Part 37 - Kotak Merah

1203 Words
“TAMBAH apa lagi, Mas?” Alden segera menggeleng, menanggapi pertanyaan penjaga kasir. “Total belanjanya 51 ribu.” Tangan Alden tertujulur, memberikan uang kertas berwarna merah pada penjaga kasir. Penjaga kasir mengambil alih yang dari tangan Alden. Ia lantas memberikan uang kembalian. “Kembaliannya 49 ribu, ya, Mas. Silakan. Terima kasih sudah berbelanja.” “Ya, sama-sama.” Alden mengambil uang kembalian beserta struk. Tak lupa, ia juga mengambil kantung plastik beri barang belanjaannya. Laki-laki itu lantas berjalan ke luar minimarket. Alden sampai di parkiran minimarket. Saat memasukkan uang kembali dan struk ke saku jaket di sebelah kiri. Ia beralih memasukkan tangannya ke saku jaket sebelah kanan untuk mengambil kunci sepeda motor. Namun, ia tiba-tiba terdiam. Ia tercenung saat tangannya menyentuh sesuatu. Perlahan, ia mengeluarkan benda yang tak sengaja disentuhnya. Laki-laki itu semakin terdiam saat menyadari apa benda yang baru saja ia ambil. Di tangannya kini, terdapat sebuah kotak berwarna merah. Ringan, tetapi yang membuat berat adalah kegunaan dari nemda tersebut. Alden menelan ludah berat. Tanpa sengaja, laki-laki itu teringat dari mana asal ia mendapatkan benda tersebut. Pikirannya melayang ke kejadian saat berada di kedai es krim bersama Alka. Saat itu, ia dan Alka baru saja pergi menonton film di bioskop. Di kedai es krim, Alden tidak sengaja kedatangan salah satu teman kampusnya yang bernama Faza. “Lo bisa pake ini, pas eksekusi.” Faza menyodorkan sebuah kotal berwarna merah pada Alden. Kedua mata Alden terbuka lebar melihat kotak yang disodorkan oleh Faza. Ia menaikkan pandang, menatap teman kampusnya itu. Laki-laki itu menatap ke kanan dan kiri. Tidak ada yang menyadari keberadaannya dengan Faza. “Lo ... yang bener aja, Za?” geram Alden. “Lah, lo yang bilang sendiri tadi kalo lo enggak mau terjadi apa-apa sama dia nanti. Ya, solusinya ini.” Alden menyugar rambut ke belakang. Laki-laki itu dilanda kebingungan. “Ya ..., semua balik lagi ke tangan lo. Mau terima atau enggak. Inget, kesempatan belum tentu dateng dua kali. Lumayan, Al. Semakin banyak yang klik, semakin banyak hasil yang bakal lo dapet. Bukannya ... lo sendiri yang bilang kalo lagi butuh banyak, hm?” Alden diam. Laki-laki itu menatap Faza, lalu beralih menatap kotak merah di tangan temannya itu. Memang, ini adalah ide yang gila. Sangat gila malah. Akan tetapi, Alden didesak oleh yang namanya ‘kebutuhan’. Bukan untuk dirinya, tetapi seseorang yang lain. Embusan napas berat keluar dari mulut Faza. Setelah bergelut dengan pikirannya, akhirnya Alden mengambil alih kotak merah dari tangan Faza. Faza sempat terkejut dengan tindakan Alden itu. Akan tetapi, ia segera tersenyum puas kemudian. “Jadi, nih?” Alden mengangguk yakin, menanggapi pertanyaan Faza. “Berapa lama waktu yang dikasih?” Faza berdeham panjang. “Inget pepatah ini aja, ‘Semakin cepat, semakin baik. Okay?” Alden terdiam beberapa saat. Ia mengangguk beberapa kali kemudian. “Gue bakal terima penawaran ini, tapi jangan ingkar sama janji lo, Za.” “Santai, santai. Pasti hasilnya sesuai sama usaha yang lo lakuin, Al.” Alden kembali mengangguk. Ia menurunkan pandang, menatap kotak merah di tangannya kini. Pikiran Alden kembali ke masa sekarang. Laki-laki itu mengerjap beberapa kali dan memasukkan kembali kotak tersebut ke saku jaket. Ia segera menaiki sepeda motor dan mengendarainya menuju indekos Alka. Sudah waktunya untuk pergi menghabiskan waktu bersama pacarnya itu. Hari Sabtu, keadaan jalanan tidak terlalu ramai. Apalagi, sekarang sudah memasuki waktu siang hari. Sayangnya, keadaan langit di atas sana agak meresahkan. Langit diselimuti oleh awan putih dan juga abu-abu, menjadikannya mendung. Aldan sempat mendongak. Ia jadi berpikiran kalau hujan akan turun. Kalaupun iya, bisa-bisa, rencananya untuk pergi berdua ke danau bersama Alka terancam batal. Akan tetapi, entah keadaan mendung itu juga akan berimbas ke rencananya yang kedua atau tidak. Rencana yang hanya diketahui olehnya sendiri. Ah, mungkin juga oleh yang di atas. Beberapa menit menyusuri jalan, akhirnya Alden tiba di tempat tujuan. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat seorang gadis berhem merah dan rok pendek hitam selutut tengah berdiri di pinggir jalan, tepatnya di depan sebuah kawasan indekos putri dan putra. Berkebalikan dengan Alden, ekspresi gadis itu malah terlihat sendu, sama seperti langit di atas sana. TIN! TIN! Alden menekan tombol klakson. Ia mengerem sepeda motornya dan berhenti tepat di depan gadis yang dilihatnya tadi. Gadis berhem merah menoleh ke arah Alden. Ia terlihat menarik kedua sudut bibirnya ke atas, tetapi samar. Alden mendorong kaca helm ke atas dan tersenyum pada sang gadis. “Hai, Alk!” sapanya. Sang gadis---Alka---tersenyum dan balik menyapa, “Hai, Ald.” Alden memperhatikan penampilan Alka dari atas ke bawah. Pacarnya itu terlihat cantik meskipun hanya memakai pakaian bergaya kasula. Sayangnya, ada yang sedikit kurang. Wajah Alka terlihat kusut, seperti sedang menahan kesal. “Al, kamu kenapa? Kok, mukanya lecek gitu? Aku lama, ya, makanya kamu kesel? Maaf, Alk, tadi bingung milih cemilan yang cocok sama kamu. Aku---” “Enggak, kok, Ald. Bukan kamu,” sanggah Alka. Alden mengernyit samar. “Kalo bukan aku, terus siapa?” Alka mengerucutkan bibir. “Delma, tuh. Siang-siang bikin kesel aja.” “Kesel kenapa lagi, sih?” “Aku ceritain sambil jalan, deh.” Alden manggut-manggut. Tangannya bergerak mengambil helm yang ia gantung di setang sepeda motor. Ia lantas membantu Alka mengenakan helm tersebut di kepala. “Kosan kamu keliatan sepi, Alk,” kata Alden, iseng. Alka melirik area indekosnya. Gadis itu mengangguk di saat Alden sedang memasang pengait helm. “Iya. Kebanyakan, kan, milih pulang ke rumah, mumpung hari Sabtu. Tapi, ada juga, sih, yang lagi keluar. Kuliah atau hang-out.” Alden manggut-manggut penuturan sang pacar. Begitu pengait helm terpasang, ia lantas menarik tangannya menjauh dari kepala Alka. “Ya udah, berangkat sekarang, yuk. Langitnya mendung soalnya.” Alden mendongak, melihat keadaan langit. Saat dilihat, keadaannya malah lebih mendung dari yang sebelumnya ia lihat. Alka secara otomatis ikut mendongak, menatap langit luas yang ada di atas sana. Benar kata pacarnya, langit terlihat mendung. “Jadi, gimana?” Alden tiba-tiba bertanya. “Mau tetep dilanjut aja?” Alka berhenti mendongak. Gadis itu menatap Alden dan tersenyum sambil mengangguk-angguk. “Jadi, lah. Aku pokoknua harus ke sana, soalnya aku belum pernah,” rengek Alka. Ekspresinya dibuat seolah-olah memelas dengan bibir mengerucut ke depan dan mata berkaca-kaca. Alden yang melihat ekspresi aneh Alka itu langsung tertawa. “Udah, udah, iya. Sekarang, ke sana, deh. Mumpung air hujannya belum turun.” Alka langsung mengangguk dengan penuh semangat. Ia duduk di jok sepeda motor, tepatnya di belakang Alden. Seperti biasa, ia melingkarkan tangan pada tubuh laki-laki itu, di sekitar perut. Alden mengarahkan posisi tangan Alka agar tidak menyentuh benda yang ada dalam saku jaketnya. Tentu, benda yang dimaksud adalah kotak merah pemberian Faza. Ia tidak ingin Alka jadi penasaran. “Udah siap?” Alka mencondongkan wajah, menumpukkan dagi di bahu Alden. Ia memandang Alden dari samping dan tersenyum lebar. “Siap!” Senyum itu menular pada Alden. Laki-laki itu mengangguk dan segera melajukan sepeda motornya menuju tempat wisata yang akan ia kunjungi bersama Alka hari ini. “Jadi, kamu kenapa kesel sama Delma, Alk?” BERSAMBUNG ke PART 38 Betewe, kalian mikir kotak merahnya itu apaan? Kalo aku ... itu, deh, pokoknya:D Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku di, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD