SUASANA stasiun kereta hari ini cukup ramai. Padahal, waktu masih menunjukkan pagi hari.
Sekitar pukul 08:00, Alka dan Alden memutuskan untuk berangkat ke stasiun kereta. Tentu, tujuan mereka adalah pulang ke rumah, menepati janji mereka pada orang tua masing-masing. Memang sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk pulang ke rumah saat akhir pekan. Itu pun jika sedang tidak ada agenda dadakan di kampus. Begitulah risiko berkuliah di kota yang berbeda dengan tempat tinggal asli.
“Ayo, Al. Keretanya bentar lagi mau dateng.”
Bukannya menjawab, Alka malah diam dan sibuk celingak-celinguk, seperti sedang mencari sesuatu.
Delma menoleh dan menatap Alka dengan tatapan heran. “Alka?”
“Eh, ya?” Teguran kedua, barulah Alka tersadar. “Kenapa?”
“Ayo, bentar lagi keretanya dateng.”
“Bentar, Ma, bentar.”
“Kenapa? Kamu nyari apa, sih?”
“Alden.”
Kedua alis Delma bertaut bingung. “Alden? Ngapain kamu nyari dia? Dia enggak ada di sini kali.”
“Ih, dia, tuh, mau ke sini. Dia bilang mau ketemu aku sebelum aku pulang. Kita tunggu bentar, ya. Please ...,” rengek Alka sambil menyatukan kedua tangan di depan wajah, memohon pada Delma.
Delma diam beberapa saat. Sebenarnya, ia malas harus meladeni permintaan Alka yang satu ini. Apalagi, permintaan Alka itu ada hubungannya dengan Alden, pacar Alka.
“Please, ya, Delma ...."
Delma mengembuskan napas berat. Terpaksa, ia mengangguk, mengiyakan permintaan Alka.
Alka secara otomatis tersenyum lebar melihat tanggapan Delma. Ia mengucap terima kasih pada sahabatnya itu. Delma hanya membalas dengan anggukan singkat. Jadilah, mereka menunggu kedatangan Alden.
Sepuluh menit berlalu, yang ditunggu masih belum terlihat batang hidungnya. Hingga pemberitahuan bahwa kereta telah tiba di stasiun terdengar pun, Alden masih belum datang. Hal itu membuat Delma mulai merasa muak.
“Udahlah, Al. Dia kayaknya enggak akan dateng. Mending kita naik kereta sekarang daripada nanti ketinggalan.”
Alka diam dengan wajah kusut. Ia merasa cemas sekaligus agak kecewa karena Alden tidak kunjung datang ke stasiun. Padahal, tadi Alden sempat mengirimi pesan singkat padanya kalau laki-laki itu sudah dalam perjalanan menuju stasiun.
“Al?”
Alka tersentak dari lamunan. Ia menatap Delma, bimbang apakah ia harus menurut pada sahabatnya itu atau menunggu Alden yang tak pasti kapan datangnya.
Gadis itu mengembuskan napas berat. Ia pun mengangguk dengan perasaan terpaksa.
Alka dan Delma kemudian berjalan menuju pintu masuk kereta. Namun, di tengah perjalanan, langkah Alka terpaksa berhenti karena mendengar seseorang yang menyerukan namanya. Gadis itu menoleh kiri dan kanan, mencari dari mana suara itu berasal. Delma secara otomatis ikut menghentikan langkah.
“Alka!”
Seruan itu kembali terdengar, sekarang terasa lebih dekat.
Alka menoleh ke belakang dan melebarkan mata melihat sesosok laki-laki yang tengah berlari kecil ke arahnya. Senyum di bibir Alka langsung terkembang. Harapan yang semula sempat meredup, kini kembali bersinar terang lagi. Ternyata, Alden memenuhi janjinya untuk datang ke stasiun.
“Maaf, ya, baru dateng,” ucap Alden begitu sampai di depan Alka. Napasnya menjadi agak terengah karena sempat berlari tadi.
“Aku kira kamu enggak bakal dateng, Ald.”
“Aku pasti dateng. Cuma ... tadi ada urusan dadakan bentar di kampus sama kafe. Lagian, aku juga bukan orang yang suka umbar janji kali.”
Alka tersenyum mendengarnya. Selama ini, Alden memang selalu memenuhi semua janji. Itulah salah satu hal yang membuat Alka menyayangi laki-laki itu.
“Delma sampe bosen, lho, nungguin kamu yang enggak dateng-dateng,” ujar Alka tiba-tiba.
Mendengar namanya disebut, Delma langsung menatap Alka sewot. Namun yang ditatapi malah tertawa ringan.
Alden beralih menatap ke arah laki-laki yang berdiri di sebelah Alka. Tatapannya langsung bertemu dengan Delma. Selalu ada sirat ketidaksukaan jika mereka terlibat kontak mata.
Segera, Alden memutus kontak mata itu lebih dulu dan beralih menatap pacarnya sambil mengulas senyum tipis.
“Kamu hati-hati pulangnya, ya. Begitu sampe rumah, jangan lupa kabarin aku.”
Alka mengangguk beberapa kali. “Siap!”
“Oh, ya.” Alden menyodorkan kantung plastik putih kepada Alka.
Alka menerimanya dengan dahi berkerut. “Ini apa?”
“Liat aja.”
Alka melongokkan kepala, menatap isi dari kantung plastik di tangannya kini. Ia menemukan ada sebungkus roti isi selai cokelat dan s**u kotak dengan rasa yang sama. Alka tersenyum melihatnya.
“Tadi kamu sempet bilang, ‘kan, kalo kamu belum sarapan. Makanya, sebelum ke sini aku tadi mampir buat beli itu.”
“Makasih, ya, Ald.”
“Ehem! Ehem!”
Dehaman dari Delma menginterupsi percakapan antara Alka dan Alden. Entah berapa lama lagi ia harus menyaksikan orang yang sedang berpacaran di depannya ini. Ketahuilah, ia bosan. Andaikan Alka bukan sahabat yang berarti baginya, tentu ia sudah masuk ke dalam kereta lebih dulu.
Alka tersadar kalau ia harus segera naik ke kereta usai mendengar dehaman dari Delma. Ia paham, pasti Delma sudah tidak betah menunggu lebih lama lagi. “Kalo gitu, aku sama Delma berangkat dulu, ya, Ald,” pamit Alka.
Alden mengangguk beberapa kali. Ia berjalan mendekat ke arah Alka dan menarik tubuh gadis itu, membawanya dalam pelukan. Alka sempat terkejut akan tindakan Alden tersebut. Ya ..., sebenarnya ia sudah pernah berpelukan dengan laki-laki itu. Akan tetapi, bukan di tempat umum seperti sekarang, di stasiun.
“You will be okay there, right?”
Alka tersenyum. Ia perlahan mulai membalas pelukan hangat dari Alden.
“Sure. Aku bakal baik-baik di sana, kok. Tenang aja.”
Alden mengeratkan pelukan. Ia mendekatkan bibir ke telinga Alka, membisikkan sesuatu dengan lirih. “I love you.”
Alka yang mendengar bisikan lembut di telinganya itu merasakan desiran aneh di hati. Bulu kuduknya meremang. Pipinya pun tiba-tiba terasa hangat. Bagaimana dengan jantungnya? Tentu saja degupannya lebih kencang dari biasanya.
Delma memutar bola mata malas saat melihat tingkah Alka dan Alden. ‘Lagi-lagi aku jadi saksi ke-uwu-an mereka berdua,’ keluhnya dalam hati.
Alden mengurai pelukan. Ia lantas menatap Alka dengan lekat. Alka juga melakukan hal serupa.
“Sekarang, kamu naik kereta. Delma kayaknya udah bosen banget, tuh.” Alden melirik ke arah Delma dan tersenyum miring.
Alka ikut menatap ke arah Delma. Ia tersenyum geli melihat ekspresi sahabatnya yang tampak lelah.
“Ya udah. Kita pergi, ya, Ald. Dah ...!" Alka melambaikan tangan kepada Alden.
Alden membalas dengan hal serupa. Ia menatap Alka yang mulai melenggang masuk ke dalam gerbong kereta. Laki-laki itu lantas menjatuhkan perhatian pada Delma yang akan pergi. “Delma,” panggilnya spontan.
Delma menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Ia hanya menaikkan sebelah alis sebagai tanggapan.
Alden berjalan mendekati laki-laki itu dan menatapnya dengan tajam.
“Jaga Alka baik-baik. Kalo sampe terjadi apa-apa sama dia, aku gak akan segan berbuat kasar sama kamu.”
Delma tersenyun miring. Ia balas menatap Alden dengan sinis. “Ancaman itu juga berlaku buat kamu.”
Alden tertegun dengan pernyataan Delma tersebut. Kedua tangannya terkepal kuat di samping tubuh. Delma seperti baru saja menantangnya.
“Delma! Ayo!”
Suasana tegang yang sempat tercipta terpecah oleh teguran Alka untuk Delma.
“Ya, bentar!” balas Delma.
Laki-laki itu menatap sekilas ke arah Alden. Bibirnya tersenyum sinis sebelum akhirnya berjalan masuk ke gerbong kereta, menyusul Alka.
BERSAMBUNG
ke
Part 9
Ada yang MLYT gegara Alden, enggak, nih?:D
Well, jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡