalu.
“Semakin cepat, semakin baik.”
Ucapan temannya itu kembali terngiang di kepalanya. Alden menelan ludah berat. Jantungnya entah mengapa berdegup lebih kencang daripada sebelumnya. Tangan laki-laki itu bergerak, mengambil sesuatu dari saku celana. Ia keluarkan ponsel. Lalu, ia beralih memasukkan tangan ke saku jaket. Ia mengambil kotak merah pemberian Faza yang ia simpan di sana. Alden menatap dua benda tersebut yang ada di tangan.
Keraguan dan kekhawatiran seketika merundung dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Inget, Ald. Ini ... buka buat kamu, tapi buat dia, batin Alden.
Alden mengembuskan napas berat. Jarinya dengan lincah menghidupkan ponsel dan membuka fitur kamera. Ia segera mengaktifkan mode perekaman video. Laki-laki itu perlahan melangkah menuju pintu kamar indekos Alka yang terbuka lebar. Dari ambang pintu, ia melihat Alka yang memunggungi dirinya, seperti sedang mencari sesuatu. Memanfaatkan kesempatan, Alden tanpa permisi melangkah masuk ke kamar gadis itu.
Laki-laki itu menoleh ke kanan dan kiri, mencari tempat yang cocok baginya untuk meletakkan ponsel. Pilhannya pun terjatuh pada meja kecil yang kebetulan ada di dekat pintu. Ia lantas meletakkan ponsel tersebut di meja tersebut secara diam-diam. Sesekali, Alden juga mengawasi keadaan. Untungnya, Alka masih tidak sadar kalau ada orang lain di dalam kamar.
Alden kembali berdiri tegak begitu selesai meletakkan ponsel. Ia membalikkan badan, menatap pintu kamar Alka. Laki-laki itu beralih menatap kotak merah yang masih ada di tangan. Ia diam selama beberapa saat.
“Emang, sih, kalo pake ini enggak bakal bikin masalah baru. Tapi, perlu lo inget, kadang ini, tuh, suka nyangkut alias ketinggalan kalo habis dipake. Ya ..., lo bayangin sendiri, lah, gimana kesiksanya dia kalo ada yang ganjel. Kalo dia enggak tau gimana cara ngatasinnya, ya ..., bakal bahaya. Bisa-bisa lo ketahuan juga.”
“Semua balik lagi ke lo. Pake enggak pake, sama-sama berisiko.”
Lagi-lagi, perkataan Faza terngiang di pikiran Alden. Ia jadi dirundung kebingungan lagi. Dipake atau enggak, sama-sama berisiko, ulang Alden di dalam hati. Laki-laki itu diam selama beberapa saat untuk memantapkan pilihan. Ia menurunkan pandang dan menatap kotak merah di tangan. Alden meremas benta tersebut hingga koyak. Setelah itu, ia melemparnya ke sembarang arah---masih di dalam kamar Alka.
Suara benda jatuh ke lantai sukses menarik perhatian Alka yang baru saja mendapat handuk yang ia cari. Gadis itu membalikkan badan dan alangkah terkejutnya ia karena baru sadar jika Alden berada di dalam kamarnya. Alka menelan ludah berat. Ia menatap pacarnya itu penuh kebingungan. “A-Ald? K-kamu ..., kok, ada di sini?” tanya Alka dengan perasaan gugup. Entah mengapa perasaannya jadi tidak enak. Tanpa sadar, ia memeras handuk yang dipegangnya.
Alden masih menghadap pintu. Laki-laki itu perlahan meraih gagang pintu kamar indekos Alka. Ia mendorongnya. Pintu kamar Alka pun tertutup sempurna. Tak sampai di situ, laki-laki juga memutar kanan kunci yang tertancap pada pintu. Kini, sudah tidak ada lagi akses jalan keluar.
Alka merasakan jantungnya yang berpacu dengan cepat. Gadis itu benar-benar merasakan firasat yang tak mengenakkan. “A-Ald ..., kenapa pintu kamar aku kamu ... kunci? Kamu ....” Alka tak kuasa melanjutkan perkataannya. Ia dibuat bungkam saat Alden membalikkan badan dan menatapnya dengan ekspresi yang sangat serius. Tanpa sadar, Alka menelan ludah dengan susah payah.
Alden menatap Alka dari atas ke bawah. Pakaian yang dikenakan oleh pacarnya itu basah kuyup, membuat lekuk tubuhnya tercetak jelas. Dengan langkah pelan, Alden berjalan mendekati sang pacar yang diam di tempat. Begitu berhenti tepat di depan Alka, Alden memandangi gadis itu dengan begitu lekat. Tatapannya dengan gadis itu bertumbukkan selama beberapa saat.
Alka semakin tak bisa berpikir jernih. Ia merasa gugup, takut, cemas, dan panik. Pikirannya benar-benar buntu. Sebenarnya, apa yang sedang direncanakan oleh Alden?
BERSAMBUNG
ke
PART 39
Cuma mau ngasih tau, habis ini (Part 39) bakal ada konten yang sensitif
Jadi, pikirkan lagi apakah akan bermasalah atau enggak kalo kalian baca konten yang kayak gitu
Kalo mau tetep dibaca silakan, kalo enggak di-skip aja enggak apa-apa
Intinya, aku udah ngingetin, ya:)
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡