Part 36 - Pacaran Mengancam Persahabatan

1421 Words
HAMPIR 15 menit lamanya Alka mematut diri di depan cermin. Gadis itu sedang merapikan pakaian yang dikenakannya, sekaligus merias wajah. Ia hanya merias secukupnya saja karena pada dasarnya, ia memang tidak terlalu suka dandan. Hanya membubuhkan bedak dan liptint saja menurutnya sudah cukup. Alka tersenyum simpul melihat pantulan diri di dalam cermin. Ia cukup puas dengan penampilannya saat ini. Walaupun gaya berpakaian yang ia pilih bertema kasual---hem berwarna merah marun dan rok hitam selutut, tetapi mampu memberikan kesan cantik untuknya. Namun, senyumnya seketika lenyap karena mendengar suara denting ponsel. Gadis itu menoleh ke arah kasur, melihat benda pipih hitam yang tergeletak di sana. Gadis berambut panjang tergerai itu berjalan menuju kasur. Tangannya terjulur ke bawah, meraih ponsel. Layar ponselnya menyala, menampilkan notifikasi pesan singkat yang masuk dari Alden, pacarnya. Seketika, senyum di bibir Alka yang sempat lenyap tadi kembali terbit. Malah, terlihat lebih lebar dari sebelumnya. Entahlah, gadis itu selalu merasa semangatnya meningkat saat Alden menghubunginya. Alka segera membuka pesan masuk yang dikirimkan oleh Alden baru saja. Ada dua pesan yang dikirim laki-laki itu. Alden [Pagi, Alk] [Gimana? Udah siap pergi?] Alka tersenyum penuh arti dan segera mengetik pesan balasan untuk Alden. Alka [Pagi juga, Ald♡] [Udah, dong] [Kamu sendiri, gimana?] Tak butuh waktu lama, pesan balasan dari Alden pun muncul di layar ponsel Alka. Alden [Sama, aku juga udah siap] [Ini lagi mampir ke minimarket, bali cemilan buat nanti] Alka [Yah, harusnya beli bareng-bareng, Ald:/] Alden [Yah, udah telanjur] [Ya udah, kamu mau nitip apa?] [Mumpung aku masih ada di sini] Alka tersenyum jahil. Ia mengetik pesan untuk Alden dengan hati untuk menggoda pacarnya yang katanya sedang ada di minimarket. Alka [Aku nitip cinta kamu buat aku aja] [Ada, ‘kan?] Alka tertawa kecil membaca ulang kalimat yang baru saja di ketuk untuk Alden. Alden [Oh, itu] [Okay, aku kasih borongan buat kamu] [Tunggu, ya] Alka [Okay, aku tunggu] [Awas kalo bohong] Alden [Mana berani aku bohong sama pacar sendiri] [Beneran ini, kamu mau nitip apa?] Alka [Aku enggak nitip apa-apa] [Aku cuma nitip, kamu sampai di sini dalam keadaan baik-baik aja] Alden [♡♡♡] [Okay, deh] [Aku siap meluncur ke kos kamu:D] Alka [Aku juga udah selesai siap-siap, tinggal nungguin kamu, deh] [Kamu hati-hati di jalan, ya] Alden [Siap♡] Alka tersenyum melihat pesan tersebut. Hatinya terasa menghangat, walaupun hanya karena bercengkerama secara virtual bersama Alden. Gadis itu mematikan layar ponsel dan segera berjalan mengambil string bag yang tergantung di balik pintu. Ia lantas memasukkan beberapa keperluan yang sekiranya ia butuhkan selama bepergian nanti, seperti charger ponsel, earphone, tisu, dan tentunya ponsel. Sesuai rencana, hari ini---hari Sabtu, Alka dan Alden akan pergi ke suatu tempat wisata yang menarik. Sayangnya, letaknya cukup jauh dari lokasi indekos Alka. Namun, demi menikmati pemandangan yang indah di tempat itu, Alka tidak masalah. Ia tidak sabar ingin segera menikmati pemandangan danau besar yang ada di sana. Juga, ingin mencoba menjelajah labirin yang berada tak jauh dari danau. Melihat foto yang pernah ditunjukkan Alden saja, ia sudah sangat tergiur untuk berkunjung ke tempat tersebut. Makanya, ia memaksa agar Delma dan Agatha mengizinkannya pergi ke sana. Hah, Delma. Alka jadi teringat dengan sahabatnya. Ia juga teringat dengan keputusan yang ia buat secara sepihak. Ia menyuruh agar Delma tidak perlu ikut pergi hari ini, walaupun laki-laki itu mendapat amanah langsung dari Agatha untuk mengawasinya. Akan tetapi sungguh, sebelum hari H saja, Alka sudah terusik andaikan Delma ikut. Ia hanya ingin menghabiskan waktu akhir pekan berdua saja dengan Alden. Waktu itu, setelah Alka mengutarakan keputusannya, Delma tidak memberikan jawaban apakah setuju dengan keputusannya atau tidak. Akan tetapi, jika dilihat dari gelagatnya, Delma sepertinya setuju-setuju saja. Menurut Alka. Alka berjalan menuju pintu. Ia menarik gagang pintu dan ia pun keluar. Begitu berada di luar, ia segera mengunci pintu indekosnya. Ia masukkan kunci dalam tas. Setelahnya, ia berjalan ke depan indekos untuk menunggu kedatangan Alden. Perhatian Alka tak sengaja terjatuh pada seseorang yang baru saja keluar dari indekos putra. Langkah Alka spontan terhenti. Ia bertemu tatap dengan orang tersebut. Dahi Alka berkerut samar. Gadis itu menatap penampilan sahabatnya yang tampak rapi dari atas hingga bawah. Khas orang yang akan pergi. Alka tergerak untuk menghampiri Delma. “Kamu mau ke mana, Ma?” todongnya langsung. Delma juga berjalan menuju Alka. Dengan santainya, ia menjawab, “Mau pergi, lah.” “Pergi?” heran Alka. Gadis itu sampai menelengkan kepala. Akan tetapi, ia segera paham dengan maksud perkataan Delma. “Oh, iya, aku paham. Kamu mau pergi ke rumah, pulang. Gitu maksudnya, ‘kan? Aku---“ Ucapan tiba-tiba terhenti saat melihat Delma yang menggeleng pelan. Dahi Alka berkerut karenanya. “Enggak. Aku bukannya mau pergi pulang ke rumah.” “Kok ...? Emang kamu mau pergi ke mana sebenernya?” “Pergi sama kalian, lah. Kamu lupa?” Alka semakin terheran karena perkataan Delma. Kalian? Siapa? Aku sama Alden maksud dia? Tapi, kan ..., batin Alka. Gadis itu tersenyum getir. “Kamu ... mau tetep pergi bareng aku sama Alden maksudnya?” Delma tanpa ragu menjawan dengan anggukan. “Iya. Kan, aku udah diamanahin sama mama kamu supaya ikutan. Biar ada yang ngawasin kamu sama Alden. Kamu enggak lupa, ‘kan, sama pesennya mama kamu itu?” Alka mendesah berat. Ekspresi wajahnya terlihat seperti orang yang tengah menahan geram. “Delma,” panggilnya dengan keki, “aku, kan, udah bilang kalo kamu eng-gak perlu ikutan. Kamu tinggal di sini aja, nanti lapor ke mama aku kalo kamu ikutan sama aku. Please, Delma.” “Alka, amanah itu harus dilaksanain. Kamu itu tanggung jawab aku juga. Kalo sampe terjadi apa-apa sama kamu gimana? Nanti mama kamu pasti nanyanya ke aku duluan, enggak mungkin Alden.” Alka berdecak kesal. “Apa-apa gimana, sih? Udah, lah, Delma. Alden itu udah cukup baik jagain. Jadi, aku yakin kalo enggak bakal terjadi apa-apa. Stop sampe di sini, Ma. Kita udah berapa kali depat karena masalah sepele kayak gini?” Alka menelan ludah berat. Perasaan gadis itu sesak karena kesal oleh sahabatnya. “Enggak,” balas Delma tegas. “Aku enggak cukup yakin kalo Alden bisa jagain kamu dengan baik, Al. Bisa aja dia ... khilaf dan ngelakuin sesuatu yang enggak-enggak ke kamu. Apalagi, hari ini kalian bakal pergi ke tempat yang jaug. Ber-du-a doang.” Alka memandang Delma dengan sinis. Ia heran, sebenarnya sahabatnya itu ada masalah apa? Mengapa jadi seemosional sekarang? Aneh. Gadis itu tersenyum kecut. “Emang kamu pikir kamu yang paling baik jagain aku, hm?” tantang Alka. “Iya. Lagian, kamu sadar enggak, sih? Sejak kamu pacaran sama Alden, banyak hal yang berubah dari kamu,” tutur Delma penuh ketegasan. “Kamu jadi sibuk sama dunia kamu sendiri. Lupa waktu, lupa orang-orang di sekitar kamu. Sahabat dan keluarga.” Alka terdiam mendengar penuturan Delma. Ia menahan diri sejenak untuk tidak menyangkal penuturan sahabatnya. Lagi pula, apa iya ia jadi seperti itu? Delma menatap tajam Alka. “Aku enggak masalah kamu jadi kurang waktu sama aku, sahabat kamu dari kecil. Tapi, kalo masalah keluarga itu ... udah agak kelewatan, Al. Kamu relain waktu kumpul sama keluarga ‘cuma’ buat ‘pacaran’ sama Alden. Kalo aku enggak masalah, tapi keluarga kamu, gimana? Apa mereka enggak kecewa udah ngarep-ngarep kamu pulang, buat quality time bareng. Apalagi, kalian udah enggak ketemu seminggu.” Delma menjeda sejenak kalimatnya. “Kamu enggak sadar sama itu semua? Itu buruk, Al! Penyebabnya karena kamu sibuk pacaran sama Alden!” Alka mendengkus kasar. Baiklah, ia sudah tidak bisa toleran lagi dengan perkataan Delma itu. “Cukup, Ma!” bentaknya. Napasnya sampai memburu saking emosinya. “Stop jelek-jelekkin Alden! Emang kamu tau apa soal cinta, ha? Aku udah sering bilang, ‘kan? Kamu itu cuma ‘sahabat’! Jadi, kamu enggak ada ‘hak’ buat ikut campur urusan aku sama Alden.” Delma diam sejenak. Laki-laki itu tersenyum sinis kemudian. “Gitu?” Ia mengembuskan napas berat dan terlihat mengangguk-angguk. “Okay. Sekarang, ‘terserah’ kamu mau percaya atau tetep bertahan sama orang ‘berengsek’ kayak Alden.” Alka membulatkan mata, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Delma. Berani sekali laki-laki itu! “I’m done, Al. Sekarang, kamu ‘bebas’ mau ngapain aja, ‘tanpa’ pengawasan aku!” Setelah mengatakan hal tersebut, Delma pergi berlalu begitu saja. Entah ke mana laki-laki itu akan pergi. Alka juga tidak peduli. Gadis itu hanya menatap sengit sosok Delma yang menjauhinya. Sepertinya, persahabatan mereka benar-benar sudah terancam akibat keributan tadi. BERSAMBUNG ke PART 37 Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku di, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD